Sebuah mobil melaju cepat di sisi motor Juna, hampir saja menyenggolnya jatuh.
"Sialan, kalo jalan pake mata dong" pekiknya.
Sekilas dilihatnya wajah seorang perempuan pingsan di dalam mobil itu, diapit dua lelaki yang tampak sangar.
'hah ya tuhan, apakah mereka kawanan penculik' naluri Juna curiga.
Juna bergegas memacu motornya menguntit dalam jarak yang aman dari mobil hitam tadi.
Tak berapa lama dia melihat mobil berhenti di sebuah gudang tua.
Dua lelaki membawa seorang perempuan muda yang diikat tangannya di belakang.
'ah benar dugaanku, mungkin mereka adalah sindikat penjualan orang, aku akan menyelamatkan gadis itu'
Juna mengendap endap mendekati gudang tua itu. Untungnya waktu di kampung Juna belajar silat di padepokan Raja Monyet yang membuatnya mahir dalam seni bela diri itu.
" Anakku Juna, ingatlah bahwa ketika ada kemampuan maka ada tangungjawab memikulnya, gunakan kekuatanmu untuk menegakkan kebenaran membantu yang lemah, memberantas ketidak adilan" kata guru lekat di ingatannya.
'Guru aku akan jadi murid padepokan Raja Monyet yang membanggakan, aku akan menggunakan kekuatanku untuk menolong orang, melindungi dari kezaliman' tekad Juna.
Bruk.
Dengan kasar dua laki laki itu mendorong perempuan itu untuk masuk ke gudang.
Perempuan itu jatuh tersungkur.
"Sayang sekali, gadis secantik ini harus dihabisi" Kata penculik 1.
"Tunggu bagaimana jika kita bersenang senang terlebih dahulu, ini akan tampak menjadi pembunuhan yang lumrah terjadi." kata penculik 2.
Kling klung kling klung kling klung
Telepon masuk.
"Ya Hallo, ya nyonya kami sudah mendapatkan dia, ha ha ha, baik baik, kami akan segera menghabisinya. Selamat nyonya, anak anda akan menjadi pewaris tunggal kerajaan bisnis Jayaraya"
Blip. Telpon ditutup.
"Dasar perempuan serakah, dia rela menghabisi anak tirinya sendiri demi harta "
Ujar penculik.
Seorang penculik baru saja bermaksud melakukan hal tidak senonoh pada perempuan itu. hingga.
"Hiyah..." Tendangan tanpa bayangan mendarat tiba tiba disertai pukulan telak pada bagian vital yang membuatnya limbung.
Krek.bruk. Para penculik itu tiba tiba bertumbangan. Sesosok pemuda bertutup muka tiba tiba menyeruak masuk dan menyergap mereka.
Dengan cekatan mereka berdua diikat menjadi satu.
Satu orang penculik yang berada di mobil pun sudah dia lumpuhkan.
" Nona nona, sadarlah"
Dilepaskan ikatan perempuan muda itu kemudian Juna berusaha menyadarkannya.
Perlahan lahan perempuan itu membuka matanya.
Reaksi pertamanya adalah panik.
"Siapa kamu, ahhh ahh, dimana aku dimana"
"Tenanglah, nona selamat, saya menyelamatkan nona."
Perempuan itu memandang Juna kemudian melihat di sekitar dan melihat dua penculiknya terikat tak berdaya.
"Saya sudah menelepon polisi, jangan khawatir mereka segera datang, maaf saya tidak membawa apa apa, ini ada air mineral mungkin nona membutuhkan" kata Juna sambil memberikan botol minuman.
"Terimakasih, tuan adalah penyelamat saya, jika tidak ada tuan pasti nyawa saya tidak terselamatkan " Kata nona itu, sembari meneguk air mineral, perlahan lahan kesadaran dan energinya pulih.
"Aku tadi mendengar tentang penculikan ini ada hubungannya dengan ibu tiri anda nona" kata juna kembali
"ah benar dugaanku, ibu tiriku adalah dalang dibalik semua ini, perempuan munafik, tunggu akan kubuka kedokmu di hadapan papa. Oya siapa nama anda tuan penyelamat. Saya Raya, Raya Juwita Jaya" kata perempuan itu
"Raya, raya yang merupakan pewaris perusahaan Jayaraya" tegas Juna tidak percaya.
Dia melihat sekilas berita itu di televisi beberapa waktu lalu.
Perempuan itu mengangguk.
"Dibalik itu, saya hanya perempuan lemah biasa mas" lanjut perempuan itu.
"Saya Arjuna Perkasa nona Raya" Juna memperkenalkan diri.
****
Adegan berganti di suatu rumah mewah, tampak pesta tengah diselenggarakan di rumah itu.
Juna mendadak telah diangkat menjadi bodyguard pribadi nona Raya. Nona Raya membutuhkan orang yang mampu melindunginya dan Juna membutuhkan biaya hidup. Jadi mereka saling membutuhkan.
"Juna bisakah kamu memasukkan aku melewati jendela samping rumah itu, disanalah kamarku berada" perintah Nona Raya.
"Baik nona, jurus monyet melompat indah"
Duk duk duk.
Juna dengan cekatan menggunakan jurusnya untuk membawa Nona Raya melewati jendela dan masuk kedalam rumah.
"Adik tiriku sedang mengadakan pesta ulang tahun di bawah, mereka tidak tahu bahwa aku sudah lolos dari maut, mereka tidak akan kubiarkan" kata Raya dengan pasti.
Raya kemudian segera mandi dan menuju waredrobe nya kemudian berganti gaun yang cantik sekali.
"Juna minta tolong tarik retsleting belakang gaunku." Perintah nona Raya.
" Baik nona, em maaf ya nona" kata juna.
Juna melihat punggung gadis itu mulus dan putih bersih, hatinya berdesir. Tak terasa kulitnya bersentuhan dengan kulit nona raya, membuat detak jantungnya meninggi.
Apalahi Nona Raya pun tampak anggun dibalutan gaun biru selutut itu.
'aah lembutnya kulit seorang gadis, maaf nona aku pria normal biasa'
"Terimakasih Juna" senyum nona Raya.
"Aku akan keluar ke aula utama untuk mengagetkan ibu tiriku, segeralah masuk bersama polisi setelah aku mengucapkan kata tangkap mereka" lanjut Raya yang meneruskan menyapukan make up dan hair do natural.
****
Pesta berlangsung meriah. Tiba tiba dari tangga muncullah Raya yang anggun, memikat hadirin yang hadir.
Seluruh mata terpusat padanya.
'apa dia masih hidup, ku pikir dia sudah mereka sudah membunuh anak itu'
Wajah ibu tirinya panik.
"Mama, kenapa mama tidak mengajakku menikmati pesta ulangtahun adik tiriku" Sindir raya.
"Raya, kata ibumu kamu pergi ke luar negeri" kata papanya
"Tahukah papa, perempuan itu menyewa pembunuh, untuk diam diam menculikku dan membunuhku" kata Raya.
"Tidak! Suamiku aku tidak melakukannya, apa buktimu Raya" teriak ibu tirinya.
"Aku punya bukti, tangkap mereka"
Tiba tiba polisi datang menyeruak bersama Juna.
"tidak tidak.. tidak"
Polisi membawa pergi ibu tiri raya dan adik tiri laki lakinya.
"Raya, sayangku, aku tidak menyangka ibu tirimu dapat melakukan semua ini padamu" Kata pak Jaya, papa raya.
"Semua telah terjadi papa, untung ada mas Juna yang menyelamatkan diriku,
Ini dia orangnya papa" kata Raya sambil memperkenalkan Juna.
***
Beberapa tahun berlalu. Diam diam karena seringnya bertemu dan berinteraksi akhirnya nona Raya dan Juna jatuh cinta dan menikah.
Juna malu malu menyampaikan lamarannya. Tanpa di duga nona Raya pun merasakan hal yang sama.
Meskipun kaya raya dan jadi pewaris tunggal namun dia rendah hati dan mau menerima lamaran Juna yang hanya bodyguardnya.
Karena bagi Raya cinta tidak memandang harta dan tahta, saling menerima dan melengkapi kelebihan dan kekurangan pasangan itu yang utama. Lagipula Raya merasakan nyaman bersama dengan Juna.
Ibu tiri dan adik tiri terbukti merencanakan pembunuhan berencana dan dihukum seumur hidup .
Raya mengenakan gaun pengantin cantik berdampingan dengan Juna yang gagah dengan tuxedo hitamnya berada dalam sebuah mobil yang berhias dengan tulisan Just married.
"Selamat berbulan madu, happy wedding Raya Juna"
kata hadirin yang datang mengantar kepergian kedua pengantin itu menuju tempat bulan madu mereka.
Juna dan Raya akhirnya menyatukan cinta mereka.
Sekian.