Awal manis kurasakan ditahun itu ketika aku melangkah masuk ke bangku Pendidikan. Disitu awal kuletakan mimpi dan masa depanku Bersama coretan warna warni persahabatan diputih abuh-abuh, lalu suatu ketika kami bercerita seperti apa kami Dimasa depan, menjadi apa, dan hidup seperti apa!
Dulunya itu hanya lelucon untuk kami lalu tiba waktunya kami duduk menghadapi Ujian nasional yang artinya kami sudah harus tahu langkah selanjutnya.Apakah melanjutkan study atau tidak, sekalipun melanjutkan study jurusan apa yang kami pilih apakah akan tetap sama atau keluar dari jalurnya dan masih banyak tanya lagi dalam diri ini.
Sebulan sebelum UN aku mengambil keputusan mengikuti pendaftaran online masuk perguruan tinggi tanpa izin dari kedua orangtuaku, aku bahkan mendaftarkan beberapa temanku dan tak disangka sangka kami berhasil mendapat posisi diterima di perguruan tinggi yang kami daftar. Aku bahagia mendapat amplop kelulusanku dan mendengar namaku masuk perguruan tinggi adalah berkah untukku dan keluargaku, sayangnya aku memilih keluar dari jurusanku di bangku SMK yang tadinya aku mengambil jurusan Guru menjadi Hukum.
Aku tidak menyesalinya Karna dari guru aku belajar mengenal baca dan tulis, impian dan mimpi dan kini aku mengambil jurusan Hukum Karna cinta Keadilan. Aku berpikir dengan menjadi seorang hakim aku dapat menghakimi kejahatan dan kebenaran, uuhm nalar kekanakanku sangat polos.
Aku kemudian hijrah kenegeri seberang untuk meraih gelar sarjana impian tiap keluarga, aku menjadi Mahasiswa baru dan aku mengingat kata guruku hanya ada tiga maha yaitu Mahakuasa, Mahadewa dan Mahasiswa. Aku sangat senang karna menjadi mahasiswa yang artinya aku juga dijunjung tinggi oleh siapapun,pikirku seperti itu lalu realita mengagetkanku bahwa menjadi Mahasiswa banyak yang mesti dilakukan, banyak yang mesti dipelajari serta memilah baik dan buruknya harus dihadapi dengan kata jangan menyerah topi toga masih empat tahun lagi kemudian hari- hari berikutnya aku menjadi mahasiswa yang aktif di kampus dan diluar kampus dari kegiatan kampus sampai kegiatan organisasi luar adalah keseharian ku, terlebih lagi aku mengambil peran dalam berbagai kegiatan yang membuat aku memiliki rutinitas yang padat.Ditengah kesibukanku aku jatuh cinta pada seniorku, kami menjalin hubungan dengan sangat baik, Saling mendukung, saling percaya dan saling berbagi suka dan duka tapi kami juga ingin merasakan mimpi indah yang dirasakan orang lain kami mencoba melakukan hal yang tidak seharusnya sampai akhirnya apa yang tidak terduga terjadi.Aku sendiri tidak menyadari bahwa aku telah berbadan dua, aku bahkan dengan santainya menanggapi kata orang- orang disekitarku lalu suatu hari aku dan pacarku keklinik dan ternyata aku sudah hamil dua bulan lebih.Aku sangat kaget dan bingung, aku frustasi dan hampir menyerah dengan hidupku dan tiba- tiba semua meninggalkanku ketika mereka mendengar aku hamil diluar nikah disitulah titik terberat hidupku!
Aku menangis,berteriak dan berdoa ketika itu aku tahu bahwa janinku tidak bersalah atas hancurnya mimpi dan masa depanku.aku kembali bangkit dan memulai kembali aktifitas kulia ku setelah seminggu menghindar dari ocehan mulut orang, dan yang lebih menyakitkan ketika pacarku membawaku untuk mengaborsi janinku, aku takut dan menangis dan berlari meninggalkan tempat itu sebab aku merasakan hangatnya janinku dan perasaan menjadi seorang ibu mulai terpancar dari hatiku.kami memutus hubungan selama sebulan sampai akhirnya dia datang dan menemuiku dan memelukku serta mencintai calon anaknya dan tidak lagi mangambil keputusan yang salah.Kami sepakat menjadi orangtua buat calon anak kami sayangnya kami tidak mendapat restu dari kedua orangtua kami, sampai akhirnya hari dimana saya melahirkan tanpa suami dihari itu saya tahu bagaiman perjuangan seorang ibu untuk melihat anaknya kedunia ini, tidak peduli rasa sakit yang saya hadapi tapi bagaimana saya melahirkan anak saya dan memeluknya erat.
Cinta dalam penderitaan saya terbayar dengan hadir putri kecil anugerah Tuhan untuk saya.
Dihari itupun saya tidak lagi melanjutkan kuliah saya dan pulang dengan anak saya tapi saya tahu suatu hari saya akan mencapai langit cerah dan topi toga akan terpasang dikepala saya.Mungkin bagi yang lain ini adalah akhir tapi bagi saya ini adalah awal Karna saya terlahir kembali bersama lahirnya anak saya, saya terlahir menjadi ibu dan saya terlahir menjadi ayah untuk putri saya.