Rabu, 23 November jam setengah sepuluh pagi
Setelah ditinggal kakaknya menikah, Arfan duduk seorang diri diatas loteng rumahnya. tak lama, Faiz datang lalu mengajaknya bermain bola.
"Fan, main bola yuk!!" seru Faiz.
Arfan menjawab, "Sebentar, saya ke bawah dulu."
Ia mengenakan sepatu bola miliknya, dan juga jersey tim Liverpool berwarna merah kebanggannya. setelah itu ia menemui Faiz yang menunggu di depan rumahnya.
"Ayo.." seru Arfan.
Faiz menjawab, "Oke, anak anak menunggu kedatangan kamu soalnya."
Mereka pun pergi ke lapangan, lalu bertemu dengan Zafran salah satu anak kota yang ikut bermain di lapangan desa itu.
"Ayo Fan, kamu jadi penyerang!!!" seru Zafran.
Arfan berada di posisi depan, lalu permainan pun dimulai. saat jam menunjukan setengah lima sore, Arfan melakukan tendangan akrobatik hingga membuat bola masuk ke gawang lawan.
"Goooollllll!!!!!"
Tendangan keras itu tidak hanya membuat tim lawan mengalami kekalahan, namun juga membuat mobil yang dikendarai pak Niko dan Bu Sasih mertua kakaknya mengalami kecelakaan maut hingga terpental dari jalan tol ke areal persawahan.
"Apa?? terjadi masalah keuangan hingga membuat perusahaan bangkrut?? ahh..." teriak Figo, suami Intan kakaknya Arfan.
Dreeettt!!!
telepon satunya lagi berdering, "Halo??" ucap Figo.
"Halo pak, kami dari rumah sakit Cahaya Alam menginfokan bahwa kedua orangtua anda yang bernama Pak Niko dan Bu Sasih mengalami kecelakaan. dan kedua korban dinyatakan meninggal di tempat." ucap suster rumah sakit.
Figo membanting ponsel, lalu menggebrak meja. entah kesalahan apa yang sudah ia alami, ia terkena dua bencana sekaligus.
"Sudah sore.. saatntya pulang!!" seru Arfan.
Faiz dan Zafran mengangguk, "Iya juga, kalau begitu kita bertiga duluan ya kawan kawan." kata Faiz.
"Oke.." jawab anak anak yang lain.
Isak tangis menyambut jenazah bu Sasih dan Pak Niko, apalagi Intan tak bisa mendampingi suaminya karena ia sedang berbadan dua.
setelah di shalatkan, kedua jenazah suami istri itu dibawa ke pemakaman keluarga untuk dimakamkan.
"Akhirnya selesai juga proses pemakamannya, semoga mama sama papa diterima di sisinya ya mas.." ucap Intan.
Mas Figo nampak terdiam, "Yaudah, ayo pulang.. ada hal yang ingin mas bicarakan..."
"Baik mas.." jawab Intan.
Sementara itu, Arfan yang mengenakan kaos oblong berwarna hitam pergi secara diam diam dari rumahnya. memang sebelumnya rumah itu terpaksa dijual demi kepentingan mas Figo, tapi Arfan berjanji tidak akan pernah memberikan tanah itu.
"Aman Iz??" tanya Arfan.
Faiz menjawab, "Aman, ayo... kita berdua akan selalu bersamamu.."
"Betul itu.." jawab Zafran.
Arfan memberikan kode untuk segera pergi dari tempat itu, sebelum banyak orang yang mengetahui rencana mereka.
Mereka pergi ke daerah seberang dengan melalui hutan lebat, memang setelah sepuluh bulan kakaknya menikah ia tak pernah dikunjungi lagi.
"Apaa??? kalian pisah??? Tan, mau disimpan dimana wajah pakdemu ini??? disimpan dimana??" tanya pak Defa, pakdenya Intan.
Intan terus menangis, sambil mengelus perutnya yang sudah hamil enam bulan.
"Pak, saya akui kekalahan ini... apa yang dikatakan oleh anak ingusan itu kini benar terjadi. saya tidak sanggup menjalani pernikahan dibawah bayang bayang ini pak, maka dari itu mulai detik ini saya layangkan talak tiga kepada Intan, cukup.." jelas pak Figo.
Intan memperhatikan anak anak di rumah Pakdenya itu, "Arfan mana Pakde??"
"Hei, bahas nasib pernikahanmu dulu.. bukan cari si anak ingusan itu.." Kata pak Defa.
Alan dan Marsha muncul.. "Papa bilang dia anak ingusan?? ingat pak... perusahaan papa akan hancur oleh anak ingusan. tapi bukan Arfan, dia salah satu kenalan Arfan yang sangat benci dengan papa.."
Di tengah perjalanan, sekelompok serigala dan burung elang menyerang sebuah rumah gubuk. hingga enam orang yang berada di dalamnya terluka..
"Ayo masuk!!" seru Arfan.
ketiga anak itu masuk ke dalam rumah itu, lalu mereka membebaskan seorang gadis yang diculik oleh keenam orang itu.
"Keluar semuanya!!" perintah Arfan.
Faiz dan Zafran yang sudah berhasil membebaskan gadis itu segera pergi dan meneruskan perjalanan ke daerah seberang itu.
"Kamu tidak apa apa??" tanya Arfan.
Gadis itu menjawab, "Tidak, maaf ini bukannya Faiz yang anak baru itu kan?" tanya gadis itu.
"Iya.... kamu bukannya Ardina?? kenapa kamu bisa ada disini??" tanya Faiz.
Ardina menjawab, "Ceritanya panjang, nanti biar aku ceritakan kalau sudah sampai di seberang. kalian bertiga mau kesana kan??"
"Iya.. kalau begitu ayo..," balas Arfan.
Seorang pria datang ke rumah pak Defa dengan keadaan terluka, lalu pak Defa langsung keluar rumah setelah mendengar suara minta tolong.
"Ada apa ini??" tanya Pak Defa.
Pria anak buahnya menjawab, "Tempat kita sudah diserang,"
"Siapa yang berani melakukan semua itu??" tanya Pak Defa lagi.
ia menjawab, "Tiga orang laki laki dengan masing masing memiliki pasukan elang dan serigala."
"Jangan jangan mereka itu Arfan dan teman temannya lagi, aduh semoga aja mereka tiba di daerah seberang dengan selamat." batin Intan dalam hati.
Pak Defa menatap Intan dengan wajah panik, "Yaudah sekarang terserah kamu mau bagaimana.. pakde sudah tidak mau ikut campur lagi urusan kamu."
"Lalu kemana Intan harus pulang??" tanya Intan.
Marsha menjawab, "Kak Intan ikut tinggal dengan bi Ijah aja dulu, rumah kakak tadi terlihat sepi dan gelap.. sepertinya Arfan melaksanakan janjinya."
"Ahhh... ternyata selama ini Arfan selalu menghilang untuk mengatur srategi mempertahankan rumah itu. pantas saja mertua kak Intan sudah meninggal, Arfan baru mau pindah." batin Intan.
Marsha memeluk Intan, "Sudah, jangan menangis terus.. kasihan dede bayinya.. sekarang ikut aku aja yuk ke rumah bi Ijah."
"Yaudah ayo.." jawab Intan.
Di rumah Rani, sepupu Arfan di pihak ibunya sedang ada perbincangan antara pak Didi dengan orangtua Rani. dimana Rani rencananya akan dijodohkan dengan anak pak Didi.
"Eagle eyes datang, Eagle eyes datang.." ucap Petra, burung kakaktua yang menjadi juru bicara Arfan.
Arfan datang bersama Ardina, Faiz dan Zafran. serta beberapa pasukan serigala dan Elang yang berada di atas dan belakang Arfan.
"Dia salah satu dalang penculikan aku.." kata Ardina.
Rani keluar dari rumahnya, lalu ia teringat pada janji Arfan enam bulan lalu.
"Jika benar rumahku akan dijual oleh kakakku dan omku.. maka jika aku tidak restu tidak akan ada yang bisa menginjakan kaki di rumahku ini.." ucap Arfan enam bulan lalu.
Pak Didi merasa ketakutan, apalagi yang datang itu adalah tiga putra tokoh penting. jika disentuh atau diserang, maka akan terjadi masalah besar.
"Bapak, Ibu... saya rasa lamaran ini harus dibatalkan,. saya bisa jodohkan anak saya dengan gadis lain.. permisi.." ucap Pak Didi yang langsung kabur bersama Sandi, putranya.
Rani menyambut kedatangan Arfan, namun ia sadar. ia tidak bisa memeluk Arfan, karena Arfan sempat mondok dan mendapat pengetahuan tentang siapa yang boleh ia sentuh.
"Alhamdulillah kamu datang juga fan.." sambut Rani.
Arfan menjawab, "Iya,..."
"Tadi aku dapat kabar kalau kakakmu tinggal di rumah Marsha sementara, kamu boleh tinggal disini sementara waktu." kata Rani.
Faiz dan Zafran mengangguk, "Benar tuh fan, disini saja dulu... nanti besok kita bantu untuk beres beres rumah barumu."
"Oke.." jawab Arfan.
Faiz dan Zafran berpamitan, "Yowes, karena kamu sudah menemukan rumah barunya. kita berdua pamit mau pulang.."
"Iya, hati hati dijalan.." jawab Arfan..
Faiz dan Zafran pun pulang ke rumahnya masing masing, bersama Ardina yang kini menjadi saudara angkat Faiz.
Pak Didi merasa ketakutan, apalagi yang datang itu adalah tiga putra tokoh penting. jika disentuh atau diserang, maka akan terjadi masalah besar.
"Bapak, Ibu... saya rasa lamaran ini harus dibatalkan,. saya bisa jodohkan anak saya dengan gadis lain.. permisi.." ucap Pak Didi yang langsung kabur bersama Sandi, putranya.
Rani menyambut kedatangan Arfan, namun ia sadar. ia tidak bisa memeluk Arfan, karena Arfan sempat mondok dan mendapat pengetahuan tentang siapa yang boleh ia sentuh.
"Alhamdulillah kamu datang juga fan.." sambut Rani.
Arfan menjawab, "Iya,..."
"Tadi aku dapat kabar kalau kakakmu tinggal di rumah Marsha sementara, kamu boleh tinggal disini sementara waktu." kata Rani.
Faiz dan Zafran mengangguk, "Benar tuh fan, disini saja dulu... nanti besok kita bantu untuk beres beres rumah barumu."
"Oke.." jawab Arfan.
Faiz dan Zafran berpamitan, "Yowes, karena kamu sudah menemukan rumah barunya. kita berdua pamit mau pulang.."
"Iya, hati hati dijalan.." jawab Arfan..
Faiz dan Zafran pun pulang ke rumahnya masing masing, bersama Ardina yang kini menjadi saudara angkat Faiz.
Beberapa tahun kemudian
Arfan, Faiz, dan Zafran sedang mengobrol bertiga di sebuah kantin. lalu Arfan menanyakan sesuatu kepada dua sahabatnya itu.
"Faiz, Zafran.. saya ingin bertanya sesuatu boleh??" tanya Arfan pada Faiz dan Zafran.
Faiz menjawab, "Silakan,.."
"Apakah kalian berdua berpacaran dengan murid perempuan di kelas ini??" tanya Arfan.
Faiz menjawab, "Kalau saya sih memang malas pacaran, tapi Ardina selalu ikut kumpul bersama saya dan anak anak lainnya. dan juga ia selalu curhat dan menempelkan kepalanya ke bahu saya.."
"Kalau saya akui memang pacaran dengan Nurmala.. sejak awal masuk SMA." jawab Zafran.
Arfan berpesan, "Kalian berdua jangan pacaran lah, kan aturan juga melarang kita untuk pacaran. dan juga, diluar sana banyak orang yang depresi karena ditinggal orang yang mereka sayang. coba kalian bilang ke masing masing cewek kalian jika kalian tidak mau dekat bersama mereka dulu, biar kalian tidak perlu merasa sakit karena kehilangan."
Faiz dan Zafran mengangguk, "Baik.."
Arfan tersenyum, "Perlu kalian tahu, saya seperti ini karena membaca kisah batman. dia berusaha melawan rasa takutnya akan sesuatu dan kehilangan orang yang mereka sayang. juga yang namanya kegagalan itu merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan. saya harap kalian juga bisa mengambil prinsip ini.
Apa yang dikatakan Arfan memang benar, Ardina yang awalnya tidak mengenakan jilbab kini ia berjilbab dan sering ikut kajian.
Saat tiba di rumah, bu Lala mamanya Ardina merasa senang kini putrinya tampil cantik dengan jilbabnya.
"Aduh ini putri mama, siapa yang ajarin ini??" tanya Bu Lala.
Ardina menjawab, "Awalnya aku mendengar pembicaraan Arfan dan kayaknya dia benar. aku sama Faiz harus jaga jarak, karena Faiz bukan saudara kandung aku."
"Hmm... iya juga.. yaudah ayo masuk.. mama sudah buatkan ayam goreng kesukaan kamu." ucap Bu Lala.
Ardina menjawab, "Iya ma.."
****
Sambungannya ada di Eps Rifan dan Rinjani Kelewat Professional ya!!!!