Apakah manusia lemah itu levelnya selalu suram di bumi. Mereka bagaikan kepulan asap pahit perih dimata, bahkan kedatangannya pun tak di harapkan. Apakah sejenis itu, apa kata suram itu cukup mendeskripsikan mereka? Lembayung di bawah dirimu tanganku merakit, melalui senjata pusakaku penaku, belahan hatiku, dengannya seluruh kisah kisah dalam semesta-ku ku tuang.
Semesta megah sekali, namun dari netraku aku masih memandang lekat mereka. Kerikil jalanan berwujud manusia, yang katanya mereka adalah sampah-sampah masyarakat yang tak pantas hidup. Hei Kisana, coba koreksi lagi tiap ucapan lisanmu!
Manusia, coba lihat dan pahami, bukan tentang mereka yang menciptakan kejahatan, namun tanyakan, koreksi, apa yang membuat mereka bertingkah mengarungi jalan fatal itu.
Bumimu, terlalu kacau saat ini, manusia memiliki dua netra ajaib. Namun mengapa, mereka, mereka hanya menggunakan sistem cara pandang satu sisi. Lantas, mata mereka yang satu kemana?
Kalian makhluk berakal,berlogika, beradab tidak diciptakan menjadi biadab. Hukum Tuhan selalu sempurna, maka di bumi, tak ada penghakiman lebih mulia daripada Arsy nya (Singgasana Tuhan).
Kisana kisana bermuka setan itu, merekalah racun sesungguhnya. Ribuan kertas mulia didalam kopernya, adalah sianida paling mematikan dibumi. Keberadaannya dibutuhkan, namun, membutuhkan banyak juang meraih mendapatkannya. Ada yang kehilangan logika, menjual diri dan tentram dengan hasilnya.
Ada yang membuang otaknya, lalu berlari merampas dari manusia ke manusia lain. Antara haram dan halal, keterpaksaan dunia membutakan segalanya. Rupanya, dunia sudah sekacau ini ya. Semesta, semoga kau selalu tabah menyanggah kami dalam ruangmu.