Gue Nathan laki-laki yang sangat mengagumi gadis itu sejak pertama kali gadis itu menjadi siswa baru dikelas gue. Entah kenapa setiap melihat senyum itu, senyuman yang dihiasi lesung pipit, membuat gue tertarik pada gadis itu. Gadis periang namun pemalu.
***
“Gue yakin tuh cewek cantik bakal masuk kelas kita,” seorang berambut coklat mengacungkan jempol dengan penuh keyakinan. “cantik?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Baim langsung diiyakan oleh seseorang berambut coklat bernama Rangga itu. “Iya im apalagi itu cewek ada lesung pipit nya buset, tambah cakep dah tu,” tambah Rangga.
“Elah kita liat aja nanti, mata lo kan kadang katarak kalo udah liat yang bening begitu ya gak,” kali ini Dito angkat bicara.
“Nat napa lo sariawan, diem mulu deh lo dari tadi,” tanya Kevan.
“Hemm ...,” Nathan hanya menanggapi dengan deheman. “Buset gue punya temen kayak kulkas sepuluh pintu yak dingin amat,” kata Juno.
Kelas yang tadinya ribut mendadak sepi ketika guru matematika sekaligus wali kelas XII ipa 5 yang diberi julukan Pak Kumis itu datang. Guru yang paling ditakuti seluruh siswa namun tidak dengan siswa kelas ipa 5. “Selamat pagi anak-anak!” sapa ya dengan tegas.
“Pagi juga pak!” jawab anak-anak serentak.
“Wih lo liat kumisnya pak kumis makin tebel aja dah,” kata Baim yang duduk disampingnya.
“Iya apalagi tu liat kepala nya makin kinclong aja dah, gue yakin tu kalo kena sinar matahari satu sekolah langsung silau,” timpal Juno keduanya menahan tawa.
‘Brakk!’
Mereka berdua tersentak menghadap kedepan, disana Guru yang sering mereka sebut Pak Kumis tengah mengebrak meja, nafasnya memburu naik turun bagaikan banteng yang siap menyeruduk. “Bisa tidak sehari saja kalian tidak membuat onar dikelas!” Serunya. Sementara Baim dan Juno hanya bisa menunduk.
Baik kita kembali ke topik utama, jadi anak-anak!” suaranya terdengar begitu keras bagaikan toa. “Kalian kedatangan teman baru,” senyumnya mengembang kearah luar kelas “masuk ra,” ucapnya lagi. Dengan hati berdebat-debat semua anak kelas ipa 5 melongok keluar kelas, ujung sepatu gadis itu mulai terlihat dan...
“Wow” Juno terkagum.
“Buset bening bener dah” Baim pun ikut berkomentar, dan masih banyak komentar yang lainnya.
Nathan siswa itu hanya memandang gadis itu dari ujung kaki hingga rambut. Tidak berkata atau berkomentar apapun.
Dia memakai flat putih, dengan baju khas anak SMA serta rambut yang terurai. Wajahnya yang berbentuk oval, matanya yang berwarna hitam pekat, ditambah bibir tipis dengan senyum manis, dan jangan lupakan lesung pipit yang menambah nilai plus untuk gadis itu.
“Ara silakan perkenalkan dirimu.” Ucap Pak Budi yang hanya dijawab anggukan kecil , dia maju kedepan untuk lebih dekat.
“Selamat pagi semua. Nama aku Clarita Adinda. Aku pindahan dari sekolah di Bandung. Salam kenal semuanya,” Ara mempekenalkan diri.
“Hay Ara salam kenal juga, kenalin aku Juno siswa tertampan dan terkece di sekolah ini,” sorakan siswa XII ipa 5 pun langsung terdengar riuh mereka menjerit histeris mendengar Juno berkata dengan PD nya. Pak Budi langsung menangkan semua siswa yang riuh dan mempersilakan Ara untuk duduk.
“Sudah sudah diam semua, dan untuk kamu Ara kamu duduk dibelakang Nathan bersama Saras.” Pak Budi menunjukkan kursi kosong di sebelah Saras. Ara pun mengangguk lalu menuju kursi kosong disebelah Saras.
“Hai, aku Saras,” sapa Saras. “Hai juga, aku Ara,” Ara membalas sambil tersenyum.
“Baiklah anak-anak kita lanjutkan materi minggu lalu.”
***
Keesokan harinya di kantin.
“Pagi semuanya,” sapa Kevan, Dito, dan Baim serentak.
“pagi,” balas Rangga.
“Hem ...,” dan Nathan seperti biasa menanggapi hanya dengan deheman.
“Eh Nat gimana persiapan buat acara tahunan sekolah?” kata Kevan. “Udah beres semua, gak ada yang kurang,” balas Nathan.
“Ada yang mau nitip gak, gue mau pesen nih?” Baim mulai bersuara. “Gue im nasi goreng ye ma es jeruk,” Juno angkat bicara. “Yang lain gimn nitip gak?”
“Samain aja lah semua, biar kagak ribet,” Rangga memberi solusi. “Okelah,”
‘Brak!’
“Eeee ayam goreng babi goreng sapi goreng!” latah buk kantin atau yang sering dipanggil buk endah.
“Buk pesen nasi goreng 6 sama es jeruk 6 buk ya, ngutang dulu buk besok dibayar hehehe,” kata Baim. “Yatuhan ganteng ganteng ya kok ngutang,” canda buk kantin. “Ya gapapa dong buk, uangnya saya simpen buat malam minggu sama gebetan saya,” balas Baim. “Yo wes tak buatin bentar, inget ya sama utang dua hari lalu.”
“siap buk,” sambil memberi hormat.
‘prang’
“Lo jalan pake mata dong, gitu aja gak bisa!” bentak Nathan pada gadis berlesung pipit itu. “Maaf gue gak sengaja ..., ” jawabannya lirih. “Cih ..., ” Nathan langsung meninggalkan gadis itu.
“Ra lo gapapa kan?” tanya saras dan acha. “Iya gue gapapa tapi beneran gue gk liat tadi,” jawab Ara. “Iya udah gak usah dipikirin, dia emang dingin gitu orangnya.” Jawab Acha.
“Lah ni si Nathan sama si Rangga kemana tu anak berdua?” tanya Baim. “Noh tadi ada masalah ma anak baru di kelas kita, terus ngilang deh baru tu si Rangga nyusul.” Jawab Dito. “Oh begitu, lah terus ni siapa dong yang makan?” tanya Baim lagi. “Yaudah. Sini gue makan dari pada dibuang ye kan,” timpal Juno.
Di atap sekolah
“Nat”
Nathan hanya menoleh tanpa menjawab.
“Nat lo tu kenapa?” tanya Rangga.
“Gue gapapa, emang kenapa?” balas Nathan. Rangga hanya mendengus mendengar jawaban Nathan.
“Nat gue tau lo suka kan sama siswa baru itu, lo gak bisa bohongin gue kek yang lainnya, kita temenan bukan setahun dua tahun Nat kita temenan udah dari kecil, jadi gue tau siapa lo.”
“Iya kalo gue suka emang kenapa, kok lo yang sewot!” sentak Nathan. “Terus lo kenapa bentak si Ara tadi, lo tau kan kalo lo bersikap kek gitu, itu bakal buat lo menjauh dari dia.” Jawab Nathan.
“Terus gue harus gimana lo tau kan gue gak pernah deket sama cewek ...,” balas Nathan dengan suara yang lirih. “Gini aja deh sebagai sohib yang baik dan tidak sombong gue kasih lo saran deh, mau gak?” tanya Rangga. “Iya cepetan.”
“Jadi gini, mending lo tembak Ara pas malam puncak acara tahunan sekolah kita, gimana?”jelas Rangga.
“Ide lo bagus juga, okelah nanti gue coba” jawab Nathan. “Ya jangan dicoba ogep tapi langsung aja, yatuhan lo pinter tapi masalah beginian aja lo kagak bisa.”
“Iya iya nanti lo suruh pacar lo si Acha ngajak dia ke atap sekolah, tepat saat pelepasan kembang api.” Balas Nathan. “Oke sip itu mah beres.”
Sejak kejadian di kantin, Nathan selalu melibatkan Ara untuk membantunya menyiapkan acara tahunan sekolah walaupun Ara bukan bagian dari anggota osis. Kebersamaan mereka yang sering bertemu membuat benih-benih cinta muncul diantara mereka, dan tanpa mereka sadari bahwa mereka saling mencintai namun ragu untuk mengungkapkan perasaan mereka.
***
Keesokan harinya di kelas
“Ara lo dateng kan besok malem diacara malam puncak tahunan sekolah?” tanya Acha. “Iya gue dateng kok, emang acaranya apa aja sih kok sampe malem gitu?”
“Lo tanya aja ma si Saras kan dia osis sekaligus penanggung jawab kegiatan besok.”
“Banyak banget Ara makanya kegiatannya sampe malem gitu” balas Saras. “Eh tapi, ra gue ni penasaran lo suka gak sama si Nathan?” tanya Acha. “Suka gimana?” tanya Ara balik.
“Ya suka kayak gue ma Rangga.” Balas Acha sambil tersenyum malu. “Gu-gue sebenernya tertarik sih sama Nathan.” Jawab Ara terbata-bata. “Cha lo kenapa sih nanya gitu?” kepo Saras. “Gue disuruh ma pacar gue,” kata Acha sambil berbisik.
“Kalian kenapa bisik bisik gitu?” tanya Ara. “Hehehee gak kok, terus gimana Ra perasaan lo ma Nathan?” tanya Acha. “Iya gue suka, Cuma kayaknya dia udah ada yang punya kali, diakan anak paling populer disekolah kita ...,” kata Ara lirih. “Udah lo gak usah pesimis gitu, sapa tau yakan dia tu suka juga ma lo.” Saran Acha.
“Beb yok pulang.”
“Oke beb bentar,” balas Acha. “ish beb beb, geli gue.”
“Sirik aja lo maimunah, hahaha.” Canda Acha. “Gue duluan guys.”
“Gimana beb kamu udah tanya kan?”
“Udah kamu tenang aja, bsok semuanya beres.”
***
Malam puncak acara tahunan sekolah di atap sekolah.
“Acha lo ngapain sih ngajak gue ke atap sekolah, kan acaranya belom kelar?” tanya Ara. “Udah Ra diem aja, ini demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.” Canda Acha. Tanpa sepengetahuan Ara, Acha dan Saras mundur perlahan dan bergabung bersama teman-temannya Nathan.
“Ara.”
Ara menoleh, “Eh Nathan, lo disini juga?”
“Iya, Ara soal kejadian minggu lalu gue minta maaf.” Sesal Nathan. “Nat seharusnya gue yang minta maaf, gue yang gak lihat jalan.” Balas Acha. “Gue mau jujur sama lo kalo gue sebenernya suka ma lo, sejak lo jadi siswa baru disekolah gue, ra lo mau gak jadi cewek gue,” gumam Nathan mantap. “Gu-gue,” Ara dapat merasakan tubuhnya yang bergetar serta jantungnya yang berdetak tidak normal. “ Iya gue mau,” ucap Ara dengan lantang. “Mau apa Ra,” tanya Nathan. “Mau jadi cewek lo Nat.” Jawab Ara sambil memejamkan mata. Nathan tersenyum manis mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ara, ternyata mereka saling menyukai. “Thanks Ra,” gumam Nathan lirih. Tepat saat itu kembang api meletus diudara. Rangga dan Acha saling merangkul, sedangkan Baim, Juno, Dito, Kevan, dan Saras menyaksikan kembang api sambil ngemil.