Dengan menggunakan headphone serta laptop, sudah lebih dari cukup ia mengumpulkan semua cerita yang menarik.
hingga saat sang kakak berdiri di pojok pintu kamar sembari melihat aktivitas adiknya, Alin tak kunjung sadar akan kehadiran sang kakak.
Sampai akhirnya sang kakak yang bernama Yusuf tersebut mengetuk pintu dan membuat sang Alin tersadar dari dunia fiksinya.
"Assalamualaikum, gada orang apa ya?" ujar yusuf melirik Alin
Alin lantas menoleh kearah pintu kamar
"Wa'alaikumussalam, hahh, Abanggg" teriaknya sambil melepaskan headphone yang masih berada di telinganya.
Bughh
Alin memeluk sang kakak yang diketahui telah lama tak pulang akibat merantau ke ibu kota.
"Kok gak ngabarin kalo pulang, kalo ngabarin kan Alin bisa siap siap buatin surprise" Alin mendongak menatap Yusuf yang bagaikan tiang tanpa melepas pelukannya
"Abang yang pulang, harusnya Abang yang kasih surprise." Yusuf memeluk erat tubuh Alin
"Mama papa mana Lin? tanya nya celingak celinguk mencari keberadaan orang tuanya itu
Alin melepas pelukannya, dan menuju keluar kamar "Mama papa lagi keluar sebentar bang, sini kopernya biar Alin beresin" Alin menarik koper dari tangan Yusuf
*
Tiga hari sesudah kepulangan Yusuf, mereka berdua ingin berpamitan untuk kerumah sang nenek kakek yang rumahnya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
sepasang kakak adik itupun memutuskan untuk menginap karna mereka adalah cucu yang paling dewasa dari adik adiknya yang lain.
"assalamualaikum kek nek" sapa mereka saat memasuki rumah kakek neneknya itu.
Neneknya menyambutnya dengan gembira atas kepulangan Yusuf yang diketahui menjadi Manager disalah satu perusahaan besar di ibu kota.
"Bahh Ucup pulang bah" Panggilnya menatap cucu kesayangannya itu.
Tibanya sang kakek, Yusuf dan Alin segera berdiri dan menyalami kakeknya itu
"Apa kabar kakek sama nenek?" tanya Yusuf menatap binar mereka berdua
"Alhamdulillah baik nak, kamu makin ganteng ditinggal keluar kota ya cupp"
Alin menahan tawa sambil menutup mulutnya "Ppfftt, ucupp"
Yusuf mendelik tajam kearah Alin dan seketika Alin bungkam.
**
Esoknya saat matahari bahkan belum terbit, Alin sudah siap dengan pakaian SMA nya, jarak dari arah rumah neneknya hingga kesekolah cukup jauh, tapi kini ia mempunyai sang kakak yang bisa ia andalkan.
"Bangg, anterin Alin kesekolah dong" pinta Alin
Yusuf menoleh kearah Alin "bolehh, sekalian juga abang mau kerumah kakek nenek yang di seberang
"yeyy makasii bang, dah lama nih gak dianter" ujarnya memeluk sang kakak
*
Saat sampai di gerbang sekolah, banyak pasang mata yang tiada hentinya melirik kearah Yusuf dan Alin
Alin turun dari motor yang Yusuf kendarai dan melepaskan helm yang ia gunakan
"Langsung pulang jangan caper disini" Alin menatap Yusuf ketus, ia tak ingin salah satu temannya akan menjadi kakak iparnya.
"Iya bawell" Yusuf mengelus kepala Alin kasar
Alin terlihat kesal dengan kelakuan Yusuf
"Ishh abanggg, jadi berantakan nihh" teriaknya sambil memukul bahu Yusuf
*
Hari itu, Alin habiskan hanya dengan mendengar gosip hangat tentang Yusuf kakaknya. banyak yang meminta nomor telepon yang Yusuf miliki tapi dengan hanya menggunakan 3 kata, semua orang tak lagi mengganggu waktu nya.
"Dia. Pacar. Gue!." 3 kata yang terdengar sederhana tapi sangat memiliki arti bahwa ia sangat menjaga kakaknya itu.
Bahkan saat jam bel pulang sekolah, Alin memilih untuk segera pulang kerumah neneknya daripada ia harus mendengar semua gosip yang beredar.
Tibanya dirumah nenek, ia melepas seragamnya dan berniat untuk belajar memasak dengannya.
"Nek, sibuk gak, Alin mau belajar masak nih dari chef handal" ucapnya dengan wajah yang berharap
"Tumben, mau masak apa?" tanyanya sambil membuka isi kulkas di dapur.
Alin tampak berpikir dan mengingat ingat apa saja makanan kesukaan kakaknya itu.
Cukup lama waktu yang mereka berdua habiskan didapur hanya karna Alin yang selalu gagal dalam mencoba memasak sesuatu.
**
Semua makanan telah tersedia di meja makan, namun Alin tak tau kapan Yusuf akan pulang kerumah. akhirnya ia memilih untuk mencicipi masakannya terlebih dahulu.
Nenek pun mencicipi sesendok kuah dari soto buatan cucunya itu.
"Gimana? enak gak nek?" tanyanya penasaran
nenek mengacungkan jempol "Banget, nak Ucup pasti seneng, ini kan makanan favorit dia banget." ujar nenek
tanpa Sadar, Yusuf terlebih dahulu sudah tiba dan memperhatikan interaksi mereka berdua di meja makan sambil menyandarkan dirinya di sebuah dinding
Alin yang merasa di awasi melihat kearah dinding yang sudah terdapat Yusuf yang senyum senyum sendiri
"Abangg, kapan abang balik, serem amat sih tiba tiba disini" ucapnya panjang lebar dan mengajak Yusuf untuk duduk.
Fokus Yusuf kini ke semua hidangan diatas meja. "Wihh enak nih, Linn ambilin nasi buat abang ya, abang mau cuci tangan" Yusuf beranjak menuju arah toilet.
"Ishh yaudah tunggu"
saat Yusuf kembali, Alin memberikan sepiring nasi milik Yusuf
"segini cukup?" tanya nya menatap kakaknya itu.
"Bangett, makasii yaa" Yusuf menyuap satu sendok nasi beserta lauk yang Alin buat
"Ihh enak ni, ini nenek yang masak nek?" tanya Yusuf melihat nenek di lanjutkan melihat Alin
Alin tersenyum karna masakannya dipuji.
nenek melihat Alin pun tersenyum
"Ini semua Alin yang masak cup" ucap nenek
Yusuf melirik nenek bergantian melirik Alin yang kini tengah menatapnya.
"Ini kamu yang masak?" tanyanya heran, karna yang ia tau, Alin sangat malas untuk memasak apalagi mempelajarinya.
Alin hanya mengangguk tersenyum
"Abang cuma modus tadi" ujar Yusuf mengubah mood Alin barusan hilang.
Yusuf menahan tawanya "Canda dek, ini enak kok, makasih yaa" Yusuf mengacak acak rambut Alin.
#iri?,sama!