Pagi yang cerah, dihiasi awan putih yang sebagian menutupi warna biru langit. Tetapi tidak menutupi sepenuhnya matahari, yang bercahaya lumayan terik pagi itu.
Cuaca yang cerah, mendukung suasana hati siswa-siswi SMP 1 Pramuda yang sangat antusias untuk melaksanakan lomba, memperingati hari sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober, 3 hari lagi.
Berbagai lomba yang diadakan, menarik antusias para siswa-siswi untuk mengikutinya. Seperti lomba kebersihan kelas, membaca teks Sumpah Pemuda, cipta puisi, dan fashion show.
Tepat pada hari yang pertama, pada jam 08.00 WIB, seluruh siswa-siswi yang mengikuti bidang lomba membaca teks Sumpah Pemuda dan cipta puisi sudah berkumpul di lokasi masing-masing.
Bagi yang mengikuti lomba cipta puisi, sudah berada di dalam ruangan khusus yang sudah disediakan oleh panitia lomba.
Sedangkan siswa-siswi yang mengikuti lomba membaca teks Sumpah Pemuda, sudah menanti urutan lomba mereka yang telah diundi sebelumnya.
Satu-persatu peserta mulai maju dan membaca teks Sumpah Pemuda dengan lantang dan sebaik mungkin.
"Kamu sudah siap kan Re?" Tanya Naka, yang merupakan wakil ketua kelas 8C, yang ikut serta menonton dan memberi dukungan kepada teman mereka yang mengikuti lomba.
Rehan mengangguk, "doakan ya, semoga aku bisa membacanya dengan baik," ucap Rehan dengan yakin.
"Pasti menang dong! masa kamu latihan hampir 1 minggu dan hasilnya sia-sia. Berarti percuma kala kamu sampai kalah dan lupa dengan apa yang kamu hafal," lontar Aldi, ketua kelas mereka yang juga berada di sana, dan duduk di kursi belakang Rehan.
Naka hanya menggeleng pelan, mengingat sikap Aldi yang terlalu antusias untuk selalu menang.
"Apapun yang Rehan persembahkan, kita harus tetap terima. Karena Rehan pasti sudah berusaha," nasihat Naka kepada Aldi.
"Terserah saja, yang penting berikan yang terbaik," jawabnya.
Sampai akhirnya, giliran Rehan pun tiba. Rehan mengucapkan teks Sumpah Pemuda dengan begitu lantang, dan tidak ada satupun kalimat yang tertinggal ataupun tersendat.
Tepuk tangan sahut-menyahut, tanda apresiasi karena pembawaan Rehan hampir sempurna di atas panggung.
"Wah, kamu hebat Re. Mudahan besok aku bisa melaksanakan lomba sebaik kamu juga besok," ucap Doni. Teman sekelas Rehan, yang datang saat Rehan sudah menaiki panggung.
"Amin. Aku percaya sama kamu, kalau kita mau berusaha, pasti akan membuahkan hasil yang juga sempurna. Sama seperti pahlawan-pahlawan yang dulu berusaha dan berjuang untuk kemerdekaan, sampai akhirnya mereka membuahkan hasil dan Indonesia bisa merdeka." Rehan menepuk pundak Doni untuk menyemangatinya.
Sampai hari kedua berlanjut. Lomba yang diadakan adalah fashion show dan kebersihan kelas.
Suara siswa-siswi menggema di setiap sudut aula SMP 1 Paramuda, menanti perlombaan fashion show yang akan mulai sebentar lagi. Dengan diwakili oleh masing-masing kelas, yang diwakilkan satu putra dan satu putri yang berpasangan.
Satu-persatu pasangan mulai menguasai panggung dengan busana yang bertema Sumpah Pemuda.
Ada yang mengenakan baju tentara, polisi, baju adat dan yang lebih menarik yaitu dengan kreatifitasnya sendiri, menggambarkan seorang pemuda yang menggunakan pakaian sederhana, dengan bercak darah yang menambah kesan seorang pemuda yang rela berkorban demi negara.
Tepuk tangan yang meriah dari para penonton, saat busana yang ditampilkan dari kelas 7 menarik perhatian mereka semua.
Tibalah saatnya kelas 8 mulai menaiki panggung.
Doni meyakinkan diri untuk tidak gugup, dan mengingat apa yang dikatakan Rehan kemarin yang membuatnya kembali percaya diri.
Doni begitu menarik perhatian saat membawakan penampilan dengan baju yang dia desain bersama teman-temannya. Baju kaos berwarna putih yang diberikan sedikit sobekan, serta bekas bercak darah yang mendukung tampilan pakaian yang sedang dia gunakan. Tidak lupa sebuah bambu runcing yang ada di genggaman tangannya.
Sedangkan pasangan Doni yaitu Elika, yang menggunakan pakaian seorang suster.
Dengan sebuah kotak obat di tangannya, mereka memberikan akting sebentar di tangah panggung. Doni yang seolah-olah sedang terluka dan dengan sigap suter di sebelahnya langsung mengobati.
Akting singkat tersebut membuat para penonton bersorak kagum, tapi sorakan tersebut terhenti saat Doni yang tidak sengaja tersandung saat kembali untuk meninggalkan panggung.
Karena beberapa siswa-siswi yang mulai ribut, panitia segera melanjutkan acara dan membantu Doni yang sepertinya sempat terkilir karena dia tidak sengaja tersandung karpet yang terlipat.
Perawat yang sudah selesai mengobati kaki Doni langsung pergi dari sana, meninggalkan Doni yang dikerubungi teman sekelasnya yaitu Rehan, Aldi, Naka dan Elika.
"Bagaimana kamu bisa melakukan kesalahan? Padahal penampilan kalian sudah sangat bagus," Aldi berkata kesal.
"Maafkan aku, karena tidak memperhatikan jalan, kaki ku tersangkut di karpet," jawab Doni menyesal.
"Tidak papa Doni. Kamu sudah berusaha sebaik mungkin, dan kejadian bukan salahmu." Naka menepuk pundak Doni memberi semangat.
"Aku enggak terima kalau sampai kita kalah. Kalian kira enggak capek, harus kesana-kemari buat cari dan minjam baju ini!" Elika menyela, dengan kalimat tidak suka keluar dari mulutnya.
Aldi mengangguk setuju, "kelas kita adalah kelas terbaik. Tidak boleh mempermalukan sesama karena satu kesalahan," tambahnya.
"Maaf kalau aku harus menentang pendapat kalian Aldi dan Elika. Kita sebagai teman, tidak boleh saling menyalahkan. Kalian juga pasti merasa bersalah saat berada di posisi Doni, dia juga sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi kalau takdir berkata lain, kita harus bisa terima dan percaya kalau pasti ada jalan dan hikmahnya," nasihat Rehan.
Aldi dan Elika terdiam mendengar nasihat Rehan.
"Kalian tahu kan, kalau kita memperingati hari Sumpah pemuda?" Tanya Naka, yang dibalas anggukan dari Aldi dan Elika. "Mereka dulu, pasti pernah gagal. Tapi akhirnya, terbukti sampai saat ini mereka sudah berhasil membangkitkan semangat generasi muda, untuk tetap berkarya dengan kemampuan dan percaya diri masing-masing." Jelas Naka.
Rehan tersenyum, "kalau kalian ingin juga membangkitkan semangat generasi muda. Jangan sampai membuat salah satu pemuda harus merasa bersalah dan kehilangan kepercayaan diri, sama seperti Doni."
Aldi menatap Doni yang menunduk sedih, kakinya melangkah mendekati Doni yang duduk di kursi.
"Maafkan aku Doni. Aku terlalu berlebihan dan terlalu ambisius untuk selalu mendapatkan hasil yang sempurna, sampai membuat kamu merasa bersalah," ucapnya sambil menjabat tangan Doni.
"Aku juga minta maaf," Elika juga menjabat tangan Doni.
"Gak papa, aku paham kok. Kalian juga sudah berusaha dan aku membuat usaha kita sia-sia. Tapi dari kejadian ini aku bisa memetik banyak pelajaran dari kalian semua," ucap Doni.
Sama seperti yang Rehan katakan, bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Tepat disaat pengumuman lomba keesokan harinya, Doni dan Elika mendapatkan kesempatan untuk merasakan yang namanya menang.
Mereka berhasil meraih posisi juara ke dua, dan Rehan berhasil meraih juara pertama.
Kerja keras yang pasti akan membuahkan hasil. Bukan karena satu kali kegagalan, kita harus menyerah. Tapi jadikan kegagalan itu sebagai pelajaran untuk meraih kemenangan kedepannya.