Kisah ini memang nyata. Ini benar-benar real sering terjadi padaku. Dapat melihat sesuatu yang tak kasat mata, yang sebenarnya sangat tidak ingin aku melihatnya, tapi rupanya tetap saja aku masih bisa melihatnya. Awalnya sih merasa sangat terganggu dengan apa yang sering aku lihat itu, tapi semakin kesini rasanya sudah biasa biasa saja, asal jangan sampai mahluk beda dunia itu tak menggangguku yang lebih fatal. Contohnya, seperti kejadian hantu yang bisa membunuh orang kayak di film-film itu. Iiih... Amit-amit 'kan?
Bermula dari ketika aku berusia enam belas tahun. Saat itu aku sudah SMA dan kebetulan kedua orangtuaku menitipkanku disebuah pondok pesantren sederhana yang cukup terkenal di kotaku.
Sebenarnya aku sudah sering mendengar cerita-cerita tentang kejadian horor yang kerap terjadi disetiap pondok pesantren dari cerita tetangga yang pernah mondok juga dulu. Cuma saat itu aku tidak begitu menghiraukannya. Alasanku karena makhluk yang sering aku sebut dengan istilah "tiga huruf" itu dimanapun pasti ada. Baik di rumah yang berpenghuni sekalipun, makhluk itu pasti ada.
Kendati aku sering melihat yang begituan, cuma camkan baik baik. Aku bukan indigo! Aku sangat tidak suka dengan embel-embel kata indigo padaku. Titik!
"Ibu, aku diganggu lagi sama demit. Semalam aja aku lihat ada wewe berambut panjang, berdiri diambang pintu kamar sambil natapin aku," curhatku pada saat ibuku mengunjungiku ke pesantren.
"Trus?" Ibuku malah terlihat lebih santai, nggak ada panik-paniknya sama sekali. Mungkin karena sudah terlalu sering mendengar ceritaku yang melulu begitu.
"Ya aku bacain doa-doa lah, Bu. Tapi ya gitu, tetap aja ngeyel nggak mau pergi. Jadi frustasi mau dibacain doa apa yang mempan buat ngusir demit rese semalam."
"Entar kalau kamu udah nikah, nggak bakalan diganggu lagi kok."
"What!!"
Iiiih... Ibuku nih ngadi-ngadi aja. Masa iya apa yang aku alami ini akan berakhir setelah nikah. Apa alasannya yang masuk akal coba?
"Ibu dulu sering gitu juga kok," akunya setelah aku hanya mematung saja.
Oalaah... Pantas saja ibuku tak pernah kaget, takut atau panik, setiap kali mendengar cerita hororku itu.
"Berarti aku begini nih bisa jadi karena memang keturunan dari Ibu?"
"Nggak tahu juga sih." Ibuku malah cengengesan nggak jelas.
"Aaah, Ibu!"
"Jangan dipikirin, Fa. Anggap saja kejadian ini itu kelebihan kamu. Selama itu nggak ganggu kamu, kamu cukup banyak-banyak baca sholawat saja, biar hati dan pikiran tidak kosong dan selalu dalam lindungan Allah."
"Selama nggak ganggu? Nampakin wujudnya sama aku tuh sama aja mengganggu pandanganku, Bu!"
"Ya mungkin mereka itu pengen berteman atau kenalan sama kamu, Fa. Anggap saja begitu."
"Iiiih... Ibu! Nggak lucu tauk!"
Ibuku hanya bisa terkekeh melihat wajahku yang bertekuk dengan mulut yang mengerucut sebal.
Perihal yang katanya ibuku hal itu akan berhenti mengganggu setelah menikah, itu memang benar terjadi sama ibu. Entah mengapa semenjak menikah dengan bapak, ibu sudah tak lagi diganggu oleh penampakan makhluk astral itu. Jadi kepikiran, apa sebaiknya aku segera menikah saja setelah tamat SMA?
***
Suatu malam, saat itu aku bersama kedua teman sekamarku memilih tidur di teras musholla, karena kebetulan saat itu cuaca sedikit panas dan kita mencari udara dingin itu lewat melipir tidur di teras musholla.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Saatnya seluruh santri diwajibkan segera tidur bersamaan dengan bunyi bel pertanda wajib tidur. Jika ketahuan masih begadang lewat dari jam itu, auto siap-siap menerima sanksi dari para pengurus pesantren keesokannya.
Aku yang sudah sangat lelah dengan segala kegiatan rutinitas pesantren, langsung terbawa mimpi ketika kepala ini menyentuh bantal.
Entah sudah berapa jam lamanya aku terlelap, saat tiba-tiba terdengar suara Evi, membangunkanku meminta menemani ke kamar mandi.
Mataku mengerjap berulang-ulang, tentu masih sangat ngantuk sekali. Setelah berhasil ku buka mata ini, Eh.. Si Evi rupanya lagi ngorok alias tidur sangat nyenyak sekali.
Oke, mungkin itu tadi cuma aku lagi ngigau atau anggap saja sedang bermimpi Evi.
Tak mau membuang waktu tidur, aku memilih membelakangi Evi yang sangat bising dengan suara dengkurannya. Kali ini aku tidur berhadapan dengan Suci, teman sekamarku juga.
Belum sempat aku masuk kedalam dunia mimpiku lagi, tiba-tiba kali ini giliran Suci yang membangunkanku.
"Fa, Ulfa!" Tangan Suci mengguncang lenganku.
"Hmm...," sahutku masih dengan mata yang terpejam rapat. Ngantuk parah!
"Ulfa!" Suara Suci lebih meninggi dari biasanya.
"Apa sih, Ci!"
Sontak mataku terbuka lebar, sedikit merasa jengkel dengan Suci yang hanya membangunkanku tanpa menyebutkan apa tujuannya mengganggu tidurku yang berharga ini.
"Hah?" Mulutku menganga cukup lebar, setelah tahu Suci sama seperti Evi, tidur begitu nyenyak dengan air liur yang mengalir dari sudut bibirnya. Iiiyuuuuuh....
Nah, lantas yang barusan membangunkanku itu siapa? Kenapa suaranya sangat mirip dengan Evi dan Suci? Apa jangan-jangan?
Ku beranikan diri menengok ke arah sekitar. Sunyi, senyap dan sepi. Beruntungnya tidak ada penampakan apa-apa yang tiba-tiba muncul disekitarku. Huft, cuma mimpi!
Ku rebahkan tubuhku lagi sambil merapatkan selimut tebal yang sedari tadi kupakai, karena sebenarnya kali ini tengkukku tiba-tiba terasa berat dan sedikit merinding. Dalam hati aku berdoa semoga saja kali ini tidak ada hal aneh-aneh lagi yang menampakkan diri kepadaku. Sumpah! Aku ingin benar-benar nyenyak tidur.
Srak... Srek... Srak.... Srek...
Suara sandal yang terdengar diseret melangkah diatas paving halaman musholla ini terdengar sangat jelas di telinga. Rasanya belum lima menit aku terlelap sudah masuk waktunya ibadah sholat malam saja.
"Astaghfirullah, aku telat bangun!"
Aku terperanjat bangun sambil duduk, kemudian berkemas melipat selimutku, guna segera melaksanakan sholat malam. Tapi kok?
Mataku nyaris tak berkedip. Mulutku terperangah tak percaya. Saat suatu kenyataan terlihat nyata didepan mata. Suara sandal yang terdengar diseret itu benar ada, cuma itu hanya beberapa pasang sandal yang bergerak sendiri tanpa ada orangnya.
"Astaghfirullah! Ibuuuuu......"
Spontan ku tutup rapat mataku dengan kedua tanganku. Sungguh kali ini adalah kejadian yang benar-benar menyeramkan dibanding kejadian yang pernah ku alami sebelumnya.
Berbagai macam lafadz doa sudah banyak keluar dari mulutku. Aku yang bukan tipekal cewek penakut, kali ini benar-benar merasa sangat takut. Coba kalian bayangkan saja menjadi aku?
Ku beranikan diri menggerakkan kakiku yang tiba tiba saja terasa kram dan sangat kaku untuk dibuat melangkah. Mungkin efek ketakutan atau apalah. Pokoknya aku mau kembali tidur. Persetan dengan suara sandal yang terdengar terseok-seok di sana.
Keesokan harinya, semua santri kembali disibukkan dengan aktifitas rutin setiap paginya. Aku yang semalam mengalami kejadian menakutkan itu, tentu tak mau menyimpannya sendiri. Ku ceritakan saja kejadian semalam kepada Evi dan Suci, tentu dengan nada bicaraku yang pasti menggebu-gebu.
"Iiih, serem deh, Fa!" timpal Suci, begitu selesai mendengarkan cerita hororku semalam.
"Woles saja, Fa. Namanya saja indigo, pasti kamunya bakal sering lihat yang begituan." Evi turut menyahut, dan tetap saja menganggapku sebagai anak indigo.
"Aku bukan indigo, Vi!" sahutku kesal.
Entah kenapa rasanya sangat tak terima kalau aku dinyatakan sebagai anak indigo oleh hampir seluruh penghuni pesantren. Kalian pikir menjadi sepertiku enak apa? Kalau bisa nih ya, aku nggak pernah mau bisa melihat yang begituan.
"Dah, jangan marah!" Suci menepuk pelan pundakku.
"Lebih baik kamu segera nikah saja deh, Fa. Biar nggak digangguin kayak gituan terus." Suci berkata begitu santainya, tanpa menghiraukan biji mataku yang melotot hampir keluar dari tempatnya setelah mendengar perkataan Suci yang terkesan enteng.
"Nikah! Nikah! Sekolah dulu tamatin. Masa depan masih panjang bestie!" ocehku sebal sekali.
"Ya, sudah!" Suci dan Evi pun kemudian melangkah pergi meninggalkanku yang masih betah mematung di tempat.
"Hei, Indi, ayo cepat berangkat! Keburu telat nih."
Tiba-tiba seorang kakak santri senior menyapaku, dengan panggilan namaku yang ia rubah dengan 'Indi' singkatan dari kata indigo. Kakak senior itu cengengesan kepadaku, memamerkan deretan giginya yang nggak putih-putih amat.
"Iiiiih.... Aku bukan indigo, Kak!"
Rasanya sangat sebal. Ingin sekali ku lepas sepatuku lalu ku lempar ke wajahnya, andai saja ia bukan senior yang merangkap menjadi pengurus pesantren.
"Aku bukan indigo!" Gumamku berulang-ulang, sembari melangkahkan kaki begitu malas menuju gedung SMA tempat ku mengenyam pendidikan di sana.
#The End