"Berangkat Bu."
Aku pamit dengan ibu Ku.
"Iya hati - hati kamu Ayu."
"Iya Bu."
Nama Ku Ayu, aku bekerja di sebuah perusahaan belum lama baru sekitar satu bulan sebagai tenaga kesehatan di klinik.
Pagi ini aku berangkat agak gasik nggak mau kena macet seperti kemarin. Saat akan menyebrang kondisi jalanan sangat ramai sekali, aku menoleh ke kana dan ke kiri untuk mencari aman.
Setelah jalanan senggang aku pelan-pelan menyeberang jalan dengan menggunakan sepeda motor, namun saat aku belum sampai sebrang jalan terdengar suara tabrakan.
"Brakkk...."
Sontak semua orang yang ada di jalan itu berhenti dan melihat ke arah suara.
Terlihat dua pria yang terkapar dan sepeda motor yang rusak di beberapa bagian. Sepertinya yang satu ini pelari yang akan menyebrang tadi.
"Astaghfirullah, gimana keadaan orang itu."
Aku yang biasanya memang berkecimpung di bidang kesehatan melihat kecelakaan seperti itu merasa tidak tega, aku memarkirkan sepeda motor ke pinggir kemudian melihat korban kecelakaan itu.
"Mbak jangan mendekat." teriak seseorang karena pemahaman mereka siapa yang menolongnya nanti akan ikut tersangkut paut dengan kecelakaan itu.
"Kasihan Pak, saya perawat Pak. Kita harus memberikan pertolongan pertama."
"Kita tunggu polisi Mbak."
Aku yang sudah tidak sabar mengambil ponselku dan menghubungi ambulance, tak lama datang polisi dan juga ambulance untuk menolong mereka.
Aku di minta polisi untuk ikut naik ke atas ambulance, dengan segera aku naik dan ikut membantu petugas ambulan itu memberikan pertolongan kepada korban.
Sesampainya di rumah sakit, kedua korban langsung dibawa masuk ke UGD, aku di minta menunggu di sana oleh polisi karena aku harusnya tadi bekerja menghubungi klinik dan meminta izin akan berangkat siang.
Salah satu korban ini ternyata rumahnya luar kota dan hanya tinggal bersama kawannya di sebuah rumah. Ada ponsel yang sudah di ambil oleh polisi sudah menghubungi pihak keluarganya.
Korban itu belum sadar tapi karena kawannya sudah datang akhirnya aku pun diperbolehkan pergi dan aku berangkat bekerja.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Satu minggu kemudian aku berangkat bekerja seperti biasa, dan hari ini aku sudah sampai di perusahaan. Bersama dengan teman ku, Kita masuk ke klinik tapi ada seseorang yang memanggilnya.
"Mbak, bisa ikut saya."
Seorang pria dengan tergesa-gesa sedang berlari ke arah kita.
"Iya ada apa Mas."
Aku dan Dia saling tatap dan pria itu adalah asisten dari orang yang aku tolongin waktu kecelakaan itu.
"Mbak yang nolongin kawan saya waktu kecelakaan itu kan."
Aku juga tidak lupa dengan wajah pria yang ada di depanku ini dan aku menganggukkan kepalaku.
"Mas kok bisa di sini."
"Kamu kenal Yu." Teman ku jelas bingung karena dia belum pernah melihat sosok pria ini.
"Mbak, sekarang ikut saya. Kawannya kepalanya sakit dan tolong di periksa."
"Baik Mas, saya ambil peralatan dulu sebentar."
Aku masuk ke dalam dengan temannya itu untuk mengambil peralatan dan setelah itu mengikuti pria tadi.
"Masuk Mbak."
Aku dibawa ke ruangan Bos di perusahaan Ku.
"Ini tempat Bos Yu."
"Iya Al."
Aku masuk bersama temanku Alya dan nampak seorang pria yang merebahkan dirinya di atas sofa.
"Tolong diperiksa Mbak."
Aku menatap wajah pria itu dan benar saja, Dia pria yang mengalami kecelakaan waktu itu.
Pria ini mengalami sakit kepala mungkin karena akibat benturan saat kecelakaan waktu itu.
Aku dan teman ku mulai memeriksa dia dan dia pun tak mengenali kami karena waktu aku menolongnya dia tidak sadar.
Setelah selesai kita memintanya untuk beristirahat dan sebelum kami pergi, kawannya itu memanggil ku.
"Mbak tunggu sebentar."
"Iya Mas."
"Bos saya mau bicara sebentar."
"Bos?." Aku dan teman ku kaget.
"Iya Mbak, duduk dulu."
Kemudian pria tadi yang kita periksa keluar dari ruangannya.
"Bos, ini perempuan yang menolong Bos saat kecelakaan."
Pria itu menatap ku dan kemudian tersenyum.
"Terima kasih, telah menolong saya."
Dia mengeluarkan tangannya untuk bersalaman namun aku hanya menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada.
"Sama - sama."
"Jika tidak ada kamu, mungkin saya tidak selamat."
"Jangan bicara seperti itu Pak, semua sudah takdirnya. Kalau begitu kami permisi."
Kemudian kami pun pergi dan Dia menganggukkan kepalanya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Selang beberapa hari kebetulan waktu itu aku berjaga sendirian karena teman ku sedang izin.
Saat akan istirahat ada seseorang yang memanggil ku.
"Mbak, bisa ikut saya sebentar."
"Kamu lagi Mas, ada apa."
"Bisa ikut saya sebentar."
"Ada apa."
"Bos saya mengalami sakit kepala lagi."
Aku pun segera bergegas mempersiapkan peralatan dan mengikuti pria ini.
Sesampainya di ruangan Bos, aku tak melihatnya.
"Duduk dulu Mbak."
Aku duduk di sofa di ruang itu dan keluarlah Bos nya itu.
"Hai... Apa kabar." Sapanya ramah.
"Baik Pak." Aku jelas takut.
"Santai aja, Rio siapkan makan siangnya."
"Baik Bos."
Keluar beberapa menu makan siang dan tersaji di meja, aku pun hanya melongo dan tak paham.
"Maaf katanya Bapak sakit kepala lagi."
Bos nya ini mendelik ke asistennya dan Rio pun hanya terkekeh.
"Maaf Bos, saya bohong."
"Maaf Mbak, sebenarnya Bos Saya ingin mengajak makan siang tapi saya nggak punya alasan bagaimana mengajak Mbak ke sini."
"Rio..."
"Maaf Bos."
"Kenapa Bapak mengajak saya makan siang."
"Saya ingin mengucapkan terima kasih sama kamu."
"Terima kasih Pak, tapi saya merasa ikhlas menolong Bapak."
"Jangan panggil Bapak dong terasa tua banget. Ini sudah di pesan mubadzir nanti."
Aku bingung dan sekaligus canggung rasanya makan siang dengan Bos.
"Silahkan di nikmati bukannya menolak rejeki tidak baik ya."
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala ku. Dengan terpaksa Aku pun makan di situ dengan syarat asistennya juga ikut makan di sana.
"Nama kamu siapa."
Memang kita belum kenalan sejak awal.
"Ayu, Pak."
"Pak lagi, panggil aja Arya."
"Baik Mas Arya."
"Mas juga boleh." Dia tersenyum manis sih karena wajahnya juga cukup menawan.
"Ayu, bolehkan aku mengenalmu lebih jauh."
Aku sontak terdiam mendengar dia berkata begitu.
"Maksud Mas Arya."
"Saya ingin mengenal kamu lebih jauh, saya nggak main - main dan Rio saksinya."
Aku terdiam sesaat.
"Saya tidak bisa menjawab Mas, silahkan tanyakan kepada kedua orang tua saya."
Arya sedikit kaget tapi setelah itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, Saya akan ke rumah Mu."
Kini aku yang kaget, dia serius.
Singkat cerita akhirnya Mas Arya datang ke rumah dan berbicara dengan kedua orang tuaku dan akhirnya kami bertemu kedua keluarga dan membicarakan hubungan serius kami..
🥳🥳🥳🥳🥳