Aku sadar dengan kepala berdenyut sakit dan seluruh tubuh terasa remuk redam. Entah sudah berapa lama aku pingsan, yang aku ingat hanya bunyi ledakan dan aku terlempar keluar pesawat yang seharusnya membawaku ke tanah Papua.
Dengan menahan rasa nyeri, aku berusaha duduk untuk mengamati sekitar. Aku berada di dalam hutan di lereng sebuah gunung dengan bangkai pesawat yang pecah menjadi ribuan keping dan tersebar dimana-mana.
Mengherankan aku masih hidup dan bisa dibilang baik-baik saja. Namaku El, asal kota Surabaya dan aku baru saja merayakan ulang tahun ke-25 bulan lalu.
Suara tangis sesenggukan perempuan membuatku berjingkat, waspada jika mungkin ada penumpang yang sudah menjadi hantu dan mulai menggangguku. Tapi, setelah menjambak rambut karena pikiran konyol tersebut, aku mulai mencari asal suara yang terdengar sengsara dan menderita.
"Mbak … kamu bukan hantu kan?" tanyaku dengan ekspresi bodoh.
"Heh, mana ada hantu siang bolong begini?! Bantuin saya cari tas, perlengkapan hidup saya ada di sana semua!" jawab si mbak dengan nada galak penuh perintah. Mata indahnya berputar ke seluruh area yang porak poranda. Dia mengusap air mata, terlihat lega. Mungkin karena ada orang lain yang masih bernyawa selain dia.
"Maaf, saya juga sibuk!" Tidak menggubris permintaannya yang terdengar tidak masuk akal, aku lebih fokus mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk bertahan hidup di hutan antah berantah ini.
Tidak banyak barang berguna yang bisa diambil dari bangkai pesawat yang hancur dan terbakar. Setidaknya aku menemukan sebuah korek api legendaris bermerek Zippo dan satu pisau rimba yang cukup besar.
"Heh, mau kemana kamu?" Perempuan cantik yang sedang sibuk mencari tas bertanya dengan nada nyaring padaku.
"Cari makan, lapar!" jawabku tak peduli. Aku kurang suka gayanya, emang dia siapa? Anak sultan yang bisa main perintah orang lain seenaknya?
"Heh, apa katamu?"
Aku melanjutkan jawaban dengan nada kesal karena dia memanggilku 'heh'. "Nama saya, El."
"Bawakan makanan buatku, El! Aku juga lapar."
"Saya tidak kembali kesini lagi, Mbak! Saya mau cari tempat aman untuk tidur malam, sambil menunggu bantuan datang. Iya kalau cepet, kalau beberapa hari lagi gimana? Terlalu banyak potongan mayat di sini, akan banyak binatang buas yang datang malam nanti."
Aku baru melangkahkan kaki tidak lebih dari lima meter saat dia bertanya sinis. "Kamu mau ninggalin saya? Kamu nggak tau siapa saya?"
Aku mengedikkan bahu tidak peduli dan bertanya malas padanya, "Nggak, memangnya kamu siapa?"
"Bidadari dari timur, gadis diterpa hujan, mutiara tenggelam di laut selatan. Kamu tau judul film itu? Yang sedang viral saat ini."
Si mbak cantik sepertinya mulai geregetan karena aku sama sekali tidak mengenali dirinya yang mengaku artis terkenal di ibukota. Dia menyebutkan beberapa judul film lagi dengan putus asa agar aku segera bisa tau siapa dia.
"Kayaknya … selain nggak pernah nonton film, saya juga kurang membaca berita artis, Mbak! Lagian ini di hutan, beda divisi beda aturan … itu moto hidup saya," sahutku santai.
Aku tidak peduli dengan ocehan dan sumpah serapahnya, aku meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. Dia dengan terpaksa mengikutiku karena tidak ada orang lagi yang selamat dari kecelakaan pesawat yang kami tumpangi.
Setelah berjalan hampir satu jam, aku menemukan lokasi yang tepat untuk berlindung dari hujan dan hawa dingin malam. Sebuah ceruk seperti goa tanah tak jauh dari aliran sungai. Aku membersihkan tempat itu sekedarnya, menyusun kayu dan daun yang aku dapat dari sekitar sebagai penutup bagian depan yang terbuka.
Aku menyalakan api dan meminta artis ibukota itu untuk duduk saja, karena selain cantik, ternyata dia sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun untuk survive di dalam hutan.
Namanya Nadia, katanya dia berumur 23 tahun.
Beruntung, aku adalah penggiat alam bebas sebagai hobi. Tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa pecinta alam semasa kuliah membuatku tidak kesulitan untuk menemukan apapun yang bisa digunakan untuk menyambung hidup di hutan.
"El, aku tidak pernah makan daging ular!" Nadia protes keras. Aku memberikan daging ular panggang dan talas hutan yang sudah aku tiriskan getahnya sebelum dibakar, agar tidak gatal saat dimakan olehnya.
"Kalau kamu mau berburu rusa atau kelinci sendiri silahkan, aku capek mau tidur!" ujarku kesal melihat cewek rewel, apalagi hari sudah semakin malam.
Aku melihat matanya melirikku sebelum mengunyah makanan survivalku dengan terpaksa, juga meminum air dari sungai jernih yang aku sediakan untuknya. "Ini air mentah ya, El?"
"Iya, kalau mau matang bisa kamu bakar sendiri. Apinya ada di depan kamu!" jawabku dengan senyum lebar penuh kejahilan.
Nadia memaki, tapi tidak berdaya untuk menolak air yang berasal dari sumbernya itu. “Sumpah, kamu itu ngeselin banget orangnya, tapi … terima kasih untuk semuanya.”
"Sudah selesai? Kamu nggak istirahat? Mau jaga malam gantian sama saya? Ya sudah, saya tidur duluan, bangunin nanti setelah tiga jam!" Aku menguap dan menggosok mata yang sudah ingin terpejam.
"Tapi aku mau pipis dulu, El! Nggak berani ke sungai!"
"Nggak ada penerangan buat ke sungai, pipis aja di situ! Cuci pake air yang ada!" Aku menunjuk tempat tak jauh dari api unggun dan membalik badan agar Nadia tidak malu. Setelah itu aku pergi ke dalam goa dan merebahkan diri di atas tanah beralaskan daun.
Nadia dengan kikuk menyusulku, memintaku bergeser karena dia juga ingin istirahat. Aku membiarkan dia tidur di balik punggung agar tidak sungkan.
Malam mulai dingin, Nadia merapatkan tubuhnya padaku, memeluk erat dari belakang seperti orang ketakutan. "El, kamu udah tidur ya?!"
Aku bisa apa kalau begini? Aku laki-laki normal yang tidak mungkin mampu menolak berkah. Di kota mungkin banyak cewek cantik seperti Nadia yang bisa aku kejar. Tapi ini di hutan, satu-satunya saingan Nadia hanya tarzan perempuan kalau memang ada.
Aku membalik badan dan menghadap Nadia. Entah siapa yang memulai duluan, tapi kami sudah berpelukan. Lebih parah lagi, aku juga terlibat ciuman penuh perasaan dengan artis ini.
Mungkin alam yang menyatukan, atau nasib buruk yang sedang menimpa sehingga kami memiliki ketergantungan satu sama lain untuk saling mengisi.
Tidak ada kata jadian yang terucap, tapi setelah beberapa hari bersama kami justru berjanji akan meneruskan hubungan ke jenjang selanjutnya jika ditemukan oleh tim SAR nanti. Menikah.
End
***