Aku membaca sebuah novel yang menceritakan seorang wanita yang menikahi seorang pria yang memiliki kelainan seksual. Suaminya seorang Gay, membaca novel itu membuatku merasa kasihan dengan si wanita tapi karena rasa ngantuk yang tak tertahan aku tertidur sebelum sempat menyelesaikan membaca novel itu.
“ Farah! Bangun ini sudah pagi! ” suara keras yang terdengar memenuhi telingaku. Sedikit terusik aku mengerjapkan mataku, rasanya aku masih mengantuk setelah begadang membaca novel semalam.
“ Hei! Mau sampai kapan kau bengong begitu! Aku tidak mau terlambat karena harus menunggu kau ”
Mataku membulat sempurna mendapati seorang pria berdiri dan meneriakiku seperti itu. Aku menatap pria itu dari atas sampai bawah.
“ Sangat tampan ” batinku. Sesaat kemudian aku baru tersadar bagaimana bisa ada pria dikamarku.
“ Akhh!! Kau siapa?! ” jeritku panik.
Pria itu nampak terkejut dan kemudian segera berkacak pinggang dengan kesal menatap ke arahku.
“ Kau terlalu banyak mimpi ya semalam! Farah aku tidak punya waktu meladeni kebodohanmu!! Kalo kau tidak segera bersiap aku akan pergi!! ” bentak pria itu dengan tegas meninggalkan aku yang masih melongo kebingungan.
“ Siapa dia? Farah? Apa sih? Ahh....Mama pasti melakukan prank lagi nih ” rutukku kesal lalu bergegas turun dari ranjang.
“ Tunggu! Aku kan ketiduran di meja belajar...kok bisa aku tidur di ranjang ” berpikir sejenak, aku dengan cepat melihat sekeliling. Dan kamar ini bukan kamarku.
Tanpa sengaja aku melihat cermin yang ada di kamar itu.
“ Akhh!!! ” pekikku histeris.
“ Wajahku! Akhh...aku dimana ini?! Kenapa wajahku jadi wajah orang lain?! ” aku berteriak-teriak panik di kamar itu.
“ Kau sudah gila?! Kenapa berteriak seperti orang gila!! ” Pria yang tadi datang bersama dengan seorang pria lain di sampingnya.
“ Kalian siapa?! Ini dimana?! Kenapa dengan aku?! ” tanyaku panik takut mereka orang yang telah melakukan sesuatu padaku.
“ Wanita ini sudah gila!! ”
“ Jangan begitu Hans..kamu pasti kaget karena bermimpi buruk lagi, tidak apa-apa Farah ” pria asing itu mendekat seolah ingin menenangkan aku, dengan cepat aku menghindar.
“ Aku bukan Farah! Siapa kalian? ”
“ Apa maksudmu...aku Athes dan ini Hans suamimu ingat ” ucap pria itu menjelaskan.
“ Athes? Farah...Hans, nama itu...karakter novelnya!! ” lonjakku.
“ Karakter novel apa maksudmu? ” tanya Athes menunjukkan ekspresi bingung kepada Hans.
“ Tunggu! Tunggu..ini bukan lagi bercandakan, kalian bukan orang yang di sewa Mama kan? ” Aku masih tidak mengerti situasi yang terjadi.
“ Tapi Mama sedang liburan ke Swiss, kamu gak lupakan. Farah kamu kenapa jadi aneh seperti ini? ” tanya Athes lembut.
“ Untuk apa menjelaskan padanya! Saat ini dia hanya memulai drama baru ” bentak pria yang bernama Hans itu.
Sekarang aku bisa melihat perbedaan sifat kedua pria itu. Tanpa mempedulikan mereka aku melangkah keluar kamar, setelah mengelilingi rumah besar itu.
Aku hanya dapat terduduk lemas di sofa besar yang ada di ruangan itu.
“ Bagaimana bisa semuanya sesuai dengan penjabaran yang ada di novel? Foto pernikahan itu benar-benar ada di sana, dan itu wajah ini. Apa mungkin hal seperti ini benar-benar terjadi? Mungkinkah aku benar-benar masuk ke dalam dunia novel dan menjalani kehidupan sebagai Farah di dunia ini ” gumanku.
“ Rah, kamu baik-baik saja kan? Maaf ya Hans masih suka kasar sama kamu. Aku sudah berusaha membujuknya tapi dia tetap keras. Kalo kamu kurang sehat untuk hari ini tidak perlu bekerja ” Athes menghampiri aku menyentuh bahuku lembut.
“ Kalo pria ini adalah Athes...berarti dia pacar suami Farah, dong. Secara tidak langsung dia yang bikin Farah hidup menderita ” batinku menatap pria itu, aku dengan cepat menepis tangannya. Mengingat kisah di novel itu aku tahu seandainya Athes mau mengalah dan meninggalkan Hans suami Farah tentunya pria itu masih punya kesempatan untuk kembali normal.
“ Kamu kekasih Hans kan? Mengapa kau bersikap sok baik seperti ini padaku? ” tanyaku sinis.
“ Maaf Farah, tapi bukankah sebelumnya kita sudah sepakati kamu akan tetap menjadi istri Hans walaupun sebenarnya dia hanya mencintai aku. Tapi aku jamin dia akan tetap baik padamu ” ujar Athes.
Aku berdecik jengah, ini yang membuatku marah sekaligus sedih melihat karakter Farah yang terlalu baik di novel itu. Sampai mau dijadikan tameng perlindungan untuk Hans agar orang-orang berpikir dia normal. Nyatanya dia seorang Gay, dan Farah di paksa tinggal berdua dengan kekasih Hans.
“ Masa bodoh dengan apa yang telah kita sepakati sebelumnya! Hanya bagiku percuma saja kau berbuat baik seperti ini, tapi tidak mengubah apa pun ” tegasku, dapat ku lihat Athes kembali merasa bersalah.
“ Aku tidak menyukai karakter plin plan sepertimu, kadang kau merasa kasihan pada Farah tapi kau tetap egois mau mempertahankan Hans ” batinku kesal.
“ Bilang pada Hans aku tidak akan bekerja hari ini! Kalian terlalu memuakkan ” rutukku meninggalkan pria itu, mulai sekarang aku akan tunjukkan sisi baru dari Farah. Selagi aku ada di dunia ini akan aku selesaikan kisah ini.
* * *
“ Kau nampak cukup baik untuk seseorang yang kurang sehat ” cerca Hans begitu melihat aku yang duduk santai.
“ Cih! Pria ini memang kasar! Lihat saja aku akan membalasmu. Yang sekarang dihadapanmu bukan Farah yang lemah lagi ” rutukku dalam hati.
“ Ahh...kau sudah pulang, aku memcoba sedikit bersantai sekarang ” ucapku santai.
“ Untuk seorang wanita yang mengatakan tidak pernah melewatkan kewajibannya, kau hanyalah wanita pemalas ” balas Hans.
“ Habisnya bekerja sebagai sekretarismu membosankan..aku jenuh sekali, tidak salahkan aku istirahat sebentar ” aku menjentik-jentikkan kuku, seolah tak peduli cercaan pria itu.
“ Membosankan?! Kalau kau tidak butuh posisi itu bilang saja aku bisa mencari pengganti mu kapan saja ”
“ Kalo begitu cari saja aku juga tidak butuh ” aku meraih cawan teh itu, selama ini menurutku karakter Farah terlalu mencintai pria itu sampai-sampai rela bekerja menjadi sekretarisnya hanya agar dia dekat dengan suami abnormalnya itu. Tapi aku berbeda aku tidak bisa mentolerir sikap kasarnya itu.
“ Baiklah jangan memohon padaku nanti, aku tidak akan izinkan kau bekerja di perusahaan ku lagi ” sarkas Hans lalu berlalu pergi.
“ Haiss...lagian Farah juga sih yang terlalu bodoh trus lemah menurut aku. Bertahan sama suami yang cintanya ama cowok, ehh malah suaminya masih semena-mena lagi. Putri tunggal keluarga kaya malah berkorban hidup menderita sama pria seperti itu kan gak logis ” gumanku kesal.
* * *
“ Hans...menurutmu ada yang aneh gak sama Farah, dia kok jadi pemarah gitu? ” tanya Athes pada Hans yang sibuk memeriksa berkas di depannya.
“ Perasaanmu saja mungkin ” balas Hans singkat, walau sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama.
“ Aku harap dia baik-baik saja, kasihan juga dia. Kamu juga jangan terlalu kasar padanya Hans ” Athes memeluk Hans dari belakang, dan mencium pucuk kepala pria itu.
“ Hmmm ” jawab Hans mencium lengan berbulu Athes.
“ Aku datang di waktu yang salah ya! ” seruku begitu membuka pintu itu dan mendapati pemandangan yang membuat jijik itu.
“ O-oh...ti-tidak kok, Far ” guman Athes salah tingkah dan melepaskan pelukannya.
Aku berdiri diam tak menanggapi.
“ Kau mau apa jam segini? ” tanya Hans masih dengan nada tidak ramahnya.
“ Aku boleh masukkan? ” tanyaku sok basa-basi, aku sendiri sudah masuk dan berjalan menuju meja kerja Hans.
“ Ini..” ucapku sambil meletakkan sebuah amplop lumayan besar, yang berisi kartu ATM dan sejumlah uang tunai yang pernah diberikan Hans. Aku tahu selama ini Farah menyimpan semua itu dengan baik, ku rasa ini saatnya membuat itu sebagai pembalasan yang baik.
“ Apa ini? ” tanya Hans.
“ Lihat saja ”
Hans pun meraih amplop itu dan memeriksa isinya.
“ Apa Maksud semua ini? ” Hans nampak geram.
“ Sesuai rencana ” batinku senang.
“ Itu semua uang dan kartu ATM yang kau berikan, aku memutuskan untuk mengembalikannya. Lagian semuanya juga tidak ku gunakan ”
“ Kalo selama ini tidak kau pakai, lalu uang dari mana yang kau pakai untuk belanja selama ini? ”
“ Mungkin kau lupa....tapi aku adalah anak tunggal di keluargaku. Daddy dan Mommyku tidak mungkin membiarkan aku kekurangan uang ” jawabku sombong.
“ Aku sudah peringatkan untuk tidak meminta uang pada orang tuamu lagi! Apa tanggapan mereka kau sudah menikah denganku tapi masih kekurangan!? ”
Aku memutar bola mataku malas mendengar ocehan pria itu. Dengan kesal aku memukulkan kedua tanganku keras di atas meja.
“ Dengar! Mengapa kau merasa bertanggung jawab padaku? Sementara selama ini kau membuat aku menderita! ”
“ Kau yang setuju untuk menikah dan ingin mempertahankan pernikahan ini!! ”
“ Kalian berdua tenanglah..semuanya bisa diselesaikan tanpa amarah ” lerai Athes bingung di antara kedua orang itu.
Aku menatap sinis ke arah Athes.
“ Kalo kau sedikit berperasaan harusnya kau pergi dari sini, dan memberikan sedikit ruang untuk kami menyelesaikan masalah kami ” cercaku pada Athes.
“ Ma-maaf..aku akan pergi ”
“ Jangan pergi! Untuk apa kau dengarkan perkataan wanita ini! ” bentak Hans.
“ Tidak Hans..Farah benar, kalian harus bicara berdua untuk menyelesaikan masalah kalian ” timpal Athes lalu pergi dari sana.
“ Kau berani sekali! Berbuat seperti itu padanya!! ” Hans mencengkram kedua bahuku kuat.
“ Lepaskan tanganmu dariku aku bisa menuntutmu atas tindakan kekerasan ” ucapku santai dan dengan kesal Hans melepaskan cengkramannya.
“ Ada apa dengan wanita ini? Tiba-tiba sekali dia berubah ” batin Hans bergetar melihat keberanian Farah, selama ini yang dia tahu gadis itu bahkan tidak sanggup untuk menatapnya. Tapi sekarang Farah nampak sangat berani.
“ Kembali ke topik awal, jangan bilang aku yang setuju menikah, seingatku di hari perjodohan kau yang datang menemuiku dan berkata aku harus menerima perjodohan itu karena kau juga menginginkan perjodohan itu. Jangan lupa Hans..”
Hans mengepalkan tangannya mendengar penuturan Farah, memang dia sengaja meminta pada wanita itu agar dia bisa memanfaatkan Farah agar orang lain tidak tahu kelainannya.
“ Kedua, ketika aku menyepakati perjanjian bodoh itu karena aku sedang dalam keadaan frustasi, setelah harus menerima fakta ternyata pria yang aku nikahi punya kekasih, dan lebih parahnya kekasihnya seorang lelaki ”
“ Berhenti mengoceh! Katakan saja apa maumu sekarang? ”
Aku menatap tajam mata Hans tak ingin terlihat goyah sedikit pun.
“ Selama dua tahun aku terlalu bodoh mengikuti permainan kalian, aku ingin menghentikan permainan ini sekarang. Aku harap kau segera mengurus perceraian kita atau kau mau aku yang mengajukan tuntutan. Tentunya kau tidak akan suka karena harga dirimu yang tinggi itu bisa terluka ” jelasku panjang lebar.
“ Cerai?! Kau ingin bercerai?! Jangan pernah menyesali ucapanmu karena aku juga tidak main-main ”
“ Ancaman seperti itu tidak berlaku lagi untukku, sekarang kau tak berarti apa-apa bagiku. Jadi lakukan saja yang aku katakan maka semuanya akan segera berakhir ”
Hans benar-benar tidak menyangka wanita yang dulu memohon-mohon ketika Hans mengancam untuk bercerai. Sekarang berdiri dan melontarkan ide itu dengan tenangnya.
“ Perlu kau ketahui, aku tahu semua tujuanmu menikahiku hanya sebagai tameng agar kau tetap dianggap normal oleh semua orang. Aku memilih bertahan karena aku pikir mungkin kau bisa berubah, ternyata aku salah. Andainya aku sadar dari dulu bahwa kau tidak akan pernah bisa normal lagi, aku tidak perlu menderita seperti ini. Aku sudah memutuskan menyerah padamu jadi aku mohon mari kita sama-sama mengerti dan jangan saling mempersulit ” sebelum pergi aku menepuk bahu Hans, memberi tanda bahwa sekarang ini waktuku untuk membalas.
Aku bisa melihat betapa terkejutnya pria itu, aku senang karena sesuai dengan rencanaku.
Aku akan membebaskan Farah dari siksaan di rumah ini bersama kedua pria itu, aku pikir itu misi yang harus aku selesaikan makanya aku bisa sampai di dunia ini.
“ Farah ada apa sebenarnya? Kamu benar-benar berubah jadi aneh seperti ini ” cegat Athes di depanku.
“ Tidak ada yang berubah aku hanya bosan saja harus hidup seperti ini, diremehkan oleh suamiku. Lalu dengan baiknya kekasih suamiku datang menenangkan aku. Benar-benar sebuah leluconkan, jadi aku meminta cerai kepada suamiku. Itu saja sih tidak ada yang spesial ”
Athes nampak sangat terkejut.
“ Far, pikirkan lagi atau kamu bisa menyesal nanti. Bagaimana kalo Hans menganggap permintaanmu itu serius? ”
“ Bagus kalo dia berpikir itu serius, karena kalo tidak aku yang akan menggugatnya ” timpalku tersenyum senang.
“ Farah-
“ Cukup ” aku menaikkan tanganku menghentikan pria itu bicara.
“ Kau harusnya berpikir kalo terlalu baik padaku kekasihmu bisa cemburu. Begitu juga kau akan cemburu jika aku dekat dengan Hans. Bayangkan saja betapa rumitnya hubungan ini. Jadi ku mohon mengertilah dan biarkan aku memutuskan sendiri ” ucapku lalu masuk ke dalam kamar tidurku dengan perasaan tenang dan besok aku pasti bisa menyelesaikan kisah ini dengan baik. Lalu kembali ke dunia nyata.
~ ~ ~
Aku mondar-mandir menggusar rambutku kasar, beberapa kali kembali memaki. Melihat lagi surat yang ada di meja itu.
“ Kau bisa menjelaskan semua ini?! ” bentak Hans kembali setelah membaca surat itu.
“ Apa?! Jangan berpikir bisa menyalahkan aku untuk semuanya. Siapa yang menduga kekasihmu itu meninggalkanmu!! ” rutukku tak kala kesal, bisa-bisanya semua rencana yang aku angan-angankan hancur seketika ketika mendapati surat yang di tinggalkan Athes sebelum dia pergi entah kemana.
Surat itu berisi permintaan maafnya, berjanji tidak akan mengusik hubunganku dengan Hans, dan memohon agar kami tidak bercerai.
“ Kalo saja kau tidak mengoceh sembarangan seperti itu Athes tidak akan pergi! ”
“ Kau sebegitu frustasinya, aku hanya mengatakan padanya akan bercerai. Kenapa tidak boleh aku menyerah dengan hubungan bodoh ini?! ”
Napasku naik turun kala aku benar-benar marah. Athes pikir dengan kepergiannya aku akan mempertahankan pernikahan itu. Maaf saja tapi sayang sekali dia salah. Aku akan tetap membuat Farah bercerai dari pria yang abnormal ini.
“ Sial*n!! Aku akan mencari Athes!! ” pekik Hans lalu berlari seperti orang gila yang frustasi.
“ Cihh!! ” cercaku jijik. Jika Farah yang pergi dia tidak akan sepanik itu.
“ Kenapa sih pria itu malah bikin masalah pakai kabur segala! Toh nanti juga paling kaburnya di sekitar sini. Bikin repot! ”
Aku kembali mencari di rumah itu siapa tahu ada petunjuk lain kemana Athes pergi.
“ Jangan sampai aku harus hidup di dunia ini terus, cuma karena masalah ini gak selesai! ” sungutku sembari membuka laci-laci di kamarku. Lalu mataku tertuju pada sebuah kotak di sana.
“ Apa ini? ” gumanku heran lalu memutuskan membuka kotak itu.
𝘍𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘏𝘢𝘯𝘴.
𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.
𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢.
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘏𝘢𝘯𝘴, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭.
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘍𝘢𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘶𝘮𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘭, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩. 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯.
𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘍𝘢𝘳𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.
𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘏𝘢𝘯𝘴 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭.
𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵
𝘈𝘵𝘩𝘦𝘴
Aku tercengang membaca surat panjang itu. Benarkah semua yang dikatakan Athes itu? Aku tidak goyah karena dia mengatakan Hans mencintai Farah. Satu hal yang membuatku ragu untuk meneruskan rencana perceraian itu, bagaimana kalo benar Hans mencintai Farah dan ternyata semua perjuangan Farah selama ini berhasil.
Lalu apa pantas aku menghancurkan usahanya selama dua tahun ini, tidak-tidak aku harus pikirkan ulang rencana itu. Kalo saja misiku bukan untuk membuat mereka bercerai tetapi bersatu. Bisa-bisa aku tidak kembali ke dunia nyata dan malah terjebak di dunia ini. Jelas aku tidak mau itu terjadi.
• • •
Hans telah pulang ke rumah keadaannya nampak kacau, dia seperti orang yang sangat kelelahan dan juga sedikit mabuk.
Aku berdiri menyambutnya di depan pintu kamar.
“ Menyingkir dari sini! ” bentaknya.
Aku memutuskan menepi.
“ Apa ada kabar terbaru mengenai Athes? ” tanyaku.
“ Seharusnya dia sudah ada di sini sekarang! ” rutuk Hans marah.
“ Baiklah...” lirihku.
“Berarti belum ada kabar mengenai kemana Athes pergi...apa pria itu serius telah pergi jauh. Tapi itu bagus setidaknya kalo misi ku untuk menyatukan Farah dan Hans maka langkah pertama berhasil ” batinku.
“ Buka sepatumu dulu ” ucapku menghampiri Hans yang sudah berbaring lemah di ranjangnya. Perlahan aku membuka sepatu dan kaos kaki pria itu.
“ Apa yang coba kau lakukan? ” tanya Hans menaruh curiga padaku.
“ Aku hanya ingin melepaskan sepatumu, tidak baik pergi tidur dengan memakai sepatu ” jawabku, kalian harus tahu saat ini aku berpura-pura seperti Farah yang sebenarnya. Karena sesuai yang aku baca di novel Farah itu wanita yang selalu melaksanakan tugasnya sebagai istri sebaik-baiknya. Jadi jika Hans jatuh cinta pada sifat Farah yang lembut aku harus berbuat begitu.
“ Sayang sekali...aku tidak membaca novel itu sampai selesai, andai saja aku tahu cerita akhirnya mungkin aku tahu harus berbuat apa ” batinku.
“ Lepaskan dasimu..kau bisa sesak nanti ” ucapku dengan sabar mencoba melepas dasi pria itu.
“ Menjauhlah dariku! Kau sudah puas sekarang setelah menghancurkan aku! ” Hans menepis tanganku kuat, tapi bukan aku namanya kalo akan mengalah. Dengan sigap ku raih kerah kemeja Hans dan menanggalkan dasinya.
“ Terus saja salahkan aku..toh aku juga akan segera bercerai darimu. Harusnya kau pikirkan lagi dengan jelas Athes menuliskan kalo dia yang mau pergi ” timpalku.
Hans segera menahan tanganku.
“ Kenapa kau harus membahas perceraian itu?! ”
“ Lalu aku harus tetap sabar melihatmu bermesraan dengan Athes di depanku. Coba bayangkan betapa hancurnya aku harus melihat suamiku bertingkah tidak normal dengan pria lain. Kalo saja kekasihmu wanita aku bisa saja berniat bersaing dengannya atau bahkan pasrah jika dia lebih cantik dariku! Tapi kekasihmu seorang pria!! ” bentakku meluapkan kekesalan.
Hans masih nampak tercengang setelah aku begitu meluap-luap mengungkapkan perasaan yang aku pendam selama ini.
“ Aku merasa menjadi wanita paling gagal di dunia karena suamiku bahkan tidak bergeming saat melihatku! Salah jika aku harus meninggalkan pernikahan ini!! ” bentakku lagi, sejujurnya aku bisa tenang setelah melepaskan kekesalanku selama membaca novel itu.
Hans tanpa disangka menarik tanganku kuat sampai aku terjatuh berbaring di atasnya.
“ Aww..” ringisku kesakitan karena tanpa sengaja kepalaku membentur dada pria itu.
“ Kenapa sekarang kau jadi seberani ini?! Dari mana sifat berontakmu itu datang! ” bentak Hans menahan pinggangku ketika aku ingin beranjak bangun.
“ Aku tidak akan tinggal diam saat kau meremehkan aku terus menerus, aku masih bisa memperbaiki hidupku bertemu dan menikah dengan pria lain yang mencintai aku ” tegasku masih berusaha berontak, tapi tubuh Farah sangat berbeda dengan tubuh asliku. Tubuh ini terlalu lemah sampai tidak bisa menandingi tenaga Hans.
“ Jadi kau meminta cerai karena sudah bertemu dengan pria lain?! ”
“ Kalo iya kenapa?! Apa pedulimu?! Itu urusanku bebas memilih pria mana yang ingin ku cintai! ”
“ Kau jelas-jelas hanya mencintai aku ”
Aku mendengus kesal mendengar pernyataan percaya diri dari Hans.
“ Maka sekarang kau harus terima bahwa aku sama sekali tidak mencintaimu lagi ” tantangku dengan berani.
“ Tidak akan aku biarkan kau bersama pria lain ” entah apa yang terjadi tiba-tiba Hans menarik tengkukku, karena aku berada di atas tubuhnya jadi dengan cepat bibir kami bersentuhan.
Aku terlonjak kaget biji mataku bahkan hampir keluar. Apa ini bukannya pria ini tidak normal? Dia mencium Farah? Jadi benar yang Athes katakan kalo Hans sudah mencintai Farah.
Aku masih terus berpikir sementara pria itu terus mencium ku dengan brutal, berbeda dari yang orang lain pikirkan tentang bercum.bu aku malah tiba-tiba merasa mual dan jijik di cium oleh pria yang sudah pernah mencium orang lain. Masalahnya yang dia cium itu pria.
Dengan satu gerakan pasti aku mengigit bibir Hans, sampai dia meringis kesakitan dan melepaskan ciuman itu. Tidak bisa menunggu lebih lama lagi aku segera berlari ke kamar mandi dengan semua perasaan mualku.
Dan benar saja sampai di sana aku tidak bisa menahan untuk tidak muntah lagi. Mengingat bagaimana Hans menciumku dengan bibir yang sama yang bercum.bu dengan Athes.
Kalo tadi itu Farah yang asli mungkin akan dengan senang dicium pria itu, tapi ini aku. Tidak mungkin bisa bersifat biasa saja atau bahkan senang.
“ Kau baik-baik saja? ” Hans menahan rambutku yang hampir menyentuh kloset. Dari nada bicaranya jelas nampak nada kekhawatiran di sana.
Aku masih muntah, setelah merasa puas aku menuju wastafel dan mencuci wajahku. Hans masih setia menemaniku di sana.
“ Bagaimana ini? Jelas ini salah bisa-bisanya aku muntah setelah berciuman. Hans bisa berpikir kalo Farah benar-benar merasa jijik dengannya. Tapi mengatakan itu hanya salah paham malah membuat Farah seperti wanita murahan ahh..aku bingung ” batinku menyesal.
“ Kau sudah merasa lebih baik? ” tanya Hans lagi. Aku berbalik dan menganggukkan kepala.
“ Bibirmu berdarah ” seruku spontan tanganku bergerak ingin menyentuh bibir Hans, tetapi sebelum itu terjadi Hans menahan tanganku.
“ Maaf...” lirihku merasa bersalah, dan akhirnya memutuskan untuk menarik tanganku. Tetapi Hans kembali menarik tanganku dan aku berdiri begitu dekat dengan pria itu.
Dengan berani aku menatap wajah Hans mencari tahu apa niatnya.
“ Aku tahu kau masih merasa jijikkan, sama seperti terakhir kali. Reaksimu masih sama, aku akhirnya tahu bahwa kau benar-benar jijik jika harus bersentuhan denganku ” tegas Hans.
“ Terakhir kali? Apa maksudnya dia juga pernah mencium Farah sebelum ini? Ini situasi yang sangat rumit ” gumanku dalam hati, sementara aku mencoba memikirkan sebuah alasan yang bisa di terima.
“ Aku tidak ingin menjelaskan mengenai hal yang sudah lampau, hanya saja kali ini aku benar-benar mual perutku sedang dalam kondisi tidak baik. Mencium bau alkohol membuatku tidak tahan untuk tidak muntah ”
Hans tertawa cengah.
“ Berbohong dan berbohong..kau lagi lagi berbohong. Aku bukan orang bodoh yang tidak bisa menilai ”
Aku mengepal tanganku kesal dan frustasi.
“ Kau boleh menganggap apa saja, tapi mengapa kau menciumku lagi kalo kau tidak menyukai aku sejak dulu. Jangan bilang kau ingin menguji perasaan cintamu pada Athes saja ”
“ Aku hanya ingin menguji perkataan yang kau ucapkan waktu itu, kau dengan tegas mengatakan akan membuat aku normal. Tetapi sama seperti waktu itu hari ini kau juga masih merasa jijik denganku. Jadi untuk apa kau mengatakan lelucon seperti itu ” ujar Hans
“ Apa sekarang dia merasa terluka setelah mendapat penolakan dariku lagi? Aku tidak tahu apa benar Farah juga jijik padanya. Tapi siapa pun wanita jika harus melihat suaminya bermesraan dengan orang lain untuk bersentuhan dengan suaminya maka bayangan itu akan selalu muncul ” ucapku dalam hati.
“ Aku bertahan bersamamu selama dua tahun ini, aku harap kau tidak melupakan hal itu ” tuturku.
“ Justru karena itu! Untuk apa kau terus di sisiku sementara kau merasa jijik melihatku Farah! ”
Degg!!
Aku tidak salah dengarkan dalam dua tahun pernikahan mereka mungkin ini pertama kalinya Hans menyebut nama Farah.
“ Aku sudah bilang kondisiku sedang tidak baik sekarang ” ulangku lagi.
Hans mendengus kesal dan nampaknya akan pergi.
“ Akhh!! Masa bodoh aku ingin keluar dari dunia ini secepatnya! ” batinku, dengan cepat aku menahan tangan Hans untuk tidak pergi. Dengan berjinjit aku mensejajarkan kepalaku dengannya. Dan dengan satu keberanian pasti aku mencium pria itu.
“ Tahan sebentar saja dan ini akan segera berakhir... ” batinku berusaha menahan untuk tidak merasa jijik.
Hans sangat terkejut dengan tindakanku sampai bisa ku rasakan tubuh pria itu menegang.
Setelah agak lama aku melepaskan ciuman itu dengan kepala menunduk malu.
“ Aku harap ini bisa membuktikan padanya ” Aku hanya bisa berharap.
Sesaat kemudian Hans meraih daguku, mengangkat wajahku dan kembali menyatukan bibir kami. Aku masih merasakan perasaan itu tapi berusaha menahannya ku remas bahu Hans kuat dan menutup mataku mencoba membayangkan aku sedang berciuman dengan oppa Korea kesukaanku.
“ Maafkan aku Farah, kalo pun nanti kau memang menyesal kembali bersama pria ini. Aku harap itu tidak terjadi karena kau sudah bersabar selama dua tahun ini ” batinku.
Ketika Hans melepaskan ciuman itu aku rasa bibirku kebas, ekspresi bahagia dan puas sangat terbaca di wajahnya. Masih berakting aku berusaha tetap tenang dan sedikit bersikap malu-malu. Asal jangan malu-maluin pikirku.
“ Aku sudah bilang bukan karena jijik hanya saja perutku sedang bermasalah ” lirihku sedikit merapikan rambut karena kusut akibat ulah Hans.
“ Benarkah? Lalu sekarang bagaimana kondisi perutmu? ” tanya Hans memegang perutku.
“ Sekarang terasa lebih baik ” ucapku tersenyum manis. Tiba-tiba Hans menciumku lagi walau hanya kecupan singkat.
“ Sike!! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan! Akhh!! Tidak apa-apa tenang ini bukan tubuhmu. Ini tubuh Farah jadi yang berciuman itu tadi dia ” Aku berusaha menenangkan diri sendiri.
“ Hans...benar kau hanya ingin menguji perkataanku? Kau benar-benar tidak menyukai aku ” ucapku dengan nada sendu, berpikir ini kesempatan yang baik untuk mengetahui perasaan pria itu.
“ Farah...kau tidak akan pergikan? Aku mohon batalkan niat perceraian itu ”
“ Aku harus tahu perasaanmu, baru aku bisa memutuskan akan tetap disini bersamamu atau tidak. Pikirkan lagi Hans aku butuh kepastian bukan hanya situasi membingungkan seperti ini ”
“ Aku merasa marah dan sedih karena Athes pergi begitu saja. Karena bagiku dia sangat berharga ”
Mendengar itu aku menghela napas panjang, sia-sia pengorbanan ku mencium pria ini ternyata tidak ada yang berubah.
“ Bagiku Athes sudah seperti saudara dan juga penolong. Dulu aku sangat mencintai dan mengaguminya. Tetapi setelah kehadiranmu aku merasa aneh tidak ada sedikit pun lagi perasaan cinta atau kagum pada Athes. Yang ada hanya perasaan takut harus merusak hubungan baik dengannya. Aku berusaha menjauh darimu dan menyangkal perasaanku tidak ingin menyakiti Athes ”
“ Athes jelas mencintaimu ” ujarku.
“ Karena itu aku tidak bisa membuat dia sakit setelah semua yang telah dia lakukan padaku, tapi aku juga tidak bisa menahan lagi aku mencintaimu Farah. Tak tahu sejak kapan tapi aku sama sekali tidak bisa melakukan apa pun lagi dengan Athes. Aku yang sebelumnya tidak tertarik terhadap wanita, tiba-tiba begitu tertarik padamu. Sampai saat dimana aku menciummu waktu itu, dan rasanya begitu menyakitkan melihatmu merasa jijik padaku ”
Hatiku begitu senang mendengar itu hampir saja aku meloncat kegirangan.
“ Waktu itu hanya terlalu sakit rasanya karena aku membayangkan kau juga mencium Athes sama seperti kau menciumku. Tapi bahkan sampai hari ini aku begitu mengingat dan merindukan ciuman itu ” ucapku tersenyum tulus mengenggam tangan Hans untuk menyakinkannya.
“ Huekk...merindukan? Sepertinya aku harus mencuci mulut dan otakku nanti bisa-bisanya memikirkan hal itu ” lirihku dalam hati.
“ Jadi Farah kau tidak akan pergikan? ” tanya Hans antusias.
“ Selagi kau benar-benar sudah mencintaiku dan benar-benar sudah normal. Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu ” jawabku dengan pasti.
“ Aku bisa menjamin hal itu, aku benar-benar hanya mencintaimu. Bahkan wanita pertama dan terakhir yang sangat aku cintai ” Hans memeluk tubuhku sampai terangkat.
“ Terima kasih sudah bersabar dan menyembuhkan aku...aku benar-benar berterima kasih ”
“ Hmmm ” jawabku singkat, karena pria ini harus mengucapkan terima kasihnya pada Farah yang sebenarnya bukan padaku.
Tapi aku bertanya-tanya kapan aku akan kembali ke dunia nyata, bukankah begitu mereka menyatu maka aku langsung kembali?
“ Far..kamu memikirkan apa? ” tanya Hans karena melihat aku termenung.
“ Ahh...aku hanya merasa ini seperti mimpi, tidak menyangka kita bisa saling mencintai seperti ini ”
“ Benarkan? Aku juga tidak pernah menduga hal ini bisa terjadi. Tapi kamu tau apa yang paling tidak bisa kita sangka? ”
“ Apa? ” tanyaku penasaran.
“ Malam pertama kita sebagai pasangan suami istri akhirnya akan segera terjadi ” Hans mengendong tubuhku cepat dan bergerak menuju ranjang.
“ Apa?! Malam pertama!! Berhubungan suami istri! Akhhh!! Tidak Farah segeralah kembali! Aku tidak sanggup bersetu.buh dengan pria ini!! ”
“ Ha-hans bukankah ini terlalu cepat ” ucapku terbata-bata begitu Hans membaringkanku dengan lembut di ranjang.
“ Tidak ada yang terlalu cepat sayang...kita sudah menikah dua tahun dan baru akan melakukannya sekarang ” aku bisa melihat ekspresi bergelora di mata Hans.
“ Ta-tapi-
Belum sempat aku mengucapkan hal lain, bibirku sudah di sumpal oleh ciuman pria itu. Hans menciumi terus dengan setengah tubuh yang sudah menindihku.
“ Farah!! Aku mohon kembalilah sekarang!! ” batinku berteriak minta tolong.
*
*
*
“ Hei!! Bangun!! ”
Aku merasa menerima sebuah tepukan keras di bahuku.
Aku segera terlonjak kaget dan spontan meraba tubuhku.
“ Ada apa kau ini?! ”
mataku berbinar begitu melihat orang yang sedang membentakku adalah Mamaku.
“ Mama!! ” sorakku berhambur memeluk Mamaku dan meloncat kegirangan setelah melihat ruangan itu adalah kamarku. Berarti aku telah kembali ke dunia nyata.
“ Apa sih?! Heii..cepat bersiap kamu tidak mau terlambat sekolahkan ” ucap Mamaku heran melihat tingkah anehku.
“ Anak gadis bangunnya jam 7 pagi, itu pun masih harus dibangunin Mama. Kalo tidak kau pasti tiap hari bolos sekolah. Kau sudah kelas 3 SMA berhenti menghayal dan membaca novel trus sampe begadang ” Mamaku mengomel sembari membereskan kasurku.
“ ahh! Novel! ” sorakku dalam batin begitu mengingat tentang novel itu. Dengan tergesa-gesa aku membuka langsung halaman terakhir novel itu. Setelah membaca 2 halaman terakhir novel itu aku tersenyum senang.
“ Akhirnya mereka melakukannya hehehehe jadi yang dimaksud penyatuan itu toh ”
Aku menutup novel itu, tapi sesaat aku bisa membaca tulisan yang bercahaya dari belakang novel itu.
“ Misi Selesai Terima Kasih, Farah ” itu tulisan yang ada di sana.
“ Terima kasih juga telah kembali tepat waktu ” gumanku.
“ Kamu mengoceh apa sih? ” tanya Mama heran mendengar ucapanku barusan.
Aku memeluk Mamaku karena selama berada di dunia novel aku begitu merindukan wanita itu.
“ Kamu kesambet apa sampe bertingkah manja seperti ini ” ujar Mama membalas pelukanku, sejujurnya aku jarang menunjukkan sifat manja pada Mama dan tidak di sangka aku rindu di manja Mama.
“ Hanya takut tambah dewasa ” jawabku.
“ Maksudnya? ” tanya Mamaku semakin bingung.
“ Karena hampir saja didewasakan secara paksa, Ma. Untung saja belum sempat ” ucapku tertawa kecil lalu berhambur dengan semangat ke kamar mandi. Karena aku harus pergi sekolah.
Aku senang novel itu berakhir bahagia 😊
Halo teman-teman semoga suka cerpen sederhana ini, kalo suka teman-teman boleh mampir langsung ke novel karya aku yang lain.
See you 😊😊
Mystorios_Writer 🥂🥂