Cerita ini dialami oleh temanku Yui. Ketika malam hari tiba, dia berencana untuk datang ke rumahku. Di sana dia melihat sebuah rumah yang biasa saja. Gorden yang tidak menutup dan lampu yang masih menyala.
Beberapa kali dia meneriakkan namaku, dia melihat pintu yang tidak terkunci, setelah membukanya. Yui masuk dan berjalan sambil memanggil namaku lagi, hal ini dia lakukan dengan berharap agar aku membalas seruannya lalu menghampirinya.
Namun, yang terjadi sebaliknya, tidak ada suara apapun. Dia terus berjalan hingga ke dapur. Ini bukanlah sifat yang tidak sopan. Ini hanyalah Kebiasaan kami sekeluarga yang biasanya berkumpul di dapur dan menonton televisi di sana.
Itu sebabnya apabila ada suara panggilan, tetapi tidak sampai pada telinga kami karena kami berkumpul di dapur dan menonton acara keluarga. Itulah kenapa orang-orang tidak akan menjadi masalah jika langsung masuk dan bertemu kami di dapur.
Kami tidak akan mempermasalahkan hal ini selama tidak melakukan sesuatu yang melanggar seperti mengambil benda, berbuat kerusakan maupun tindakan kriminal lainnya.
"Ri... kamu di sini kan?" panggil Yui sambil berjalan lebih masuk tanpa menghidupkan lampu dapur. Beberapa benda terlihat karena mendapat cahaya dari pintu luar menuju toilet.
Yui mengira aku berada di toilet itu sebabnya dia terus masuk hingga dia melihat ada kaki di balik pintu yang berjalan keluar menuju toilet.
"Eh, Ri... bercandamu gak lucu deh!" ucap Yui seraya membuka lebar pintu dan dia langsung menggigil, bulu kulitnya berdiri. Dia tidak melihat siapapun tapi lampu di luar memang hidup.
Karena dia menyadari tidak ada siapapun, akhirnya dia keluar dengan berlari dan menjauh dari rumah itu. Dia melihat ada keramaian di rumah tetanggaku. Dia pun berlari ke sana dan kami bertemu di tengah jalan antara rumahku dan rumah tetanggaku.
"Yui? kamu diundang di acara ini juga?" tanyaku.
"Hah... a-aku-" Suaranya terputus-putus karena napasnya memburu.
"Aku kira kamu ada di rumah," ujarnya setelah menstabilkan napasnya.
"Aku dari sore bersama keluargaku ada di rumah tetangga, soalnya ada acara, jadi kami bantu-bantu di sini. Kenapa kamu kaya habis lomba lari?"
"Aku... itu dia!" serunya. "Aku kira kamu di rumah ternyata gak ada! Tadi itu aku ngeliat ada perempuan yang aku kira kamu terus kamu ngajak petak umpet gitu, sembunyi di balik pintu," lanjutnya panjang lebar.
Akhirnya dia menceritakannya dengan detail bahkan direka ulang bagaimana kaki itu terlihat. Aku yang ada di rumah bersama dia saja merasa sedikit takut. Namun, tidak ada rasa takut yang lebih baik dibandingkan rasa takut kepada Sang Pencipta.
TAMAT