"De gimana hasilnya", tanya suamiku seraya menatapku dengan mata berbinar karena mengetahui aku terlambat datang bulan dan menyuruhku untuk melakukan tes.
"emmm ini hasilnya mas", kuserahkan benda kecil memanjang yang terdapat garis merah satu.
"untuk bulan ini kayaknya emang aku datangnya telat bukan karena hamil tapi karena siklusnya yang berantakan mas",ucapku
laki-laki yang kupanggil mas tadi adalah suamiku yang sedang berdiri didepanku, kami sudah menikah hampir satu tahun tapi aku tak kunjung hamil, suamiku yang sudah mengharapkan ingin punya anak harus bersabar karena hasilnya tidak sesuai yang diharapakna, suamiku yang sedang berdiri luruh seketika teduduk dilantai, dengan suara bergetar dan mata yang kulihat mulai berkaca -kaca suamiku berucap "kapan ya de kita diberi kepercayaan punya anak?" tanyanya.
"yang sabar, mungkin kita harus usaha lagi jangan sedih gitu dong yang semangat, katanya pengin punya anak", aku menghiburnya, akupun ikut bersedih melihat suamiku.
"kapan disini ada dedeknya yah de?"tanya suamiku lagi yang mulai meraba perutku dengan tangannya.
"kita berdo'a saja ya semoga secepatnya",jawabku, sebenarnya ada rasa sesak disana kenapa tak kunjung diberi kepercayaan kami ya Allah, mataku yang mulai berembun kutahan-tahan supaya airnya bisa bertahan dipelupuk mata tak sampai terjatuh.
Maafkan aku mas yang belum bisa memberimu keturunan, maafkan aku yang belum bisa memberimu kebahagiaan.
Ternyata menikah tak seindah yang kita bayangkan faktanya kita harus bersabar entah sampai kapan.