“Aku dilahirkan sebagai wanita yang biasa. Tiada apa yang istimewa untuk dibanggakan. Namun aku punya naluri untuk menjadi wanita hebat. Wanita yang boleh menjadi penghuni syurga nanti. Insyaallah. Walau akalku setipis belahan rambut. Akan ku tebalkan ia dengan ilmu. Impianku untuk melengkapkan diri dengan ilmu dan taqwa”. Itulah kata-kata yang diungkapkan oleh bidadari yang berparas sederhana namun anggun dan menyejukkan bila melihat senyumannya.
Namaku Muslimah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku, impianku sesuai kata-kataku yang diatas.
Ingatkah kata-kata "Lebih baik jadi mantan preman ketimbang jadi mantan ustadz, dari pada mantan ustadz tapi murtad. Lebih baik gagal dari pada terlambat."
Aku bukan ahli agama yang jelas setiap orang punya pedoman dan keyakinannya masing-masing. Bukan itu masalahnya, aku hanya ingin menunaikan ibadahku sesuai tuntunan agamaku, aku ingin pasangan ku yang tahu agama yang bisa mendidik ku, karena lelaki kalau salah pilih wanita boleh diperbaiki, sedangkan wanita salah pilih laki-laki, salah arah, salah pemimpin, salah tujuan.
"Sayang, umurmu sudah tidak muda lagi segeralah menikah selama ibu dan bapak masih hidup, umur tidak ada yang tahu. Apa lagi, lihatlah bapakmu sudah tua, lihatlah ibu sudah keriput." Kata ibu setelah makan denganku.
Aku mulai menghela nafas panjang, aku yang sedang menunggu seseorang aku yakin dia pasti datang untuk melamarku. Tetapi lekaki itu selalu mengulur waktu beralasan belum mapan, belum punya segalanya yang bisa membahagiakanku anggap saja materi belum cukup.
"Saka, kapan kamu mau melamarku? Kedua orang tuaku selalu menanyakannya."
"Tunggu sampai aku bisa mendirikan rumah aku akan melamarmu." kata Saka kepada ku.
"Sampai kapan? tahun lalu kamu ingin membuka usahamu restoran, dan kini? Lihatlah kakakku mereka menikah sebelumnya belum memiliki rumah tapi setelah menikah mereka bareng-bareng membangun rumah entah usaha apa mereka lakukan tapi alhmdulilah sukses sampai sekarang dan memiliki mebel sendiri dengan membayar orang semua selesai bagaikan mandor." kata panjang lebar ku.
"Iya aku tahu, beri aku waktu ehm... 6 bulan atau tahun depan menikah, aku belum mapan Imah aku masih kurang ekonomi ku." Sanggah Saka.
"Saka menikah diKUA bagiku sudah cukup, lagian menikah itu tidak modal banyak, dan aku tidak ingin mewah cukup sederhana saja dan bagaimana yang terpenting setelah menikah, bukan dengan kita habiskan uang untuk hajatan besar-besaran hutang dimana-mana, SAH bagiku sudah cukup."
"Dan satu lagi kamu kalau serius tidak banyak alasan ini itu. Ingat Saka siapa tahu setelah menikah rezeki lebih dipercepat karena ada doa istri yang selalu menyertai suaminya, karena rizki suami adalah ridho istri. Aku gak mau tahu 3 bulan ya kamu harus memutuskan menikah denganku atau tidak itu hanya dipilihan tanganmu sendiri." Kataku sambil berdiri meninggalkan Saka sendirian ditempat makan tersebut.
1 bulan kemudian......
Kini aku sudah memakai baju pengantin yang anggun dan cantik, aku saja sampai pangling dengan wajahku sendiri dengan polesan rias yang begitu cantik, tanganku di batik indah dengan ukiran henna putih di kedua punggung tanganku.
"Ya Allah, semoga keputusan ku kini tepat untuk kehidupan ku, sekali seumur hidup. Terimakasih sudah berikan petunjukMu Tuhan, tak henti-hentinya aku sholat tengah malam untuk semua jawaban ini."
Akhirnya Saka memberanikan diri dan mendaftar menikah ke KUA bersamaku, semua dan kedua orang tuaku bahagia menyaksikan pernikahan ku dengan Saka, tapi aku tahu betul Saka yang tidak punya siapa-siapa, bagiku Saka sudah kunilai bertanggungjawab sekarang.
Meski sederhana pernikahan ku dan SAH dimata hukum, kini aku dengan Saka harus melewati keluarga kecil berdua. Mulai dari awal tanpa tuntutan atau bantuan dari kedua orang tuaku atau dari keluarga Saka yang masih ada tapi tidak terlalu dekat dengan Saka, jujur aku sendiri juga belum siap menikah kala itu karena seperti benar-benar terpaksa menikah, yang biasa masih bergantung dengan kedua orang tuaku, kini aku bisa bergantung dengan suamiku dan belajar lebih dewasa.
Kini aku menikmati meski harus mulai dari nol, yang benar-benar menghandalkan tabungan, merintih dari bawah, dan selalu ingat Allah disetiap menjalani hidup ini. Yang berawal dari kontrakan lama kelamaan memiliki rumah sendiri sembaring itu Tuhan juga memberikan rezeki yang begitu sangat berharga, harta berhargaku adalah buah hatiku dengan keluarga kecilku ini. Dan alhamdulillah karena kami dibekalin agama yang cukup kuat, berantem kita seperti berbahasa Arab yang mereda, tanpa memiliki emosi yang tinggi. Asal suamiku tidak berselingkuh atau main tangan alias KDRT bagiku tidak masalah, apa lagi tidak membuatku menangis aku akan lebih mengalah tanpa harus melawan suami.
-Ҽɳԃ-