Dinding putih yang memagari lantai lima ini masih sama, tidak berubah sama sekali. Dinding tempat dimana aku pertama kalinya bertemu dengannya. Ia berkutat dengan telpon genggamnya, sementara aku yang berdiri beberapa meter di sampingnya sibuk mengagumi senja sore itu.
Tak ada yang menegur, tak ada yang memulai percakapan hanya ada hening yang juga menjadi dinding diantara kita. Hingga kemudian, dia menghembuskan napas berat yang tanpa sengaja menyita perhatianku dari rasa kagumku menatap senja beralih menjadi sesosok rasa kagum saat melihat bening matanya yang meneduhkan. Dan di saat itulah aku tersadar bahwa aku tidak sendiri.
Aku tersenyum simpul mendapati ia berdiri dengan jarak sekitar satu meter dariku. Ia juga membalas dengan senyum yang sama. Tidak ada percakapan berarti setelahnya. Kami saling menikmati hening dengan memandang senja di cakrawala. Lama waktu bergulir, tapi kami masih berdiri di tempat yang sama.
"Ma'af....," ucapnya kemudian dengan suara yang berat. Ada getaran dalam nada suaranya, aku menyadari itu. Ia mengalihkan pandangannya dari senja ke arahku. Begitu pula denganku yang kemudian mengalihkan pandanganku untuk menatapnya. Aku hanya tersenyum kecil.
"Kenapa minta ma'af? Tidak ada yang perlu di ma'afkan...," ujarku kemudian masih dengan senyum yang sama. Senyum yang meneduhkan ku berikan untuknya meski di dalamnya ku simpan kepedihan.
"Tapi...aku.....," dia mencoba menjelaskan. Namun aku hanya menggelengkan kepala. Bagiku, tak perlu lagi ada sebuah penjelasan. Aku cukup sadar diri.
"Kamu tahu permainan basket...?" aku memulai dengan pertanyaan itu ku lontarkan kepadanya. Ia menatapku dan menganggukkan kepala, tapi aku enggan kembali menatapnya, aku mengalihkan kembali tatapanku pada senja yang belum beranjak pulang.
"Sama seperti ketika kita bermain basket, tidak semua bola yang kita lempar masuk ke dalam ring. Begitu pula dengan perasaan, tidak semua perasaan mendapatkan balasan," ujarku kemudian sembari menoleh ke arahnya yang sedari tadi masih menatapku dengan cara yang sama. Ia terkejut mendengar perkataanku. Sementara aku, bersembunyi dari kegetiran saat mengatakan kata-kata itu di balik senyumku.
"Kamu sudah memperingati, tapi aku yang melewati batas ini. Jadi, bukan salah kamu, bukan salah siapapun. Aku yang bertanggung jawab atas perasaanku sendiri...," ujarku.
"Kapan hari-H nya?" tanya ku padanya. Ia yang semula menatapku dengan tatapan teduhnya kini beralih kembali menatap senja. Setelah pernyataanku beberapa detik lalu dan setelah keheningan tercipta kembali setelah pernyataanku tadi itu, ia enggan untuk menatapku kembali.
Aku mendengarnya menghela napas sebelum akhirnya ia melemparkan jawaban atas pertanyaanku.
"Sebulan lagi....," ujarnya sembari tersenyum. Entah senyum seperti apa aku tak begitu memperhatikannya dengan jelas. Sekilas yang kulihat, itu bukan senyum meneduhkan seperti beberapa detik lalu.
"Congrast ya, semoga semuanya lancar...," ujarku. Dia tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
Hening kembali tercipta diantara kami. Entah mengapa, keheningan lebih sering mengiringi kebersamaan kami kali ini. Padahal dulu, kami tidak pernah seperti ini. Aku selalu ramai dengan celotehanku dan dia selalu ramai dengan omelannya padaku setiap kali aku bertindak bodoh atau ceroboh. Tapi kini, kami tidak bisa lagi kembali ke saat-saat itu. Karena ada hati yang harus ia jaga, dan aku sadar itu.
Perlahan senja telah berpulang, tenggelam dibalik cakrawala. Mungkin, itu adalah isyarat bahwa pertemuanku dengannya kini harus di akhiri.
"Bahkan alam pun menentang kebersamaan kami...," batinku.
"Aku harus pergi..sudah mau adzan..," ujarku kemudian kepadanya ketika mendengar adzan maghrib hendak berkumandang.
Dia menatapku dan hendak mengatakan sesuatu. Tapi, ku lihat ada keraguan disana. Aku hanya menunggunya berkata "iya" atas izinku, dan setelahnya aku akan melangkah pergi. Namun ia berkata satu hal yang membuatku kembali merasakan perih di hati.
"Bolehkah aku menjadi imam sholatmu?" tanya-nya kemudian. Aku hanya terdiam mendengarnya mengajukan permintaan itu. "Untuk yang terakhir...," ujarnya. Ia menanti jawabanku dan memandangku dengan pandangan yang sulit untuk ku artikan.
Aku menghela napas, sebelum akhirnya aku menganggukkan kepalaku.
Kami kemudian berjalan ke kantor tempat kami pernah bekerja partime sewaktu kuliah. Kami di sambut dengan hangat disana seperti keluarga. Ya, karena kami memang pernah menjadi bagian dari mereka tiga tahun yang lalu. Banyak dari mereka bertanya maksud kedatangan kami dan dia yang lebih banyak menjelaskan daripada aku.
Setelah mengambil air wudhu aku bersiap mengenakan mukena di ruangan tempat biasa kami mendirikan sholat dulu, Ia sudah siap di atas sajadahnya menungguku sembari tersenyum ketika melihatku sudah terbungkus kain putih yang khas seorang wanita ketika hendak mendirikan sholat. Aku menanggapinya dengan senyum yang sama.
Aku berdiri di belakangnya, mengikuti gerakan sholatnya dari takbiratul ikhram hingga salam. Setiap bacaan sholat yang dibacakannya terekam jelas dalam ingatanku. Suara inilah yang mungkin akan selalu ku rindukan ketika kami sudah tidak akan bertemu lagi. Aku menitikkan air mata, seiring dengan suara bacaan sholatnya yang terdengar bergetar.
Ketika salam telah terucap, kami tetap duduk di atas sajadah kami. Hening kembali tercipta. Aku menghapus sisa jejak air mata usai menutup sholat dengan do'a ku. Dulu setiap kali usai sholat bersama, ia akan berbalik menatapku dan melemparkan senyum yang meneduhkan untukku. Tapi sekarang, ia berbalik dan masih memberikan senyum yang sama untukku, namun dapat ku lihat hidungnya memerah dan bekas air mata juga terlihat di wajahnya.
"Apakah ia menangis sepertiku juga?" gumamku. Namun, aku enggan bertanya. Begitu pula dia yang mungkin juga melihat jejak air mata di wajahku, enggan melemparkan pertanyaan. Dia hanya pergi beranjak lebih dulu menemui rekan-rekan kerja kami dulu yang merupakan adik tingkat kami semasa kuliah. Sementara aku, melipat mukenah yang ku kenakan.
Aku dapat melihat dari jendela kaca yang memisahkan ruang sholat dengan meja kerja rekan-rekanku, ia mengeluarkan beberapa undangan dari tas kecilnya dan memberikannya satu-satu pada mereka yang berada di sana. Rekan kerja yang juga adik tingkatku dulu itu tersenyum menerima undangan itu dan memberikan ledekan-ledekan kecil pada lelaki yang mengenakan kemeja biru dan celana bahan warna hitam itu.
Namun, ketika mereka membaca undangan itu, mereka terkejut. Mereka menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan meminta penjelasan, namun lelaki itu hanya diam. Kemudian mereka beralih menatapku yang tengah berjalan menghampiri meja kerja mereka setelah beranjak dari ruang sholat. Aku tersenyum simpul menyembunyikan semua rasa sakit yang menghimpit dadaku. Aku tahu, sangat tahu apa arti dari tatapan mereka itu.
"Nggak jodoh...,"ujarku kemudian sembari tersenyum simpul. Dan mereka menatapku dengan tatapan mengiba.
Satu bulan sejak pertemuanku dengannya kala itu. Dan hari ini tepatnya ia melangsungkan hari bahagianya. Melangsungkan pernikahan dengan wanita yang Tuhan jodohkan untuknya.
Aku tidak menghadiri hari bahagianya. Bukan karena aku tidak ingin melihatnya bahagia, hanya saja aku memang tidak bisa hadir di tengah-tengah kebahagiaannya itu. Karena aku kini terbaring di ruangan serba putih ini.
Jangan berfikir bahwa aku melakukan hal yang dibenci oleh Tuhan dan makanya aku sekarang terbaring di brangkar dengan wajah pucat pasi. Sungguh, aku tidak melakukan hal bodoh seperti yang bunuh diri hanya karena harus berpisah dengan lelaki yang aku impikan menjadi imam-ku di masa depan. Tapi, karena aku memang ditakdirkan untuk berada disini.
Tepatnya, satu tahun yang lalu, sebelum pertemuanku dengannya bulan lalu, aku mendapat kabar bahwa aku di vonis penyakit ini. Kanker otak, dan aku bisa bertahan cukup lama kata dokter padahal saat itu aku sudah tahap stadium akhir. Tapi kini, aku sudah tidak bisa menyembunyikan semuanya. Penyakit itu kian menggerogoti tubuhku, hingga akhirnya aku terbaring disini.
Aku menatap jendela kaca dari tempat ku di rawat. Dapat ku lihat berlarian bocah-bocah kecil di taman bermain rumah sakit. Mereka tertawa dengan di dampingi orang tuanya. Tampak ibu dari sang anak kecil itu tertawa bahagia meskipun ia harus terduduk di kursi roda. Anaknya, adalah penghiburan untuk dirinya hingga ia merasa tidak sakit lagi, batinku.
Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke jam dinding. Belum waktunya saat dokter atau perawat berkunjung pikirku. Makanya aku belum mengenakan kerudungku. Ku biarkan kepalaku yang botak tanpa tertutupi. Aku mengambil handphone di atas nakas dan tanpa sengaja aku melihat undangan pernikahannya yang semula ku simpan di laci nakas.
Aku membuka undangan itu. Dan ku raba namanya yang dicetak dengan tulisan timbul. "Erlan Shaka Pradica", itulah nama mempelai pria yang tercetak dalam undangan itu. Sejenak setelah meraba tulisan itu, aku meneteskan air mata.
"Semoga kamu bahagia, dan bisa menjadi imam yang baik yang bisa mengantarkan istrimu ke surga...," ujarku tulus dalam do'a ku.
Pagi ini aku terbangun dengan kesakitan yang lebih dari biasanya. Aku memencet bel untuk memanggil perawat dan setelah mendapatkan penanganan alhamdulillah rasa sakitnya sedikit berkurang. Ku ambil handphone ku dan segera ku buka akun medsos berwarna orange itu, tempat dimana aku bisa menceritakan apapun yang tidak bisa aku bagi dengan orang lain. Perlahan dengan tangan bergetar karena tubuhku masih lemas aku mengetikkan beberapa paragraf dalam akun itu.
"Sama seperti ketika kita bermain basket, tidak semua bola yang kita lempar masuk ke dalam ring. Begitupula dengan perasaan. Tidak semua perasaan mendapat balasan."
"Saya akhirnya sadar, bahwa saya harus bisa merelakan. Mengikhlaskan perasaan saya, hanya dimiliki diri saya sendiri. Tidak tersentuh atau berbalas olehmu. Saya akhirnya sadar, bahwa mungkin bahagiamu bukan denganku. Membunuh mati perasaan saya, adalah satu hal yang saya percayai bahwa itulah jalan terbaik yang harus saya pilih. Karena seperti di awal bahwa setiap perasaan tidak selalu mendapatkan balasan seperti yang kita inginkan."
"Saya akhirnya sadar, bahwa kamu mungkin bukan diciptakan Tuhan untuk saya. Saya harus melepasmu meski harus bersusah payah dan tertatih-tatih. Biarlah perasaan ini menjadi renjana hingga waktu perlahan-lahan kan menghapusnya pergi."
Setelah mengetikkan dan mempublish tulisanku itu beberapa menit setelahnya aku menerima notifikasi dari seseorang. Seseorang yang sudah cukup aku kenal, karena ia sering membaca tulisan-tulisan saya di medsos orange ini.
"Kamu dimana?" tanya seseorang pemilik nama akun "Ana Uhibbuka Fillah" itu, nama yang cukup aneh menurutku ketika awal-awal aku mengetahui bahwa ia merupakan salah satu yang setia menikmati semua tulisanku.
Aku masih diam tidak membalas pesan tersebut. Dan kemudian pesan berikutnya datang dari pemilik akun yang sama.
Ana Uhibbuka Fillah : Aku akan menemukan kamu, dimanapun kamu berada saat ini," ujarnya. Dan lagi-lagi aku tak membalas pesan itu. Karena aku sama sekali tak mengerti apa maksud perkataan dan pernyataannya itu.
Akhirnya yang kulakukan hanya menutup medsosku dan mematikan handphoneku, kemudian aku berjalan tertatih seorang diri ke kamar mandi, karena aku memang hidup sendiri di dunia ini karena orang tuaku sudah wafat sejak aku sekolah menengah pertama, dulu. Aku terbiasa sendiri, dan menghidupi diriku sendiri. Dan mungkin, ketika akhirnya aku harus menutup mataku untuk kembali kepada Rabb-ku aku juga hanya akan sendirian.
Aku merintih kesakitan, ini sudah begitu malam namun entah mengapa tiba-tiba aku merasakan sakit yang teramat sakit bahkan melebihi yang kurasakan tadi pagi. Keringat dingin bahkan memenuhi sekujur tubuhku, aku hendak mencoba untuk menggapai bel untuk memanggil perawat namun terlebih dulu aku melihat pintu ruang inapku di buka. Dalam pandangan remang karena yang menerangi kamarku hanya beberapa lampu saja, aku terkejut melihat siapa yang tengah berdiri disana.
Ia memandangku dengan tatapan terluka. Dan menyadari hal itu, aku yang semula sadar dengan kondisi diriku pun segera mengenakan kerudungku, menutup kepala botakku yang tadi sempat terlihat olehnya. Aku menahan rasa sakitku dan berusaha melupakannya sejenak karena seseorang yang tak ku harapkan ada untuk disini tengah berdiri semakin dekat di ranjangku.
Keheningan kembali tercipta diantara kami. Ia masih memandangku dengan tatapan terlukanya. Sementara aku yang melihat suster yang ternyata tadi berdiri dibelakang lelaki itupun mengalihkan pandanganku darinya.
"Ma'af, tadi sudah saya katakan bahwa jam jenguknya berakhir. Tapi, tuan ini memaksa untuk menjenguk Nona Kiara, apa nona tidak keberatan?" tanya suster itu dengan raut wajah yang sangat bersalah, karena walau bagaimanapun ini sudah pukul dua belas malam. Aku hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
Kini tinggallah ia yang duduk kursi yang disediakan di sebelah ranjangku untuk tamu yang berkunjung. Dia adalah tamu pertama yang berkunjung ketika aku rawat inap di rumah sakit sekitar tiga minggu lamanya. Karena aku, memang tidak memberi tahu siapapun keadaanku, makanya semua rekan kerja dan teman-temanku tidak pernah ada satupun dari mereka yang mengunjungiku di rumah sakit, bahkan mereka mungkin tidak ada yang tahu bahwa aku tengah menderita kanker otak stadium akhir.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanyaku memecah keheningan. Tampak ku lihat wajahnya penuh lebam. Bahkan bibir sebelah kanannya pun robek.
Ia tak menjawab pertanyaanku. Aku menduga-duga bahwa mungkin ia terlibat perkelahian dengan satpam karena tidak diizinkan berkunjung di tengah malam seperti ini. Aku menatapnya dan menunggunya menjawab untuk meyakinkan kebenaran dugaanku. Namun ia masih bungkam.
"Kok bisa tahu aku di sini?" tanyaku kemudian mengalihkan pertanyaanku tadi dengan pertanyaan lainnya.
Dia hanya mengeluarkan obat kecil ditangannya dan menyodorkannya ke arahku. Aku tahu obat itu, obat yang aku minum untuk menahan rasa sakit dari penyakitku. Dan aku terkejut melihat ia menengadahkan telapak tangannya yang semula menggenggam tiga butir obat itu. Aku menatapnya dan dia seolah tahu bahwa aku hendak bertanya darimana ia mendapatkan obat itu lewat tatapanku.
"Aku memungutnya ketika pertemuan kita saat itu. Tanpa sengaja, aku melihat obat itu berjatuhan di pantry kampus saat kamu selesai mengambil air minum," jelasnya.
"Sejak kapan?" tanya nya kemudian. Dan aku tahu bahwa aku tidak akan bisa lagi berlari dari pertanyaannya.
"Satu tahun lalu...," ujarku.
"Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya kemudian.
"Kamu tidak berhak untuk tahu...," ujarku kemudian.
Dia menggaruk kasar rambutnya. Sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Maka berikan aku hak itu...," ujarnya dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Itu tidak mungkin Lan, kamu sudah beristri dan kamu tidak seharusnya...,"
"Aku tidak pernah menikah Ra, tidak ada pernikahan bagiku kemarin...," ujarnya.
"Tapi, bagaimana mungkin. Kamu tetap saja harus menghargai istrimu....," ucapanku kembali terpotong oleh perkataannya.
"Aku tidak menikahinya. Dia menikah dengan seseorang yang seharusnya bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya...,"
"Bayi...maksud kamu?" aku menjadi semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Bagaimana mungkin dia tidak jadi menikah dan bayi. Maksudnya bayi? gumamku.
"Aku terpaksa menikah dengannya karena tidak tega membiarkan dia menanggung aib sendirian Ra. Meskipun itu jelas-jelas bukan perbuatanku, tapi aku tidak bisa membiarkan dia menderita sendirian mengingat bahwa pernah ada masa lalu diantara aku dan dia. Tapi, kemarin saat akad hendak berlangsung tiba-tiba lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas yang apa terjadi pada wanita yang mau aku nikahi datang dan bersedia menikahinya," jelasnya panjang lebar.
Dan aku terkejut mendengar kenyataan itu, bahwa sebenarnya dia hendak menikahi wanita itu hanya karena merasa bertanggung jawab karena wanita itu adalah mantan kekasihnya dulu, bukan karena dia menyukai wanita itu? Benarkah?' batinku berperang dengan isi kepalaku yang menerka-nerka benang kusut permasalahan itu.
"Karena itu, izinkan aku memiliki hak atas kamu, memiliki hak untuk bisa mengetahui kondisi kamu dan memiliki hak untuk menemanimu melewati hari-harimu...," ujarnya dengan kata-kata bergetar. Ia berlinang air mata, dan ini pertama kalinya aku melihatnya menangis sepanjang aku mengenalnya.
"Tapi aku bukan wanita sempurna Erlan. Aku cacat dan hidupku mungkin sudah tidak akan lama lagi...," ujarku sembari berlinang air mata.
"Jangan mendahului takdir Allah, itu dosa. Kita harus percaya pada Allah mungkin inilah cara Allah menyatukan kita. Kamu wanita sempurna di mataku, sampai kapan pun itu. Dan aku mencintaimu karena Allah. Jadi, izinkan aku memiliki hak atas kamu...," ujarnya sekali lagi dengan senyum yang meneduhkan seperti biasanya.
Dan akupun menganggukkan kepalaku mengiyakan lamarannya. Ia mengambil tisu di atas nakasku dan memberikannya kepadaku. Aku mengusap sisa air mataku dan kemudian tersenyum kerahnya yang tengah menatapku dengan tatapan penuh kasih.
Sungguh, Allah Maha Baik, mengirimkan lelaki ini untukku. Dan aku tidak akan pernah berhenti bersyukur untuk itu.
Mungkin bagi sebagian orang akan mengatakan bahwa aku egois. Mengikat seseorang untuk hidup bersama dengan wanita cacat dan penyakitan sepertiku. Tapi, aku juga ingin bahagia, sekali saja sebelum aku menutup mata. Aku tidak berdosa bukan?
Tiga hari setelah lamaran yang diajukannya itu, akhirnya kami menikah di rumah sakit. Pernikahan yang sederhana jauh dari kata mewah seperti impian setiap wanita di dunia, tapi aku merasa cukup, aku bahagia itu sudah cukup karena impianku sudah terpenuhi, menjadi istri dari lelaki yang dulu diam-diam aku sukai.
Keluarga besarnya datang. Dari orang tua, paman dan bibinya juga kerabatnya yang lain. Bahkan wanita itu datang, wanita yang nyaris menjadi istri dari lelaki yang kini berstatus menjadi suamiku. Ia datang bersama dengan suaminya, dan ia memberikan ucapan selamat dengan tulus kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan.
Dokter dan perawat menjadi saksi pernikahan kami. Beberapa pasien yang melihat ruang inapku yang biasanya sepi kini tampak ramai, juga berdatangan melihat dan menjadi saksi pernikahan kami. Setelah kata "sah" terucap dari semua orang yang hadir, air mataku metetes tanpa bisa ku bendung lagi.
Lelaki itu, Erlan Shaka Pradica, yang sudah sah menjadi suamiku, memegang ubun-ubunku dan mengucap do'a dan setelahnya ia mendaratkan kecupan kecil di keningku yang sontak mendapatkan ledekan dari orang-orang yang hadir dalam pernikahan kami.
Aku bahagia, sangat dan aku tidak berhenti bersyukur untuk itu. Allah, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan untukku hingga aku bisa merasakan kebahagian ini. Sungguh, nikmat-Mu yang mana lagi yang bisa aku dustakan? Bahkan jika Engkau memanggilku sekarang, aku ikhlas untuk menutup mataku dan kembali kepada-Mu.
~END~