Dering ponsel terus berbunyi nyaring dan mengganggu kegiatan membaca Revesta Claire. Beberapa pesan juga membrendeng aplikasi hijau yang Vesta miliki itu. Vesta melirik sekilas dan ia dapat melihat notif chat dari beberapa kontak. Vesta hanya diam tanpa ingin membalas ataupun mengangkat nya.
Beberapa menit kemudian, ponsel itu terus berbunyi. Vesta mengalah, ia mengambil benda pipih itu dan mulai membuka sandi ponselnya menggunakan pola yang sudah ia buat. Ia pun mengklik aplikasi berwarna hijau itu karena rasa jengkel sudah menyelimuti hatinya.
Lalu muncullah beranda layar yang menampilkan draft siapa saja yang mengirim pesan padanya. Mata Vesta terfokus pada nomer berdigit 888666210 itu yang sedari tadi mengganggu Vesta.
Tapi Vesta enggan untuk membukanya. Kenapa? Ya karena Vesta tidak kenal siapa pemilik nomer itu. Dirasa tidak ada yang penting lagi, Vesta membereskan buku novel kembali di atas meja.
Drtttdrttt
Ponsel Vesta berbunyi lagi.
"Ihh siapa sih telfonin gue malem-malem!, Nggak tau apa orang mau istirahat ha!." Sungut Vesta menyambar ponselnya lalu...
"Hallo......" Jawab Vesta.
"Apa kabar gadis kecilku hihihi." Suara berat itu bersuara diikuti dengan tawa kecilnya.
Suara cowok?siapakah dia? Apa mama ngasih nomer gue ke pacar barunya, tapi kenapa mama tega. Bathin Vesta sedikit bingung.
"Siapa ini?!" Jawab Vesta dengan cepat.
"Aku? Tidak penting siapa aku untuk kamu! Yang penting sekarang selamat kan mama kamu!." Tegasnya.
Hati Vesta berdetak kuat, siapa dia? Ada apa dengan mama?.
"Mama gue kerja! Dan gue yakin mama gue bisa jaga dirinya sendiri." Bentak Vesta.
"Turutin perintah gue, atau......" Dia menggantung ucapannya cukup lama. Terdengar ia sedang tertawa sangat kencang.
Amarah Vesta memuncak "Atau apa ha?! Inget ya jangan pernah main-main gue bisa dengan mudah lapor ke polisi, ngerti?!." Bentak Vesta dengan pengancaman.
"Jangan pernah lapor polisi! Jika kamu masih ingin melihat mama kamu bahagia!." Cowok itu membentak Vesta.
"Lo mau apa?" Ucap lirih Vesta.
"Gue mau Lo datang ke taman Juwana Pati."
"Gila! Ini udah malam!" Bantah Vesta.
"Aku tunggu kedatangan mu gadis kecilku." Cowok itu menutup telepon nya.
Vesta terbaring lemah, pikirannya berkecamuk memikirkan keadaan mamanya.
Malam itu, Vesta tidak bisa tidur ia terus berdoa agar mamanya diberikan keselamatan diluar negeri.
Ia berharap sesuatu yang bahaya tidak menimpa mamanya. Bagaimana pun orang yang sangat Vesta cintai hanyalah mamanya saja.
******
Siang harinya, Vesta pulang sekolah dengan lesu. Hari ini sangat melelahkan ditambah cuaca kota Jakarta juga sangat terik.
Sesampainya dirumah, Vesta merebahkan tubuhnya dikasur.
Ia merogoh sakunya mengambil ponselnya untuk sekedar mengecek saja.
Ia membuka room chat grub sekolah nya, besok adalah hari kelulusannya.
Apa mama akan menepati janjinya? Bathin Vesta memikirkan keadaan mamanya yang sudah lama tidak ia temui.
Hingga tiba-tiba.......
"Hallo." Jawab Vesta malas.
"Jangan lupa datang di taman Juwana Pati."
"Cukup!." Bentak Vesta nafasnya naik turun sedari malam ia sudah bersabar dengan kelakuan cowok asing itu.
"Gue punya kejutan buat kamu, apalagi besok adalah hari kelulusanmu."
Deg
Dia tahu? Apa dia mama? Hanya mama yang akan memberikan kejutan saat gue lulus.
"Omong kosong!" Bantah Vesta.
"Diam dan turutin perintah aku, hanya ada satu syarat nanti yang aku minta."
"Apa? Kenapa tidak sekarang saja?" Tanya Vesta dengan cepat.
"Siapkan mental mu, datanglah ke taman Juwana Pati nanti malam see you again." Lagi dan lagi cowok itu mematikan telefon disaat Vesta kebingungan.
******
Malam harinya Vesta datang ke taman Juwana Pati itu sendirian. Ia takut jika lapor polisi maka nyawa mamanya akan bahaya.
Vesta nekat dan hanya pasrah kepada Tuhan supaya memberikan jalan yang terbaik.
Drtttdrttt
Vesta segera mengangkat telepon itu....
"Gue udah disini." Vesta begitu mantap, bahwa ini mamanya.
" Kamu harus memilih dua orang, salah satu diantaranya akan mati."
"Siapa maksud Lo ." Tangan Vesta mulai bergetar, air matanya berhasil lolos dari matanya.
"Lihatlah kearah timur." Punya lelaki itu Vesta pun menurut.
Vesta melotot melihat mama dan papanya ada tak jauh darinya.
Vesta mendekat berniat melepas rindu dengan memeluk tubuh dua orang yang ia sayangi.
"Stop!! Diam disitu Ves....." Ucap mama tergugu menangis.
Ada apa ini? Kenapa mama dan papanya menangis. Vesta semakin bingung dengan suasana malam ini.
"Maafin mama Ves..... Mama sangat menyayangi kamu nak." Mama terdiam sejenak. Sepertinya ia mencoba menenangkan dirinya.
"Papa juga sayang kamu nak."
Vesta memandang papa dan mamanya bergantian. Sebenarnya apa yang mereka lakukan, Vesta mulai mendirikan air matanya dalam kebingungan semua ini.
Mama dan papa mendekati tubuh Vesta lalu memeluk tubuh Vesta.
Vesta menangis kuat, ia rindu dengan kedua orangtuanya ia rindu pelukan ini.
"Vesta sayang.... Jangan pernah membenci mama dan papa oke? Kita berdua sangat menyayangi kamu. Mungkin ini bukan hadiah paling indah buat kamu Ves....." Mama menarik nafasnya, Vesta dengar itu semuanya.
Vesta menatap papanya yang sedari tadi hanya diam membisu. Mereka saling tatap satu sama lain. Vesta tau ada yang aneh dengan kedua orangtuanya tapi pikiran nya tak dapat menebak semua itu.
"Papa minta maaf Vesta......" Hanya itu kalimat yang terucap papa setelah sekian lama terdiam.
Hatiku Vesta mulai gelisah tidak karuan, entah kenapa firasatnya tidak enak dan malah teringat pada nomor tak dikenal itu.
Ia sangat yakin bahwa ini semua ada kaitannya dengan nomor itu.
Vesta berpikir bahwa kedua orangtuanya itu terlibat dalam hutang besar. Mungkin hutang dengan seorang rentenir yang sangat kejam.
"Apa yang terjadi mah, please jangan buat Vesta khawatir." Ucap Vesta dengan suara yang bergetar.
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Rasa takut itu menyelimuti Vesta.
Berharap kedua orangtuanya memeluknya dan memberikan ketenangan, tapi....
Harapan itu sia-sia keduanya hanya diam membisu menatap Vesta dengan tatapan biasa.
"Sebenarnya Vesta salah apa mah, pah."
"Kita yang salah nak....."
"Vesta."
"Iya pah..."
"Bisa minta tolong...."
Vesta tersenyum dengan permintaan papa nya. Ia pun dengan semangat membalas...
"Bisa pah."
"Tolong ambilkan tas papa didekat sana ya." Pinta papa menunjuk ke arah mobil Jeep berwarna hitam.
"Mobil papa itu?." Tanya Vesta memastikan.
"Iy...a itu mobil papa." Jawabnya terbata.
"Sayang ayo cepat ambil. Udara disini mulai dingin mama takut kamu sakit nak..." Ucap lembut mama.
Vesta menurut ia berjalan pelan ke arah mobil Jeep hitam itu.
Hatinya was-was, apa itu mobil penculik atau memang benar mobil mama dan papanya.
Vesta buang jauh-jauh, Lo harus yakin ini kejutan buat Lo yang paling terindah. Ucap Vesta lirih sambil tersenyum cerah.
Dari sisi lain, mereka siap mengarah pistol ke arah tubuh Vesta.
"Ini dia...." Dan detik kemudian...
Dorrrrrrr
Peluru meluncur kearah Vesta. Vesta jatuh tersungkur dengan darah segar yang sudah memenuhi tubuhnya.
Detik itu juga Vesta meninggal dunia. Nyawanya sudah tidak di bumi ini lagi, ia sudah bersama dengan sang pencipta. Malam itu adalah malam dimana Vesta melihat kedua orangtuanya.
Malam yang gelap, mengantarkan nyawa Vesta ke tempat yang bahagia.
"Jangan menangis sayang."