Pagi yang indah, udara terasa lebih sejuk. Kumulai hari seperti biasa, berangkat sekolah di pagi hari dan menyempatkan waktu dengan pergi ke perpustakaan sepulang sekolah. Membaca buku yang sekiranya menarik bersama Rui, Ruz, dan Ken. Ketiga teman pertamaku di sekolah baruku. Setiap hari kuhabiskan waktu sepulang sekolah dengan membaca buku di perpustakaan bersama mereka bertiga, hingga hari itu tiba.
Hari di mana aku mengalami demam tinggi, menyebabkan aku tidak diperbolehkan berangkat sekolah selama satu minggu penuh hingga aku benar-benar sembuh. Aku juga belum mengembalikan novel ringan yang kupinjam dari perpustakaan minggu lalu, betapa sialnya diriku karena batas pengembalian buku perpustakaan adalah satu minggu. Aku benar-benar ingin mengembalikan novel ringan ini dan meminjam seri lain dari buku ini. Sembuhlah, wahai diriku!
Bosan, aku benar-benar bosan. Seharian penuh aku disuruh untuk tetap berada di kasurku, tanpa diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun yang membuatku beranjak dari kasurku. Aku hanya bisa terdiam meratapi nasibku saat ini.
Di kamar, hanya ada bunyi jam yang berdecak setiap detiknya. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berbaring di kasur dengan selimut. Aktivitas yang kujalani, hanya sebatas tidur, bangun, lalu tidur lagi, dan terus berulang.
Hari esok pun tiba dan aku masih tidak diperbolehkan untuk beranjak dari kasur, benar-benar menyebalkan. Memangnya apa hubungan demam tinggi dengan tetap berada di kasur seharian penuh?
Aku benar-benar bosan, setidaknya kalau bisa aku ingin membaca novel ringan itu lagi. Tapi, kalau sedang sakit memang sebaiknya perbanyak istirahat. Karena itu, aku pun melanjutkan tidurku.
Sudah hari ketiga, aku rasa tubuhku sudah mulai membaik. Pagi yang indah seperti biasa, udara terasa sangat dingin. Karenanya, aku memakai jaket. Akhirnya aku sudah diperbolehkan untuk keluar kamar meski tetap harus memakai jaket agar suhu badanku tetap terjaga, tidak masalah karena sekarang aku bisa membaca novel ringan itu lagi.
Aku berjalan di sepanjang lorong ditemani oleh seorang pelayan wanita yang mengenakan meido-fuku menuju perpustakaan rumah. Perpustakaan yang terlihat sedikit berantakan, karena sudah lama ayah tidak mengurusnya. Niatku hanya untuk membawa novel ringan lalu kembali ke kamar, tidak lebih. Aku juga tidak perlu repot-repot menyuruh para pelayan untuk merapikan dan membersihkan tempat ini, karena ujung-ujungnya jarang dikunjungi.
Ada rak yang ditempel di dinding, ada juga rak besar berbentuk persegi panjang. Setiap rak diisi oleh berbagai macam jenis buku. Buku-buku itu, kebanyakan merupakan peninggalan dari kakek dan nenek dulu, karena itu terlihat beberapa ada yang sudah usang.
Aku mencari di sepanjang rak, dibantu oleh pelayan wanita yang menemaniku dalam perjalanan ke tempat ini. Sudah berlalu 20 menit pencarian. Karena sudah lama tidak kubaca lagi, aku lupa rak tempat aku menaruh novel ringan itu.
Baru, setelah kurang lebih hampir satu jam pencarian, kami berhasil menemukannya. Novel ringan itu tertumpuk di antara buku-buku lain yang terlihat begitu tebal–buku-buku itu sepertinya memiliki lebih dari 800 halaman.
Setelah kudapatkan novel ringannya, novel berjudul When Science and Magic Cross, aku pun langsung kembali ke kamar lalu berbaring di kasur dan membacanya dengan penuh semangat. Novel itu bercerita tentang seorang laki-laki berambut jabrik yang melawan para penyihir dengan kekuatan tangan kanan yang bisa menetralkan segala macam jenis kekuatan supernatural bahkan berkah tuhan sekalipun.
Waktu terus berjalan. Selagi membaca, perlahan aku merasa mengantuk, tetapi aku paksakan untuk tetap membaca novel ini hingga… aku perlahan tertidur.
Terdengar suara pintu dibuka, perlahan aku membuka mataku dan menoleh. Sekilas kukira mereka adalah dokter dan asistennya tetapi mereka ternyata adalah Rui dan ayahku. Terkejut, aku pun langsung bangun dengan air liur yang masih membekas di mulutku. Melihat hal ini, Rui langsung menghampiriku dan tertawa.
“Mawar yang baru bangun itu ternyata imut juga, ahaha.”
“Abaikan itu,” balas aku lirih dengan sedikit malu, dan wajah menggembung. “Kamu… sendirian ke sini?”
“Sebenarnya aku bersama, em… mereka berdua, tapi,” Rui berkata dengan nada ragu.
Lalu datang dua orang laki-laki dengan seragam sekolah, Ruz dan Ken dengan mata berkilauan seakan sedang mengagumi sesuatu. Perlahan mereka berdua masuk ke kamarku dan melihat sekeliling dengan mata berkilauan, dengan begitu saja.
“Rumahmu ini seperti istana kerajaan yang ada di film-film, benar-benar besar dan mewah!” teriak Ruz, matanya berbintang-bintang.
Aku benar-benar lupa, kalau sebenarnya ini pertama kalinya mereka ke rumahku. Rui menegur Ruz dengan tegas, sementara Ken duduk bersila di lantai. Terkadang melihat mereka berdua bertengkar membuatku merasa lebih tenang.
“Karena belum masuk selama tiga hari, aku jadi khawatir. Jadi, kami memutuskan untuk menjengukmu sepulang sekolah,” ucap Rui memulai percakapan.
“Aku dan Ruz sebenarnya tidak terlalu peduli, tapi karena penasaran dengan rumahmu akhirnya kami memutuskan untuk datang,” Ken berkata dengan nada datar–perkataannya tadi kok rasanya sedikit menusuk, ya? Memang, sejauh aku mengenalnya, Ken itu bisa dibilang agak pendiam, tapi dia juga termasuk dalam tipe yang suka menjahili orang lain, sama seperti Ruz.
Kami pun memulai obrolan yang cukup biasa saja, seperti membahas tentang film yang akan tayang bulan depan, atau membahas seputar novel ringan yang sekiranya menarik untuk dibaca. Aku memulainya dengan membahas tentang novel ringan yang aku sukai, yaitu When Science and Magic Cross. Ternyata Ruz juga menyukai novel ringan ini dan mengatakan kalau dia sebenarnya memiliki koleksi dua puluh volume dari novel ringan ini, aku terkejut. Tetapi Rui menyela dengan mengatakan kalau Ruz sudah menjual semuanya hanya untuk membeli sebuah buku tulis yang memiliki tanda tangan dari idolanya dan mereka berdua kembali bertengkar mempermasalahkan tentang uangnya.
“Buat apa beli yang semahal itu, ujung-ujungnya juga tidak akan dipakai?” ucap Rui dengan lantang.
“Dirimu tidak akan mengerti! Rasa bahagia dan senang ketika mendapat sesuatu langsung dari seseorang yang kita idolakan!” balas Ruz.
“Lebih baik uangnya digunakan untuk membeli bahan makanan seperti sayur dan daging daripada untuk membeli barang yang ujung-ujungnya juga nanti dibuang.” balas Rui dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya. Entah mengapa, melihat mereka berdua bertengkar memang membuat hatiku terasa lebih tenang.
“Abaikan saja mereka. Ngomong-ngomong, tugas Matematika minggu lalu sudah kamu kerjakan?” tanya Ken dengan tiba-tiba.
“I, iya sudah.”
“Kalau begitu, pinjam. Aku ingin menyalinnya….”
“Aku juga,” ucap Ruz di tengah perdebatannya dengan Rui.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau tujuan lain mereka kesini adalah untuk menyalin tugasku, aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Memangnya tidak bisa kalian kerjakan saja sendiri?” tegur Rui dengan kesal.
“Mau bagaimana lagi, waktu sudah mepet dan tugasnya benar-benar banyak,” alasan yang sudah sangat biasa keluar dari mulut seorang Ken.
“Benar sekali.”
“Kalian ini…!” Rui menoleh ke arahku lalu berkata dengan sedikit ragu, “Memangnya tidak apa-apa, Mawar?”
Mendengar pertanyaan Rui aku hanya bisa menjawab, “Tidak apa-apa kok.” Lalu mengambil dan menyerahkan buku catatanku kepada Ruz dan Ken.
Tidak terasa hari sudah menjelang senja. Sebelum pulang, Rui menanyakan perihal tentang novel ringan yang belum aku kembalikan itu. Aku pun memberi Rui novel ringan itu, Rui berkata kalau dia ingin mengembalikannya ke perpustakaan sekolah. Tentu saja aku merasa sangat senang, lantas aku pun memberikan novel ringan itu.
“Terima kasih, Rui.”
“Tidak apa-apa, itulah gunanya sahabat! Kalau ada apa- apa jangan sungkan untuk menghubungi aku,” balas Rui dengan tersenyum.
Hari pun menjelang malam dan aku masih tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi tadi siang, karena tadi adalah pertama kalinya untukku, dijenguk oleh teman ketika sedang sakit. Aku benar-benar merasa sangat senang sampai-sampai tidak bisa tidur. Aku harap hari-hari seperti tadi bisa terus berlanjut.
Sudah satu minggu berlalu dan akhirnya aku sudah diperbolehkan untuk berangkat sekolah kembali. Dan seperti biasa, aku akan menyempatkan untuk pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku yang sekiranya menarik untuk dibaca, bersama dengan Rui, Ruz, dan Ken.
“Rui, terima kasih untuk yang kemarin.”
“Tidak masalah. Bukankah sudah kubilang sebelumnya, itulah gunanya sahabat. Kalau ada masalah jangan sungkan untuk menceritakannya kepada kami, Mawar.”
“Aku akan membantu sebisaku,” Ruz berkata setelah Rui.
“Selama itu tidak merepotkan,” lanjut Ken.
Mereka bertiga ternyata memang teman yang baik. Aku benar-benar tersentuh. Aku bersyukur bisa berteman dengan Rui, Ruz, dan Ken. Mereka selalu ada di saat masalah menghampiri.
Persahabatan itu, ternyata memang indah.