"Ayah, besok Nisa pulang. Jemput Nisa di Masjid Agung ya?" ucap Nisa pada Ayah lewat telepon
"Alhamdulillah nak. Iya besok Ayah jemput, tadi guru pondok kamu sebelumnya sudah mengabari Ayah," jawab Ayah Nisa dari seberang sana.
"Terimakasih Ayah, Nisa tunggu. Assalamualaikum," balas Nisa dan diakhiri dengan kalimat salam.
"Sama-sama anakku, Wa'alaikumsalam," jawab Ayah. Setelah itu mereka menutup telepon.
Nisa Azzahra duduk di bangku SMA kelas satu, lebih tepatnya gadis itu bersekolah di pondok pesantren di daerah Jawa Timur. Sementara Nisa tinggal di daerah Jawa Tengah. Dan selama bulan Ramadhan mereka dipulangkan.
Rencananya akhir bulan ini, sebelum Ramadhan tiba anak pondok asal Semarang akan di turunkan di masjid Agung Jawa Tengah. Nisa sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu keluarganya esok hari.
.
.
.
Setelah mendapatkan telepon dari Nisa, Pak Sholeh, Ayah Nisa terpikir untuk memberikan anaknya sebuah kejutan. Dia ingin membuat kamar Nisa terlihat baru.
Sebelumnya Nisa memakai kamar kakaknya yang sudah berkeluarga. Cat temboknya sudah banyak yang terkelupas dan warnanya sudah kusam. Lemari pakaian dan meja belajar miliknya pun sudah terlihat lapuk dan ada bekas gigitan rayap di sisi pintunya.
Pak Sholeh serta Istrinya segera pergi ke toko bangunan untuk membeli beberapa cat dan wallpaper dinding dan lemari pakaian, meja belajar dan sekaligus mengganti tempat tidurnya yang baru.
"Yah, kita beli warna ungu muda ya, Nisa sangat suka warna ungu," ujar Siti, Ibunya Nisa
"Bukannya dulu Nisa sering memakai baju warna merah jambu ya?" ucap sang Ayah sembari mengingat.
"Kita padukan saja ungu muda dan merah jambu,"
"Ide bagus Bu,"
Mereka berdua pun merenovasi dan mendekor ulang kamar Nisa, menjadi lebih bagus. Hingga malam menjelang Pak Sholeh masih terlihat membetulkan kamarnya.
"Ayah, sudah malam lebih baik teruskan besok pagi," ucap Bu Siti
"Tanggung Bu, sebentar lagi ya," jawab Pak Sholeh yang sedang menghiasi langit-langit kamar Nisa.
Ia mengecat langit-langit kamarnya perpaduan gradasi warna biru tua gelap dan terang kemudian di beri hiasan bintang-bintang. Sehingga jika lampu kamar Nisa di matikan maka bintang-bintang itu akan menyala terang.
"Nah selesai, coba Ibu matikan lampunya," ucap Pak Sholeh sembari turun dari tangga.
Klik
"Wah, bagus sekali Yah, ini seperti nyata langit dimalam hari," puji Bu Siti.
"Siapa dulu, Ayah," ucap Ayah dengan sombongnya kemudian mereka tertawa bahagia.
"Hoooamm yuk tidur, Ayah ngantuk,"
.
.
.
Keesokan harinya, Pak Sholeh masih terlihat mengantuk. Dia pun menyantap kopi hitam sebelum pergi menjemput Nisa.
"Ayah, ini singkongnya," ucap Bu Siti seraya meletakkan piring kecil yang berisi singkong rebus yang masih panas ke atas meja.
"Sepertinya kita harus cepat Bu, singkongnya makan di perjalanan saja," ujar Ayahnya menyuruh sang Istri untuk lebih cepat bersiap.
"Iya sebentar Ibu ambil tas dulu,"
Pak Sholeh terlihat terburu-buru menghabiskan kopi hitamnya dan berlari kecil menuju mobil untuk memanaskan mesinnya dahulu. Disisi lain Bu Siti sedang mengunci pintu rumah.
Di perjalanan mereka melewati jalan tol agar cepat sampai. Sang Ayah terus menguap karena masih mengantuk.
"Pak, kalau ngantuk sebaiknya menepi dulu dan pelan-pelan saja bawa mobilnya," tegur Bu Siti.
"Iya istriku sayang hehe," goda Pak Sholeh kemudian ia membawa mobilnya dengan laju pelan. Pak Sholeh tidak berhenti dahulu karena dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan Nisa anaknya.
.
.
Sesampainya di masjid agung, Nisa menghamburkan diri ke pelukan orang tuanya.
"Ayah...Ibu...Nisa kangen,"
"Ayah juga kangen Nak,"
"Apalagi Ibu, kangen pake banget banget banget haha,"
Mereka semuanya tertawa
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, keluarga itu tertawa bahagia dan saling bercerita banyak hal. Namun bukannya langsung pulang, Pak Sholeh malah membawa keluarganya jalan-jalan di sebuah tempat wisata yang bagus untuk berswafoto tak hanya itu Pak Sholeh juga mengajak semuanya makan di restoran yang terkenal enaknya.
"Ayah, sebenarnya Nisa lelah karena perjalanan jauh, setelah ini kita pulang saja ya?" ucap Nisa
"Iya, hehe habisnya besok kita sudah mulai puasa nak, jadi Ayah ingin mengajak kalian jalan-jalan. Ya itung-itung sebagai kenang-kenangan. Kan jarang-jarang kita foto bertiga,"
"Iya Nisa, Ibu juga kangen kita sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini,"
"Terimakasih Yah, Bu, Nisa senang jalan-jalan dengan Ayah dan Ibu,"
"Yasudah, sudah hampir sore kita pulang yuk," ajak Ibunya.
.
.
.
Diperjalanan pulang pak Sholeh mengambil rute jalan tol. Semuanya kelelahan setelah berjalan-jalan. Ibu Siti dan Nisa sampai ketiduran didalam mobil. Sementara pak Sholeh lagi-lagi merasa kantuk. Biasanya Ibu Siti mengajaknya ngobrol agar tidak terasa kantuknya tetapi istrinya malah sudah tertidur.
"Hoamm astaghfirullah, ngantuknya," gumam Pak Sholeh
Bruuk.
Pak Sholeh mengemudikan mobilnya sedikit ke kiri dengan tiba-tiba dan disaat yang bersamaan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.
Mobil bagian kiri terhantam hingga penyok dan mobil terguling berputar kemudian berakhir menabrak pembatas jalan disebelah kiri.
Nisa yang duduk di bagian belakang mengalami luka di bagian kepala, ia tak sadarkan diri. Kondisi sang Ayahnya lebih parah dari Nisa. Banyak pecahan kaca yang menempel di wajahnya. Di sisi lain kondisi Ibu Siti yang duduk disamping kemudi sangat memprihatikan, wanita paruh baya itu tewas ditempat.
Pak Sholeh masih bernyawa dan dilarikan ke rumah sakit namun dalam perjalanan nyawa pria itu tidak tertolong. Sementara Nisa masih belum sadarkan diri.
.
.
.
Malam harinya, Nisa membuka matanya. Terasa berat dan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Nisa melihat seisi ruangan dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Ayah.... Ibu...." ucapnya lirih.
Nisa menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil bantuan perawat. Tak berapa lama sang suster datang dengan langkah besar.
"Selamat malam mbak Nisa, ada yang bisa saya bantu," sapa suster saat memasuki kamar Nisa
"Hemm mbak, dimana orang tua saya?" Tanya Nisa
Seketika raut wajah suster itu sedikit sedih, dia tak sampai hati menyampaikan berita duka. Namun apa boleh buat, percuma saja jika ditutupi. Karena Nisa berhak tahu.
"Ayah dan Ibu mbak Nisa sudah tenang di alam sana. Kakak kandung, mbak Nisa sedang mengurus pemakaman orang tua mbak Nisa,"
Kreek
Hati Nisa tercabik-cabik, ada tusukan yang menancap hatinya. Kemudian ada perasaan bersalah dari dirinya. Air matanya pun menggenang setelah sempat terpaku mendengar ucapan yang suster lontarkan
"Hiks....." isak gadis itu dan air matanya mulai menetes
"Innalilahi wa innailaihi rojiun...Ayah....Ibu....," lirihnya dengan tangisan
"Ini salahku.... jika saja....hiks,"
"Jika saja mereka tidak menjemputku, jika saja kami langsung pulang saat itu, mungkin ayah dan Ibu tidak meninggal...Ayah hiks...Ibu...,"
"Astaghfirullahaladzim...," ucapnya setelah menyalahkan takdir.
.
.
.
Malam itu Nisa pulang karena ia memaksa ingin melihat kedua orang tuanya terakhir kali. Kak Nabila memeluk Nisa, sembari melantunkan yasin untuk kedua orangtuanya sebelum dimakamkan.
Nisa tidak sanggup meski dia berusaha ikhlas, gadis itu berlari ke kamarnya. Tetapi Nisa semakin menangis saat tahu kamarnya telah terhias dengan cantik. Kamarnya masih beraroma cat yang baru.
Ingin sekali Nisa menangis dan berteriak, meratapi keadaannya namun ia sadar. Dirinya harus ikhlas. Nisa terus beristighfar. Air matanya tidak boleh jatuh ke tanah, karena ia ingin perjalanan orang tuanya tenang di alam sana. Pemakaman pun harus dilakukan malam itu karena permintaan keluarga lainnya.
.
.
.
.
"Nisa, bangun sayang, yuk kita sahur," sahut Nabila seraya mengguncang-guncangkan tubuh Nisa agar terbangun.
Nabila telah berkeluarga dan dia menginap di rumah orang tuanya hingga beberapa hari kedepan. Menemani Nisa yang masih sangat terpukul.
"Nisa, ayo bangun...kita sahur yuk," ajak Nabila dengan suaranya yang menjadi serak akibat menangis.
Tak berapa lama Nisa terbangun dengan wajah sembab karena menangis. Dengan langkah malas ia menuju ruang makan untuk sahur bersama kak Nabila, kakak iparnya dan keponakannya yang masih berumur lima tahun.
Nisa menatap dua bangku kosong yang biasa dipakai Ayah dan Ibu. Lagi dan lagi tanpa sengaja air mata itu menetes. Nisa segera menyekanya dan berusaha ikhlas dengan senyuman meski sulit.
Nisa harus memulai sahur pertamanya di bulan Ramadhan itu tanpa Ayah dan Ibu.
*Ikhlaskan meski sulit.