Entah pukul delapan malam, entah pukul sembilan malam. Aku tidak melihat dengan jelas di angka mana jarum panjang dan pendek sebuah jam mengarah, jadi tidak bisa terlalu yakin. Yang ku lihat hanya lampu-lampu yang sudah dinyalakan, memenuhi tempat dimana aku menginjakkan kaki hingga kemudian memutuskan untuk duduk di kursi panjang itu.
Hanya tempat ini yang tadi sempat terlintas dalam benakku untuk menjadi tempat dimana aku dan dia akan menghabiskan waktu beberapa jam kedepan.
Tidak ada hiburan menarik di tempat ini, hanya terdapat beberapa orang yang duduk di kursi-kursi dan meja-meja panjang lainnya. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing begitu pula dengan aku dan dia yang kemudian juga disibukkan dengan layar dua belas inci dihadapan kami. Aku sibuk dengan mesin pencari sementara dia sibuk bergelut dengan angka-angka di hadapannya.
Hening. Tidak lagi ada percakapan yang berarti. Satu persatu orang-orang pergi. Hingga tinggallah tujuh manusia yang tersisa, aku dan dia diantaranya.
Sesekali dia bertanya kepadaku tentang angka-angka dihadapannya, atau sekedar rangkaian kalimat apa yang tepat untuk diketikkannya pada layar dua belas inci itu.
Aku beralih dari layar dua belas inciku yang tadi ku pekuri, dan kemudian ikut tenggelam bersama dia menyelami angka-angka, dan rangkaian kalimat yang tepat untuk diketikkannya di lembar kerja yang sudah tujuh puluh lima persen mendekati selesai itu.
Dia mengangguk-anggukkan kepala sebagai isyarat dia mengerti dengan semua penjelasan yang ku beri. Dan kemudian dia pun kembali asyik dengan layar dua belas inci itu, dia menggeser "si hitam" sebutan yang kuberikan pada layar dua belas incinya itu. Pada detik berikutnya jemarinya sudah menari-nari memilah-milah huruf dan merangkainya menjadi kalimat untuk melengkapi lembar kerjanya yang semula hanya terisi tujuh puluh lima persen saja.
Sementara aku, layar dua belas inci ku tak lagi menarik. Aku membiarkan dia larut dalam kesibukannya sendiri. Aku mengamati sekeliling, tujuh manusia tersisa dalam hitunganku sebelumnya kini berkurang lagi. Hanya tersisa lima manusia saja, termasuk aku dan dia diantaranya.
Aku mengamati dua sosok manusia yang duduk di kursi dan meja panjang beberapa meter dari tempatku. Mereka berdua tengah sibuk menatap sebuah layar dihadapan mereka. Sebuah headset bertengger di salah satu telinga mereka. Satu headset bertengger ditelinga kanan seorang lelaki dan headset lainnya bertengger di telinga kiri seorang wanita.
"Ah, mereka sepasang kekasih yang tengah menikmati film yang diputar di sebuah layar tepat dihadapan mereka," pikirku.
Kemudian aku mengalihkan pandanganku dari dua sosok pasang manusia itu. Kali ini pandanganku jatuh pada satu manusia tersisa dari lima manusia yang ku hitung sebelumnya. Di kursi dan meja panjang yang terpisah dua baris kursi dan meja panjang lain di depanku, aku mengamatinya, sesosok manusia yang duduk sendirian di kursi panjang itu.
Sesosok manusia itu adalah seorang wanita, terlihat dari rambut panjangnya yang dicepol asal dengan beberapa anak rambut yang dibiarkannya terurai. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh sesosok wanita itu, duduk di kursi panjang itu sendirian, disaat hari mulai beranjak semakin malam. Aku menerka-nerka di balik punggungnya, entah apa yang tengah dilakukan atau dipikirkannya sendirian.
"Patah hati...," dia menjelaskan.
"Kamu tidak mendengar suara isakannya?" tanyanya yang kemudian ku jawab dengan gelengan kepala. Aku hanya sibuk menajamkan pandangan dan bergelut dengan banyak terkaan yang bersarang di kepalaku.
"Suara isakan seorang wanita biasanya ia sedang patah hati, putus dari kekasihnya," dia menjelaskan pemikirannya. Dia menatapku lagi, menunggu reaksiku atas pemikiran atau pendapatnya itu.
Aku menggelengkan kepala, dia mengerutkan kening sebagai isyarat kenapa aku tak sejalan dengan pemikirannya.
"Dia lelah..," ujarku kemudian.
Dia menatapku semakin tajam dan aku hafal dengan maksud tatapannya yang seperti itu. Dia butuh penjelasan. Sejenak aku terdiam. Rasanya amat menyiksa mengutarakan pendapatku. Menceritakan pendapatku sama saja dengan mencungkil semua kepiluan hatiku, karena hal seperti itu pulalah yang terjadi padaku. Aku menghela napas dan mulai untuk mengutarakan pendapatku.
"Rasanya lelah, mengejar sesuatu yang tidak bisa untuk dikejarnya. Selama ini dia sadar bahwa seseorang yang diinginkannya tak akan pernah mampu untuk diraih. Tapi, dia selalu menolak kenyataan itu,"
Perkataanku semakin berat dan membebani lidah. Aku sampai pada pendapat dimana wanita itu mulai menyemai harapan-harapan palsu dan memupuknya hingga semakin subur.
"Dia memberi harapan palsu pada dirinya sendiri, bahwa seseorang itu akan menatapnya. Dia memberi harapan palsu pada dirinya sendiri, bahwa suatu hari nanti akan ada masa dimana seseorang itu akan menatapnya sama seperti ia menatap orang itu,"
"Seiring waktu berjalan, dia memberi harapan palsu lagi pada dirinya sendiri, bahwa suatu hari nanti seseorang itu akan mengerti perasaannya. Dia memberi harapan palsu pada dirinya sendiri, bahwa suatu hari nanti akan ada masa dimana seseorang itu akan memiliki rasa yang sama seperti rasanya untuk seseorang itu,"
"Berlanjut hingga hari-hari berikutnya, dia kembali memberi harapan palsu pada dirinya sendiri, bahwa suatu saat nanti seseorangt itu pasti akan datang. Dia memberi harapan palsu pada dirinya sendiri, bahwa suatu hari nanti akan ada masa dimana seseorang itu telah lelah mencari dan kembali datang kepadanya lagi, hingga menjadikannya pemberhentian terakhir bagi seseorang itu,"
"Tapi ternyata...," penjelasanku terhenti sejenak. Namun, dia tetap menatapku dan menyimak setiap penjelasan yang akan ku katakan selanjutnya. Aku kembali menghela napas. Tidak akan ada gunanya jika ku hentikan penjelasanku sekarang karena mengingat tabiatnya, dia selalu ingin mengurai setiap simpul pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Dia salah...," lanjutku. "Dia meletakkan keyakinan pada sebuah fatamorgana yang fana. Dan sekarang ia terjebak pada fatamorgana itu. Fatamorgana yang ia ciptakan sendiri. Pada delusi yang dipupuknya sekian lama,"
"Dan malam ini, ia sadar. Ia membodohi dirinya selama ini. Hingga ia merasakan kesakitan yang teramat dalam. Ia lupa bahwa ia hanyalah sebuah kapal yang terombang-ambing di lautan. Selama apapun ia menunggu dengan setia, tetap saja buka ia tempat kembali seseorang itu untuk berlabuh,"
Aku telah sampai pada penghujung penjelasanku. Hening kembali tercipta diantara aku dan dia. Isakan wanita di ujung meja panjang itu perlahan mulai berhenti seiring dengan penjelasanku yang juga terhenti beberapa detik lalu.
"Jadi, ia terisak karena lelah?" Dia bertanya lagi. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya hanya ingin mendapatkan jawaban penegasan dariku semula. Aku hanya mengangguk.
"Hey, bagaimana kamu bisa memikirkan penjelasan seperti itu? Bukankah kamu hanya menerka-nerka saja? Lagipula kamu tidak kenal dia dan hanya melihat punggung wanita itu saja," tanya-nya beruntun.
"Bukankah kamu juga begitu? Kita sama-sama menerka apa yang terjadi pada wanita itu bukan?" tanyaku kemudian.
"Eh...," hanya itu yang akhirnya yang dia ucapkan. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dan akhirnya kita pun tertawa menyadari bahwa kami berdua hanya menerka-nerka apa yang tengah terjadi pada wanita asing itu.
"Kenapa bisa berpikir bahwa dia lelah?" Dia bertanya kembali dan kini ia tak lagi sadar dengan aktivitas sibuknya beberapa saat lalu. Seolah berdebat tentang wanita asing tadi lebih menarik daripada berurusan dengan angka-angka di layar dua belas incinya itu. Aku hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaannya.
"Kenapa bisa berpikir bahwa dia patah hati?" Aku balik melontarkan pertanyaan yang sama.
"Eh..biasanya kan begitu," dia berujar dengan tawa kecil yang menampilkan lesung pipit di kedua pipinya.
"Kamu lupa ada kata "bias" dari kata "biasanya", jadi tidak selalu seperti itu. Jika wanita itu tidak pernah memberikan hatinya, atau seseorang itu tidak pernah menerima hati dari wanita itu, bagaimana bisa dikatakan patah hati?" ujarku.
Dia tersenyum kecil sembari tetap menatapku dan sesekali menganggukkan kepala. Aku mengalihkan tatapanku yang bertemu dengan tatapannya. Cepat aku menatap layar dua belas inci di hadapanku yang kini hanya menampilkan warna hitam karena tak ku sentuh sama sekali sejak aku mulai sibuk menerka-nerka apa yang terjadi pada wanita asing tadi. Aku menunjuk jam di tanganku dimana jarum pendek berada di angka sepuluh dan jarum panjangnya di angka dua belas.
"Kamu tidak ingin mendengar isakan wanita untuk kedua kalinta dengan alasan yang sama "kelelahan" bukan?" sarkasme ku.
Dia pun kemudian kembali tertawa dan segera mengalihkan tatapannya dariku sembari membereskan layar dua belas incinya sama seperti yang ku lakukan.
Malam itu, aku melihatnya tersenyum dan tertawa berkali-kali karena mendengar penjelasanku atau sekeda sarkasme-sarkasme yang ku ujarkan. Tanpa pernah ia tahu ada seseorang yang berusaha untuk menghapus semua delusi-delusi yang dipupuknya.
Tempat ini kembali sepi. Aku dan dia menjadi penghuni terakhir melangkahkan kaki meninggalkan. Ia berjalan beberapa langkah di depanku dan aku hanya bisa mengikutinya di belakang dan menatap punggungnya. Di bawah sinar bulan dan penerangan lampu jaloan, aku kembali meyakinkan diriku bahwa dia hanyalah delusi.
Hubungan diantara kami hanya akan begini. Teman. Hanya sebatas teman. Tidak akan lebih.
~END~