𝘚𝘰𝘳𝘦 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.
Clara yang hendak duduk di kursi belajarnya menatap langit yang mulai gelap. Ia benci momen dimana ia harus memutar memori akan kejadian pahit yang bahkan ia sendiri tak mampu memaafkan dirinya. Ia benci saat harus mendengar rintik hujan, melihat butiran air jatuh ke tanah, apalagi ketika menjelang sore seperti ini.
Clara seorang siswi SMA di sekolahnya, ia berambut panjang nan indah. Clara memimpikan dirinya kembali ke masa dimana ayahnya masih ada dan menemaninya, memang sedikit aneh, namun inilah keinginannya sekarang, ia juga sering bermimpi ayah dan ibunya menatapnya dengan tatapan kosong dan mendorongnya.
_________
Enam tahun lalu saat Clara masih berusia sepuluh tahun, Clara adalah anak yang bisa dibilang susah bergaul dengan teman sebayanya, karena itu ia sering merasa kesepian, untungnya ada ayah dan ibunya yang selalu menghibur. Pada suatu hari di pagi yang cerah tepatnya hari minggu, ayah Clara mengetuk pintu dan melihat anaknya yang sempoyongan karena baru bangun, Clara memang anak yang pintar dan tekun. Ia belajar hingga larut malam.
“permisi Rara, Ayah boleh masuk?’’ tanya ayahnya.
“eh ayah! Iya boleh’’ ujarnya, sambil mengusap-usap mukanya.
“Rara tidur terlalu malam lagi ya? Rara mau keluar? Atau mau main di taman?’’ bujuk ayahnya.
“eh iya Yah, Rara janji gak bakal tidur terlalu malam lagi. Iya Ayah ayo ke taman!’’ ujar Clara kegirangan.
“nah gitu dong, nanti sore yaa!” Seru Ayah Clara.
“okee yah’’ jawab Clara.
“ayah ramal nih ya masa depan Rara secerah langit! Haha…’’ ayahnya menghibur.
Rara tertawa riang dan tersenyum karena perkataan ayahnya.
__________
Sore harinya Clara dan sang Ayah bersiap-siap untuk pergi ke taman. Clarapun berpamitan pada ibunya yang sedang sakit.
“ibu gapapa kan? Rara keluar dulu ya sama ayah, ibu tungguin Rara!’’ ujarnya.
Si ibu pun hanya tersenyum melihat tingkah putri kecilnya ini.
Saat diperjalanan langit yang tadinya cerah menjadi gelap dan suram, angin sejuk mulai berhembus, dan rintik hujan mulai membasahi kaca mobil.
“ayah apa kita bisa berhenti disini dulu? Rara mau main hujan! Rara suka hujan!’’ tanya Clara penuh semangat.
“hmm... oke kita berhenti di taman itu ya, Rara pake jas hujan jangan lupa!’’ jawab ayahnya.
Ayah Clara mengambil jas hujan kuning yang ada di kursi belakang mobil, lalu memakaikannya ke putrinya. Ayahnya juga mengambil payung agar tidak kehujanan kemudian membukakan pintu.
“yeeyyy....’’ Rara melompat kegenangan air di rerumputan itu sementara ayahnya duduk di kursi dekat taman, tak lama kemudian hujan semakin deras. Banyak pengendara berhenti dan berteduh di taman itu, tiba-tiba perhatian Clara tertuju pada penjual balon di seberang taman.
“ayah Rara mau balon itu’’ ucapnya dengan nada menggemaskan.
“hahaha, iya belilah sana!’’ jawab ayahnya singkat.
Saat Clara sudah mendapat balon yang ia inginkan Clara kembali bermain di tengah hujan yang cukup deras, petir mulai menggelegar dan angin semakin kencang membuat jarak pandang menjadi kabur.
“RARAAA, NAK JANGAN KESANA!!!’’ ketus ayahnya panik, ayahnya berlari mencari Rlara yang seperti menghilang, ternyata clara mengejar balonnya yang lepas sampai kejalan raya besar.
“nah akhirnya dapet juga!’’ ujar Clara sambil menangkap balon.
Namun dari arah berlawanan ada mobil yang hilang kendali dan tak dapat mengerem karena jalanan yang licin, disaat itu juga ayah Clara berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan anak semata wayangnya itu.
“RARAAA!!! AWASSS!!!’’ teriak ayahnya panik.
𝘾𝙄𝙄𝙄𝙏𝙏 𝘽𝙍𝘼𝙆𝙆𝙆
“AAYAAHH!!!’’ teriak Clara yang kakinya terbentur trotoar jalan.
Ayahnya mendorong Clara sampai ke trotoar jalan, namun sang ayah tak sempat menghindar, mobil itu menabraknya dengan benturan yang cukup keras.
“ TOLONGG, hmp.. TOLONGIN AYAHKUU...’’ ucap Clara sambil menangis.
“Clara ayah baik baik saja nak, jaga dirimmu ya nak, ayah menyayangimu, jaga ibumu, Ra...’’ belum sempat sang Ayah melanjutkan kata-katanya, namun beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
“AYAAH 𝘕𝘖𝘖𝘖 AYAHH JANGAN PURA-PURA RARA MASIH BUTUH AYAHH!!! Ayah jahat kenapa ayah secepat ini meninggalkanku, ini tak adil! Ayah bilang masa depanku cerah tapi mengapa malah jadi sesuram ini! Ayah bangun rara butuh ayah!’’ rintihan Clara yang mengiringi suara hujan itu. Tak lama kemudian para warga yang mendengar kecelakaan itu mulai keluar dari rumahnya dan membantu membawa Ayah Clara ke rumah sakit.
__________
Hujan yang tadinya deras perlahan reda mempelihatkan langit yang sudah menjadi oranye, suasana sejuk yang tadinya Clara sukai kini malah menjadi berbalik, menjadi sebuah malapetaka. Juga ibunya yang koma beberapa hari karena syok, sejak saat itu hari-hari Clara menjadi suram dan penuh ketakutan. Sampai saat ini Clara tak dapat memaafkan dirinya sendiri, sejak kejadian itu ia menjadi kurang berprestasi di sekolahnya.
Clara berharap dan berdoa kepada Tuhan. 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘙𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘳𝘢! 𝘙𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘵𝘦𝘱 𝘯𝘦𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯 𝘙𝘢𝘳𝘢....
___________
“AYAAH, huh huh hiks...’’ ternyata Clara hanya bermimpi dan ia tertidur di meja belajarnya, keringat mulai bercucuran dan nafasnya memburu.
“ibu, ibu dimanaa!’’ ujarnya panik, Clara selalu panik jika tak ada orang di rumahnya.
“iya Ra, ibu di dapur!’’ teriak ibunya. “Rara lapar? Mau ibu masakin?’’ ucap ibunya
“tidak perlu Bu, biar Rara aja yang masak. Ibu duduk disini ya!’’ ujar Rara penuh kasih sayang.
Ibunya hanya tersenyum dan mereka makan malam bersama, melakukan kegiatan bersama dan saling menemani. Clara juga sering pergi ke butik toko milik ibunya.
“Bu Rara masuk kamar duluan ya, Rara mau ngerjain tugas’’ kata Clara memastikan.
“iya Raa.. jangan kemalemanya!’’ ketus ibunya.
Rara hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamar. Sudah larut malam, Rara tak mampu menahan kantuknya hingga ia tertidur di mejanya lagi.
_________
Ketika pagi datang, Clara tersadar dan termenung sebentar di mejanya,
tok-tok
“Raa...’’ suara yang ia sangat kenali namun itu bukan suara ibunya. Rara yang masih setengah sadar segara jalan sempoyongan menuju pintu.
“AYAHH?, APA YANG TERJADI MENGAPA RASANYA AKU SUDAH PERNAH MELAKUKAN INI?’’ seperti déjà vu, Clara sontak kaget kejadian yang dulu terulang kembali. Matanya terbelalak.
“Ayah, Ayah masih hidup! T-tapi eeh aku kembali!’’ ucap Rara sambil terbata yang membuat ayahnya bingung.
Clara langsung memeluk Ayahya itu dengan perasaan rindu yang membekas, “Ayah maafkan Rara, Rara emang keras kepala maaf ayah hiks hiks...’’
“eh Rara ngomong apa?” ucap ayahnya bingung.
“ayah gak boleh pergi kemana-mana, Ayah harus tetap sama Rara dan ibu!’’ ucap Clara penuh ketakutan.
“iya Ayah bakal selalu jaga Rara sampe Rara besar sampe anterin Rara ke Universitas! Nih ya ayah ramal masa depan Rara secerah langit hari ini!’’ jawab ayahnya yakin.
𝘚𝘦𝘤𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵?
Apa maksud ayah kejadian kelam itu! batinnya khawatir.
Namun Clara tak memperdulikannya karna rasa rindunya pada sang ayah.
“Sksksk Ayah, Rara sayang Ayah!’’ suara Rara yang menahan tangis itu mulai membuat Ayahnya khawatir.
“Rara, Rara gapapa kan sayang’’ ujar Ayahnya, sambil mengusap air mata Clara yang mulai keluar. Clara tersenyum lagi. sinar matahari mulai menyinari kamarnya dan hawa hangat mulai menyelimuti tubuh Clara yang dingin.
“nah gitu dong anak ayah makin cantik!, Yaudah Rara mau ikut ke taman nanti sore?’’ ujarnya ayahnya.
Namun Clara tak kunjung menjawab, matanya tertuju pada jarum di jam dinding yang sepertinya aneh!
“𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘳𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬?" batinnya heran, dan matanya terbelalak kaget.
“ayah ibu kenapa semua warnanya abu-abu, ayah ibu kenapa kalian menatapku seperti itu!’’ Clara mulai bingung.
“AYAHH!!! IBUU!! TOLONG CLARA, SADAR YAH! RARA TAKUT!’’ teriaknya.
“AAAAA!!!’’ teriak clara.
__________
Clara seperti didorong kejurang dalam oleh ayah dan ibunya yang tatapannya kosong, dijurang itu ia diperlihatkan masa lalu nya yang kelam dan lebih menakutkan dari sebelumnya, Clara juga diperlihatkan jika ia mengubah masa lalunya maka ia akan merubah segalanya saat kehidupan ke depan.
_________
“HUH HAH..." suara & nafas clara memburu dan badannya yang panas dingin.
“kenapa aku selalu bangun di meja ini?! Apa yang terjadi sebenarnya?!’’ Clara mulai bingung.
Mimpi itu terus datang dan anehnya ia selalu terbangun di meja belajarnya, dan sama seperti di mimpi, matahari mulai menyinari kamarnya dan memancarkan hawa panas,ia takut yang terjadi saat ini juga mimpi.
“aduh! Sakit’’ rintihan Clara, ia mencubit dirinya sendiri.
“Rara kamu kenapa nak?! mimpi itu lagi?’’ ucap ibu Clara yang langsung masuk ke kamar Clara karena panik.
“Rara gapapa bu, Rara udah gamau berpikir mau ngulangin waktu lagi, rara takut nanti masa depannya Rara gimana’’ ujar rara.
“rara kita emang gabisa ngulangin waktu itu udah kejadian dan gaakan bisa kembali, kita Cuma bisa belajar dari kesalahan dan rara harus bisa maafin diri rara sendiri, kalau rara gabisa maafin diri rara sendiri, rara sendiri yang akan menyesal, karena waktu gabisa kembali!’’ ujar ibunya menasehati.