Cuaca yang cerah memang cocok untuk dijadikan hari pilihan ketika keluar rumah. Dengan berbekal beberapa lembar uang dan tas kecil yang cukup untuk dompet juga ponsel. Wajah kilau ini sudah tak sabar menikmati sedapnya makanan luar.
Lonceng kafe berbunyi menandakan tamu datang. Bukan hanya sekali tetapi dua kali. Setelah berjalan sambil berpanas-panasan di luar sembari mengendarai motor.
Menggenggam tangan seseorang seolah-olah tidak ingin melepaskannya. Aku dan temanku duduk di meja nomor 8. Kami duduk saling berhadapan.
Gadis berambut ikal itu memanggil pelayan kafe dan memesan makanan kesukaan kami berdua tak lupa dengan miniman dingin yang menyegarkan tenggorokan.
Aku melihat ke sekitar, tidak terlalu ramai mungkin karena hari produktif, apalagi kalau bukan senin. Pandanganku jatuh pada meja nomor 1 cukup jauh dari sini.
Dua wanita duduk berhadapan, wanita itu berpakaian rapi seperti wanita kantoran sementara yang didepannya mengenakan jaket abu-abu. Aneh sekali, panas begini malah mengenakan pakaian hangat.
Mungkin dia kedinginan atau takut cahaya matahari dapat mengubah warna kulitnya yang kuning langsat. Aku menggelengkan kepala sebelum akhirnya minuman tiba di atas meja.
Tanpa kesabaran, kami mulai menyeruput minuman tersebut sambil berkata, "ah". Itu sebagai tanda bahwa kami menikmati minuman yang disediakan.
Saat makanan kami mulai sampai dan diletakkan, kami mendengar kegaduhan dari meja nomor 2. Wanita berpakaian kantor itu bersikap seperti kerasukan. Dia menggigit tangan pelanggan yang lain hingga orang itu berteriak kesakitan.
Namu, wanita yang menggigitnya tidak menghiraukan. Aku menyapu seluruh ruangan dengan pandanganku tetapi tidak menemukan wanita yang berjaket itu. Kemana dia?
Temanku juga tidak ada, kupikir mungkin dia ke toilet sebentar. Tak lama kemudian ruangan ini semakin ricuh. Ternyata orang yang digigit itu seperti tertular. Dia juga bersikap aneh dan menggigit orang yang ada di depannya secara brutal.
Matanya berubah hitam menyeluruh, badan mereka menjadi lentur seperti tidak ada tulang dan mereka bebas menggerakkan sendi seperti tangan berputar 360 derajat atau kepala berputar, kepala dan kaki bertemu, seolah-olah persendian mereka memang selentur itu.
Tubuhku mematung ketika melihat pemandangan yang aneh tapi nyata. Aku bertanya-tanya, apa ini mimpi? Hingga aku tidak sadar sudah sejak kapan tanganku digenggam oleh seseorang. Kami berlari menaiki tangga.
Ya, kafe ini adalah tempat makan sekaligus rumah. Lantai atas adalah rumah pemilik kafe dan lantai bawah merupakan kafenya. Aku tidak melepaskan pandanganku pada punggungnya yang lebar. Rambut hitam yang pendek hingga memperlihatkan kedua telinganya.
Sesampainya di dalam dia dan beberapa orang lainnya menutup pintu dan mengganjalnya dengan meja rias. Kesadaranku akan dunia nyata pun tiba setelah dia beberapa kali menjentikkan jarinya di depan wajahku.
"Kamu hampir aja diserang zombie."
"Zombie?" tanyaku.
"Apalagi? Lihatlah di bawah sana!" Suara gadis kecil membuat kami memutar badan ke samping. Dia melihat ke bawah melalui jendela.
Aku berjalan mendekat setelah mereka semua berkumpul di depan jendela. Menatap jauh ke bawah. Astaga! Apa dunia sedang mengalami kehancurannya? Semua orang bertingkah aneh, seperti mayat hidup.
Apa ini yang dinamakan kiamat? Saat semua makhluk hidup menyerang makhluk hidup yang lain dan merusak ekosistem. Aku jadi teringat temanku.
Segera aku berbalik dan akan menggeser meja tapi sebuah tangan menghentikanku. "Jangan dibuka! Di luar berbahaya!"
Aku ingin mengatakan temanku ada di bawah tapi sepertinya itu sia-sia. Dia benar, di luar terlalu berbahaya. Yang dapat kulakukan sekarang hanya berdoa semoga temanku baik-baik saja.
Aku menatap mereka satu per satu dalam diam. Ada wanita tua sebut saja nenek, pria dewasa sebut saja bapak, laki-laki seumuranku dan gadis kecil yang memeluk boneka kelinci putihnya.
Aku tidak mengenal mereka semua, jadi aku hanya duduk diam meringkuk di sudut ruangan sembari berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa besok semuanya pasti baik-baik saja.
Ini hanya mimpi, pasti cuma mimpi, itulah yang kurapalkan berkali-kali dalam pikiranku. Malam pun tiba, kami makan di ruangan itu, awalnya aku menolak tapi perutku berkata lain.
Akhirnya mau tidak mau aku pun bergabung dan menikmati makanan yang entah esok dapat kumakan atau tidak. Pada saat itulah aku menyadari ponselku ada di bawah sana. Sebenarnya aku sangat ingin ke luar dan pulang ke rumah lalu tidur di kasurku yang empuk.
Tapi keadaan tak sesuai ekspektasi, aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Bagaimana kabar ibuku? Ayahku? Kakak? Keponakan? Astaga, kenapa dunia sakit begini.
"Hey, tidak perlu merasa tidak enakan, aku pemilik kafe ini dan namaku Dew. Kita semua harus tetap di sini sampai keadaan luar meyakinkan untuk pergi keluar dengan aman." Laki-laki itu kembali makan dengan lahap.
Aku bukannya sombong, hanya saja sulit untukku berbicara dengan orang asing. Sebenarnya makan di kafe ini bukan sekali dua kali tetapi aku dan temanku tidak begitu tertarik untuk mengenal setiap pemilik cafe yang tempat usahanya kami kunjungi.
Malam ini aku tidak dapat tidur. Banyak hal yang kupikirkan apalagi tentang dunia sekarang. Sebenarnya ini mimpi kan? Rasanya sudah ratusan kali kalimat itu terngiang dalam otakku.
Kalau pun bukan, sesungguhnya aku benar-benar berharap, setelah memejamkan mata dan fajar tiba, aku terbangun di atas kasurku, ruangan pribadiku dan menganggap kejadian menegangkan seperti tadi siang sampai malam ini merupakan bunga tidur semata.
Berhari-hari kami mengisolasi diri dari dunia luar. Kami seperti pengangguran namun tetap memiliki persediaan makanan. Kami berharap seseorang dapat menyelamatkan kami. Bukan seseorang tapi paling tidak petugas negara pasti menyadari dan mengambil langkah bijaksana demi mempertahankan wilayah juga penduduk negara kan?
Aku berdiri hampir setiap saat di depan jendela sembari menatap dunia luar dan jalanan. Sunyi sekali, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang bahkan pejalan kaki pun tidak ada.
Aku menoleh ke kana dan ke kiri memandang rumah tetangga. Bagai bangunan tak berpenghuni. Seperti rumah kosong yang sedang dijual. Entah sampai kapan kami akan terjebak dalam kafe penuh darah ini?
Aku secara pribadi merasa sudah muak dan lelah tanpa mandi maupun berganti pakaian. Jika aku berdiri di depan cermin pasti sulit untuk dibedakan mana gembel dan yang mana aku. Oh dunia yang sakit, cepatlah sembuh! Aku berteriak dalam hati.
Pemikiran yang gila. Jika ini adalah hari terakhirku bernapas, aku ingin sekali memeluk keluargaku. Menatap wajah mereka seraya mengatakan ribuan kali permintaan maaf juga ucapan terima kasih. Apa sebaiknya kuakhiri saja?
Baru saja aku memikirkan itu, pasukan negara datang ke depan pintu kafe. Saat itulah kami tau, bahwa kami yang masih bertahan hidup pasti diselamatkan.
~TAMAT~