Aku tak pernah menyangka semua kehidupanku akan menjadi begini, aku tak pernah tahu awalnya mula kejadian semua ini dan tiba-tiba aku dihadapkan oleh kenyataan yang buatku sangat amat membingungkanku. Hal ini semua berawal sejak aku duduk di bangku SMA. Kala itu aku berada pada kelas 11. Aku termasuk anak yang aktif bahkan sampai aktifnya aku melupakan bahwa aku adalah remaja yang mungkin waktunya untuk mencintai dan dicintai tapi aku lupa akan semua itu karena kesibukanku, bahkan aku sampai tak melihat ada sesosok laki-laki yang dengan tulus mencintaiku.
Hari itu adalah hari sabtu jadwal dimana aku sebagai ketua Bantara memimpin rapat mingguan yang biasa aku lakukan dan teman-temanku didampingi oleh para seniorku ya.. karena aku adalah ketua yang baru, so perlu banyak bimbingan dan masukan dari senior kan. Rapat berjalan dengan lancar dan semua telah pulang karena aku masih ada beberapa kerjaan maklumlah aku ketuanya, aku akhirnya menjadi pulang terlambat. Saat aku hendak pulang dan menuju ke parkir motor tiba-tiba saja kepalaku mendadak pusing dan mataku rasanya sangat gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Dan saat aku sadar aku telah dibawa oleh Rio ke UKS salah satu kakak seniorku yang tadi juga ikut rapat Bantara.
“Terima kasih ya Kak, udah bawa aku ke UKS.” kataku setelah sadar dari pingsan.
“Iya, gak apa-apa syukur deh kamu udah sadar. Ini minum dulu.” katanya sambil menyodorkan segelas air putih padaku.
“oh ya ngomong-ngomong yang bawa aku ke sini tadi Kakak ya.” tanyaku lagi pada Kak Rio.
“iya untung tadi ada aku coba kalau enggak, bisa berabe deh kamu.” jawab Kak Rio belagak pahlawan.
“Sekali lagi terima kasih ya Kak.” dan tak berapa lama Zafran datang dengan membawa nasi bungkus dan teh hangat.
“Eh, ini dia Zafran dateng bawain, makanan.” kata Kak Rio.
“iya ini aku bawain nasi bungkus buat kamu.” kata Zafran sembari memberikan nasi itu padaku.
“Makasih ya Fran.”
“Untung aja ada Zafran, jadi dia aku suruh beli nasi di luar, aku kan tahu kamu orangnya sibuk pasti lupa deh buat ngurus diri sendiri apalagi soal makan.” sambung Kak Rio.
“Iya deh Kakak tahu aja. Makasih ya Kak sekali lagi.” sambungku sambil membuka nasi bungkus yang dibawakan oleh Zafran. Hari beranjak gelap dan kami semua pulang ke rumah masing-masing karena aku masih lemah maka aku pulang diantar oleh Kak Rio sedangkan motorku dibawakan oleh Zafran. Di tengah perjalanan Kak Rio mengerem mendadak dan secara tak sengaja aku memegang pinggul Kak Rio.
“ada apa Kak?” tanyaku padanya.
“gak tahu tadi kayak ada kucing lewat.” jawabnya asal.
“Huuh dasar cowok cari kesempatan padahal aku tadi lihat orang gak ada apa-apa juga.” gerutuku dalam hati melihat tingkah Kak Rio.
“ada apa Kak?” tanyaku padanya.
“gak tahu tadi kayak ada kucing lewat.” jawabnya asal.
“Huuh dasar cowok cari kesempatan padahal aku tadi lihat orang gak ada apa-apa juga.” gerutuku dalam hati melihat tingkah Kak Rio.
Hari berganti hari dan tahun berganti tahun aku telah lulus dari SMA dan aku meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi dan saat itu aku memilih kuliah di salah satu Universitas negeri di daerah Semarang. Di kuliah aku juga aktif di beberapa kegiatan seperti yang aku lakukan di SMA dulu karena memang aku sudah terbiasa dengan keaktifan dan jika tak ada yang aku lakukan aku seakan bingung. Dan aku memilih pada bidang pramuka yang memang selalu aku cintai sejak dulu, betapa terkejutnya aku melihat bahwa Kak Rio, kakak kelasku dulu juga kuliah di sini bahkan satu kegiatan yang sama.
“Eh, kamu Zahra itu kan.” kata Kak Rio yang ternyata masih mengenalku.
“Iya Kak, aku Zahra lama gak ketemu Kakak masih inget aku ya ternyata.”
Sejak aku satu kegiatan dengan Kak Rio aku dan dia semakin akrab dan dekat, kita sering pergi bersama ketawa bareng dan aku merasa nyaman dekat dengan Kak Rio karena dia orang baik dan perhatian banget. Saat pulang dari sosialisasi di sekolah SMAku dulu aku dan Kak Rio serta beberapa temanku yang satu kampus dan satu kegiatan denganku berpamitan dan bersalam-salaman dengan para guru-guru dulu. Kangen rasanya masa-masa SMA dulu, saat hendak pulang terdengar suara adzan Ashar aku mengajak Kak Rio untuk salat berjamaah bersama tapi katanya dia, ia ingin salat di rumah aja sekarang mau cepet-cepet pulang katanya dan kau tak bisa melarangnya untuk dapat mengimamiku saat selesai wudhu ternyata di sana ada Zafran yang mungkin ingin salat juga.
“Eh Zafran kita salat bareng yuk, kamu deh yang imami.” kataku padanya yang sudah siap-siap mau salat.
“Aa-aku.” katanya dengan terbata-bata.
“Iyalah masa aku, kamu kan cowok. Ada-ada aja kamu ini.” lalu Zafran memulai salatnya. Allahu Akbar terdengar suara Zafran yang sangat khusuk dan pertama kali aku dengar.
—
adalah dua semester terakhirku kuliah dan belajar di sini dan sebentar lagi aku akan menghadapi kehidupanku yang selanjutnya. Dan hingga tak ku sadari aku semakin dekat dengan Kak Rio dan mungkin aku telah jatuh hati padanya. “Pengumuman-pengumuman bagi mahasiswi yang bernama Zahra Agustin Nisa ditunggu di depan Intraholl sekarang juga.”
“Tuh Ra, kamu dipanggil tuh.” kata Resha mengingatkanku.
“Iye-iye ane juga tahu.” jawabku pada Resha segera aku meminta izin pada dosenku dan ke luar kelas.
“Ada apaan ya aku kok tumben-tumbenan dipanggil.” kataku saat berjalan, dan aku sangat kaget bahwa disana telah ada Kak Rio yang berdiri di atas panggung kecil sambil menunjukku dan di sana ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sana. “Mau apa sih Kak Rio itu bikin malu aja.” hatiku bertanya-tanya. Dan segera Kak Rio menghampiriku dan berlutut di hadapanku sambil memegang tanganku, oh betapa kagetnya aku saat itu.
“Ra, kita udah kenal lama sejak kita SMA dan kita ditakdirkan untuk bersama di sini di kampus ini. Semakin lama perasaan ini padamu semakin besar Ra, dan aku tak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi. Mata indahmu yang selalu membuatku terpesona dan wajahmu yang selalu membuatku bahagia. Ra Aku sayaang banget sama kamu, kamu mau kan jadi pacarku.” kata Kak Rio yang membuatku tak sanggup berkata apa-apa sontak saja para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu menjadi riuh dan memintaku untuk menerima Kak Rio.
“Terima.. Terima.. Terima.” kata mereka dengan kompak dan aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan dengan Kak Rio, aku tak yakin dengan perasaan yang aku miliki selama ini padanya aku kira perasaan ini hanyalah rasa yang nyaman saja dan aku bingung apa yang harus aku jawab dan akhirnya aku hanya mengangguk saja sontak semua kegirangan dan Kak Rio meletakkan cincin di jemariku.
Hari berganti hari aku masih memanggil Kak Rio dengan sebutan “KAK.” tapi ia melarangku ya mungkin karena belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan sayang hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Kak Rio sudah Lulus dengan gelarnya sarjana Ekonomi dan kini tinggal aku menyelesaikan studiku yang tinggal satu semester ini. Aku masih aktif dalam kegiatan PRAMUKA-ku bersama dengan teman-teman yang lain dan juga Zafran. “Fran, temenin aku yuk makan dulu di kantin aku belum makan nih, aku yang traktir deh.” kataku pada Zafran kita memang satu SMA tapi tidak pernah dekat bahkan jarang berbicara bersama apalagi makan bersama.
“Oke deh.” katanya singkat dan kami pun langsung OTW kantin.
“Oiya Fran, abis kamu lulus dari sini mau kerja ke mana kamu.” kataku memecah keheningan di antara kita.
“Gak tahu Ra, aku belum kepikiran, kalau kamu sendiri mau ke mana?” tanya Zafran padaku.
“Mungkin aku bakalan ke perusahaan pamanku dulu deh atau kalau gak buka usaha kecil-kecilan jualan kue kering dan parsel aku kan suka masak.” jawabku panjang lebar.
“Emangnya kamu gak malu sarjana management masa mau jualan kue dan parsel sih.”
“Kenapa harus malu asalkan itu semua halal dan gak ngerugiin orang juga.”
Dan tak terasa petang mulai menjelang makanan kami pun sudah habis pula. Tak lupa aku salat asar dulu sebelum pulang, salat berjamaah bersama Zafran untuk kedua kalinya rasanya hatiku tenteram sekali jika bersama Zafran rasa yang jauh berbeda yang tak pernah aku rasakan bersama Kak Rio. Saat di parkiran ku lihat ban motorku yang belakang tanpa angin, mungkin bocor dan ku lihat karena hari mulai gelap tak ada tukang tambal ban yang buka dan jika ada itu sangatlah jauh dari kampus. Untung saja Zafran masih ada di situ dan jarak rumahku dan rumahnya tak begitu jauh makanya aku berniat membonceng Zafran.
“Fran, boleh nebeng gak, ban motor aku bocor nih Pleasee.” pintaku agak sok melas yah, walaupun tak usah pasang tampang melas pun Zafran akan memperbolehkan aku nebeng sama dia karena memang dia baik hati. Setahu aku siih.
Di tengah perjalanan ternyata turun hujan memang tadi sore sempat mendung dan ternyata hujannya turun sekarang dan mau tak mau kami pun harus meneduh sebentar daripada kami nanti masuk angin. Dan saat kami berteduh bunyi gigiku bergemeletuk tandanya aku sangat kedinginan karena aku memang tak tahan dengan udara dingin. Segera Zafran mengeluarkan jaket yang berada di jok motornya.
Dan saat hujan sudah terang kami melanjutkan perjalanan untuk ke rumah saat sampai di rumah aku memberinya teh hangat sekedar untuk menghangatkan badan Zafran yang mungkin kedinginan karena terkena hujan. Aku masih berhubungan dengan Kak Rio dan kami masih berhubungan baik-baik saja dan mungkin aku sudah benar-benar dekat dengannya dan merasakan ada yang berbeda jika aku dekat dengannya tapi entah mengapa aku merasa lebih nyaman jika dekat dengan Zafran, hal yang tak aku dapatkan ketika dekat dengan Kak Rio.
Hari ini aku dan kawan-kawan pramuka ada acara untuk mendaki gunung di merapi semua telah dipersiapkan aku berangkat bersama Zafran, Rina, Krisna, Gita, Farel, dan teman-teman yang lain. Semua berjalan lancar dan kami semua telah selesai mendaki gunung tapi hal yang tak pernah terduga di tengah perjalanan pulang aku mengalami kecelakaan motor yang aku tumpangi di serempet oleh truk dan setelah itu aku tak tahu apa-apa teman-temanku membawaku ke Rumah sakit dan saat itu aku Koma. Aku telah diizinkan pulang karena memang lukaku tidak terlalu parah dan kini tinggal beberapa minggu aku kuliah di sini tinggal aku menyelesaikan skripsiku dan aku akan lulus. Oh my god aku hampir tak percaya akhirnya aku bakalan jadi sarjana juga.
Dan setelah lima bulan kelulusanku dan aku magang di sebuah perusahaan aku mendengar kabar kalau Zafran masuk ke dalam rumah sakit dan aku dengar sakitnya adalah kanker otak stadium 3 dan Zafran selama ini tak pernah mengabariku, aku mendapat kabar ini dari Mbak Mila dan ia menceritakan semua yang terjadi pada Zafran dan ia memberikanku sepucuk surat beserta buku milik Zafran. Ku ambil buku yang diberikan oleh Mbak Mila kepadaku dan dengan tangan yang gemetar aku membukanya dengan perasaan yang penuh dengan was-was, ku buka lembar pertama dan di situ aku temukan surat yang masih terbungkus dengan rapi dan mungkin surat itu sudah lama karena warna amplopnya sudah mulai busam.
“Dear Zahra, Teruntuk Zahra seorang bidadari cantik yang telah mengisi hatiku sejak pertama kita SMA dan saat kita MOS bersama saat kita mengikuti kegiatan bersama, aku sangat terpesona akan semua darimu, mata indah itu, senyum dengan lesung pipit itu aku sangat mengagumi semuanya darimu. Kamu juga wanita yang saleha tegar dan tabah. Karena itu aku ingin mengungkapkan perasaan yang telah lama aku pendam sejak lama. Maafkan aku jika aku lancang mengatakannya atau tak berani mengatakan langsung padamu, tapi inilah yang dapat aku katakan, ‘Aku sayang padamu Zahra.’ maaf aku memang tak pandai merangkai kata-kata juga bukan seorang yang romantis jadi hanya itu yang dapat aku katakan padamu. Zafran Mencintaimu Zahra. Tertanda, ZFR. Zafran.”
Setelah selesai membaca surat itu tak ku sadari bulir bening menetes dari pelupuk mataku. “kenapa Fran, kenapa kamu tak pernah mengatakan hal ini dari dulu. Dan kenapa aku juga sangat bodoh yang tak pernah menyadari cinta tulus darimu, mengapa aku tak peka terhadap perasaanku dan tak pernah menyadari bahwa aku sendiri pun juga sangat mencintaimu.” Aku tak pernah menyangka bahwa Zafran memiliki perasaan yang begitu dalam terhadapku. Saat ku letakkan surat tersebut di balik buku itu juga terdapat Seperti Agenda atau mungkin Diary dan aku lekas membacanya dengan segera.
“Oh ya Rabb, baru kali ini aku temui seorang wanita yang indah menawan dan tak terkalahkan oleh sosok bidadari sekali pun. Ketika pertama kali aku di Masa Orientasi Siswa dan aku melihatnya aku langsung jatuh hati padanya. Tapi semua rasa itu akan aku tahan sampai aku yakin bahwa itu benar-benar cinta yang suci dan bukan dikotori oleh nafsu belaka.”
“Zahra, sadarlah kamu aku yang menolongmu bukan Rio. Aku yang membawamu ke sini bukan dia. Aku sendiri yang berinisiatif memberikanmu makanan bukan dia, sadarlah Zahra aku mohon di sini ada aku yang dengan tulus mencintaimu. Sakit juga rasanya melihat orang yang dicintainya sedang berboncengan berdua di depan mata kepalaku sendiri.”
“Terima kasih ya Allah, engkau telah pertemukan aku dengan Zahra Kembali dan ternyata kita masih bisa bertemu kembali aku dan dia satu kampus bahkan kita memilih satu kegiatan yang sama, tapi yang aku khawatirkan muncul kembali. Rio seniorku dulu juga satu kampus dan kegiatan bersama.”
“Hancur rasanya, hancur semua perasaan, pupus sudah semua cinta yang telah lama aku rawat. Seakan-akan telah musnah dan tak pernah bisa tumbuh lagi. Saat mengetahui kau telah bersamanya, saat dia berlutut di hadapanmu dan kau menerima itu tepat di hadapanku. Rasanya saat itu jiwaku telah mati.”
“Senang rasanya Zahra bisa pulang berdua denganmu, meskipun cuacanya saat itu sedang hujan dan mendung tapi tidak dengan perasaanku seakan-akan perasaan yang telah mati itu telah bersemi kembali yang guyur oleh derasnya hujan saat itu. Ingin rasanya waktu terhenti dan ingin terus bersama dirimu.”
Setelah membaca semua tulisan dari Zafran kini kembali air mataku metes tiada henti dan semakin menjadi-jadi, ingin rasanya aku mengulang semua kenangan yang terjadi dengan menikmati indahnya cinta yang sesungguhnya, cinta yang benar-benar tulus dan membuat bahagia bersamanya. Aku menyesali apa yang telah ku lakukan padanya, tapi aku sadar bahwa semua penyesalan itu tiada artinya dan aku segera bangkit dan pergi menemui Zafran yang masih tergeletak di rumah sakit tak berdaya menanti kehadiranku di sana sebagai penyemangat hidupnya karena aku yakin ini semua belum terlambat untuk membalas cinta Zafran.
Setelah sampai di sana aku melihat Zafran tergolek tak berdaya ingin rasanya aku menangis tapi aku harus tegar di hadapannya, “Fran, kamu udah mendingan gak?” kataku mencoba menyapanya sambil tersenyum getir memandangnya. “iya.” katanya singkat sambil membalas senyumanku, dan aku tahu itu dia tersenyum sambil menahan rasa sakit dalam dirinya, tapi aku tahu itu adalah senyuman yang tulus dan penuh keteduhan yang sering ia berikan kepadaku. Memang kata dokter tidak boleh banyak bergerak ataupun bicara meskipun keadaannya telah mulai membaik usai operasi kemarin lusa.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit akhirnya Zafran diizinkan pulang oleh dokter meskipun ia menggunakan kursi roda aku dengan senang hati mendorongnya dan mengantarnya sampai rumah, Di tengah perjalanan Zafran menyuruh sopirnya untuk memberhentikan mobilnya di sebuah taman, dan seketika aku terkejut dan bertanya-tanya, “Mengapa ia harus berhenti di sini.” Dan seperti dugaanku banyak pasangan muda-mudi yang sedang bergembira di sana dan mereka mengingatkanku dengan Zafran saat kita belajar bersama di taman ini ya, tujuh tahun yang lalu dan tempat ini tak pernah berubah.
Ku lihat Zafran hanya duduk di kursi rodanya sambil memejamkan matanya, entah apa yang ia pikirkan seolah-olah dia merasa senang dan beberapa detik kemudian ia menceritakan apa yang ia pikirkan. Semakin hari kondisinya semakin membaik dan aku selalu menemaninya di setiap harinya dan aku juga telah meninggalkan Kak Rio demi Zafran cinta sejatiku memang awalnya Kak Rio sedikit kecewa tapi ia segera memahami keadaanku dan Zafran. Tapi kondisi Zafran tak berlangsung lama setahun setelah aku dan Zafran menjalani hubungan pacaran bersama kanker otak Zafran mulai menggerogoti tubuhnya lagi dan kondisi itu semakin parah. Dan kali itu Kak Rio datang untuk menjenguknya seperti biasa aku selalu hadir di sisi Zafran.
“Kak Rio, aku tahu kamu sangat mencintai Zahra. Aku juga tahu kamu masih cinta padanya, oleh karena itu aku titip Zahra padamu. Karena aku tahu cuma kamu yang bisa menjaga Zahraku.” kata Zafran penuh keyakinan. “Fran, kamu gak boleh bilang begitu, kamu harus kuat. Kita bakalan hadepin ini bersama.” kataku sambil menangis memegang erat tangan Zafran. “Ra, maaf aku gak bisa nemenin kamu. Kak aku nitip Zahra, Ashadualla illa ha illaulahu.” dan itu adalah kata-kata yang diucapkan Zafran untuk terakhir kalinya, dan sesuai dengan amanat Zafran kami berduapun menikah setahun setelah meninggalnya Zafran.
Di atas makam Zafran aku sangat berterima kasih pada Zafran atas cinta tulus yang telah ia anugerahkan padaku, aku juga berterima kasih pada Zafran karena telah memilihkanku seorang suami yang dapat mengayomiku dan menjagaku sebagaimana ia menjagaku, meski berbeda dengan caranya. Di sana Mas Rio begitu panggilanku pada suamiku. Mengelus lembut rambutku berusaha menabahkanku atas semua kejadian itu.
“Terima kasih Fran, atas semua kebaikanmu dan telah menitipkan Zahra padaku, aku berjanji aku akan menjaganya untukmu dan untuk cintaku padanya, meskipun aku tahu cintaku tak sebesar dan setulus cintamu.” Ucap Mas Rio di depan makam Zahra.
SELESAI