[Guru Memanggilku ke Ruangannya dan Menembakku]
"Hana, pulang sekolah ke ruang guru," ucap guru matematika yang sadis itu.
Apa aku bakal dapat tugas seabrek?
Pulang sekolah Hana menuju ke ruang guru.
"Hana, jadilah pacarku."
"Eh? Maksud Bapak?" Hana mengira ia salah dengar.
"Jadilah pacarku."
"Pak, hubungan kekasih antara murid dan guru itu dilarang di sekolah ini. Bapak bisa dipecat. Saya bisa dikeluarkan dari sekolah." Hana gagal paham.
"Siapa bilang aku guru di sekolah ini."
"Maksud Bapak?"
"Mulai besok saya bukan guru lagi."
"Eh?" Hana jadi oon.
"Hari ini hari terakhir saya jadi guru."
"Kalau Bapak tidak bekerja, darimana Bapak dapat gaji. Bapak nanti nggak bisa beli makanan. Bapak nanti kelaparan."
"Kau takut tidak bisa aku nafkahi?"
"Bukan seperti itu, Pak." Nafkah? Pacaran aja belum.
"Jawabanmu?"
"Jawaban apa, Pak? PR yang Bapak kasih tadi belum saya kerjakan."
"Jadi pacarku."
"Apa boleh saya memikirkannya kembali? Beri saya waktu. Saya belum mengenal Bapak secara pribadi."
"Baiklah. Ayo. Aku antar kamu pulang."
Hana diantar oleh mantan gurunya itu. Di mobil Hana bertanya, "Bapak pindah kerja jadi apa?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusan saya. Saya calon pacar Bapak. Saya harus tahu."
"Kalau sudah jadi pacar, aku beritahu."
Aneh! Aneh! Mimpi apa aku semalam.
Begitulah selanjutnya. Mantan guru itu mulai PDKT dengan Hana. Mulai dari mengantar Hana ke sekolah, pulang ke rumah sampai jalan-jalan.
Satu Minggu kemudian ...
"Jawabanmu?"
"Saya bersedia jadi pacar Bapak."
"Mulai sekarang jangan panggil Bapak lagi. Panggil saya Mas atau Kakak."
"Baik, Pak. Eh. Baik, Mas.'"