Aku pernah kenal seorang wanita, dia temanku saat masih sekolah dulu. Badannya kurus, tak banyak yang mau mengenal dia pada saat itu. Ia cuma seorang gadis miskin yang suka berjualan gorengan saat pulang sekolah. Tak beruntung memang, ia dilahirkan di keluarga miskin. Tapi siapa sangka, ia kini mempunyai katering daringnya sendiri. Rumahnya besar, bahkan kateringnya punya tempat tersendiri. Penjualan daringnya tembus tiga puluh juta … dalam seminggu. Aku akan bercerita tentang dia.
Kamu pernah di-bully? Diejek jelek dan miskin sehingga kamu menangis seharian di kamar? Jangankan lapar, maag yang diderita Seruni Hamdani itu tak pernah ia hiraukan di kamar.
Sehabis sekolah, Seruni selalu membantu ibunya berjualan gorengan dari gang satu ke gang yang lainnya, door-to-door. Memang banyak yang beli karena kasihan melihat badan kurus kering Seruni. Para pembeli sudah tahu kalau Seruni kerap diperlakukan kasar oleh teman sekolahnya.
Aku, sebut saja Yanto, teman sebangku Seruni yang mau tidak mau duduk di sebelahnya. Sebagai ketua kelas, aku bertanggung jawab atas kehidupan sosial Seruni di sekolah. Sebetulnya, ia pintar, aku sering diajari matematika olehnya, apalagi kimia dan fisika. Dari situ timbul empatiku pada Seruni.
Sepulang sekolah, aku mengajukan diriku untuk menemani Seruni berjualan. Dia menolaknya dengan tegas, tanoa basa-basi, ia berteriak "tidak" lalu meninggalkanku sendiri.
Ia berjalan keluar sekolah dengan cepat. "Seruni!" panggilku tanpa memperdulikan semua orang akan mencemooh aku.
Rumahnya tak jauh dari sekolah, mungkin itu sebabnya ia mudah sekali mendapat beasiswa di sekolah ini. Ia mengambil dagangannya lalu mulai berkeliling sekitar rumah dan sekolah.
Aku masih mengikuti dia, namun tetap saja ia tak memperdulikan keberadaanku.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Seruni.
"Suka-suka dong. Aku lagi cari rumah, katanya Charles tinggal di dekat sini," jawabku seadanya.
"Charles tinggal di gang C nomer 72. Dan arahnya nggak ke sini, gang C sebelah sana," ucap Seruni sambil menunjuk.
Ia melanjutkan pekerjaannya, ada banyak yang membeli, sampai akhirnya tinggal tersisa sedikit. Mereka sudah seperti menunggu Seruni untuk lewat. Jam sudah menunjukkan pukul 17.23 WIB, dan akhirnya ia duduk di sebuah bangku kayu di sebuah gang. Aku tidak tahu ini di mana.
"Kubeli sisanya," basa-basiku.
"Nggak usah sok peduli, Yan."
"Aku laper kali, ngikutin kamu terus!" jawabku agak ketus, semoga usahaku meluluhkan hati Seruni berhasil.
"Siapa suruh ngikutin?" Seruni mengelap keringat di dahinya.
Aku mengambil dua sisa bakwan sayur dan mulai makan.
"Kenapa sih kamu bela-belain banget dagang ginian?" Seruni malah menatapku dengan kesal, ia melotot, tapi aku tetap saja ngotot ingin tahu alasannya.
Seruni menghela nafas lalu menjawab, "Aku suka berdagang," jawab Seruni.
"Terus, orang tua gimana?"
"Mereka sebenarnya nggak suka aku berdagang, kata mereka aku masih kecil, belum bisalah dagang-dagang kayak begini." Aku makan bakwan kedua. Rasanya tak kalah enak dengan yang dijual di abang-abang.
"Enak," ucapku, jelas saja gorengannya laku keras. Aku ingin makan pisang goreng, namun sudah habis.
"Berapa duit?" tanyaku.
"Nggak usah, anggap saja latihan aku membayar karyawan yang sudah capek-capek bantuin bosnya jualan." Seruni tersenyum manis.
"Heiii, kamu bisa bercanda juga. Besok aku ikut jualan lagi ya … lumayan dapet gratisan."
"Bangkrut dong akunya, bayarin makan kamu terus."
Aku dan Seruni, secara membingungkan bisa bersahabat hingga kami lulus sekolah. Aku bersyukur, ternyata punya teman yang gigih berjuang. Di satu sisi, ia adalah pelajar yang berkewajiban belajar. Di sisi lain, ia giat membantu keluarganya mencari nafkah.
Aku kenal dengan kedua orang tuanya, bahkan keluarganya. Dibilang miskin sebenarnya juga tidak. Orang tua Seruni masih bisa membiayai semua kebutuhan Seruni. Hanya saja, Seruni sangat prihatin pada keadaan orang tuanya, tidak mau beli ini-itu dengan mudahnya. Itulah yang membuat aku kagum, yang pasti tak dimengerti oleh sebagian teman-teman kami. Mereka mengira kalau pelajar nyambi jualan gorengan, sudah pasti miskin.
Aku melanjutkan studiku di bangku kuliah, sedangkan Seruni, ia tak mengambil kesempatan meneruskan pendidikan sarjananya hanya untuk mengejar mimpinya sebagai pemilik katering daring..
Aku pindah ke Jogja, sedangkan Seruni masih berkutat di ibukota. Kami masih berteman baik walaupun harus puas dengan panggilan suara saja. Aku tahu persis perjuangannya, ia beratus-ratus kali mencoba resep dan tak sedikit gagal.
"Yan, boleh nggak aku pinjem uang lagi?" pinta Seruni di panggilan suara. Aku menghela napas karena dari sekian banyak uang yang kupinjamkan padanya, belum satupun yang kembali. Uang itu kuperoleh dari uang jajanku, jadi tak heran bila aku lebih sering makan mie instan ketimbang makanan beneran.
"Kamu mau pinjam berapa lagi? Uang jajanku belum turun."
"Tolonglah, Yan, masalahnya—"
Tuuut.
Aku memutus panggilan itu, tak peduli kalau Seruni belum menyelesaikan kalimatnya. Bagaimana ini? Aku tak punya uang, akhirnya aku meminjam uang pada pacarku, Agnes. Ia mengenal Seruni, tapi aku tak mau memberitahu dia kalau uang ini untuknya. Bisa-bisa aku langsung diputus.
Agnes yang mencintaiku pun setuju-setuju saja. "Awas kamu, Yanto. Uangku jangan dikasih teman kamu, Seruni. Pastikan kamu mengembalikannya saat papa kasih kamu uang jajan." Aku meminjam dua ratus ribu. Memang bukan nominal yang besar, tapi cukup besar bagi Agnes yang hanya kerja magang di sebuah coffee shop di Jogja.
Pun aku juga ingin menangis, tapi aku punya keyakinan besar pada Seruni. Uang yang kupinjamkan pada Seruni sudah tak terhitung, bisa jadi lima jutaan, sangatlah besar bagi anak kos seperti aku.
Kerja keras Seruni akhirnya membuahkan hasil. Beberapa perusahaan kecil memakai jasa kateringnya. Ia memberitahuku lewat pesan singkat, yang lama kelamaan menjadi menghilang secara perlahan. Bagaimana kabar Seruni sekarang?
Tahun demi tahun terlewati. Aku sudah menikah dengan dengan Agnes dan kabarnya, Seruni juga sudah menikah dengan seseorang yang menjadi langganan cateringnya.
Aku tak menyedihkan hubungan pertemanan kami yang sudah putus sejak lama, karena ada tangis haru saat melihat sebuah website katering yang memajang fotonya dengan sang suami, beserta foto-foto makanan yang terlihat lezat.
Aku memberanikan diriku menelpon nomor yang terpajang di situ.
"Selamat siang, dengan Katering Seruni, ada yang bisa dibantu?" sapa seseorang yang kupercaya adalah customer service.
"Bisa bicara dengan ibu Seruni?" jawabku.
"Ibu Seruni sedang sibuk, sudah buat janji, Pak?"
"Oh, belum. Bilang saja dari Yanto,"
"Tidak bisa, Pak. Harus dengan janji, Beliau sedang memasak. Saya tidak berani ganggu kalau beliau sedang memasak."
"Oh, gitu ya. Saya titip salam saja kalau begitu, bilang saja kalau Yanto menelpon."
Aku begitu bangga pada Seruni, bukan perasaan kecewa yang kurasa. Ia begitu gigih bekerja, sampai susah sekali untuk berbicara dengan Seruni. Namun, tak lama, ada telepon masuk dan itu dari Seruni.
"Halo Nyonyah Sibuk, apa kabar?" sapaku sambil sedikit mengejek.
"Yantooo! Astaga kamu apa kabar? Maaf … aku sibuk. Tapi aku akan luangkan waktu buat kamu. Aku punya banyak karyawan. So, kapan kita bisa ketemuan?"
Selesai.