Aku Rara. Aku hidup bersama dengan kakakku, Fian. Meski aku dengannya bukanlah saudara kandung, tapi kasih sayang yang diberikannya untukku sangat tulus.
Suatu pagi, aku menghampirinya yang sedang memetik beberapa sayuran di kebun belakang rumah. Lalu, aku ikut membantunya.
"Kak Fian!" sapaku.
"Dek Rara, ada apa?" sahutnya.
"Kak, boleh aku membantumu?"
Dengan senang hati, dia mengizinkan aku untuk membantunya. "Tentu! Dengan senang hati!"
Setelah sayur-sayuran itu terkumpul banyak, aku dan dia membawanya ke dapur untuk dimasak.
"Kak, aku bantu apa?" tanyaku sembari memegang satu buah tomat. "Emm... kamu duduk saja di teras depan. Soal dapur, biar kakak saja yang menyelesaikannya!" jawabnya dengan penuh percaya diri.
Meski begitu, aku tidak menyerah untuk mencari alasan agar aku dapat membantunya. Dan akhirnya, dia mengizinkan aku untuk membantunya menyentuh dapur. Dia memintaku mencuci sayuran-sayuran tadi.
2 hari setelahnya, dia memintaku untuk bersekolah. Tetapi aku menolaknya. Dia bilang, "Rara sayang. Kamu sekolah ya... agar kamu pintar dan punya banyak teman."
Lalu aku menjawabnya, "Nggak, kak! Teman Rara cuma kakak!"
Sebenarnya, dia juga tidak ingin kesepian jika aku setuju untuk bersekolah.
Setelah itu, dia tidak berucap lagi. Dia meninggalkanku di dalam ruangan. Dia keluar mencari udara segar. Aku menghampirinya lalu berkata, "Kak, Rara akan tetap berada di sampingmu!"
Lalu dia menjawabnya, "Rara, terimakasih ya, karena kamu selalu mendampingi kakak!"
Aku tersenyum saat mendengarnya. Dan dia melanjutkan kata-katanya, "Nanti, kalau kamu udah gede menikah sama kakak, ya... kakak janji, kakak bakal jagain kamu."
Aku terkejut mendengarnya, tapi aku juga merasa senang. "Ya, kak. Tentu! Rara juga janji, kalo Rara udah gede nanti bakal jadi pengantin kakak!"
Kemudian, dia memeluk erat tubuhku sambil berkata, "Kakak sayang adek. Kakak bakal jagain adek, kakak sayang adek...!!!"
15 tahun berlalu, kini usiaku menginjak 19 tahun dan kakakku, Fian, dia menginjak usia 22 tahun.
Hari ini, kakak mengajakku ke kota. Saat berada di kota, dia mengajakku berbelanja.
Selesai berbelanja, aku dengannya pergi. Di seberang jalan raya, sepasang pria dan wanita melambaikan tangannya ke arahku.
Lalu, kak Fian berkata, "Dek, mereka orang tua kandungmu. Pergilah dan hampiri mereka. Aku akan menunggumu disini."
Aku terkejut saat kak Fian berkata seperti itu. Rasanya sangat senang. Tanpa basa-basi lagi, aku pergi berlari menuju mereka. Tetapi saat sampai di tengah jalan, sebuah mobil melaju dengan kencang dan menabrakku. Rasa sebangku kini berubah menjadi rasa duka.
Kak Fian berlari mendekatiku, begitu juga dengan mereka berdua.
Dia merasa bersalah karena meninggalkanku pergi sendirian. Mereka berdua selalu menyalahkannya.
"Rara! Kumohon, bertahanlah...!!!" jeritan kakakku yang mulai meneteskan air mata. "Rara, maafkan aku... aku sangat ceroboh sampai menyuruhmu pergi sendirian. Rara, tolong bertahan! Aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Dasar kakak yang jahat!"
Entah suara siapa, suaranya sangat asing di kepalaku. Mungkin itu ibuku yang melambaikan tangannya tadi.
Aku merasa sakit hati ketika kak Fian dibilang begitu. Karena selama ini, dialah yang mengurus dan merawatku.
Selama ini, tidak ada yang pernah bilang begitu. Tetapi, kenapa orang yang selama ini tidak pernah ada disisiku berkata demikian?
Sampai di rumah sakit, aku langsung di masukan ke ruangan UGD. Kak Fian dan kedua orang itu menungguku di luar.
Setelah di periksa oleh dokter, akhirnya selesai. Kak Fian datang menemuiku. "Rara, maafkan kakak. Ini semua salah kakak." Dia terlihat sangat sedih saat melihatku tidak baik-baik saja.
"Ini bukan salah kakak. Aku terlalu senang saat melihat kedua orang tuaku kembali. Dan aku ga hati-hati saat menyeberangi jalan."
"Rara..." tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Kak, maafkan Rara. Rara harus mengingkari janji. Karena sebentar lagi sudah waktunya."
"Apa maksud kamu...?!!"
"Kakak silahkan cari pengganti Rara. Rara mengizinkan kakak berhubungan dengan orang lain. Tapi jangan lupa do'ain Rara, ya...? Kak, Rara pamit..." aku tersenyum untuk yang terakhir kalinya.
"Rara...?!!"
Aku mendengar jeritan kakak saat memanggil namaku. Sampai akhirnya aku menghembuskan nafas terakhir.