Charlotte mengadu pada ibunya bahwa Thomas ternyata bukanlah pasangan yang tepat untuknya. Setelah menjalani 10 tahun usia pernikahannya bersama Thomas, Charlotte telah banyak sekali mendapati kekurangan dan keburukan dari seorang Thomas. Menyesal, kecewa dan tidak merasa bahagia tengah melanda hati Charlotte.
"Aku ingin perceraian!!"
"Karena kau telah mengetahui semua keburukannya?" tanya ibu.
"Ya, begitu banyak keburukkannya sampai aku merasa telah salah memilihnya. Aku pasti dulu buta, tuli dan bodoh sehingga sampai menikah dan pernah mencintainya. Sekarang aku benar-benar merasa muak padanya."
"Bagaimana dengan anak-anak?" Ibu bertanya lagi.
" Anak-anak tidak membutuhkan figur ayah buruk seperti Thomas itu. Aku pasti bisa menjaga anak-anakku dengan baik walau tanpa kehadirannya."
"Bagaimana dengan hatimu?" Ibu memandang Charlotte dengan senyum lembut di wajahnya.
"Hatiku... mungkin..., hatiku mungkin akan menemukan kebahagian di tempat lain, di rumah yang berbeda, yang belum bisa aku bayangkan. Nasib kedepannya siapa yang tahu. Benarkan, Bu?"
"Ibu hanya berharap Charlotte putri ibu dapat berbahagia disetiap waktunya." Ucap ibu sembari menjulurkan tangannya menyibak rambut coklat Charlotte dan menyelipkannya di balik telinga indah putrinya.
"Aku bahkan tidak tahu apa itu bahagia sejak kami menikah. Mungkin ini memang sudah nasibku, Bu. Bahagiaku mungkin bukan bersama Thomas, mungkin kelak bersama seseorang lain di luar sana, ...mungkin, aku akan kembali bekerja dan mendapatkan lingkungan baru," ucap Charlotte sambil meyakinkan dirinya sendiri.
Mereka terdiam sejenak, dapur tempat mereka berbincang menjadi sunyi untuk sesaat. Ibu mengalihkan pandangannya pada rumpun English Ivy di sudut meja.
"Charlotte putriku, waspadalah terhadap kecanduan 'nasib'. Berhati-hatilah dengan gagasan bahwa dirimu akhirnya akan menemukan kebahagiaan di tempat berikutnya, dengan pasangan berikutnya, di pekerjaan berikutnya.
Karena, selama kau tidak menyingkirkan gagasan bahwa kebahagiaan ada di tempat lain, maka kebahagiaan itu tidak akan pernah ada di tempat kau berada sekarang." Tutur ibu.
Kembali menatap wajah putrinya yang tertunduk, ibu meraih kedua tangan wanita dewasa di hadapannya itu.
"Putri kecilku, berapa usiamu sekarang?"
Charlotte memandang ibunya dengan tatapan bertanya.
"Disepanjang usia, hidup akan selalu menyuguhkan semua peran yang ada di hadapan kita, semuanya... jika kesempatanmu cukup.
Tidak hanya melulu peran baik atau buruk, ada peran abu-abu juga. Sifat manusia adalah selalu menyesuaikan dengan kebutuhannya. Orang baik bisa salah dan orang jahat juga. Orang jahat bisa melakukan hal-hal baik dan orang baik juga berpotensi melakukan kejahatan. Seisi dunia dipenuhi berbagai peran ini, kemanapun kau berlari.
Peluang-peluang kejadian dalam hidup jangan sampai mengosongkan hatimu. Iblis yang kau kenali akan lebih mudah ditangani dibanding iblis-iblis yang akan datang. Iblis juga bersarang di hatimu, tangani ia." Ibu menunjuk pelan pada dada putrinya.
Charlotte menatap dalam pada mata tua wanita yang ia panggil ibu itu.
"Boleh aku memelukmu, Bu?"
"Kemarilah...," ibu merentang tangannya.
"Bagaimana jika aku kalah dan iblis menang?" Tanya Charlotte di bahu ibunya dengan memejamkan matanya.
"Iblis tidak akan pernah menang tanpa dukunganmu, Sayang." Ibu mengecup kening Charlotte lembut.
🌿 🌿 🌿