Satu minggu semenjak kepergian Edos menghadap Sang Maha Kuasa, Nadia masih setia mengurung dirinya di dalam kamar. Ia masih terus menangisi kepergian suaminya. Untung ibu dari Atar tersebut masih berfikiran realistis. Ia mau memakan makanan yang selalu Siti bawakan ke dalam kamar. Gadis itu masih memikirkan bahwa ada Atar yang masih membutuhkan dirinya.
"Mbak Tania, makan buah ya," ucap Siti yang sebelumnya sudah mengetuk pintu dan membukanya langsung. Di tangannya ada piring yang berisi buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong-potong.
Tania yang sedang menyusui baby Atar menoleh. "Taruh saja di meja, Mbak. Nanti pasti Tania makan kok.
Ting tong
Ting tong
Suara bel dari pintu depan menginterupsi kegiatan mereka.
"Ada tamu, Mbak. Mbak Siti cek dulu ya?" pamit Siti yang segera memutar tubuhnya meninggalkan kamar Tania setelah meletakkan piring yang ia bawa ke atas meja.
Nadia hanya memandangi punggung wanita yang menjadi asisten rumah tangga di rumah ibunya itu hingga hilang di balik pintu.
"Eh, Mbak Nanad. Sepertinya bawa pasukan ya? Tumben," sapa Siti seketika saat ia membuka pintu.
"Mbak Siti ada-ada saja deh. Cuma ibu mertua sama suami kok, Mbak. Tania ada di rumah kan, Mbak Siti?" jawab Nadia diakhiri pertanyaan.
"Ada di kamar kok, Mbak. Lagi nen*nin baby Atar. Tapi kapan Mbak Nanad nikah ya? Kok tiba-tiba udah punya mertua dan suami aja?" tanya Mbak Siti agak terkejut.
"Belum genap sebulan kok, Mbak. Aku langsung masuk ke kamar Tania ya, Mbak Siti," pamit Nadia yang segera nyelonong masuk ke dalam rumah.
"O pantas pas Mas Edos meninggal Mbak Nanad enggak kelihatan," gumam Siti. Mbak Siti hanya geleng-geleng kepala. Kemudian mempersilakan suami dan ibu mertua Nadia untuk masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Sementara ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Siti, kok rumah sepi? Memangnya pada kemana? Majikan kamu kemana?" cecar Bu Nastiti yang heran dengan keadaan rumah besar yang didatanginya kepada Siti saat gadis itu meletakkan minuman di meja.
"Ehm ... Bu Dewi dan Pak Ardi belum pulang dari kampung, Bu. Mas Edos suaminya Mbak Tania meninggal dan dimakamkan di kampung halamannya satu minggu yang lalu. Hari ini Bapak sama Ibu rencana pulang, mungkin masih dalam perjalanan," tutur Siti.
"Inna lillahi wa Inna ilaihi raji'un, kenapa tidak ada yang kasih kabar ke kami?" timpal Rasya seketika.
"Siti tidak tahu, Pak Dosen. Mungkin karena kejadiannya mendadak jadi tidak ada yang kepikiran untuk kasih kabar kepada keluarga Ibu dan Pak Dosen," sahut Siti berdasarkan analisanya sendiri.
"Memangnya Mas Edos sakit? Padahal waktu ibu ketemu di Indramayu pas nikahannya Nanad sama Rasya dia terlihat sehat?" tanya Bu Nastiti.
"Itu dia, Bu. Jangankan Ibu, kami semua juga kaget. Kata dokter ada kebocoran cairan di otaknya atau apa? Siti juga kurang begitu mengerti, Bu. Silakan diminum tehnya, Bu, Pak Dosen," sahut Siti kemudian mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang disajikan.
"Kasihan ya Tania, anaknya masih bayi udah ditinggal suami meninggal," ucap Bu Nastiti prihatin.
"Kalau Ibu ingin melihat kondisi Mbak Tania ke kamarnya saja, Bu. Sudah satu minggu dia tidak keluar dari kamar," ucap Siti.
Dari ruang tengah muncul Nadia menggandeng tanganTania berjalan beriringan. Tania melepaskan tangan Nadia lalu menghampiri Bu Nastiti, meraih tangannya. Namun, tubuh Tania langsung ditarik oleh perempuan paruh baya itu ke dalam pelukannya.
"Ibu turut berduka cita, yang sabar ya, Sayang," ucap Bu Nastiti menepuk pelan punggung Tania.
"Ibu!" sahut Tania membalas pelukan Bu Nastiti.