"Pokoknya Binar menolak pernikahan ini, Ayah," tolak gadis berparas ayu di hadapan Ayahnya.
"Maaf, Nak. Ayah sudah menandatangani surat perjanjian itu. Hutang Ayah akan lunas jika Ayah bersedia menikahkanmu dengan anak juragan Jamal," jelas Ayah Binar.
"Tapi, Yah. Bukannya anak juragan Jamal itu duda?" tanya Binar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ayah Binar mendengus pelan. "Ayah yakin kau akan bahagia berada di tengah keluarga terpandang. Anak juragan Jamal itu CEO perusahaan elektronik terbesar di kota ini. Jadi kau tak perlu menghawatirkan masa depanmu lagi."
"Tapi aku masih sekolah, Yah. Menikah belum ada dalam rencana masa depanku. Aku ingin lulus SMA, kuliah, bekerja lalu membahagiakan Ayah dulu," sahut Binar disertai isak kecil.
Pria setengah baya itu mengelus lembut surai putrinya yang tergerai bebas sebatas bahu. "Ayah sudah cukup bahagia jika kau mau menuruti permintaan Ayah yang satu ini. Anggap saja ini permintaan terakhir sepanjang hidup Ayah."
"Ayah ini bicara apa?! Aku tidak suka arah pembicaraan ini." Binar sontak berdiri dari duduknya. Lalu berlari menuju kamar yang letaknya tak jauh dari sana.
"Aku benci Ayah!" teriak Binar sebelum menutup pintu dengan kencang.
Brak!
Ayah Binar menengadah. Seolah tak membiarkan air bening itu berlinang dari sepasang netranya.
"Maafkan Ayah .... " lirihnya dengan suara sengau.
Dua hari berlalu, namun Binar belum bersedia keluar dari kamar yang menurutnya tempat ternyaman untuk saat ini. Semenjak percakapan tempo hari, gadis yang masih duduk di bangku SMA itu tak berniat keluar dari zona nyamannya.
Sang ayah tak pernah menjumpainya di ruang makan. Bahkan gadis itu tak berniat ke sekolah. Ayahnya sempat bersyukur jika kamar Binar sudah dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Jika tidak, entah bagaimana penampilan anak itu saat juragan Jamal datang guna memintanya melaksanakan ijab kabul hari ini juga.
"Bukankah pernikahannya masih beberapa hari lagi?" tanya Surya, ayah Binar dengan raut heran.
"Segala sesuatu yang baik harus disegerakan." Juragan Jamal menyeringai.
"Baiklah." Surya menunduk sembari mengepalkan tangannya.
Mau tak mau Surya harus menuruti pria setengah tua itu. Posisinya tidak bagus jika dia menolak kemauan juragan Jamal. Tanpa sepengetahuan Binar, nyawa ayahnya sedang terancam saat ini.
****
"Saya terima nikah dan kawinnya, Binar Rembulan binti Surya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah .... "
Setelah beberapa drama penolakan Binar, acara pernikahan yang diadakan secara mewah itu akhirnya berjalan dengan lancar. Bahkan Binar sendiri tak menyangka jika dia menikahi pria dewasa yang masih terlihat muda dan tampan.
Bahkan pesonanya mengalahkan kekasih yang saat ini sudah dia putuskan demi memenuhi permintaan sang ayah. Namun rasa takjub itu segera sirna tatkala Binar tak menjumpai kehadiran Surya di hari pentingnya ini.
Bilamana seharusnya Surya lah yang menjadi wali nikah Binar. Bukan orang sewaan juragan Jamal yang menggantikan peran ayahnya.
Dengan wajah cemas yang tertutup make up, Binar bertanya pada Vano, suaminya. "Kenapa ayahku tak hadir diacara pernikahan ini? Apa dia tidak diundang?"
Vano melirik Binar sekilas, lalu kembali melempar pandang ke arah depan sembari tersenyum. Dimana beberapa tamu sedang mengamati mereka.
"Tentu ayahmu diundang. Namun aku tidak tahu kemana dia. Dan aku tak peduli," sahut Vano acuh.
Kalimat pertama yang dilontarkan Vano pada Binar terkesan sinis. Yang sontak menerbitkan rasa geram di hati Binar. Bagaimana mungkin seorang menantu tak peduli dengan ayah mertuanya saat tidak hadir di hari penting begini?
"Aku ingin ke kamar mandi." Binar hampir beranjak dari singgasananya. Namun tangan kekar Vano segera meraih lengan ramping itu.
"Duduk. Jangan kacaukan acaraku seenaknya. Aku tak akan segan-segan melakukan apapun pada siapapun," ucap Vano dengan raut tenang namun terdengar seperti ancaman.
Binar menghentikan niatnya. Rasa benci pada pria berwajah malaikat yang baru saja menjadi suaminya itu semakin kuat. Binar berusaha tersenyum pada para tamu undangan hingga pesta berakhir, meski dalam hati tak ada setitik pun ketenangan. Memikirkan keberadaan sang ayah yang entah ada dimana.
****
Drrtt...
Drrtt...
Binar melirik ponsel di atas meja nakas yang terus bergetar. Pemilik ponsel itu sedang ada di dalam kamar mandi. Guna membersihkan diri setelah acara pesta yang melelahkan berakhir.
Saat ini Binar sedang berada di sebuah kamar mewah dengan interior yang dia pikir harganya sampai berpuluh-puluh juta. Pesta pernikahan sudah berakhir satu jam yang lalu. Binar pun sudah mengganti gaun mewahnya dengan baju tidur pemberian Vano.
Malam pertama yang begitu menegangkan baginya. Bukan karena keberadaan pria yang saat ini sedang membersihkan diri di kamar mandi. Tetapi pikirannya tak bisa lepas dari bayang-bayang sang ayah yang tak jelas rimbanya.
Drrtt...
Drrtt...
Lambat laun suara getaran ponsel Vano membuat Binar jengah juga. Mengingat statusnya saat ini sudah menjadi Nyonya Vano, maka tak ada salahnya dia mengangkat telepon yang ditujukan untuk suaminya tersebut.
"Ha—"
Belum tuntas Binar membuka mulut dengan sempurna, orang di seberang sana sudah memotong sapaannya dengan cepat.
"Bos. Tugas kami sudah selesai. Kami sudah memutilasi bagian tubuh pak Surya. Lantas membuang setiap potongan di tempat yang berbeda. Bolehkah kami pulang sekarang? Halo, Bos? Bos masih ada di sana?"
Deg.
Mendengar kenyataan yang baru saja terungkap, bagai sengatan petir yang menyambar telinganya. Tangan Binar bergetar hebat hingga ponsel itu meluncur bebas dari genggaman. Lalu berakhir di atas lantai marmer dan hancur berkeping-keping.
Air mata itu terurai dengan derasnya. Tak ingin Vano mendengar isakkan menyayat hati tersebut, Binar membekap mulutnya sendiri dengan kuat.
Gadis yang masih membutuhkan belaian manja dari orang tuanya itu masih tak percaya, jika kini ia sudah menjadi yatim-piatu.
Air bening terus memenuhi kedua kelopak mata, membuat pandangannya semakin memburam. Masih belum percaya bila sang ayah kini sudah tiada. Bahkan dirinya belum sempat mengucapkan kata maaf pada ayah tercinta.
Klek.
Suara dari arah pintu kamar mandi mengejutkan Binar. Sadar jika dia sudah merusakkan ponsel milik Vano, disingkirkan serpihan ponsel mahal itu ke dalam kolong ranjang dengan kakinya.
Sebuah benda mengkilat di dekat kaki mencuri perhatian. Suatu rencana terlintas di otak Binar. Dipungutnya benda yang biasa disebut pisau buah itu, lalu menyembunyikannya di balik badan.
Vano keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawahnya. Binar menarik kedua ujung bibir dengan tatapan penuh dendam melayang ke arah pria di depan sana. Mengira Binar tengah terpesona akan ketampanannya, Vano yang memang tak bisa menahan kemolekan wanita pun mendekati Binar.
"Kau sudah siap?" tanya Vano dengan kilatan mata nakalnya.
"Aku sudah sangat siap," balas Binar tanpa keraguan.
Vano tersenyum senang. Direbahkannya tubuh sang istri di atas ranjang. Kemudian meraup bibir lembab yang sedari tadi menggoda iman itu. Tak lama suara jeritan menggema hingga ke sudut ruangan. Bahkan raungan keduanya sampai terdengar dari luar.
Dimana juragan Jamal dan istrinya sedang menguping di balik pintu kamar mereka. Senyum bahagia merekah dari keduanya yang memang sudah lama mendambakan kehadiran penerus keluarga mereka.
"Sebentar lagi kita akan menimang cucu, Bu," ujar juragan Jamal pada istrinya.