"Eugene, bagaimana progress rencana kita?"
Eugene menunjukkan stopmap berwarna merah kepadaku, "Kita perlu pergi ketempat itu boss."
Dengan wajah yang serius aku pun beranjak dari kursi nyamanku, "Ayo Eugene, Danji. Bersiaplah kalian untuk menghadapi pertempuran sengit nanti!"
Beberapa menit kemudian, sesampainya didepan gerbang tempat 'itu'.
"Tim Alpha! Tim Bravo! Apa kalian sudah berada ditempat kalian masing-masing?!" Ucapku memerintah kepada bawahanku melalui handsfree hitamku.
"Sskkk! Tim Alpha sudah siap boss!"
"Srrkk! Tim Bravo pun sudah siap boss!"
Aku menyeringai puas, rencana kali ini pasti akan berhasil. "Tunggu saja kau! Aku akan menangkapmu, HAHAHA!!"
Ini adalah jebakan yang sudah aku buat beberapa minggu yang lalu. "Tunggu mereka membuka tempat itu, kalian langsung serbu!"
"SIAP BOSS!" Jawab mereka serempak.
Dan... waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.
Beberapa orang yang memakai baju seragam itu telah membuka tempatnya. "SERBU!!" Ucapku sambil keluar dari mobil bersamaan dengan Eugene dan Danji.
Tidak hanya timku yang menyerbu mereka, namun orang-orang setempat pun ikut menyerbunya. Dengan susah payah aku berdesak-desakan ditengah-tengah ramainya orang.
"Bagaimana boss?!" Ucap Danji memberiku sapu tangan sekaligus mengelap keringat yang membanjiri wajahku.
Aku merengut kesal sambil mengeluarkan bara api dipunggungku, "SIAL! AKU TIDAK MENDAPATKANNYA!!"
"APA?!!"
Kringgg!!
Tiba-tiba nada dering dari ponselku berbunyi, aku keluar dari area itu lalu mengangkat teleponnya. "Halo Ryan? Ada apa?"
"Kakak ayo cepat pulang! Aku sudah membuatkan kakak makan malam!"
Ekspresiku pun mulai lesu, wajah mengerikan yang aku tampilkan ini membuat para bawahanku merasa menyesal. "Setidaknya aku membawa pulang satu kado untuknya," ucapku seraya melihat sekitar toko yang masih buka.
"Kenapa tidak membelikan tuan muda kue saja?" Ucap Eugene memberikan saran sambil mengelap kacamatanya yang mengembun akibat udara yang mulai bersalju.
"Saya tau dimana toko yang menjual kue paling enak, mau saya belikan boss?" Tawar Danji.
Aku hanya tersenyum pasrah, "Tidak perlu... biar aku yang beli, kalian pulanglah dan nikmati hari natal kalian."
Hari ini adalah hari yang semua orang tunggu-tunggu. Hari spesial dimana mereka bisa berbagi kado dan kehangatan. "Aku beri kalian hari cuti sampai tahun baru, dan terima kasih karena sudah repot-repot memburu barang sialan itu."
"B-boss terlalu baik~" ucap mereka serempak dengan mata yang berbinar-binar. Dan mereka pun pulang kerumah masing-masing lengkap dengan senyuman lebar diwajah mereka.
Namun tidak denganku.
Karena aku gagal membawa barang yang adik kesayanganku incar-incar.
"Ryan~ Kakak pulang!"
Ryan yang telah menunggu lama sampai tertidur. Aku merasa bersalah karena membuatnya lama menunggu. Dan kini sudah hampir jam 10 malam, dia terduduk lemah dikursi meja makan.
Mengelus rambut hitam pekatnya seraya memberinya selimut dipunggungnya, "Ryan maaf kakak datang terlambat."
Ryan pun seketika terbangun perlahan. "Kakak kenapa lama sekali?" Ucapnya merengut sambil mengucek-ucek matanya yang sayu.
Aku yang sedang memasang lilin diatas kue pun terkejut akan suara Ryan yang tadinya kukira ia sudah terlelap ke alam mimpi. "Tadi kakak emm... sedang mencari kue untuk Ryan," ucapku sedikit malu.
Ryan hanya terdiam menatap kue yang sudah tertata rapi lengkap dengan lilin warna-warni. Tiba-tiba dia tertawa kecil, "Haha! Lilin-lilinnya tidak cocok dengan kuenya!"
Hal itu sukses membuatku gagal menjadi kakak yang hebat untuknya.
Tak mau menunggu lama aku merogoh kantung jas hitamku lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. "Maaf kakak tidak bisa mendapatkan Brown Plushy yang Ryan mau," ucapku sambil membuka kotak kecil itu yang terdapat dua buah cincin silver dengan ukiran yang sangat cantik.
Ryan terpaku melihat apa yang aku pegang, rona wajah mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Tak hanya itu suasana mulai menjadi canggung, tak tahu harus berkata apa.
Hug~
Tiba-tiba Ryan memelukku, "Ja-jangan lepaskan pelukanku! A-aku malu... mungkin wajahku sangat kacau."
Aku yang mendengarnya tertawa kecil, menaruh kotak itu dan mendekapnya lebih erat lagi.
"Terima kasih kak, dan juga..."
Hawa dingin yang tadi menyeruak disepenjuru sel-sel tubuh, kini sedikit demi sedikit menghangat akan dekapan penuh kehangatan dalam hati.
Ini adalah momen bahagia yang tidak boleh dilewati.
"Merry Christmas."
Dengan sebongkah nyali yang mampu membuat kebahagiaan datang dalam satu keluarga. Alangkah baiknya kita mengungkapkan perasaan kita tanpa perlu memikirkan kata terlambat, "Terima kasih telah hadir dikehidupanku kakak."
Menghela nafas lega, "Kakak juga."
Lalu kami berdua pun merayakan malam natal dengan sederhana. Tidak ada orang tua kami maupun saudara kami. Karena, hanya kami berdua yang selamat dari tragedi itu.
Dan tepat terjadi di malam natal yang membekas di hati kami.