Bahkan saat sudah berusaha memperbaiki pun tidak akan ada yang mau mendengarkan mu. Dengan faktor materi, kecakapan, dan hubungan yang tergolong minim.
Aku sama seperti orang-orang pada umumnya, aku juga punya mimpi dan harapan.
Tapi kenyataannya tidak seperti harapan, saat yang diharapkan terlihat mudah kenyataannya sangat tidak mungkin.
Hari-hari ku begitu hampa, 20 tahun yang kulewati terasa tidak memiliki arti. Dalam bidang apapun selalu ada hambatan tidak terkecuali. Dalam keseharian, pendidikan, lingkungan, bahkan percintaan.
Hahahah semua masuk dalam penilaian yang minus.
Dunia pendidikan yang ku hadapi, harus selalu berhubungan dengan materi yang manumpuk tidak hanya sekali dua kali tapi hampir setiap saat. Ku akui IQ yang ku miliki rendah namun usaha selalu ku perbuat demi mendapat nilai. Aku selalu berharap mendapatkan nilai yang memuaskan namun di balik itu aku sadar dan hanya bisa melapangkan dada.
Yang tidak bisa ku terima dan selalu terselip di hati adalah kenapa, kenapa setiap urusan harus di tautkan dengan uang uang uang dan uang tidakah kalian semua tahu perbedaan itu ada dan benar-benar nyata.
Kita dilahirkan dengan tulang punggung yang berbeda. Jika kalian hanya membuka tangan dan memberi kode beda halnya dengan ku.
Aku harus kerja keras dan bersusah payah belum lagi terkadang usaha tidak membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya harus kembali banting tulang.
Bagi sebagian orang mungkin itu tidak benar adanya. Tapi bagi yang pernah merasakan hal yang sama itu memberatkan hati, jiwa, dan pikiran.
Larut dalam keterpurukan mencoba kesepakatan diawal dengan harapan semua akan kembali normal. Tapi naas cerita tidak semudah itu, bahkan saat materi sudah turun fisik dan waktu sudah menjadi miliknya. Sebanyak apapun alasan yang mampu kamu bubuhkan akan ada saja alasannya untuk tetap memperalat. Dan parahnya orang-orang disekitarnya mendukung apa yang diperbuatnya.
Dalam hal apalagi aku dapat bertahan, bahkan fakta fakta yang sudah ku lontarkan tidak berpengaruh apa-apa baginya. Sejak saat itu dan sampai saat ini aku tertekan olehnya. Bukan tidak berusaha memperbaiki, hanya saja dia benar-benar tidak memiliki rasa untuk saling menolong dengan pamrih. Dari apa yang sudah ku alami, dia tidak akan menolong tanpa mendapatkan keuntungan.
Aku dikirim dan diberi kepercayaan berangkat dari rumah untuk menuntut ilmu sebisa ku tanpa ada paksaan sedikit pun. Harapan mereka ada padaku bahwa hari esok pasti lebih baik.
Apa yang harus ku perbuat? mengeluh pada mereka? Aku takut beban pikiran mereka semakin bertambah. Karena pada dasar bukan hanya aku saja yang butuh perhatian mereka tapi masih ada saudara-saudara ku yang lain.
Atau menahan beban ini sendirian? Tapi aku tidak sekuat itu.