Sebelumnya, mommy mau minta maaf kalau ada typo berserakan yah. Mommy udah revisi tadi, tapi tiba2 keluar dan pas berhasil tahunya cerpen gak muncul. Sekali lagi, harap maklum, happy reading 🥰🥰🥰
.
.
.
Dorrr!
Pekik ku mengejutkan keempat sahabat kuyang sedang asik meng-ghibah pagi pagi. Aku pun langsung tertawa lepas ketika melihat wajah mereka yang begitu kesal.
“Sialan lo Grace!” ketus Dira dengan begitu kesal, aku tidak perduli. Aku langsung mengambil bangku dan duduk di sebelahnya.
“Ada apaan sih? Pagi pagi udah kumpul, nge-ghibahin gue ya?” tuduh ku membuat ke empat sahabat ku kembali mendelik tajam.
Oh iya, kalian maish ingat aku kan? Si cantik dan pemberani, Grace. Dan mereka empat sahabat ku yang menemaniku beberapa bulan lalu untuk camping di pulau angker itu. Sudah tiga bulan sejka kejadian itu, tapi aku masih penasaran dengan apa yang mereka ceritakan.
Ya, mereka mengatakan aku sempat hilang selama satu minggu di pulau itu. Padahal aku hanya menghilang selama satu malam saja. Ah iya, ngomong ngomong soal menghilang satu malam, aku jadi semakin merindukan laki laki itu.
Alex, hingga kini aku belum pernah bertemu lagi dengan nya. Padahal aku berharap bisa bertemu lagi dengan nya. Namun aku tidak tau kemana dan dimana harus mencarinya? Sangat tidak mungkin bila aku mencari dia di pulau itu lagi. Tentu saja tidak mungkin, karena keempat sahabat ku tidak akan mau emngantarkan ku lagi ke sana.
Hihihi, kau heran, mereka seperti seolah trauma dengan tempat itu. Padahal, asal kalian tahu tempat itu sangat indah, view nya wow sekali. Tapi entahlah, aku gak ngerti kenapa temen temen ku malah gak mau ke sana lagi.
“Kampret! PD gila lo!” seru Mawar langsung memukul bahu ku.
“Sakit War!” seru ku tak kalah kesal, “Terus kalian ghibahin apaan kalau bukan gue?”
“Ada anak baru, tapi orang nya itu aneh banget,” kata Dira, seketika membuat ku mengerutkan dahi.
“Siapa? Cewek apa cowok?” tanya ku penasaran.
“Cowok! Tapi dia pakai baju ketutup semua gitu. Bahkan, di kelas pun dia pakai masker sama topi.” Balas Dewa.
“Anak mana?” tanya ku lagi.
“Fakultas kedokteran, sama kaya gue,” jawab Dewa lagi, “Dan dari kemarin emang udah heboh banget di kampus, pada ngomongin dia.”
“Ganteng gak?” tanya ku langsung dengan mata berbinar.
“Setan! Kan tadi gue bilang, dia ketutup pake topi sama masker bahkan kaca mata. Astaga, kuping!” seru Dewa berdecak kesal.
“Oh iya apa ya? Hehehe!” Akupun langsung menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
Oh god, mendengar cerita dari mereka semakin membuat rasa penasaran ku meronta ronta. Oke, kayaknya gue harus bertemu dan mencari tahu nya, ya Tuhan jiwa kepo dan detektif ku bergetar.
“Mungkin wajahnya terlalu ganteng kaya artis korea, makanya dia nutupin wajah nya biar gak bikin kalian patah hati berjamaah.” Kata ku namun malah membuat mereka berdecak.
Cukup lama kami mengobrol berlima di kantin, hingga pada akhirnya Dewa dan Dira pamit karena ada kelas. Sementara Mawar dan Raka memilih pergi ke perpustakaan. Aku? Jangan tanya, nasib jomblo begini, selalu di tinggal sendiri. Huhh....
Sabar, sabar, sabar Grace, orang sabar di sayang pacar. Tapi gak tahu pacar siapa. Aku terkekeh sendiri ketika berbicara mulai ngawur. Oke, kalau kata kata ku sudah mulai ngawur, itu menandakan aku butuh hiburan atau vitamin.
Akhirnya, karena aku tidak ada kelas, aku memutuskan untuk pergi ke gedung sebelah, gedung fakultas kedokteran. Aku penasaran dengan anak baru yang di katakan oleh Dewa tadi. Sambil membaca beberapa notif pesan masuk, aku berjalan pelan menuju kelas Dewa, hingga tiba tiba ...
Brukkk!
“Auuwhhh!” keluh ku ketika tubuh ku terpental cukup keras ke lantai.
“Sorry,” ucap nya, membaut ku lagsung mendongakkan kepala.
Deg!
Tunggu! Dia kayaknya cowok, celana jeans panjang, kaos biru tua dan jaket kulit, topi masker dna kaca mata. Oh my ghost, apakah ini cowok yang di bilang sama Dewa tadi?
Wow, aku seperti emndapatkan sebuah jackpot, niat ku kemari ingin mencari nya ternyata dia malah sudah menemui ku lebih dulu.
Apakah ini yang di namakan jodoh? Hihihi astaga aku mulai bicara ngawur lagi.
“Kamu gapapa?” tanya nya lagi, dan kini cowok itu sudha duduk berjongkok di depan ku.
Untuk sesaat aku sempat terpaku mencium aroma parfum nya yang begitu emmabukkan di indera penciuman ku. Tapi, seolah aku tersadar, ketika mendengar suara nya.
Suara itu? Mataku langsung membola ketika menyadari suara milik siapa yang baru saja ku dengar.
Aku langsung menatap ke arah nya, dan benar saja, dia yangmelihat ku kebingungan dengan mulut menganga, akhirnya dia membuka kaca mata dna masker nya.
What the fuck! Aku semakin terkejut, ketika mengetahui siapa dia.
“A—Alex?” gumam ku dan aku melihat wajah nya tersenyum.
Sumpah, aku gak tau harus bahagia atau sedih, ah mungkin tepat nya terharu kali yah. Akhirnya, setelah sekian lama. Penantian beberapa bulan, aku kembali bertemu dengan nya.
“Aku merindukan mu,” bisik nya kembali, kini wajah nya sudah berada dekat sekali di telinga ku, membaut tubuh ku seketika merinding disko.
“Bohong!” seru ku berpura pura merajuk.
“Aku serius, aku pergi sejauh ini untuk mencari kamu.”
Aku terdiam, melihat tatapan matanya yang seolah mengatakan kejujuran. Tapi aku juga masih sedikit kesal, lantaran selama ini dia baru menemukan ku.
“Kenapa kamu bisa menemukan ku disini?” tanya ku lagi, namun dia malah tersenyum.
Oh my ghost, senyum nya itu masih sama seperti dulu. Menenangkan dan memabukkan ku, jantung ku semakin berdetak begitu cepat. Tak bisa ku pungkiri aku benar benar jatuh cinta pada pria itu. Huaaaa rasanya aku ignin melompat dan menghambur memeluk nya.
“Mau memelukku?” tawar nya yang membuat mata ku lagsung membola.
“Enggak!” tolak ku dengan cepat, walau sebenarnya aku sangat ingin memeluk nya.
‘Kalau gue sampai meluk dia, pasti nanti gue bakal di cap cewek murahan. Oh sorry to say, gue bukan cewek murahan!’ gumam ku dalam hati dan lagi lagi ku lihat dia terkekeh.
“kenapa?” tanya ku bingung, dan dia hanya menggelengkan kepala.
Kini, posisi ku dan Alex sedang duduk di lantai tempat ku terjatuh tadi. Ya, aku belum beranjak, aku malah mencari posisi nyaman yakni dengan bersila dan melanjutkan obrolan dengan nya. Bahkan, kami tidak perduli dengan pandangan beberapa orang yang berlalu lalang melewati kami. Bodo amat, batin ku.
Kami bercerita dan bercanda cukup lama, hingga tanpa sadar waktu sudah hampir mahgrib. Kami pun segera bergegas pulang, dan karena aku tidak emmbaw amobil akhirnya dia mau mengantarkan ku pulang. Baik banget kan? Dan di mobil kami kembali bercerita. Aku menanyakan dimana dia selama ini, rumah nya dan bahkan aku menanyakan keadaan kedua orang tuanya serta saudara nya. Gabut banget kan aku, memang begitu, entahlah aku juga tidak mengerti.
Dari cerita tadi, aku baru tahu bahwa ternyata orang tua Alex sudah meninggal dua puluh tahun lalu. Wow, itu berarti ketika dia masih bayi. Alex selama ini hidup sendiri, dia anak tunggal, namun memiliki satu orang adik angkat yang tak lain anak dari paman nya.
Satu lagi yang harus kalian tahu, dia sangat kaya. Wow, aku juga kaya tapi sepertinya kekayaan keluarga ku hanya seujung kuku nya. Darimana aku tahu, ya cba aja kalian pikir, dia di tinggal mati orang tua nya sejak bayi dan hidupnya masih seperti raja. Bahkan, ketika kami hendak masuk ke mobil nya tadi, aku melihat beberapa pria bertubuh besar dan tegap yang menjaga mobil Alex dan membukakan pintu untuk kami. Sebuah mobil Bugatti Divo keluaran terbaru yang harga nya sangat luar biasa. Sementara para pengawal nya juga menaiki mobil yang lebih bagus dari mobil ku di rumah. Bila bersama teman teman ku, aku merasa paling kaya, tapi kini aku merasa benar benar sangat kecil.
“Dimana rumah kamu?” tanya Alex memecah lamunan ku yang amsih berkhayal.
“Hah, i—itu. Jalan anggrek lima nomo tujuh puluh,” jawab ku sedikit gugup karena tiba tiba saja tangan Alex sudah menggenggam ku.
“Tangan kamu dingin banget? Kamu sakit?’ tanya ku, karena menurut ku tangan nya sangat dingin.
“Hem, aku kurang tidur. Dan sejak kecil aku mengidap Raynaud, jadi beginilah kalau lagi kambuh,” jawab nya tersenyum, membuatku mengangguk paham.
Penyakit Raynaud, adalah penyakit yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah, yang membuat beberapa anggota tubuh menjadi dingin dan pucat kebiruan bila sedang kambuh. Meskipun aku bukan anak kedokteran, tapi aku sedikti paham dari Dewa. Tapi entah juga sih, kalau salah mohon di maafkan, dan kalau kalian kepo silahkan kalian searching mbah google.
Mama 💌
- Sayang, Mama mau berangkat ke Kalimantan untuk menyusul papa. Kamu baik baik di rumah ya, kalau takut kamu bisa menginap di rumah Dira atau Mawar.
Itulah pesan chat yang di kirimkan oleh mama beberapa saat yang lalu dan baru ku buka.
Karena orang tuaku ternyata sedang keluar kota dan aku baru membaca chat nya, akhrinya aku memutuskan untuk ikut Alex pulang ke rumah nya. Entah kebetulan atau bukan, adik Alex baru datang dari luar negri dan Alex ternyata sudah menceritakan padanya bahwa sudah bertemu dengan ku, makanya dia mengajak ku untuk ke rumah nya makan malam dan mengenalkan adiknya pada ku.
“Jadi, kalian sudah lama pacaran?” tanya nya, dialah Ryan, adik angkat Alex yang ternyata umur nya tak jauh dariku. Ya, hanya berbeda beberapa bulan saja hari ulang tahun kami.
“Belum lama,” jawab ku tersenyum kikuk.
“Tiga bulan,” jawab Alex dengan raut wjaah datar nya.
“Kok tiga?” tanya ku mengerutkan dahi, iya kan, dia baru satu jalan dua bulan kuliah disini, kenapa dai bisa bilang lima bulan? Bener bener korupsi waktu ini orang.
“Kamu lupa dengan pertemuan pertama kita hem?” tanya Alex tersenyum padaku, membuat ku tersenyum malu dan menganggukkan kepala kecil.
“Kau sudah melihat nya bukan? Jadi besok pulang lah,” usir Alex kepada Ryan.
“Hey, aku baru datang tadi. Apa kau tidak ada pengertian sedikti saja padaku? Aku baru saja melakukan perjalan jauh loh, saking jauh nya—“
“Iya sangat jauh, hanya hitungan detik kau bilang jauh! Kau mau mengganggu ku?” seru nya danlangsung memberikan tatapan tajam pada Ryan. Selanjutnya aku melihat Ryan hanya terkekeh dan meminta ampun pada Alex.
Huh, seandainya aku memiliki saudara mungkin hidupku tidak akan kesepian seperti ini. Ah, entah mengapa aku tiba tiba snagat menginginkan adik atau saudara yanga sik seperti Ryan.
“Grace, kau bisa menganggap ku adik mu. Kalau kau menikah dengan dia, aku juga akan menganggap mu kakak ku,” ucap Ryan tiba tiba membaut ku langsung tersneyum lebar.
Selesai makan malam dan sedikit perkenalan dengan Ryan, Alex pun segera mengantarkan ku pulang ke rumah. Setelah dia pamit, aku segera masuk dan di sana kau melihat mama ku sedang menangis histeris di pelukan papa.
“Mama?” panggil ku sedikit bingung.
“Grace!” pekik mama begitu terkejut melihat kedatangan ku, tanpa berlama lama, mama langsung memeluk ku dengan begitu erat, “Sayang, kamu kemana aja? Kenapa kamu selalu emmbaut mama khawatir hiks hiks hiks.”
“Hah? Grace kan kuliah mah? Lagian bukannya mama mau ke luar kota? Makanya Grace tadi mampir dulu ke rumah temen,” kata ku sedikit berdecak.
Plakkk!
“Mamah!” pekik ku mengaduh sakit ketika mama lagi lagi memukul bahu ku, astaga ini sangat sakit loh.
“Syukurlah, kamu benar anak mama,” katanya tanpa dosa lalu kembali memeluk ku.
“Mama lepasin ih, apaan sih?” seru ku berusaha melepaskan pelukan mama, “Mama kenapa sih? Nangis terus mukul gitu, gak jelas banget sumpah.”
“Grace, kamu ini sama mama kok bicara begitu?” tegur papa ku.
“Lah abisnya mama aneh, Grace baru pulang langsung di peluk, nangis terus mukul mukul begitu. Kan sakit Pa!’’ keluh ku memanyunkan bibir.
“Kamu darimana saja gak pulang pulang hah?” tanya papa dengan nada lembut, papa menuntun ku untuk duduk di sofa dan di apit kanan kiri oleh mama dan papa.
“Gak pulang pulang gimana sih Pa? Grace tadi kan udah bilang kalau Grace mampir ke rumah temen Grace. Mama tadi chat Grace kan kalau mau nyusul papa ke luar kota? Ya udah Grace main sebentar. “ kataku menjelaskan, “Lagian mama cepet banget jemput papa nya? Bukankah jarak Kalimantan Jakarta cukup jauh yah? Kok cepet banget? Apalagi lokasi papa sanagt pelosok begitu. Iks mama bisa ngilang apa gimana sih? Grace pikir mama bakal nginep di sana seminggu gitu, ini apaan masa baru pamit jam enam, sekarang jam sepuluh udah pulang!” keluh ku dengan kesal.
“Grace, mama sudah pulang dari siang, dan kamu tidak ada di rumah! Mama—“
“Tunggu? Gimana ceritanya mama pulang dari siang? Sementara Grace baru balas chat mama sore tadi habis mahgrib?” tanya ku bingung.
Sungguh, saat ini kepala ku sangat pening dan ingin meledak rasanya. Aku gak ngerti dengan apa yang di ucapkan oleh mama ku. Gak jelas kan, coba kalian kalau di posisi ku, bisa jelasin maksud nya?
“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat dulu, jangan lupa sholat dulu sebelum tidur.” Kata Papa pada akhirnya.
“Tapi pa?”
“Biarkan dulu, kita bahas besok,” kata papa lagi, yangmembuat otakku semakin pusing mencerna.
Dengan perasaan bingung dan campur aduk, akhirnya aku beranjak dan pergi ke kamar ku. Namun sayup sayup aku maish mendengarobrolan mama dan papa, dan lagi lagi aku mendengar suara mama yang terisak.
‘Sepertinya besok kita harus bawa Grace ke sana. Mama takut Pa, mama takut dia—“
“Sssttt, kita serahkan semuanya pada yang kuasa. Sudah malam, lebih baik kamu juga istirahat.”
Dan akhirnya dari tengah tangga, aku melihat mama dan papa memasuki kamar nya.
Aku bingung, aku gak ngerti eknapa dengan mama ku. Apakah mama ku sakit? Atau kenapa? Dan mama mau membawa ku ke sana, itu kemana? Astaga, aku pusing.