Pesta dansa yang di gelar di sebuah istana nan megah. Seluruh penjuru hadir dengan memakai gaun dan busana mewah menaiki kereta dan kuda kencana. Para bangsawan berbaris berganti-gantian memasuki gerbang istana. Mereka membawa simbol kerajaan dan undangan di tangan masing-masing. Terkecuali Cinderella, masih berada di dapur membersihkan segala peralatan memasak dan memasak air untuk minuman hangat kedua saudara tiri dan ibu tirinya.
Dia menangis dari balik jendela melihat kembang api yang bertaburan di atas langit dengan warna-warni indah. Dalam harap menginginkan sebuah keajaiban walau sekali dalam seumur hidup. Tiba-tiba sebuah sinar memancar dari balik perapian. Cahaya merah menyala membentuk sosok peri berbaju merah dengan sebuah tongkat emas di tangannya.
“Cinderella berdirilah, aku akan mengabulkan keinginan mu” ucap sosok peri merah tersebut sambil tersenyum.
Dia menyeka air mata yang mengalir di sudut pipinya. Dengan penuh harap meminta agar peri itu menepati janji yang dia ucapkan.
“Ibu peri, bantulah aku menghadiri pesta di kerajaan dengan gaun yang indah” ucapnya sesenggukan.
Dengan sekali ayunan tongkatnya, sang peri merah mengubah dirinya menjadi sosok putri raja yang cantik jelita. Gaun berwarna biru, rambut berhias hiasan memukau dan sepasang sepatu kaca yang dia kenakan. Cinderella di antar dengan kereta labu yang di sihir oleh ibu peri merah menjadi kereta besar dengan para kusir yang terbuat dari tikus-tikus rumah.
“Cinderalla ingatlah pesan ku ini, semua sihir ini akan menghilang pada saat jam 00:00 tepat” ucap ibu peri merah menghilang meninggalkan sisa kilauan cahaya merah.
Saat tiba di dalam istana, seluruh mata terpukau akan kecantikan dan keanggunannya. Begitupun pangeran yang menarik tangannya mengajaknya berdansa. DIa mengamati segala kecantikannya. Dengan iringan musik, seluruh tamu menghentikan perjamuan dan dan hanya untuk menyaksikan mereka.
“Serasi sekali” ucap mereka saling berbisik.
“Ibu, bukankah itu Cinderella?”
“Bu, kenapa dia bisa kesini?”
Kedua kakak tirinya saling bertanya kepada ibu tirinya.
Teng, teng, teng (Suara jarum raksasa berdetak kencang menandakan waktu tengah malam).
Cinderella sangat kebingungan, dia buru-buru melepaskan tangan pangeran yang masih sibuk mengajaknya berdansa. Dia berlari sekencang- kencangnya, pangeran mengejar menuju halaman istana labirin rerumputan.
“Cinderella!” panggilnya.
Semua sihir telah hilang, para tikus-tikus dan kerena labu sudah berubah ke bentuk sedia kala. Hanya ada sepatu kaca yang belum menghilang atau berubah bentuk menjadi sederhana. Cinderella pun melepaskan sepatunya lalu menghancurkan sepatu itu dan menyelipkan ke dalam istana.
🌿 Instagram @arsyalfaza