Sungguh, aku tidak mengenal senior itu! Kenapa dia tiba-tiba saja mengajakku berpacaran?!
=×=×=×=×=×=
Kali ini sudah ke berapa kalinya ya Aurora berpindah pindah sekolah. Mungkin sudah puluhan kali, entahlah dia sama sekali tidak menghitungnya. Sejak SD selalu berpindah-pindah sekolah mengikuti pekerjaan Ayahnya setelah kedua orang tuanya bercerai, bukan hanya Aurora saja tapi juga kakak laki-lakinya yang usianya setahun diatas dirinya juga ikut berpindah-pindah.
Inginnya Aurora dan kakak laki-lakinya menetap di sebuah kota, tanpa ayah juga tidak apa-apa, mereka berdua sudah SMA. Tapi kata Ayah tidak boleh, meskipun menitipkan Aurora dan kakaknya kepada kerabat dekat saja tidak boleh, ayah selalu khawatir tentang mereka.
Dan kali ini dia berada di kota N, kota yang dikenal sebagai kota bunga kadang juga dijuluki dengan kota musim semi. Taman bunga nasional juga ada disini, banyak toko bunga di pinggiran jalan.
Kesampingkan semua itu.
Baiklah, namanya adalah Aurora McMillan. Dan, kakaknya namanya Angkasa McMillan.
Aurora berdiri sambil menyandarkan punggungnya, ia sedang menunggu kakaknya yang berada diruang administrasi untuk mengetahui dimana kelas mereka. Aurora menunggu diluar.
"Mari kita lihat, berapa minggu aku dan kakak bertahan di kota ini."
Hujan gerimis. Bel masuk telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, karena itu tidak ada siswa yang berlalu lalang.
Angin dingin berhembus bersamaan dengan hujan. "Ugh... Dingin! Seharusnya aku bawa jaket tadi..." Gumam Aurora.
"Hei."
Merasa seperti ada yang memanggilnya, Aurora menoleh kesamping melihat siapa pemilik suara itu.
Seorang siswa laki-laki, dia siswa tahun ke-tiga, penampilannya agak kurang rapi. Wajah dingin tanpa ekspresi, beberapa kancing atas dilepas dan terlihat kaus hitam didalamnya. Satu hal lagi, dia tampan dengan badan tinggi dan gagah. Tunggu.... Kenapa dia memanggil Aurora?
"Ya?"
"Aku tidak pernah melihatmu disekolah ini, murid baru ya?" Tanyanya.
"Iya, baru pindah hari ini." Jawab Aurora.
"Oh, kelas berapa?"
"Sebelas."
"IPA, IPS, atau Bahasa? Sebelas mana?" Tanyanya lagi. Itu membuat Aurora kesal.
"IPS, untuk sebelas mana belum tau. Lagi nunggu kakak didalam." Jawab Aurora. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab pertanyaannya, tapi wajah dingin itu membuat Aurora merasa terancam.
Aurora memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa, kok tanya-tanya terus? Kita nggak saling kenal loh."
Mendengar jawaban Aurora, beberapa detik kemudian laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Langit Alexander. 12 IPA E." Kenalan, dia mengajak Aurora untuk kenalan.
Aurora menjabat tangannya sebagai perkenalan. "Aurora McMillan."
Tangannya terasa dingin dan kasar. Dingin dan kasar, itu mengingatkan Aurora kepada seseorang dimasa lalu dalam hidupnya.
"Aurora, mau jadi pacarku?"
Mendengar ucapan Langit membuat Aurora langsung melepaskan jabatan tangan mereka. Kaget? Tentu saja kaget! Aurora ditembak oleh orang yang baru saja ditemuinya beberapa menit yang lalu loh! Itu bahkan tidak sampai 5 menit pertemuan pertama mereka!
"T-tapi...-" Aurora ingin menolaknya, karena ini adalah pertemuan pertama mereka. Bukankah pacaran itu seharusnya saling mengenal ya?
"Aku tidak menerima penolakan, mulai detik ini dan banyak detik kemudian, kau adalah pacarku. Kita pacaran." Sela Langit memaksa.
Brak!
Terdengar suara benda jatuh dari koridor belakang Langit, Aurora dan Langit langsung menoleh untuk melihatnya. Dua orang perempuan menjatuhkan buku yang mereka bawa. Mematung ditempat. Sepertinya mereka mendengar apa yang Langit ucapkan kepada Aurora.
"Pangeran sekolah menembak seorang gadis! Tidak terima penolakan? Itu keren sekali!! Hei, gadis, kamu mau bertukar posisi denganku?" Ucap dramatis seorang perempuan berambut kepang dan berkacamata.
"Woww! Itu berita yang mengejutkan! Aku kira Pangeran sekolah yang tidak tertarik pada wanita adalah seorang gay!" Kaget perempuan di sampingnya yang potongan rambutnya mirip laki-laki.
'Apa? Pangeran sekolah? Kalau gitu... aku bakal kena masalah dong!' Pikir Aurora.
"Hei... Apa-apaan ini?" Entah itu datang darimana, tiba-tiba saja kakak Aurora, Angkasa McMillan, berada disamping Aurora. Itu mengejutkan Aurora.
"Tiba-tiba memaksa adikku berpacaran? Kau ingin mempermainkan perasaan adikku ya?" Angkasa menatap tajam Langit. Pada dasarnya keduanya memiliki tinggi badan yang sama.
"Iya dan tidak. Aku bersungguh-sungguh mengajak Aurora berpacaran. Mungkin..." Langit menatap Aurora yang menundukkan kepalanya sambil memegang pergelangan tangan kakaknya. "Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama." Lanjut Langit yang langsung meninggalkan Aurora dan Angkasa begitu saja setelah mengatakannya.
"Aku harus menghajarnya!" Angkasa tidak akan diam saja jika perasaan adiknya dipermainkan oleh orang asing.
"Kak Kasa jangan bikin masalah di sekolah baru deh, kita baru pindah hari ini." Peringat Aurora. Aurora sejak tadi memegang pergelangan tangan kakaknya untuk mencegah adanya perkelahian yang dimulai oleh kakaknya ini.
'Ahahaha... Sepertinya hari hariku akan berjalan tidak mulus selama disekolah ini... Tidak apa Aurora, karena dalam waktu dekat pasti Ayah akan pindah kota lagi. Bertahanlah selama beberapa minggu!'
=×=×=×=×=×
Udah, sampai sini aja dulu
Nanti bakalan Mirai lanjutin bikin novelnya😁Kurang puas kalau cuma cerpen aja^_^♪