Ialah Sutarjo, kuli kasar disebut gudang beras yang ada di pasar tradisional. Istrinya ibu rumah tangga yang repot mengurus anak-anaknya dan sekaligus menjadi babu setengah hari dirumah orang kaya yang ada desa kecil itu. Keluarga Sutarjo tinggal di bawah bukit Moko provinsi Bandung, daerah yang terpencil membuat keadaan rumah dari keluarga Sutarjo selau kumuh, kotor, dan tidak enak dicium, itu karena air dari kaki bukit setiap malam selalu meluap dan masuk kedalam gubuk kecil mereka. Jauh lebih bersih dan indah jalan-jalan kota dari pada gubuk ini.
Dari setengah lusin anak mereka adalah Sumiati, anak tertua gadis usia dua puluh. Gadis remaja nan tanggung itu mekar menjadi kembang desa di daerah terpencil itu, rambutnya panjang, tingginya ideal, berkulit putih karena tinggal di bawah kaki bukit, berlesung pipi kanan dan kiri dan manis sekali senyumannya. Kalau kau berpapasan atau bertemu gadis remaja itu dijalan kau tidak akan menyangka kalau dia seorang gadis yang berasal dari keluarga yang miskin. Sumiati seorang gadis tanggung yang rajin, pintar, penurut, dan penyayang kepada keluarganya. Tapi gadis tanggung itu memiliki kekurangan dari gadis-gadis yang lain bukan karena kecantikan, kerajinan dan kecintaan, tapi soal pendidikan.
Jika takdir selalu baik kepada gadis tanggung ini, mungkin ia bisa bersekolah sampai lulus dan kuliah, pasti di rumah mereka akan penuh dengan mendali, piala-piala dan sertifikat. Tapi sayang gadis tanggung itu harus memutuskan berhenti sekolah karena mengurusi adik-adiknya dirumah, pendidikan terakhir cuma lulusan sekolah dasar yang jauh dari rumahnya.
Keluarga mereka bertahan hidup dari penghasilan bapaknya yang manjadi kuli kasae di pasar, hingga pada saat itu bapaknya mengalami kecelakaan dan patah tulang, yang selama ini brasa sakit itu selalu ditahan takutnya menjadi pikiran dan beban keluarga. Dengan faktor yang sudah menua bapaknya sulit untuk sembuh sudah banyak pengobatan tradisional yang di lakukan tapi hasilnya cuma Zonk.
Sejak Sutarjo sakit, penghasilan keluarga nihil untuk makan sehari-hari dan penghasilan ibunya hanya sebulan sekali. Dan sialnya harus bertambah dengan pengeluaran baru untuk biaya kesembuhan Pria tua itu yang tak kunjung sembuh. Ujung-ujungnya beban keluarga jatuh pada gadis tanggung itu, selain ia harus mengurusi adik-adiknya, dia juga harus mengurusi bapaknya dan bekerja keras membuat bakul bersama bibiknya hingga larut malam yang upah tidak seberapa. Tidak bisa dibayangkan gadis cantik nan jelita itu harus memikul beban keluarga. Dengan situasi yang semakin susah, saat Ibu mereka dipecat menjadi babu dirumah juragan kaya raya yang ada di desa itu. Ibunya difitnah mencuri emas dan uang dari rumah kaya raya itu, semua itu ulah dari babu yang lain, yang tidak suka dan tidak senang dengan wanita hampir setengah abad itu.
Malam itu bapaknya meringis kesakitan punggung dan lehernya sulit untuk digerakkan, tulang punggung dan ditambah tulang yang patah membuat pria tua itu meraung-raung kesakitan. Sumiati bersama bibiknya dengan menggunakan mobil tetangganya kerumah sakit dikota, pihak rumah sakit menolak kedatangan mereka karena tanpa jaminan pembayaran. Akhirnya pria tua itu dirawat di larikan di klinik yang berjarak tiga kilometer dari desa pelosok itu. Seorang yang ada di klinik itu menyarankan untuk menindaklanjuti dengan cara operasi tulang. Hati gadis tanggung itu gelisah dan bingung, mau mencari uang dari mana. Ia pun menundukkan pandangannya dan menangis diatas kursi tua yang ada halaman teras depan klinik itu. Cukup lama ia tundukkan pandangannya sekitar sepuluh sampai lima belas menit ia menangis dan tak sadar ada seorang wanita usia tiga puluhan menghampiri dirinya. Dan menanyakan apa yang telah terjadi sampai membuat rambutnya kusut dan berantakan tidak keruan dan muka yang kusam di basahi darai air mata. Gadis itu menceritakan apa yang telah terjadi pada keluarganya, dari ibunya yang difitnah mencuri sampai di bui dan bapaknya yang selama ini mengalami gangguan tulang yang harus disegerakan di operasi, sebelum parah dan bapaknya makin tersiksa. Wanita berbaju hijau itupun mendengar cerita dari gadis tanggung itu dan tak sadar ikut mengalirkan air mata. Wanita itu menawarkan satu kesempatan emas pada Sumiati, untuk bisa membantu mamanya yang sudah beberapa minggu ini mencari orang yang mau mendonorkan salah satu ginjalnya untuk orang tua wanita berbaju hijau itu.
Isak tangis gadis tanggung itu perlahan-lahan berhenti dan mengatakan "Ambil saja mbak ginjalku, demi pengobatan bapak". Wanita itu juga memberikan apresiasi kepada gadis cantik itu "Kamu anak yang sangat baik hati nak, beruntung bapak mu punya anak sebaik dirimu". Dan wanita itu menanyakan sesuatu dengan Sumiati "Malam nanti kamu ikut mbak ya, kita cek dulu apakah ginjal kamu bisa didonorkan untuk mama mbak". Gadis tanggung itu cuma mengangguk-anggukan kepalanya.
****
Malam itu membuat gadis tanggung itu cemas, akankah ginjal kecilnya bisa didonorkan untuk mama dari wanita paruh baya itu. Dan sesuai dengan keinginan, ginjal kecilnya bisa dan cocok untuk didonorkan. Ekspresi wajah yang sangat gembira dan berseri-seri, dalam hatinya "Terima kasih Tuhan, aku bisa menolong bapak".
Keesokan harinya mulai dilakukan eksekusi pendonoran ginjal itu, hampir setangah hari peristiwa menegangkan itu terjadi. Alhasil gadis tanggung itu sadarkan diri diatas ranjang dan seketika ia ingat dengan bapaknya dan tak sadar air matanya mengalir di cela-ceka pipinya.
Pintu ruangan itu terbuka dan terlihat wanita paruh baya itu masuk bersama dengan dokter untuk melihat keadaan gadis tanggung yang telah berjuang sampai saat ini. Wanita itu duduk persis disamping kanan gadis itu dan mengucapkan "Terimakasih ya dek, dengan bantuan adek mama mbak bisa dapat ginjal. Mbak janji bakal balas semua pengorbanan adek. Mbak janji bakal biayai operasi bapak mu dan mengurus ibu mu untuk bisa bebas lagi." Rupanya wanita paruh baya itu menyembunyikan profesinya selama ini sebagai pemilik perusahaan mebel yang ada di Jepara. Ia sangat berterimakasih kepada gadis yang sedang diatas ranjang rumah sakit itu telah menolong mamanya, yang selama ini ia ingin berbakti kepada orang tuanya.
****
Satu pekan telah berlalu teriakan adik-adiknya menyambut kedatangan ayahnya dari rumah sakit. Anak yang saling bungsu memeluk ayahnya dan berkata " Pak, bapak sudah sembuh, bapak sudah sehat, bapak bisakan bermain kuda-kudaan lagi dengan adik". Dengan lembut bapaknya menjawab "Iya dek, adek jangan nakal lagi ya sekarang". Dengan normal pria tua itu berjalan masuk ke ruang tengah. Sumiati hanya bisa berlinang air mata, perlahan-lahan air yanga ada di matanya menjadi butiran-butiran dan menetes mengenai pipinya yang putih dan halus sampai terbekas guratan air mata itu. Wanita paruh baya itu menyaksikan jatuh air mata dari gadis baik hati itu dan ia mengetahui rasa rindu dari gadis tanggung itu yang ingin bertemu dengan ibunya yang sekarang dibui.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, cukup satu pekan lebih dua hari ibunya kembali kerumah kecil itu dengan badan yang mengurus karena kurang perhatian dan ditambah beban pikira rindu anak-anak dan suaminya. Wanita tua itu cepat bebas karena tidak ada bukti yang jelas wanita tua itu bersalah mencuri emas dan uang itu. Tapi lupakanlah semua itu, yang terpenting sekarang ia telah pulang kerumah kumpul bersama anak-anak dan suaminya.
Ada kabar gembira yang lainnya, gadis tanggung yang sangat berjasa itu dijodohkan dan mau dinikahkan dengan adik dari wanita paruh baya itu, semua ini perintah dari mamanya dan mamanya minta untuk bisa tinggal di kota bersama dengannya. Karena mamanya sangat berhutang Budi dengan gadis tanggung itu.
****
Satu tahun telah berlalu, gadis yang dulu telah berkorban mendonorkan ginjalnya telah menikah dengan seorang pria dan tinggal di sebuah rumah di kota bak istana. Rasa cintanya tulus kepada suami yang dulu pernah dijodohkan, orang tuanya hidup sehat dan adik-adik hidup bahagia tinggal di kota. Sekarang Sumiati menjadi ratu yang hidup dengan penuh rasa cinta kepada suaminya dan kemerdekaan telah didapat dari perjuangan atas penderitaannya selama ini.