Sepasang suami istri tampak jalan dengan tetap bergandengan tangan, sangat tampak jelas jika pria itu menggenggam erat jemari si wanita.
Awan mendung seakan mendukung perasaan yang kini berkecamuk dalam diri Vivi. Vivi sudah berusaha untuk menghindari keramain, menghindari teman yang dulu suka membulinya, namun takdir berkata lain, seolah jalan justru mempertemukan Vivi kembali dengan seseorang yang telah lama ia hindari Jax.
"Apa kau ingat dulu, betapa jahatnya aku waktu kita duduk di sekolah dasar kekas 6, hingga membuat mu seakan menutup mata dan terus berusaha menjauh, menghindari ku di kala kita duduk di bangku menengah pertama hingga menengah atas." tanya Jex dengan menatap Vivi penuh cinta.
"Aku ingat, bagi ku saat itu kau adalah moster jahat yang harus di hindari, hingga akhirnya aku terkurung di gudang yang sama dengan mu di saat sekolah tengah mengadakan acara seni musik menyambut pelepasan murid kelas 12, di saat itu pula kau tau aku sakit." ujar Vivi dengan senyum di bibirnya.
"Saat itu aku panik bukan kepalang, melihat mu sesak nafas di dalam gudam yang pengap di tambah gelap tanpa cahaya, kau berusaha mengambil obat yang ternyata selalu kau bawa kemana pun kau pergi..." Jex menatap langit dan menatap Vivi lagi, "Jika bukan karena obat itu, aku tidak akan tahu kalo kamu mengidap social anxiety disorder." tambahnya lagi.
"Itu semua karena mu, bullying yang aku alami di saat masih berada di sekolah dasar menyisahkan rasa trauma bagi ku, tapi karena dukungan dr orang tua dan diri mu, aku sekarang bisa terbebas dari fobia sosial ku." ujar Vivi.
"Aku akan selalu membuat mu tersenyum dan aku janji, aku tidak akan menyakiti mu lagi, karena kau adalah dunia ku, hidup ku, cinta ku." Jax mengecup punggung tangan Vivi.