Suara tawa dari anak – anak kompleks membuyarkan lamunanku, kurir surat yang ku tunggu belum juga lewat di depan rumah. Hari ini ada surat yang harus ku baca agar menghilangkan rasa rindu pada sahabat onlineku. Sebulan sekali selalu ada surat yang dikirimkannya untukku karena itulah janjinya padaku saat aku terlibat kecelakaan dan tidak dapat bersekolah dengan baik.
Anak itu dinyatakan lulus di salah satu universitas luar negeri. Dalam kelas online yang aku masuki karena paksaan ibuku, anak itu adalah bintang. Otaknya bisa menampung banyak pelajaran, berbeda sekali denganku yang sangat lambat dalam memahami pelajaran. Banyak sekali perbedaan yang ada di antara kami ketika aku mulai mengakrabkan diri dengannya di sebuah aplikasi pertemanan. Sekarang masuk kampus biasa saja aku bersyukur, karena jasa Farhan yang setiap hari setia mau mengajari setiap pelajaran yang tidak aku mengerti.
Tepat di saat ibuku menyuruh masuk untuk makan, kurir surat datang dengan vespa kuningnya. Bak gadis kecil yang diberi hadiah, wajahku sumringah ketika surat sudah ada di tanganku. Ibu dan ayahku sudah terbiasa dengan kelakuanku, tetapi tidak dengan kakak laki – lakiku.
" Ckck... kuno! Anak SD aja udah pada chatting-an."
" Iri bilang boss." Balasku sambil menjulurkan setenngah lidah tanda mengejek.
Kakakku kesal dan berlari mengejarku, tetapi secepat kilat aku berlari menuju kamarku dan mengunci pintu. Jantungku berdebar kencang, entah setelah berlari tadi atau ingin membuka surat yang sudah aku nantikan. Hanya amplop dan kertas putih yang dikirimkannya.
Biasanya Farhan selalu menulis surat dengan kertas berwarna warni dan dimasukkan ke dalam amplop yang menggemaskan yang di buatnya sendiri. Ia menulis beberapa kegiatan dan kesehariannya di luar negeri, di kampus dan berbagai tempat yang ia datangi. Tidak lupa menyertakan satu lembar foto langit cerah yang selalu di tulis dengan tanggal dan tempat di belakangnya.
Aku mulai membaca tulisan di kertas putih itu dengan perasaan bingung. Tertulis kata " HAI " dan selembar foto langit malam yang tidak ditulis dengan tanggal dan tempat diambilnya foto itu. Aku kembali menatap surat itu dengan jarak dekat agar tidak terlewat satu huruf pun. Beberapa menit kemudian aku menyerah, tidak ada tulisan apapun selain foto dan tulisan " HAI.".
Hari ini tidak ada jadwal pagi di kampus, matahari pun mulai memanaskan seluruh kota. Aku menaiki ojek yang sudah ku pesan dari telepon genggam karena ibuku selalu melarang berkendara sendirian. Aku pernah mengalami kecelakaan waktu menaiki sepeda motor karena menghindari kucing yang sedang berjalan santai di tengah jalan. Aku harus menahan perih luka selama dua minggu dan kakiku juga terkilir sehingga tidak bisa mendapat nilai bagus untuk beberapa pelajaran.
Farhan adalah jawaban dari semua remedial yang pernah aku keluhkan. Ia selalu baik dengan orang lain bahkan orang yang tidak di kenal sekalipun. Di dalam sebuah grup studi pun ia terlihat ramah dan tak mengambil upah saat mengajarkan pelajaran yang tidak dimengerti. Walaupun beberapa siswa tidak menyukainya karena dia anak yang populer dan cerdas. Awalnya aku juga mengira begitu dan termakan omongan tidak benar tentangnya, tetapi setelah dekat dengannya perasaan nyaman itu terus tumbuh dan berakhir jadi sebuah persahabatan.
Semua pelajaran yang tidak aku mengerti ternyata sangat mudah di pahami saat Farhan menjelaskan. Ia membantuku ketika aku tidak masuk sekolah karena harus di rumah untuk penyembuhan akibat kecelakaan, ia gercep mengirimkan beberapa buku catatan khusus untukku. Aku sempat kesal karena buku – buku itu terus berdatangan seperti nyamuk di tempat gelap, tapi lama – lama aku terbiasa karena buku itu berisi tulisan indah karya Farhan.
" Oy...bengong aja nih." Ledek Diana, teman dekatku di kampus.
" Hah, enggak." Jawabku mengelak.
" Cerita, cerita. Aku tebak, pasti sahabat di luar negeri?"
Diana adalah teman dekatku di kampus, rambut hitam panjang lurus sepinggang adalah ciri khasnya. Kami dekat karena satu kelompok dalam sebuah pengenalan pertama masuk universitas. Ia selalu sukses membuatku nyaman saat bercerita dan berkeluh kesah tentang kehidupan. Hari itu aku mencurahkan apa yang ada di pikiranku. Tentang Farhan yang mengirim surat biasa dengan kalimat singkat, serta kakakku yang menyebalkan.
" Mungkin lagi sibuk Rat, lo jangan negative thinking dulu sama dia."
Apa yang dikatakan Diana ada benarnya, selama ini aku terlalu egois. Di luar negeri dan hidup sendirian itu tidak mudah, belum lagi pekerjaan kuliah yang harus dikerjakan. Aku sudah berprasangka buruk tentang Farhan, padahal ia tidak pernah lupa mengirim surat untukku.
Suasana sore yang tidak begitu bagus karena mendung semakin membuat langit gelap. Aku di jemput oleh anak pertama dari ayah dan ibuku, laki – laki yang biasa ku panggil kak Bayu. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan menengok ke kaca jendela yang sudah di basahi air hujan.
Ingatan tentang Farhan kembali membanjiri pikiranku. Pengalaman bersama sahabat selalu menjadi kenangan, walapun dalam kondisi terburuk sekalipun. Aku mengingat kenangan waktu terjebak di sekolah yang terlihat angker saat berteduh di kala hujan lebat. Aku merinding kedinginan + ketakutan. Saat itu hujan terlalu lebat sehingga seluruh lampu dan listrik dimatikan. Aku beberapa kali mengusap kedua telapak tangan agar bisa menghangatkan wajah yang mulai kaku.
Mobil sedang berada di bengkel, ayah memintaku untu menunggu. Ibu juga sedang terjebak hujan di kantornya. Kakak juga sedang ada kegiatan kampus waktu itu. Lalu tanpa sadar aku menelpon seseorang yang selalu menemani di kala aku membutuhkan. Ya, Farhan.
Suara lembut menyapa seperti habis bangun dari tidur siangnya. Aku terdiam lama dibalut rasa malu karena tak tau diri. Pertama kalinya aku mendengar suara laki - laki di ruang telepon. Aku langsung menutup telepon tanpa aba - aba. Gugup setengah mati karena baru pertama kali.
/////// - \\\\\\\
" Bangun... bangun!!!"
Aku langsung terperanjat kaget karena suara kak Bayu, jantung berdebar rasanya karena kaget dikira Farhan. Aku langsung turun dari mobil karena kakakku ingin memarkirkannya di bagasi. Ku tepuk – tepuk pipiku pelan agar rasa kantukku hilang dan sedikit menggumam karena di bangunkan dengan teriakan.
Langkah kaki berat ku jejakkan di ambang pintu, kulepas sepatu dan menjinjingnya untuk kubawa kekamar mandi untuk dicuci. Aku melihat ibu sedang berbincang ria dengan seorang lelaki muda di ruang tamu. Aku tidak memperdulikannya karena mengira itu bukanlah urusanku. Namun, ibuku memanggilku, mau tidak mau aku pun berjalan ke arahnya. Kini laki – laki itu menatapku dengan senyuman yang memunculkan lesung pipitnya.
" Ada apa bu?" Tanyaku mengalihan pandangan dari laki – laki itu. " Ini namanya Rio, katanya ada perlu sama kamu."
" Rio, siapa?" Batinku.
Aku mengerutkan kening saat ibuku bertingkah aneh dan menyuruhku duduk dan meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Tidak jelas siapa orang ini, aku hanya tersenyum malas karena canggung dengan suasananya. Tidak ada percakapan dalam beberapa menit, aku pun mengambil cangkir berisi air putih dan meneguknya.
" Hai Ratna, baru pulang sekolah?" Tanya laki - laki itu.
Aku menatapnya dan berhenti minum. " Kamu kenal sama aku?"
" Kamu tidak ingat?."
" Sorry, lupa. Hehe."
" Hmmm.."
Ia mengajakku keluar setelah berpamitan dengan ibu dan kakakku. Anehnya ibu tidak melarang orang ini membawaku, aku pun tidak berpikir orang ini jahat atau sebagainya. Hujan sudah reda saat itu, sehingga suasana canggung menyelimuti. Aku hanya diam selama perjalanan karena malas berbincang dengannya. Hampir 30 menit ia membawaku dengan sepeda motor gede persis seperti milik Farhan yang di banggakannya, bahkan menjadi profil picture di kelas onlinenya. Hanya warna saja yang membedakannya.
Aku turun setelah Rio berhenti di suatu tempat, terlihat seperti taman kecil dengan pohon besar sebagai poin yang terlihat pertama kali. Aku berusaha terlihat tenang dan melihat sekeliling yang lumayan sepi. Rio mengajak ke salah satu tempat duduk yang diterangi lampu kuning yang indah.
Ia mulai memperkenalkan dirinya dengan santai. Aku mendengarkannya saat ia bercerita tentang masa SD dulu. Aku bukanlah anak yang suka berteman dengan banyak orang dan bermain dengan siapa saja yang mau menyapaku terlebih dahulu. Orang – orang biasanya salah mengenaliku sebagai laki – laki karena rambutku selalu dipotong pendek karena cepat sekali panjang.
Rio banyak menceritakan kesehariannya dengan temannya, membuatku makin rindu dengan suasana saat bersama teman – teman di SMA. Kalau di pikir – pikir aku bahkan tidak banyak mengingat tentang masa sekolah dasar. Lalu raut wajah Rio berubah serius saat membicarakan temannya banyak diperlakukan buruk oleh teman – temannya. Di dalam cerita Rio aku dapat mendengar hal yang di lakukan anak laki – laki sepulang sekolah.
" Anak itu adalah orang yang tidak mampu, sehingga banyak dari teman – temanku memanfaatkannya dengan menjadikan babu."
" Aaa, menjengkelkan sekali."
Aku mendengarkan dan mengekspresikan wajah sesuai topik yang dibicarakan Rio karena mulai tertarik dengan ceritanya. Ia bercerita seperti kejadian itu terjadi padanya dan sangat nyata, serta menyenangkan. Rio kembali bercerita tentang temannya dan tokohnya selalu bertambah. Kini ada superman kecil yang mengubah kehidupan temannya dengan hantaman buku dan mulai berkelahi dengan memukuli semuanya dengan buku – buku di tasnya. Namun, pahlawan tetap menjadi pahlawan yang memiliki kisah menyedihkan. Kepala superman kecil itu dipukul dengan kotak pensil besi.
Tiba – tiba aku merasakan de javu dengan kejadian itu, seakan aku pernah melakukan dan melihat kejadian itu. Kepalaku mulai sakit saat mengingatnya, aku memejamkan mataku agak lama. Rio menghilang di saat aku membuka mata, aku menengok kanan dan kiri untuk mencarinya. Aku ingin menangis karena ditinggal begitu saja, lalu aku memutari seluruh taman kecil ini.
Jalan – jalan yang sekarang aku lalui seperti menunjukkan arah dengan cahaya yang nyala sesuai urutannya. Kembali pada pohon besar yang sekarang menjadi indah dengan hiasan lampu melingkari setiap batangnya. Aku sekarang mengingat kembali kenangan yang sudah lama. Kini anak kecil yang kotor dengan bekas luka itu berubah menjadi laki – laki kuat yang selalu menjaga dan membantuku.
" Jadi apa jawaban atas surat putih yang kukirim?"
Aku tersenyum menahan perasaan yang menggebu gebu.
" Hai juga, Rio Farhan Aprilio."
**************************************
Happy reading guys....
Wish u all love and like this story ❤️
Don't forget to vote 😉
Cerita ini murni karangan belaka...
Jika ada kesamaan dalam nama dan kejadian, harap don't judge .....
Luv u readers 🌹🌹