Zella merasa sangat berdebar setelah mengetahui bahwa dia lulus seleksi di sebuah kampus yang diidamkannya sejak lama. Dengan wajah sumringah dia masuk ke rumah tak lupa berucap salam kepada orang rumah.
"Zella, antarkan ini ke tetangga ya!" titah wanita paruh baya seraya membawa panci berisi sayur kuah.
"Ha? Apa ini, Ma?"
"Bawa aja, dengar-dengar ada tetangga baru yang datang tadi pagi. Katanya sih baru pindah ke rumah sebelah."
Dengan wajah malas, Zella menggapai panci tersebut dan membawanya ke rumah tetangga. Dia mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada tanggapan. Hampir saja dia akan berbalik kalau saja pintu bercat putih itu tidak terbuka.
"Siapa?"
Tubuh Zella mematung dan kurang semenit dia bisa menumpahkan apa yang dipegangnya, untungnya laki-laki di depannya cepat tanggap. Seperti memiliki kekuatan membaca pikiran, dia ikut memegang panci di tangan Zella.
"Hati-hati dong! Ini panas!" ucapnya dengan raut kesal.
"Maaf, maaf, a-aku datang untuk memberikan ini!" Zella menyodorkan bawaannya dan pergi dengan cepat tanpa mendengar balasan dari laki-laki itu.
Laki-laki itu menjadi bingung sebentar kemudian masuk ke dalam rumah tak lupa menutup pintu kembali.
Sesampainya di rumah Zella, gadis itu tak berhenti tersenyum dan cekikikan sendiri. Kakaknya yang melihat keanehan adik satu-satunya hanya bisa menggeleng kepala sambil bergumam, "dasar adek gila!"
"Zella!"
"Iya, Ma."
"Udah diantar, kan?" tanya ibunya.
"Udah, Ma."
"Yaudah sini!" Ibu Zella mengulurkan tangan berharap sesuatu diberikan padanya.
Zella kebingungan dan bertanya, "apanya Ma?"
"Pancinya."
Seketika mata Zella melebar, dalam batin dia berteriak, "gawat! Mama pasti akan melemparku lewat jendela!" Dengan susah payah dia memikirkan jawaban yang bagus dan dapat diampuni ibunya. "Oh, i-itu, Ma. Anak cowok itu bilang, pancinya mau dia cuci dulu, mungkin besok dikembalikan."
"Cowok? Jadi tetangga baru kita cowok? Siapa nama ibunya? Nama ayahnya? Siapa lagi anggota lain?"
"Mama nanya apa ngeroyok sih? Banyak banget! Ma, Zella capek banget, tidur dulu ya!" Setelah mengatakan hal tersebut, Zella berlari kecil menuju kamarnya.
"Hei, makan siang dulu!"
Pagi tiba, Zella bersiap-siap ke kampus untuk mengikuti kegiatan pengenalan kampus dan mahasiswa di sana.
"Zella, jangan lupa!"
"Iya, tau kok Ma. Panci kan?" tanya Zella memastikan maksud dari ibunya.
"Jangan lupa, jaga mental ya!" ujar ibunya sambil tersenyum nakal dan keluar kamar.
Zella yang melihat kelakuan lucu ibunya hanya bisa tertawa kecil. Aktivitas di kampus berjalan seperti biasa, terasa monoton bagi Zella, dia pikir mungkin akan ada hal baru ternyata hanya pemberitahuan mengenai persiapan OSPEK lalu pulang.
Sebelum sampai ke rumah, Zella menyempatkan diri singgah di rumah tetangganya mengingat ibunya selalu menagih soal panci.
Beberapa kali dia ingin mengetuk pintu tetapi diurungkan karena dia merasa seluruh tubuhnya tremor, tiba-tiba bergetar hebat. Bagaimana tidak? Ternyata tetangganya adalah idolanya sendiri. Dia sangat kaget bahkan hampir menjatuhkan panci berisi makanan panas. Jika saja laki-laki itu tidak cepat tanggap, mungkin kaki Zella terkena luka panas dan memerah.
"Hei, jangan melamun di depan rumah orang! Nanti ribet kalau kesurupan di sana!"
Zella mematung dan tidak mau berbalik, dia kenal suara ini. Karena tidak mendapat tanggapan, laki-laki itu berjalan maju sampai berdiri di depan Zella.
"Kamu lagi, yang kemarin kan?"
Zella terlalu banyak berpikir balasan apa yang akan dia berikan, tapi yang keluar hanyalah, "iya."
"Terus, datang ke sini ada urusan apa? Oh, sebelumnya, terima kasih untuk masakannya."
"Sama-sama."
"Kenalin, Kevin Cassanova," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Zella menatap tangan itu tanpa berniat meraihnya dan bersalaman. Saat ini dia terlihat seperti jaringan buruk, loading lama.
Kevin melambaikan tangan di depan wajah Zella dan mendekatkan wajahnya. "Hello? Udah bangun belum?"
"Eh? E ... A-aku panci. Maksudku Mamaku ingin pancinya kembali."
Kevin berpikir sejenak lalu mengangguk. Dia mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu.
"Mau mampir?" tawarnya.
Zella menilik bagian dalam dan menggeleng. "Tidak, makasih."
Dengan senyum nakal Kevin berbalik dan bertanya, "yakin? Mumpung gak ada siapa-siapa loh."
"Pancinya udah ditunggu Mama!" Tanpa sengaja dia berteriak membuat Kevin bahkan dirinya sendirin pun kaget.
Keringat sudah membasahi wajah Zella tetapi dia tetap menunggu hingga Kevin kembali dan membawakan panci milik ibunya. Dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia bersikap kasar pada tetangga sekaligus orang yang dia idolakan, namun dia berspekulasi mungkin ini akibat dari perasaan campur aduk. Baru kali ini dia bertemu secara langsung dengan idolanya.
Tiba-tiba terdengar suara benda besar terjatuh, Zella yang di luar merasa panik dan berpikir keras. Apa yang harus dia lakukan? Apa masuk saja? Menunggu di luar? Dan banyak pertanyaan yang muncul. Karena lama sekali Kevin tidak keluar, jadi dia berinisiatif masuk dan menemukan Kevin mengangkat barang-barang besar yang berjatuhan di lantai.
Tanpa diminta, Zella membantunya dengan sunyi. Kevin yang melihatnya hanya bisa tersenyum menatap kelakuan Zella yang tidak terduga. Kadang diam seperti patung tetapi ternyata tidak pikir panjang untuk membantu orang lain.
"Terima kasih gadis penolong, untung ada kamu. Jadi bebanku diringankan."
"Zella, namaku Zella."
"Wah, satu jam yang lalu aku nanya nama kamu akhirnya terjawab juga."
"Aku kira bunyi gajah jatuh ternyata beras sekarung."
Kevin tertawa, mendengarnya membuat Zella mengerutkan kening.
"Ternyata kamu bisa ngelawak juga."
"Aku serius bunyinya langsung 'gedubrak' gitu," balas Zella sambil menggambarkan dengan tangan bagaimana gajah jatuh.
Lagi-lagi Kevin tertawa, bukan hanya perkataan Zella yang menurutnya lucu melaikan wajah seriusnya saat omongannya sendiri mengandung komedi.
Zella yang ditertawakan dua kali memasang wajah kesal. "Hei, panciku mana?"
"Itu, dikait pakai paku, biar gampang keringnya, tadi mau kuambil tapi gak sengaja nyenggol beras yang di atas rak piring," ujar Kevin panjang lebar.
"Ya, nggak apa-apa, aku cuma butuh panci lalu pulang."
Kevin menatap Zella dan memicingkan matanya lalu bertanya, "kamu gak tau aku ya?"
"Kevin Cassanova," jawab Zella enteng.
"Bukan itu."
"Oh, pemeran film."
"Nah, itu! Tapi kenapa responmu biasa aja?"
"Biasa gimana? Aku bersusah payah menyembunyikan ini tau!" Zella menutup mulutnya hampir saja memberitau bahwa dia adalah penggemar Kevin.
"Menyembunyikan apa?"
"Kalau aku ... pengen buang air kecil! Di mana toiletnya?"
"Dari sini belok kanan lalu lurus aja nanti ketemu pintu ke toilet."
Zella berlari ke toilet dengan detak jantung yang luar biasa, lagi-lagi dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sangat mengidolakan Kevin tapi dia malu jika harus mengatakannya sehingga hal tersebut tidak bisa keluar.
Setelah keluar dari sana, Zella mengambil panci ibunya dan keluar rumah Kevin. Saat itulah dia menarik napas dan berbalik, "Kevin, sebenarnya kamu idolaku."
Zella menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyaman manis. Beberapa hari kemudian mereka menjadi tetangga yang akrab bahkan teman bertukar cerita.
TAMAT