Jarak yang mereka sebut jauh itu hanya sejengkal lipatan peta, hanya butuh delay beberapa millisecond untuk bertatap dan berucap “Aku merindukanmu”. Apalah daya, tangan tak sampai untuk bisa menghapus air mata atau sekedar menyandarkan rasa lelah pada tumpuan bahu.
Bersama namun tak sama. Ada rasa yang tak terpuaskan dengan sempurna.
———————————————————————-
Sagita dan Aries telah lama menjalin cinta semenjak kuliah di tahun pertama di sebuah universitas swasta di ibu kota. Kadang kala kemesraan mereka dahulu selalu mengundang banyak perhatian dari yang lain, cenderung iri karena tak pernah sekalipun pasangan ini terlihat bertengkar dari pertama bertemu sampai lulus dan wisuda, nampak selalu harmonis dan saling menjaga satu sama lain.
Berkat kegigihannya, suatu waktu Aries mendapatkan beasiswa internasional untuk melanjutkan jenjang pendidikan strata 2 di Jerman. Negara besar di eropa itu menginginkan pemikiran Aries pada penerapan teknologi sistem pengamanan jaringan big data yang ia bahas pada skripsinya dan juga ajuan proposal international scholarship yang diadakan oleh perusahaan Nex.
Selain mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di universitas, ia pun ditawari pekerjaan yang cukup menjanjikan dibidang analisa keamanan jaringan di perusahaan Nex. Sungguh peluang yang tak akan pernah ada kali kedua untuk didapatkan oleh pemuda lusuh dan miskin seperti Aries. Namun itulah awal dari segala kebuntuan yang harus ia hadapi dan putuskan.
“S2 di Jerman? Kenapa kamu tidak pernah membahas ini semua ris....” Seketika aries terdiam tak kuasa menahan luapan perasaan, kebimbangan dalam diri menguasai tubuh serta pikiran tak ada lagi yang bisa ia katakan pada Sagita.
“Ris.. Jawab!”.
“Sayang.. Ini Jerman loh.. Kamu mau meninggalkanku berapa lama ?”
“Jawab ris..”
Matanya sembab mencoba menahan emosi dan tangis yang akan tertumpah ruah membasahi wajahnya, namun aries tak bergeming. Ia mematung dengan pandangan kosong, tak tau lagi mesti berkata apa. Kini hanya ada rasa bimbang dan takut akan kehilangan Sagita yang telah menemani dirinya melalui segala kenangan tak terlupakan dari hal indah maupun hal yang menyakitkan, tak akan mudah untuk melupakan, juga tak kan mudah untuk mengambil keputusan.
“Aku bisa menunggumu, tapi sampai kapan ris?” sagita merangkul, kemudian pelukan erat mulai terasa berat serta tetesan air mata membasahi kemeja berwarna abu-abu yang di kenakan aries.
Meski Aries ingin membalas pelukannya, namun ia tetap tak kuasa. Berat untuk meniggalkan, pun begitu ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk merubah dan memantaskan dirinya kelak untuk dapat meminang si pujaan hati yang amat ia cintai melebihi apapun.
“aku mencintaimu...” ucap aries lemah dan wajahnya tertumpu pada bahu sagita.
“Ris... Tetaplah bersamaku..”
“Aku mohon”
“Kita pasti bersama” aries melepas pelukan, mengecup lembut kening Sagita.
—————————————————
Rasa haru dan emosi yang menderu tak bisa terbendung lagi kala lambaian tangan di kejauhan lenyap menuju kehampaan hati. Tak juga untuk sagita bisa mengejar aries yang kini sudah memasuki pesawat yang beberapa menit kemudian lepas landas menuju negeri yang tak sembarang bisa ia kunjungi sesuka hati.
Ada sesal juga rasa lainnya yang berkecamuk diantara keduanya, pun begitu penyesalan tak pernah datang lebih awal. Harusnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua, bukan duka yang mengiringi kepergian, tapi rasa bahagia untuk merindu 3 tahun lamanya.
Tetapi kita semua benci untuk menunggu.
Sekali waktu ucapan-ucapan manis penuh rindu mengisi hari, berbalas email atau bercanda ria di panggilan video. Meski bentangan jarak memisahkan, selalu ada alasan untuk saling menyapa “Bagaimana keadaanmu disana?” selalu terucap tiap kali berbincang di waktu santai di sela kesibukan masing-masing.
Rentang jarak dan waktu kian mengikis hati dan pikiran, keduanya tenggelam pada asa dan cita-cita untuk bertemu dan menjadi pasangan paling bahagia di muka bumi. Seketika itu aries mulai menyadari dirinya telah meninggalkan hal yang paling tidak bisa ia lepaskan. Ada candu juga rindu, bergejolak menguasai kalbu.
Sehari tak bertemu, kemudian berganti bulan dan juga tahun. Rindu adalah perasaan yang tak akan pernah bisa terbendung. Mesti terluapkan, meski hanya sekedar bertegur sapa di lipatan waktu pada dimensi virtual. Bagi para pasangan yang dimabuk cinta, dunia vitual adalah hal nyata, setidaknya bagi aries dan sagita.
“Sayang..” aries berucap pada ponsel menghubungi kekasihnya yang jauh diseberang lautan.
“Maaf untuk sikapku yang kemarin, aku tidak bermaksud begitu, aku rindu dan ingin segera bertemu denganmu”. Susulnya berucap maaf karena pertengakaran sepele kemarin sore.
“Ris.. Ini ibu nak..” ucap seorang perempuan yang sangat ia ketahui, adalah sosok seorang ibu dari si kekasih.
“Eh Ibu, Sagita nya ada bu?” Tanya aries sangat penasaran kenapa ibunya yang mengangkat sambungan telepon.
Mungkin saja, Sagita sedang pergi keluar untuk berbelanja dan lupa untuk membawa ponselnya. Namun kekhawatiran mulai meyeruak dalam dirinya ketika ada nada getir dan pilu juga isakan tangis.
“Nak Aries, tolong do’akan Gita ya nak”.
Setelah mendengar penuturan ibunya sagita, aries bergegas menyiapkan semua hal untuk penerbangannya pulang ke tanah air. Tak banyak yang ia bawa hanya beberapa kebutuhan pribadinya saja juga hanya lantunan do’a khidmat terus terucap dalam hati, meski ingin sekali ia mencurahkan kesedihannya dengan cucuran air mata, namun ia mencoba tegar dan terus menerus ia bisikan dalam hati ribuan lantunan do’a yang tak pernah ia lakukan pada siapapun selain pada pujaan hatinya yang kini tengah terbaring di ruang perawatan rumah sakit akibat kecelakaan fatal yang merenggut kesadarannya kini.
————————————————————-
Jemarinya terus menggenggam lengan sagita, dari pagi menuju siang, dan kemudian berganti malam. Selalu ia habiskan waktunya untuk menemani, seolah beberapa menit kemudian sagita kan terbangun dari tidur panjangnya dan tersenyum pada aries seperti biasanya. Tak lupa pun ia mengerjakan kewajibannya untuk beribadah dan didalam ruangan inilah ia bersimpuh kepada sang maha pencipta, memenjatkan do’a untuk kesembuhan sagita wanita yang teramat ia cintai.
Ada sesal yang teramat dalam, tak mudah bagi siapapun untuk kehilangan, begitupun aries. Seketika keputusannya meninggalkan sagita terasa amat salah. Semestinya ia terus mendampingi sagita dan mewujudkan keseriusannya untuk meminang bukan hanya selesai pada hubungan sebatas saling mencintai tanpa ada hal sakral yang mengikat.
“Cinta.. Ku mohon jangan tinggalkan aku, apapun akan ku lakukan untukmu”. Aries mengusap-usap jemari tangan sagita penuh kelembutan.
“Sayangku... Aku lelah dengan segala omong kosong yang ku ucap sebelumnya, kini aku hanya ingin dirimu, tak lebih.”
“Berikan aku kesempatan kedua.. Ku mohon”..
Tak kuasa untuk menahan tangis, derai air matanya mulai membasahi pipi dan menetes ke pergelangan tangan sagita yang putih pucat. Jiwanya hancur, untuk kesekian kalinya ia gagal membahagiakan sagita membawanya menuju dunia utopis yang selalu ia kejar untuk menjadi lelaki yang pantas bersanding dan menyematkan cincin pernikahan sebagai tanda sah sebagai pasangan yang berbahagia.
Adakalanya rasa yang tumbuh menguat dengan keterlambatan, disanalah aris menangisi segala hal, segala kenangan, segala kerinduan yang terus menghujam jantung hati. Jika kepergian Sagita adalah hal yang mesti terjadi, maka ia berserah diri kepada sang pencipta takdir, kini ia hanya ingin bersama yang mungkin untuk terkahir kali memandang wanita yang telah mengisi hari-harinya selama ini.
.
.
.
.