SMA Banjarangkan, sekolah elite dengan kualitas bagus.
Di Sebuah ruangan kelas terdapat dua insan manusia berbeda usia sedang berbenah merapikan tumpukan buku.
Eva Dewita (18 tahun) sedang merapikan buku dan alat tulisnya yang berserakan di atas meja setelah mendapat bimbingan belajar. Ya dia sedang bimbingan pelajaran Kimia, mata pelajaran yang paling tidak disukainya.
"Setelah beres-beres datang ke ruangan saya!" Titah Pak Yuris guru kimia.
"Ada apa lagi pak? Apa tentang nilai saya?" Tanya Eva heran. Pasalnya nilai kimianya memang rendah.
"Datang saja! Kenapa kamu banyak tanya sih!" Ketus Pak Yuris.
Eva mengernyitkan alisnya, apa lagi yang akan dilakukan guru killer itu kepadanya? Batin Eva kesal. Pasalnya Pak Yuris dikenal sebagai guru paling killer di sekolah bagaimana tidak beliau terus memasang wajah dingin, sedikit bicara, jika tidak fokus selama mata pelajarannya berlangsung, beliau tidak akan segan-segan menyuruhnya ke ruangan BK dan pekerjaan rumahnya akan ditambah.
Walaupun Pak Yuris termasuk guru killer, ketampanannya tidak perlu diragukan lagi. Dengan tinggi 185 cm, sorot mata tegas, dan hidung mancung. Ditambah pesona yang dipancarkan guru muda nan pintar ini membuat para guru wanita bahkan murid perempuan tergila-gila padanya. Namun, ia pada dasarnya cuek jadi ia mengacuhkan mereka semua.
Dan naas Eva sedang dalam masalah, sebab ia tidak konsentrasi selama pelajaran Pak Yuris berlangsung. Mungkin itu karena kimia bukan mata pelajaran kesukaannya ditambah guru killer yang mengajar lengkap sudah penderitaan nya. Karena itu, Eva dihukum dengan mendapat bimbingan mata pelajaran kimia setelah pulang sekolah.
*
Eva pun sudah sampai di depan ruangan pak Yuris. Lalu dia pun mengetuk pelan benda persegi panjang di depannya. Setelah mendapat izin Eva pun masuk.
Dilihatnya Pak Yuris sedang duduk di kursinya, mungkin sedang memeriksa nilai dari murid-murid. Batinnya bermonolog.
Eva pun berdiri tepat di depan meja Pak Yuris.
Pak Yuris pun beranjak dari duduknya lalu mendekati Eva. Digenggamnya kedua tangan gadis remaja itu dengan lembut. Membuat si empu punya tangan jadi was-was.
"A-anu p-pak ada apa ya? K-kenapa pegang tangan saya?" Tanya Eva gelagapan.
"Eva! Dengarkan Aku, maafkan aku yang sudah lancang, tapi aku tidak bisa memendamnya lebih lama lagi" Pak Yuris menarik nafasnya. "Eva aku sudah menyukaimu bahkan mencintaimu sejak 1 tahun lalu ketika kamu masih kelas 2, maukah kamu menjadi pacarku?" Lanjut pria 28 tahun tersebut.
Deg!
Bagaimana ini? Situasi macam apa ini? Siapa aku? Dimana aku? Batin Eva bertanya-tanya. Eva seolah mematung setelah mendengar ungkapan cinta dari guru killer nya itu.
"Ta-tapi pak kita guru dan murid, bagaimana bisa kita…" ucapan Eva terjeda.
"Aku tidak akan memintamu menjawabnya sekarang, Aku akan menunggumu hmm" ucap Pak Yuris membelai lembut surai kehitaman Eva.
Eva diam seribu bahasa namun, beberapa menit kemudian ia kembali bersuara. "Saya akan pertimbangan lagi, saya akan memberi tahu bapak setelah ujian nasional selesai!" Ucap Eva tegas.
Pak Yuris menghembuskan nafas lega. "Baiklah Aku akan menunggu jawabanmu" ucapnya. "Sekarang kita akan pulang, Aku akan mengantarkanmu!" Titah Pak Yuris seakan tak mau dibantah.
Eva pun mengikuti gurunya itu ke area parkiran, lalu masuk kedalam mobil hitam milik gurunya.
*
*
Saat ini, Eva sedang berada di dalam kamarnya sambil belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional lagi satu Minggu lagi. Namun, bayangan Pak Yuris yang mengungkapkan perasaan padanya membuatnya kepikiran. Membuatnya tidak konsentrasi dalam belajar.
Pantas saja Pak Yuris memperlakukannya dengan lembut, berbeda dengan murid lain. Ternyata ia mempunyai perasaan kepada dirinya. "Apaan sih! Jangan mikirin itu! Fokus belajar dulu!" Monolog pelan Eva.
Hari yang mendebarkan pun tiba, hari dimana ujian akan diadakan. Eva akan ujian nasional selama 4 hari. Ia pun mengerjakan ujiannya dengan cepat dan cermat.
Empat hari pun berlalu, Eva pun keluar dari ruangan kelas disaat mata pelajaran terakhir diujikan. Perasaan takut, khawatir, lega bercampur menjadi satu. Takut dan khawatir akan nilai dan lega karena sudah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin.
Eva pun berkumpul dengan temannya, berbincang-bincang mengenai kesulitan dalam mengerjakan ujiannya.
Para murid pun sudah pulang setelah mengerjakan ujiannya. Tapi tidak dengan Eva yang masih disekolah karena menunggu temannya yang sedang mengembalikan buku di perpustakaan. Setelah itu, mereka pun melangkah menuju gerbang namun, dihentikan oleh seseorang.
"Permisi kamu Eva kan?" Tanya seorang murid yang menepuk pelan pundaknya.
"Iya, saya. Ada apa?" Tanya Eva.
"Kamu dipanggil sama Pak Yuris keruangan nya" ucapnya lagi lalu pergi.
"Karin, maaf ya aku dipanggil. Kamu pulang aja dulu" saran Eva pada temannya.
"Oke deh, bye!" Ucap Karin melambaikan tangannya.
*
Eva pun sudah sampai di depan ruangan Pak Yuris. Membuka pintu yang setengah terbuka. "Maaf pak, boleh saya masuk?" Tanya Eva.
"Ya masuk!" Jawab Pak Yuris.
"Duduklah!" Titahnya lagi, menunjuk sofa yang berada di samping meja kerjanya, ketika Eva sudah memasuki ruangannya.
Eva pun tersenyum kikuk lalu duduk disofa tersebut. Tak lama Pak Yuris juga duduk tepat disampingnya, lalu menggenggam tangan kanannya. Jantung Eva bergemuruh tak karuan mendapat perlakuan seperti itu. "Bagaimana? Apa jawabanmu?" Tanya Pak Yuris.
Eva diam sejenak, otaknya berkata tidak karena pria di depannya adalah gurunya sedangkan hati terdalamnya mengatakan iya. Karena tak bisa dipungkiri ia juga memiliki perasaan pada gurunya itu.
Bolehkan kali ini ia egois? Mengikuti kata hatinya? Batinnya.
Eva menghela nafasnya. "Baik Pak saya bersedia berpacaran dengan bapak, tapi untuk saat ini jangan sampai diketahui orang sekolah" jawab Eva.
Pak Yuris tersenyum lalu memeluk Eva dengan erat. "Terima kasih Va, kamu sudah mau menerimaku" ujar Pak Yuris.
Tak lama Pak Yuris melonggarkan pelukannya lalu mengecup lembut kening Eva. Membuat Eva melongo dengan wajah yang merona seperti kepiting rebus.
"P-pak?" Tanya Eva.
"Bisa tidak Kamu jangan memanggilku pak, aku belum tua-tua amat!" Ujar Pak Yuris yang tak suka dipanggil Bapak.
"Lalu? Bagaimana kalau Kakak?" Tanya Eva tersenyum kikuk.
"Boleh juga. Panggil aku kakak disaat kita berdua saja hmm" ucap Pak Yuris, sambil menyelipkan anak rambut Eva ke belakang telinganya.Eva mengangguk tanda mengerti.
25 menit sudah berlalu, mereka tak sadar telah menghabiskan waktu berdua.
"Bagaimana kalau hari Sabtu kita kencan hmm? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat" ucap Pak Yuris.
"Kemana?" Tanya Eva.
"It's a secret sayang dan sekarang mari kita pulang hmm" jawabnya santai.
Mereka pun pulang, saat didalam mobil Pak Yuris selalu menggenggam tangan Eva seakan tak mau berpisah.
Saat dirumah mereka akan berkirim pesan atau video call dan saat di sekolah mereka akan bertemu setelah semua siswa sudah pulang.
Hari Sabtu tiba, Pak Yuris membawa Eva ke sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota. Mereka pun memesan makanan sembari sedikit berbincang. Setelah selesai Pak Yuris mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru tua.
"Eva ini adalah kalung, anggap saja hadiah dariku karena kamu sudah menyelesaikan ujian nasional" ujarnya lalu memakaikan kalung tersebut di leher putih Eva.
Eva pun memegang kalung tersebut, matanya sudah berkaca-kaca. "Terimakasih kak, Aku suka!" Ucap Eva senang.
Pak Yuris tersenyum. "Sebentar lagi kamu akan masuk ke universitas belajarlah dengan rajin. Lulus dengan nilai yang bagus. Setelah itu, Aku akan datang untuk menikahimu" ucapnya.
Eva termangu mendengarnya. "Kak, bisakah Kamu menungguku beberapa tahun lagi?" Tanya Eva.
"Sampai kapanpun Aku akan menunggumu hmm" ucap Pak Yuris
Pak Yuris pun memegang tangan Eva lalu mengecup punggung tangannya. Lalu mereka pun tersenyum bahagia.
*
*
*
*
Happy Reading 💞💞