Byuurr....
Seorang gadis tiba - tiba saja melompat kedalam air.
Malam ini hujan turun cukup deras.
Kilat dan petir menyambar bersautan.
Menciptakan suasana yang cukup mencekam.
Arina, baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengamati derasnya hujan yang mengguyur bumi dibalik kaca jendela ruangnya bekerja.
Melihat jam ditangannya, Arina mulai menghela nafas, huufft...
Ini sudah lewat dari jam pulang kantornya.
Ruangannya saat ini sudah mulai sepi, hanya ada beberapa teman kantornya yang masih lembur.
" Rin, kamu gak pulang? " , tanya Dio salah satu teman Arina.
Arina menoleh ke arah Dio dan menganggukan kepalanya, " Iya baru mau pulang ".
Arina mulai bergegas meninggalkan ruangannya namun pertanyaan Dio membuat langkahnya terhenti.
" Rin, aku antar ya ", Dio menawarkan bantuan.
Arina menggeleng pelan, gadis cantik itu paham jika Dio berniat untuk mengantarkannya karena Dio menyukainya.
Namun dilain sisi Arina juga merasa tak enak pada Ardila temannya yang sudah lama menyukai Dio.
Arina pun tau iya harus menolak tawaran itu, dirinya tak mau memberi harapan pada Dio dan menyakiti hati Ardila temannya.
" Gak usah Yo, aku pulang sendiri aja, aku bawa motor kok jadi tenang aja oke " tukas Arina.
Arina pun berlalu meninggalkan ruang kerjanya, bergegas menuju tempat parkir karyawan, dan mulai mengendarai motor matic yang selalu mendampinginya.
Arina mulai menyusuri jalanan kota yang sudah senggang.
Selain karena sudah mulai larut, hujan pun menjadi alasan jalanan disini mulai sepi.
Arina terus memacu laju kecepatan motornya, namun saat di persimpangan jalan menuju arah rumahnya.
Tiba - tiba ada sebuah mobil yang terlihat hilang kendali dan akhirnya, byurrr..
Mobil itu terjun bebas ke sungai.
Tidak begitu dalam namun tetap saja berbahaya bagi pengendara ataupun orang yang terjebak didalam mobil tersebut.
Arina seketika menghentikan laju motornya. Berlari menuju arah sungai.
Arina segera merogoh ponselnya didalam saku jaket miliknya, mulai menekan nomor darurat petugas damkar.
Arina yang saat itu bingung harus berbuat apa, seketika muncul sebuah dorongan untuk menyelamatkan orang yang mungkin masih terjebak didalam mobil itu.
Tanpa banyak berpikir kembali, Arina langsung membuka jaket dan pantofelnya.
Byuurrr....
Arina masuk ke dalam sungai, merasakan dinginnya suhu air yang menyapa seluruh tubuhnya.
Arina berusaha menyelam kedalam, dirinya mulai mendekati bagian pintu pengemudi.
Seketika tubuhnya menegang, ' Apa dia sudah mati? ' batin Arina.
Tanpa membuang banyak waktu, Arina mencoba membuka pintu pengemudi tersebut namun gagal.
Dirinya mulai kehabisan nafas, berenang kembali ke permukaan untuk menghirup oksigen dan kembali lagi kedalam air, berusaha untuk menolong orang yang terjebak didalam mobil.
Mungkin Tuhan tau bila Arina mulai lelah, tiba - tiba muncuk kekuatan dari dalam diri Arina yang membuat dirinya bisa membuka pintu pengemudi itu.
Arina mulai melepaskan sabuk pengaman yang masih membelit tubuh seorang pria.
Setelah sabuk yang membelit pria itu terlepas, Arina mulai menarik pria itu ke permukaan.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Arina terus berupaya menyelamatkan pria itu. Membawanya ke daratan.
Arina mulai merebahkan tubuh pria itu, membuka sepatu, melonggarkan ikat pingangnya dan membuka dua kancing teratas kemeja pria itu.
Arina mulai mengecek pernafasan pria itu, namun tak terdengar hembusan nafasnya, lalu Arin mengecek denyut nadinya dan syukurlah masih terasa.
Arina mulai menjepit hidung pria itu, mengambil nafas perlahan dan yak Arina memberikan bantuan pernafasan pada pria itu.
Arina masih belum merasakan deru nafas pria itu, dan kini Arina mulai melakukan CPR ( resusitasi jantung paru) dengan tangan.
Caranya gimana melakukan pertolongan pada korban tenggelam? ( cari internet ya gengs ) pasti ada.
Tak lama pria itu mulai batuk, Arina membantu memiringkan kepala pria itu, dan akhirnya keluarlah air yang sempat menyumbat pernafasannya.
Setelah perasaan leganya, Arina mulai mundur dari sisi pria itu.
Berjalan menuju motornya, mengambil jaket miliknya.
Arina mulai menyampirkan jaketnya ke tubuh pria asing itu.
Dan tak lama para petugas damkar dan ambulance datang.
Mereka mulai bekerja membantu Arina dan pria asing yang Arina selamatkan.
***
Beberapa hari setelahnya.
Para karyawan nampak berbisik, mulai membicarakan sang bos baru, pengganti pak Abi, Presiden Direktur yang lama.
Mereka tidak tau kapan tepatnya sang Presdir datang.
Menurut desas desus yang beredar, sang Presdir sudah datang beberapa hari yang lalu namun karena ada suatu insiden, Presdir menunda kedatangannya ke perusahaan yang akan dipimpinnya.
Didalam divisi marketing nampak Arina duduk dengan arah mata menuju laptopnya diatas meja.
Tangannya terampil dalam memainkan tombol keyboard didepannya.
Arina tidak tertarik dengan yang dilakukan teman - temannya saat ini, ' bergosip '.
Dirinya bukan tipe orang yang suka bergosip.
Baginya, waktu di kantor ya waktunya bekerja, bukan bergosip.
Sebenarnya Arina gadis yang humble, ramah, mudah tersenyum, bukan pendendam, dan satu lagi dia itu manis.
Namun karena terlalu fokus terhadap pekerjaan, dirinya jadi kurang berinteraksi dengan temannya di kantor, itu yang membuat Arina kurang dekat dengan mereka.
Sama halnya dengan pro dan kontra, di kantorpun ada yang suka dan tidak suka terhadap Arina.
Dan orang yang paling tidak menyukainya justru adalah sang leader timnya, Misya sang kepala bagian tim marketing .
Entahlah apa yang membuatnya dibenci oleh Misya.
Misya selalu ketus dan suka marah - marah kepadanya.
Bahkan Misya sering memberi tugas yang menumpuk untuk Arina.
Arina yang memang menyukai pekerjaannya, ia pun baik - baik saja atas tugas yang diberikan oleh leadernya itu.
Disatu sisi, Reksa yang telah merasa baik setelah insiden tenggelam itu, kini tengah bersiap menuju perusahaan sang kakek.
Perusahaan yang akan dipimpinnya saat ini adalah perusahaan milik Dirgantara, kakek kandung dari Reksa.
Pemimpin sebelumnya adalah Abi, tangan kanan sang kakek.
Selain itu sang kakek juga menyuruh Abi untuk mengawasi dan membantu Reksa dalam memimpin perusahaannya itu.
Reksa kini tengah duduk dikursi kemudi, pria tampan satu ini mengendarai sendiri mobilnya menuju kantor.
Reksa tampak menekan earbuds yang ada di telinganya, menghubungi seseorang disebrang sana.
" Gimana udah ketemu? ", pertanyaan Reksa muncul kala sambungannya terhubung.
" Belum pak tapi benar kata bapak bahwa yang menyelamatkan bapak waktu itu seorang wanita ",jawab seseorang disambungan telpon itu.
" Ok sepertinya kamu harus segera menemukannya jika kamu mau bonus besar dari saya "
" Baik pak kami akan segera menemukannya "
Reksapun memutus sambungannya.
Tak berselang lama, Reksa kini telah sampai di kantor.
Reksa menatap gedung tinggi berdiri kokoh didepannya.
Segera memasuki gedung itu kini dirinya tengah disambut oleh Diki, orang yang akan menjadi sekertaris sekaligus asistennya.
Tak ada penyambutan dari para karyawan, karena memang Reksa tidak mau, jadi Diki pun tak memberi perintah pada yang lain untuk menyambut Reksa.
Reksa mulai menyusuri setiap ruangan dikantor barunya itu.
Dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya.
Hingga akhirnya Reksa masuk ke ruangan divisi marketing.
Reksa nampak tertegun kala menangkap sosok yang beberapa hari ini ia cari.
' Penyelamatnya '
Semua orang diruangan itu berdiri dan menunduk memberi hormat kepada Reksa, sama dengan yang lain Arina pun melakukan hal tersebut.
" Perkenalkan ini pak Reksa, presdir baru disini " , Diki mulai memperkenalkan Reksa.
Dan Reksa pun hanya diam, menatap lekat wanita dihadapannya.
" Selamat datang pak presdir " , sambut antusias para karyawan yang melihat makhluk tampan didepannya yang akan menjadi bos baru mereka.
Arina nampak diam setelah memberi salam kepada atasannya itu.
Dan hal itu membuat Reksa mengerutkan keningnya heran, ' Mengapa dia diam, apa dia tak mengenaliku? ' batin Reksa.
" Baik, saya Reksa tolong panggil nama saya tanpa embel - embel presdir ", tukas Reksa.
" Baik pak Reksa ".
" Bekerjalah dengan baik, dan ingat saya tidak suka ada yang bermalas - malasan, bila tak suka lebih baik keluar tanpa harus dikeluarkan ", ancaman Reksa yang begitu terdengar ngeri ditelinga karyawannya.
Reksa mulai meninggalkan ruangan itu dengan banyak pertanyaan.
Dia gadis malam itu kan?
Tapi kenapa dia hanya diam, apa dia tak mengenaliku?
Apa dia hanya berpura - pura?
Tapi dari ekspresinya dia memang seperti tak mengenaliku.
Reksa terus memikirkan sikap Arina tadi sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
**
Beberapa saat kemudian, Diki nampak masuk ke ruangan Reksa.
tok... tok...tok..
" Permisi pak saya mau menyampaikan jadwal anda hari ini " , Diki meminta ijin.
" Masuklah ", jawab Reksa mempersilahkan Diki untuk masuk.
" Hari ini ada rapat dengan para pemegang saham "
" Lalu ada beberapa laporan yang harus ada tanda tangani "
" Dan hari ini ada jadwal makan siang bersama dengan pak Anwar, klien dari perusahaan di Bandung "
" Lalu setelahnya anda ada jadwal bertemu dengan pak Dirga "
Diki selesai membacakan jadwal Reksa, kemudian memberikan sebuah map berisikan dokumen tentang data para karyawan, yang tadi sempat diminta oleh Reksa.
" Ini data yang bapak minta ",menyodorkan map putih di meja Reksa.
Reksa hanya mengangguk sekilas lalu mengambil dan membuka dokumen tersebut.
Diki hanya diam memperhatikan bosnya yang tengah fokus membaca satu per satu data karyawan bagian marketing.
Hingga akhirnya Reksa menemukan sosok yang dirinya cari.
Arina Salsabila Karisma.
Nama gadis cantik yang diyakini sebagai penyelamatnya.
Reksa nampak diam memandang foto Arina, ' cantik ' kata yang terlintas dibenak pria itu.
Reksa menarik ujung bibirnya, tersenyum tipis.
Reksa kembali menatap Diki, " Apa ada laporan dari bagian marketing? " , tanya Reksa.
" Ada pak mungkin sebentar lagi tiba karena tadi saya sudah memerintahkan agar segera membawanya kesini ", jawab Diki.
" Saya mau dia yang membawa laporan itu kesini ", Reksa menunjuk foto dari Arina.
Diki nampak bingung dengan perintah atasan barunya itu, namun tak ingin membuat sang atasan murka padanya, dirinya lebih memilih untuk menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh sang atasan.
" Baik pak saya akan mengabarkan bagian marketing " , Diki mengangguk lalu keluar dari ruangan Reksa.
**
Arina nampak bingung dengan perintah Misya, leader teamnya.
Melaporkan dokumen penting marketing adalah tugas Misya, kenapa sekarang harus Arina yang melakukannya.
Walaupun dirinya bingung dengan perintah sang leader kali ini, Arina tetap manjalankan perintah yang diberikan kepadanya.
Arina mulai melangkahkan kakinya ke ruangan sang presdir.
tok...tok.. tok..
" Masuk ".
Arina mulai membuka pintu sang bos dan berjalan masuk kedalam ruangan tersebut.
Reksa menatap intens Arina, menyakinkan bahwa dialah gadis yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya.
" Permisi pak saya Arina dari bagian marketing ingin menyampaikan beberapa laporan ".
Arina kini sudah berdiri dihadapan Reksa, dan yang dilakukan Reksa hanya diam menatap Arina dengan datar.
" Laporkan ",perintah Reksa.
Arina mulai memberikan satu per satu dokumen laporannya, sambil menerangkan isi didalam dokumen tersebut.
Reksa hanya tinggal membubuhkan tanda tangannya, karena semua dokumen itu telah lolos dari pemeriksaan Diki.
Setelah semua dokumen ditanda tangani, kini Reksa menatap Arina kembali.
Karena yang menatap hanya diam, yang ditatap pun merasa salah tingkah.
Arina mulai berdeham kala dirinya merasa tak nyaman dengan tatapan sang atasan.
" Ada yang kamu lupakan ", buka Reksa setelah beberapa saat diam.
" Emm.. maksud bapak? " , Arina balik bertanya.
Reksa mulai menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, melipat kedua tangannya didepan dada.
" Saya tidak suka bila saya harus mengulang pertanyaan " , tukas Reksa.
Arina mulai mengusap tengkuknya, bingung dengan pertanyaan sang atasan. Dirinya sudah melaporkan semua laporan yang dia bawa saat ini, lalu apa yang dia lupakan?
" Maaf pak tapi saya rasa saya sudah melaporkan semuanya dan tak ada yang tertinggal untuk dilaporkan " , Arina memberanikan diri menatap sang atasan.
' Tapi kamu lupa sama aku yang tampan ini ' batin Reksa.
" Kamu dipecat ", ucap Reksa.
Arina terkejut dengan ucapan sang atasan ' apa dipecat katanya '.
Arina mulai menatap bosnya kembali, mengumpulkan semua keberanian yang dimilikinya.
" Maaf pak tapi apa salah saya pak ? "
" Saya akan memperbaiki kesalahan saya pak "
" Tolong pak jangan pecat saya pak "
" Saya butuh pekerjaan ini pak "
" Saya mohon belas kasihan bapak, saya akan memperbaiki kesalahan saya dan akan berkerja lebih baik lagi pak, saya mohon pak jangan pecat saya ".
Arina memohon kepada Reksa.
Dan Reksa mulai bersorak dalam hatinya.
Dengan masih menatap datar Arina, Reksa mulai berbicara kembali.
" Baik saya akan beri kamu kesempatan atas kesalahan yang kamu lakukan ".
" Hal pertama yang kamu harus kerjakan adalah buatkan saya kopi ".
" Kopi hitam jangan terlalu manis, jangan terlalu kental tapi juga jangan encer dan segera bawa dalam 5 menit ke ruangan saya ".
" Bila tugas ini gagal jangan harap saya memberi kesempatan kembali kepadamu ".
Arina segera keluar dari ruangan Reksa menuju pantri.
" Astaga apa kesalahanku sampai dia mau memecatku " , gumam Arina.