"Perkenalkan, namaku Kirana. Kalian bisa memanggilku 'Ran' atau apalah," ucap gadis dengan rambut ponytail yang berdiri di depan kelas itu. "Salam kenal," lanjutnya.
Seluruh mata langsung terpaku padanya. Gadis ini terlihat sedikit berbeda daripada gadis kebanyakan.
"Ah, iya, salam kenal juga Kirana. Apa kamu mau menambahkan perkenalannya lagi? Hobi atau cita-cita misalnya?" Wanita berbusana batik di sebelahnya melontarkan pertanyaan.
Kirana menggeleng. "Saya nggak punya hobi dan cita-cita, Bu."
"Pftt ... bwahaaaha!" Sontak, orang di kelas langsung tertawa lepas tatkala mendengar respons dari gadis yang baru pindah sekolah ini.
Sementara Kirana memandangi mereka semua dengan sorot mata keheranan, seolah bertanya-tanya alasan teman-temannya tertawa.
"Hei, Kalian! Sstt ....!" Namun, suasana kembali dapat kembali kondusif ketika guru wanita tadi memperingati murid-muridnya. "Ya udah, Ran. Kamu bisa duduk di bangku yang kosong, di sana, ya."
"Baik, makasih, Bu." Selepas mengucap kalimat itu, Ran lekas berjalan menuju bangku kosong yang dimaksud.
"Untuk yang lainnya, mari kita lanjut ke materi!" ucap guru wanita itu, "buka halaman delapan puluh satu, tentang sastra Indonesia."
Ran duduk di bangku kayu nomor tiga dari depan. Di sana, ia mendapati fakta bahwa teman sebangkunya adalah seorang laki-laki. Antara senang atau tidak senang.
Karena, kedatangan Kirana justru disambut oleh dengkuran keras dari manusia berjakun ini.
Benar, cowok di sampingnya sedang tertidur pulas!
Bahkan, air liurnya mengalir kemana-kemana hingga memenuhi sebagian dari buku yang dia jadikan bantal.
Merasa tidak nyaman, Ran pun memberanikan diri untuk menggoyang-goyangkan badannya perlahan. Berharap agar dia segera bangun dan merapikan diri. "Heh ...."
"Jawabannya lima, Bu!" Reflek terbangun karena gangguan, laki-laki itu menghaturkan kalimat asal.
Alis Ran terangkat, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka terdiam sejenak sembari menatap cowok itu.
"... hoaaam! Aaissh, ini udah jam berapa sih?" Laki-laki itu melirik ke segala arah. Namun, tatapannya langsung terhenti pada wajah gadis yang kurang familiar baginya. "Oh? Lu siapa? Pacar gue, ya?"
Deg!
Kirana sempat terhanyut dalam kalimat ngelantur yang diucapkan. Tidak, sampai guru berteriak nyaring. "Hei, Alvaro! Tidur di kelas lagi kamu, ya?!"
Cowok yang diketahui bernama Alvaro itu sontak terkejut. Ia membenahi posisi duduknya dan mengusap-usap mata demi memfokuskan kembali pandangan. "Ngg ... nggak kok, Bu!"
"Haduh ... nggak tau lagi, deh. Kemarin bolos, sekarang malah tidur di kelas. Maunya apa, sih?!"
"Sa-Saya bolos kemarin karena diajak sama Fariz, Bu! Kalau hari ini, saya ngantuk karena diajak begadang sama dia juga." Alvaro melontarkan jawaban yang terlintas dari pikirannya saat ini.
Sang pemilik nama lantas berteriak dari seberang sana. "Loh, kok nyalahin gue sih anj*r?!"
"Lah, emang lo yang ngajak!"
"Udah, udah!" Tidak ingin terjadi pertikaian besar, guru wanita itupun segera menghentikan dua murid yang menjadi sumber masalah. "Alvaro, kamu yang salah kok malah bawa-bawa temenmu?"
"Ta-Tapi, Bu–"
"Nggak ada tapi-tapian. Pokoknya, ibu pengen ini adalah kali terakhirnya kamu begini! Besok-besok jangan lagi."
"Mampus! Fitnah mulu sih!" Fariz belum selesai.
"Itu juga berlaku buat kamu, Riz."
"Eh?"
"Hahahaha!"
Akhirnya, setelah melewati berbagai proses yang cukup memakan waktu, kelas kembali normal. Pelajaran dilanjutkan, murid-murid fokus ke arah papan tulis.
Yah, kecuali Alvaro.
Daripada mendengarkan penjelasan guru, atensi Alvaro justru terpatri kepada gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Entah kenapa, sejak awal melihatnya, Alvaro selalu merasa bahwa ia pernah melihat gadis ini di suatu tempat. Ia merasa bahwa ia pernah bertemu sebelumnya.
Menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan sejak tadi, Ran lantas menoleh dan menangkap basah cowok di sebelahnya. "Lo ngeliatin gue?" tanya Ran.
Tidak mau terlihat seperti orang bodoh, Alvaro bergegas mengalihkan wajahnya ke arah lain sembari mencari-cari pekerjaan agar terlihat sibuk. "Nggak tuh? Jangan kegeeran, Neng."
Ran menatapnya dengan wajah penuh rasa heran. "Aneh," gumamnya.
"Heh, gue bisa denger apa yang lu ucapin, tau!"
Ran memilih untuk tidak menghiraukan laki-laki itu.
Dan di sanalah, Alvaro kembali berulah. "Maaf, gue rasa, gue suka sama lo."
"Hah?"
"Abisnya lo cantik sih. Jadi, gimana bisa gue nggak tertarik?"
"Tapi, gue nggak tertarik," tolak Ran mentah-mentah, "cepet ngomong yang sebenarnya!"
"Oh, tipe cewek strong, ya. Oke, gue Alvaro, ketua klub basket." Ia mengulurkan tangan, "Lo cantik, gue butuh bantuan lo."
"Apa sih? Nggak jelas."
Alvaro menarik kembali tangannya. "Oke, kayaknya lo nggak bisa diajak baik-baik," ucapnya, "kalo gitu, gimana kalo kita buat kesepakatan. Lo jadi pacar pura-pura gue dan gue bakal bayar lo lima puluh ribu per hari."
"Hum ... seratus ribu?"
"Cukup adil." Alvaro mengernyitkan kening, "Mulai hari ini, lo jadi pacar gue."
Kirana membetulkan, "Pura-pura."
"Yes."
Ding!
Pada saat bersamaan, terdengar suara notifikasi dari ponsel Alvaro.
Mantan, lupain ajalah (1 pesan)
'Jdi kapan double dateny, Mblo?'
~Tamat (?)~
Mau diterusin jadi novel, adakah yang setuju ? V: