Langkah pelan Naira perlahan berubah menjadi lebih cepat lalu ia berlari kecil sebelum kemudian berlari dengan kencang. Sebuah bayangan hitam yang entah dari mana asalnya terus mengejar. Naira berusaha kabur sejauh yang ia mampu. Napasnya tersengal, keringat bercucuran tapi sosok itu, enggan melepasnya. Naira lantas berteriak lantang kala tiba-tiba, sosok yang sedari tadi di belakang, kini mendekapnya dari depan. Naira terbangun gelagapan, ternyata hanya sekedar mimpi semata. Netranya berpendar ke segala arah seraya lekas merasa lega sebab benar, ia masih berada di dalam kamar.
"Astagfirulloh!"
Sayangnya, kelegaan itu tidaklah bertahan lama. Mimpi buruk terulang hingga tiga kali. Hal ini membuat tidur Naira menjadi tidak tenang. Bahkan, ia merasa ketakutan tiap kali matanya mulai mengantuk. Meski demikian, tubuh manusia memiliki batas ketahanan. Sekuat apa pun Naira menahan, matanya tetap tertutup juga. Rasa kantuk tak lagi mampu ia tahan dan kejadian serupa pun terulang.
Untuk yang kesekian kali, Naira bangun gelagapan. Perbedaannya adalah, tiba-tiba ada bunga mawar dan melati yang berada dalam genggamannya. Naira mengamatinya sesaat sembari coba mengingat. Andai dia lupa telah membawa bunga itu di tangan. Sayangnya, Naira yakin kalau ia tidak pernah membawa bunga itu dan tidak tahu dari mana asalnya. Naira yang masih kebingungan, memilih untuk membuangnya ke luar jendela kamar.
"Aneh sekali," gumamnya seraya menggelengkan kepala.
Hari-hari Naira menjadi lebih buruk. Semua aktivitas harian menjadi terganggu. Tubuhnya kuyu, matanya sayu. Konsentrasinya pun sering kali buyar. Tak jarang, ia tertidur di dalam kelas hingga beberapa kali mendapatkan teguran. Terakhir, orang tuanya dipanggil. Saat inilah Naira menceritakan semuanya. Sayangnya, orang tuanya menganggap Naira hanya berkilah sebab enggan mengakui kesalahan. Rasanya ingin marah tapi Naira memilih untuk diam.
"Jelas saja tidak ada yang percaya, mimpi buruk, apa yang perlu ditakutkan? kecuali kalau mereka mengalaminya juga. Tentu akan mengerti betapa mengerikannya aktivitas tidurku saat ini," degus Naira.
Naira hanya bisa berdiam diri di kamar hingga tanpa terasa, petang menjelang. Lagi-lagi ia ketakutan, seiring rasa kantuk yang kian menyerang. Alhasil, Naira menangis, terisak-isak hingga menarik perhatian kedua orang tuanya. Naira meminta ibunya untuk menemaninya tidur malam itu. Beruntung, ibunya mengangguk, beliau mau. Naira merasa sedikit lega meski hal ini tetap tidak menutup kemungkinan ia akan mengalami mimpi yang sama.
"Ibu pasti tidak percaya ya dengan mimpi yang Naira alami?"
"Bukan begitu, semua mimpi buruk itu datang karena kamu tidak berdoa terlebih dahulu. Selain itu, berhenti baca novel horror dan jangan menonton film horor juga!"
"Enggak bu, Naira.."
Naira menghentikan ucapannya sebab, ia tahu bahwa apa pun yang ia katakan akan percuma saja.
"Kali ini, jangan lupa berdoa ya!"
"Iya," jawab Naira pasrah.
Usai berdoa, Naira menutup matanya dan tak butuh waktu lama, ia pun terlelap. Hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Baru sebentar matanya terpejam. Tubuh Naira bergetar dengan hebat. Ibunya yang merasakan pergerakan, membuka matanya seraya seketika terperanjat. Ibunya membulat terkejut ketika melihat tubuh Naira melayang di udara dalam kondisi yang masih terlelap. Ibunya berteriak hingga ayah Naira datang.
Keadaan menjadi riuh seketika. Para tetangga dipanggil, begitu pun dengan pak ustad yang dianggap mampu menangani hal semacam ini. Tak lama kemudian, tubuh Naira kembali terbaring di ranjang. Sementara pak ustad masih sibuk dengan doa-doa yang beliau lantunkan.
Perlahan, Naira membuka matanya. Ia bingung sebab di kamarnya, terdapat banyak orang. Ibunya memeluk Naira sembari mengucapkan rasa syukur. Setelah membaca doa-doa, pak ustad berpesan agar Naira dan keluarganya lebih sering membaca Al-Quran. Ayahnya mengucapkan banyak terima kasih tapi, keluarga Naira memilih untuk pindah. Tak ingin mengambil resiko untuk tinggal lebih lama.
Sayangnya, di rumah baru pun kondisi Naira seolah tak berubah. Malah membuat gadis itu kian diam dan menjadi pemurung. Orang tuanya mulai khawatir tatkala melihat putrinya yang gemar berbicara dan tertawa sendirian. Jika ditanya, Naira mengatakan kalau ia sedang berbincang dengan temannya. Padahal, hanya ada dia seorang di dalam kamar.
"Apa Naira.. sudah gila ya yah?" tanya ibunya ketika diam-diam memperhatikan keanehan anaknya dari pintu kamar.
Ayah Naira menutup pelan pintu kamar Naira lalu mengajak istrinya untuk masuk ke kamar mereka.
"Jangan bicara sembarangan bu! bagaimana pun, Naira itu, anak kita. Kalau sampai desas-desus ini tersebar, mau ditaruh di mana muka kita?"
"Kalau begitu, apa usulan ayah?"
"Coba kita carikan orang pintar!"
"Apa ayah pikir, Naira kesurupan?"
"Bukan-bukan, bukan kesurupan tapi diikutin roh halus bu."
"Hah?"
"Masuk akal bukan? ibu masih ingat kan tentang apa yang menimpa Naira di rumah kita yang sebelumnya?"
Ibunya lantas diam seolah tengah berpikir dengan keras.
Setelah perundingan tersebut, kedua orang tuanya berusaha mencari orang pintar seiring dengan sikap Naira yang semakin aneh saja. Bukan hanya sikap Naira melainkan kondisi rumah yang kian angker seolah telah lama tak ditinggali. Tetangga kiri kanan pun mulai sering mengadu kalau mereka melihat penampakan sosok wanita berwajah hancur tengah duduk di teras rumah malam-malam. Ada juga yang mengadu kalau ia melihat seorang perempuan yang mondar-mandir di teras ketika Naira dan keluarganya sedang bepergian. Pernah juga, ibunya mengintip melalui lubang pintu kamar Naira hingga terjingkat terkejut sebab ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, barang-barang di kamar Naira melayang ke sana dan ke mari.
Alhasil, ibunya sudah tidak tahan dan mendesak suaminya untuk cepat mencarikan orang pintar. Keputusan darurat pun dibuat. Ayah dan ibunya membawa Naira ke sebuah pesantren tanpa memberi tahu Naira terlebih dahulu. Sesampainya di sana, Naira mengamuk seperti orang kesetanan. Bahkan, ayahnya dibuat terpelanting ketika berusaha menenangkan.
"Astaghfirulloh, tenaga Naira jadi sekuat ini," benak ayahnya.
Beberapa santri berdatangan seraya membantu memegang Naira. Sialnya, semua santri turut terpelanting, berjatuhan ke tanah. Naira mulai berlarian sembari berteriak dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti. Sikap Naira sudah tidak normal. Bagaimana tidak, Naira mulai merangkak hingga membuat semua orang terperangah sebab, Naira merangkak di tanah dilanjutkan dengan merayap ke dinding hingga ke atap. Layaknya cicak yang dapat merayap dengan mudah di dinding rumah.
"Ya Alloh!"
"Astaghfirulloh!"
Semua orang saling bersahut-sahutan.
"Panggilkan kyai sepuh! panggilkan kyai sepuh!" seru salah seorang ustad di sana.
Naira mulai menyeringai di susul tawa cekikikan. Tak lama kemudian, kyai sepuh datang sembari membaca doa-doa. Tubuh Naira terjatuh seketika. Beruntung, para santri sigap menangkapnya. Tak berhenti di sana, tubuh Naira kembali terangkat, melayang di udara lalu berputar-putar.
"Ya Alloh!"
Semua orang keheranan, sementara kyai sepuh masih sibuk dengan doa yang beliau lantunkan. Perlahan, keluar asap putih dari tubuh Naira. Asap itu mengepul dan menjadi lebih solid menyerupai siluet seorang perempuan. Kyai sepuh mengambil tiga buah kerikil sembari terus membaca doa lalu melemparkan kerikil itu ke arah asap yang menyerupai perempuan. Seketika itu juga, asap menghilang dan tubuh Naira kembali jatuh ke tanah. Kyai sepuh masih melanjutkan doa-doanya sebelum kemudian, meminta ayah Naira untuk mengangkat tubuh Naira ke dalam ruangan.
Butuh dua hari lamanya untuk melakukan pembersihan dan penutupan mata batin untuk Naira. Ternyata, Naira terlahir istimewa, ia memiliki mata batin yang kuat sehingga mampu melihat sosok-sosok yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sayangnya, tubuhnya tergolong lemah sehingga, tidak mampu menahan energi negatif dari para makhluk astral. Alhasil, keputusan terbaik adalah menutup mata batinnya. Langkah ini berhasil, Naira bisa kembali ceria seperti sedia kala. Sungguh pengalaman yang cukup mengerikan untuknya. Bahkan, Naira enggan untuk mengingatnya dan sama sekali tidak ingin bersinggungan lagi dengan hal ghaib.
TAMAT_Siyuk Sie