Ku duduk di sudut pojok kamarku. Kamar yang gelap tanpa penerangan. Yah aku suka akan kegelapan. Di sini aku bisa selalu mengingat semua tentang dia. Temanku saat aku masih SMA. Dulu aku tak begitu dekat denganya tapi ketika aku sekelas denganya dan duduk sebangku denganya. Sejak saat itulah kami selalu bersama, mengerjakan tugas bersama, pergi ke perpus bersama dan saat jam istirahatpun, aku selalu menghabiskan waktuku untuk sekedar ngobrol denganya. Seiring berlalunya hari, hubunganku dan dia semakin dekat hingga rasanya aku dan dia tak mungkin lagi bisa terpisahkan.
Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk kuliah di Unej dan dia meneruskan sekolahnya di jakarta. Yah dia lebih memilih untuk kuliah di jakarta dari pada di jember. Akupun tak bisa mencegah dia untuk tetap melanjutkan sekolahnya di jember bagaimanapun juga, aku harus menghargai keputusannya.
Empat tahun sudah berlalu, komunikasi antara aku dan dia tetap berjalan baik via sms maupun surat. Aku menaruh harapan yang begitu besar padanya. Yah aku berharap suatu saat nanti, dia akan datang melamarku. Aku sangat menyayangi dan mencintai dia, aku tak ingin pria lain selain dia. Hanya dialah yang aku inginkan. Aku selalu berdoa agar tuhan menyatukan aku dan dia.
Sebenarnya sudah banyak pria pria yang ingin melamarku namun aku menolaknya secara halus karena aku akan selalu setia menunggu dia apalagi dia sudah berjanji akan segera pulang dan meminangku.
Kini aku dan dia sudah lulus kuliah, sudah sama sama menjadi sarjana. Bahkan sekarang aku sudah mempunyai pekerjaan. Saat aku selesai wisuda, aku di minta untuk mengajar di SMP yang tak jauh dari rumahku. Diapun juga sudah bekerja di perusahaan terbesar di jakarta.
Akhir akhir ini aku sering menelphonenya untuk menanyakan kapan ia akan pulang dan melamarku namun dia tak pernah menjawab telphonku. Aku merasa sedih dan takut. Aku mulai putus asa, aku hawatir dia jatuh hati pada wanita lain. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa berdoa agar tuhan membukakan mata hatinya agar ia bisa kasihan padaku dan tak mengingkari janjinya.
Sejak saat itu bahkan sampai detik ini, ia tak pernah lagi menghubungiku bahkan setiap kali aku kirim pesan, ia tak pernah membalasnya. Aku merasa hidupku sudah tak utuh lagi bahkan aku merasa diriku sudah mati.
Tiba tiba saja, ibuku memanggilku. Membuyarkan semua lamunanku. Aku segera berdiri dan membukakan pintu.
“Ada apa bu?” tanya aku pelan
“Ada tamu, mereka mencari kamu.” jawab ibuku sambil melihat wajahku yang beberapa hari ini sudah tak terawat.
“Bilang saja aku lagi gak ada di rumah. Aku lagi males nerima tamu.” kataku yang acuh tak acuh. Yah hari ini aku tak ingin menerima tamu. Aku hanya ingin berdiam diri di kamar meratapi kehidupanku yang begitu menyedihkan.
“Tapi di luar ada kedua orang tua ivan.” Ucap ibu, yah ibu sudah tau tentang hubunganku sama ivan bahkan ibu juga sudah tau semua tentang apa yang aku rasakan saat ini.
“Apa bu? Ibu gak bercanda kan?” tanyaku, ada rasa senang yang menyelinap di hati aku. “Akankah penantian ini akan segera berakhir?” tanyaku dalam hati.
“Ibu gak bercanda, lebih baik sekarang kamu temui mereka. Jangan biarkan mereka menunggu lama. Ibu akan membuatkan mereka teh.”
“Iya, bentar lagi aku akan temui mereka.”
“Iya sudah, ibu mau ke dapur dulu.”
“Iya bu.”
Setelah ibu pergi, aku segera mengganti baju dan berhias sedikit lalu pergi ke ruang tamu dan menemui mereka.
“Maaf sudah menunggu lama.” Ucap elisa sambil mencium tangan orang tua ivan.
“Gak papa, nak.” Jawab buk linda, mamanya ivan.
“Kami ke sini karena ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada kamu. Tapi sebelum kami bicara panjang lebar lebih baik kamu membaca surat yang di titipkan oleh ivan buat kamu.” bu linda mengambil surat dari dalam tasnya dan memberikannya kepada elisa.
“Bukalah nak dan bacalah.” Kata pak hendro, papanya ivan yang terlihat begitu sabar.
Elisa mengambil surat itu dan membukannya. Ia membaca setiap kata yang di tulis oleh ivan.
“Assalmu’alaikum sayang.......
Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik baik saja. Semoga tuhan selalu melindungi kamu dimanapun kamu berada. Amiiiin
Sayang, sebelumnya aku minta maaf karena sudah lama tak memberi kabar.
Sayang, sungguh aku sangat menyayangi dan mencintai kamu bahkan saat ini aku begitu merindukanmu.
Sayang, jangan pernah berfikir bahwa aku menghianatimu. Sungguh, tak pernah sekalipun aku berhianat. Sejak aku meniggalkan kamu sampai sekarang aku selalu setia, aku selalu menjaga hati dan cintaku untuk kamu seorang. Namun keadaan membuatku harus meninggalkanmu dan meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya.
Ingin rasanya aku marah ketika kau tau, aku terkena kangker otak. Tapi kepada siapa aku harus marah? Sudah berapa kali aku keluar masuk rumah sakit untuk berobat namun semua usaha dan doaku tak membuahkan hasil. Kangker telah membuat hidupku menderita bahkan bentar lagi akan merampas nyawaku.
Sayang, dari dulu aku selalu mengimpi impikan bisa menikahimu, menjadikanmu sebagai istriku dan menjadi ibu dari anak anakku kelak tapi keinginan dan angan anganku harus aku kubur dalam dalam karena aku sudah tak mampu lagi melawan kangker ini.
Sayang, mungkin setelah kamu membaca surat ini, aku sudah tiada. Aku sudah pergi untuk selama lamanya. Aku minta maaf jika aku gak bisa menepati janjiku. Namun satu hal yang harus kamu tau, aku akan membawa cinta ini sampai mati. Aku juga akan selalu berdoa semoga tuhan selalu memberikan kebahagiaan kepadamu. Tetaplah tersenyum apapun yang terjadi. Senyumanmu adalah sumber kebahagiaanku.
Sayang, aku sudah tak mampu lagi untuk menulis surat ini. kepalaku terasa sakit, sakit sekali....
Sayang, sampai sini surat dariku. Salam sayang selalu....
(Dari ivan: yang selalu mencintaimu)
Elisa merasa sesak setelah membaca surat dari ivan. Ia tak menyangka ivan akan meninggalkan dirinya secepat mungkin. Elisa merasa kepalanya begitu sakit, ia pun jatuh tak sadarkan diri.