~DESA~
Di hari biasa dan juga desa biasa, desa yang terpisah tak jauh dari desa lain.
Desa ini berada dekat dengan pelabuhan tempat kapal-kapal kontainer berlabuh, pelabuhan itu di jaga cukup ketat oleh orang orang bermuka seram.
Dan seperti hari biasa nya, para warga melakukan aktivitas harian, para ibu-ibu menyapu rumah, mencuci, ada yang berkumpul entah apa yang di bicarakan. Sedangkan para bapak-bapak tengah asik dengan catur dan membahas pertandingan bola tadi malam yang tayang di televisi. Para anak-anak tengah bermain di jalanan.
Hari menjelang sore saat nya pulang ke rumah masing-masing. Dan Irvan seorang anak kecil berumur sembilan tahun berlari untuk menuju rumah nya,bergegas pulang. Sesampai nya di rumah dia mendapati ayah nya yang tengah asik menonton televisi dn ibu nya yang sedang memasak untuk makan malam.
Ayah Irvan adalah seorang nelayan,setiap hari nya dia akan membawa satu box berukuran sedang berisikan ikan hasil tangkapan nya untuk di jual dan sebagian untuk di makan.
" Pak, hari ini ikan apa?" Tanya sang anak Irvan
" Irvan mau nya apa?" Tanya ayah balik
Irvan diam sebentar , memikirkan ikan apa yang enak untuk hari ini
" Lobster ada pak?" Tanya Irvan
" Lah!, Kata nya ikan ini kenapa malah jadi lobster?!!"
" Ada nggak pak?" Tanya Irvan lagi
" Cari sana di dapur" suruh ayah
Irvan beerlari ke dapur, membuka box penyimpanan ikan ayah nya
" Ma, lobster ada nggak?" Tanya Irvan pada ibu nya
" Nggak ada , ada nya cuman cumi! Irvan mau? " Tawar ibu
"Hmmm........! Yaudah deh nggak papa" Irvan menetapkan pilihan nya
" Ambil tuh cumi nya, mau berapa?"
Irvan mengambil empat cumi besar dari box penyimpanan ikan ayah nya, menyerahkan pada ibu
" Selagi mama masak cumi Irvan mandi dulu ya"
" Ok! " Irvan berlari ke kamar mandi sembari melepas baju nya, melempar sembarang ke lantai
Berselang beberapa menit Irvan selesai dengan mandi nya , pun juga ibu nya yang selesai memesak. Makanan tersaji lengkap di meja mulai dari lauk sampai sayur. Irvan fan orang tua nya makan dengan lahab.
" ini udah mau ujian kenaikan kelas kan? " Tanya ayah
Irvan mengangguk sebagai balasan, dia tak bisa bicara mulut nya jejal dengan makanan.
" Kalau bisa ranking satu bapak beliiinn......."
" Mainan robot!!" Irvan lebih dulu menyambung kalimat ayah nya
" Yaudah robot, tapi harus ranking satu ya!!"
Irvan menganguk meniyakan, memang jika di lihat dari semua nilai dan ranking Irvan di sekolah dia adalah anak yang pintar.
Makan malam usai , Irvan terlelap dalam tidur nya ,mungkin karna kelelahan bermain seharian yang tak lama di susul ibu nya tapi tidak dengan ayah nya yang terjaga di depan televisi menonton acara show yang dia sukai, sampai acara show itu usai baru lah ayah Irvan beranjak tidur.
Malam berjalan cukup cepat, subuh kian datang, ibu Irvan bangin untuk sholat subuh sedangkan ayah Irvan memeriksa jaring nya kalau-kalau ada lobang bekas kepiting, karna cukup sering ayah Irvan mendapati jaring nya sobek bekas kepiting. Tiba-tiba terdengar suara letupan dari kejauhan, suara nya susul menyusul seperti suara senjata api, sontak ayah Irvan menatap pintu, diam sejenak memastikan suara apa yang dia dengar barusan.
Suara itu terdengar lagi , tapi kali ini lebih dekat ,terdengar rentetan menghiasi sudut-sudut desa.
" Apa tuh?" Gumam ayah Irvan, dia berjalan ke kamar , istri nya tengah sholat subuh sedangkan anak nya masih tertidur nyenyak di kasur
" Apa itu tadi pak? " Tanya istri nya yang selesai sholat subuh
" Nggak tau" suami nya balas menggeleng
" BRAK!!!" pintu rumah di dobrak membuat Irvan terbangun dari tidur nya.
Dari luar masuk seorang pria membawa sejata api berjenis AK-47 di tangan nya, ayah Irvan hanya diam di tempat, dia gentar melihat AK-47 yang siap memuntahkan peluru kapan saja di tangan pria itu.