Sebagai pasangan anak sulung dari tiga bersodara Meri kini terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak Abinya meninggal dunia dan Umi yang tidak mau menerima kenyataan bahwa suaminya telah meninggal justru pergi entah kemana.
Kini tinggal lah Meri sebagai kaka sekaligus tulang punggunh di rumah mereka. Adik-adik Meri bahkan masih bersekolah, sedangkan Meri hanyalah bekerja sebagai buruh pabrik. Tentu gajihnya sangat kurang untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya dan juga biyaya sekolah adiknya. Maka dari itu Meri mau melakukan kerjaan apapun asalkan ia memiliki uang tambahan.
Meri memiliki dua adik, satu laki-laki kelas dua SMA dan satu lagi perempuan ia masih duduk dibangku kelas lima SD. Semenjak Abi meninggal, memang semua kebutuhan keluarga Meri yang tanggung. Sampai pada suatu malam Umi berpamitan akan menemui temanya untuk meminta dicarikan kerjaan. Namun, sampai sekarang Umi pergi tidak kembali lagi. Meri tentu mengira bahwa Umi tidak mau menerima kenyataan bahwa Abi sudah berpulang. Tentu sajah Meri dan adik-adiknya sudah mencari kemana pun tetapi tidak ada info yang mengatakan keberadaan Uminya.
Mereka hanya bisa berdoa semoga sajah keadaan Umi mereka baik-baik sajah dan dalam kondisi bahagia.
Kini Meri ingin fokus mencari uang agar adik-adiknya bisa tetap bersekolah. Walaupun ia harus mengorbankan kebahagiaanya asalkan ia bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk kedua adiknya.
Memang kenyataan adalah hal yang kadang sangat susah untuk kita terima, terlebih kenyataan yang pait. Ingin kita membuangnya agar tidak lagi merasakan kepahitan hidup. Namun, bagaimanapun kita lari dari kenyataan hidup, toh pada ujungnya kita akan menemukanya kembali. So tetap berfikir positif bahwa kepahitan tak selamanya menyiksa, pasti akan ada hari yang cerah setelah badai melanda.