Aku secara kebetulan menyelamatkan seseorang, dan hari ini aku mengetahui bahwa dia adalah bosku! Sepertinya dia mengenaliku, gimana ini?
Bukan apa-apa ... hanya saja jika dia mengenaliku, mau ditaruh di mana mukaku ini? Ini adalah hal yang paling tidak terduga dalam hidupku.
Terbesit sesal, kenapa tidak langsung menolong dia waktu itu. Aku bahkan dengan terbahak mentertawakannya, padahal dia sudah kepayahan dan ketika dia terluka baru menolongnya.
Kejadiannya tepat sore tadi, saat aku sudah meminta ijin pada majikan dan ibuku untuk pergi sebentar ke rumah nenek guna mengantarkan takjil buatanku.
Aku dan ibuku bekerja sebagai asisten rumah tangga, sementara ayahku sudah meniggal satu tahun lalu saat aku lulus sekolah menengah atas.
Semenjak ayah meninggal, kami memutuskan untuk bekerja di rumah orang terkaya kampung sebelah. Karena ayah meninggal sementara utang beliau sangatlah banyak, mau tidak mau rumah harus dijual dan kami harus bekerja.
Di jalan ada seorang pria sambil menggendong tas punggungnya tengah berlari-lari karena di kejar kawanan angsa yang memang sengaja dilepas.
Pria itu terpojok di sudut rumah warga, dan tidak bisa lari lagi hingga dia harus kena serangan dari semua angsa.
Aku yang melihatnya jelas tertawa, ketika dia terbentur daun pintu jendela rumah itu dan merintih kesakitan barulah aku menolongnya.
Mengambil ranting dan mengusir angsa-angsa yang sekitar dua puluh ekor. Masih dengan tawa, aku pun bertanya.
"Mas tidak apa-apakan?" tanyaku sambil menahan tawa kerena melihat dia begitu ketakutan.
Tangannya mengusap-usap kening sambil meringis.
"Kepalaku sakit," sahutnya.
Aku pun langsung berhenti tertawa. "Sini Mas, biar aku lihat." Aku menarik tangannya yang menempel di kening dan aku langsung kaget ketika melihat jejak darah.
"Duduk dulu Mas," kataku panik menariknya ke pohon besar dan mengambil sapu tangan di kantung celanaku yang memang sengaja ku bawa karena aku sering bersin, tapi sapu tangan itu masih baru dan belum aku pakai.
Ku letakkan rantang berisi kolak pisang di dekatnya duduk, sambil bersandar di pohon besar.
"Kenapa bisa sampai berdarah? Padahal kan cuman terbentur?" cercaku sambil mengusap darahnya.
"Nggak tau," katanya membuat aku sejenak menatap matanya yang juga membalas tatapanku.
"Mas tunggu di sini," kataku langsung memutus kontak mata dan berdiri.
"Mau ke mana kamu?" cegat dia menahan tanganku.
"Ke warung sebentar." Aku segera berlari tanpa menunggu jawaban darinya.
Tiba di warung yang tidak terlalu jauh, aku membeli plester untuk luka dan langsung kembali ke tempat di mana pria itu berserta rantang kolakku.
"Sini Mas, biar aku bantu tutupin lukanya pakai plester." Aku sudah membuka bungkus nya dan siap ditempelkan.
Tanpa diperintah dua kali, dia langsung memajukan kepalanya.
"Sudah," kataku lega.
"Terimakasih," balasnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Mas," pemitku meraih tantang dan kembali berdiri.
"Siapa namamu?" tanya dia cepat ikut berdiri dan memasang tas yang tadi dipeluknya untuk menjadi pelindung dari serangan angsa.
"Aku tidak pernah melihatmu di desa ini?" sambungnya.
"Saya Aya, Mas. Dari kampung sebelah," jawabku.
Tidak mungkinkan langsung pergi tanpa sopan santun, setidaknya aku harus menjawab pertanyaannya.
"Kampung sebelah? Ngapain kamu di sini?" raut penuh keingin tahuan begitu kentara di wajahnya.
"Saya kerja di kampung ini Mas, kebetulan mau ke tempat nenek dulu," balasku tersenyum ramah.
"Ohh," gumamnya mengangguk.
"Mau ku antar?" tawarnya.
"Nggak perlu Mas, aku sekalian nginap," ngelesku.
"Tidak apa-apa, aku antar saja," kukuhnya.
"Jangan Mas, jangan ...." jelas saja aku tidak mau, nanti apa kata orang-orang di kampungku.
"Jangan menolak, ini sebagai ucapan terimakasih Ku. Ayo aku antar."
Aku diam sejenak, ragu untuk mengiyakan. Belum sempat aku menjawab, dia sudah menarik rantang ditanganku.
"Biar aku bawakan."
Aku menghela napas pasrah, kalau sudah seperti ini bagaimana mungkin menolaknya.
Sambil berjalan dia mengajakku bicara. "Kenalkan, namaku Surya." Dia menyodorkan tangannya guna bersalaman denganku.
Aku tersenyum mengetahui namanya. "Nama yang bagus Mas," pujiku, dan memang benar adanya.
"Terimakasih. Apa kamu sudah lama bekerja di kampung ini?"
Aku mengangguk mengiyakan sebelum menjawab. "Hampir setahun Mas. Oiya, Mas orang sini?" balasku bertanya.
"Iya, aku asli orang sini."
"Saya baru lihat mas, di sini," kataku memang tidak pernah melihatnya.
"Aku kuliah di kota, dan tinggal di rumah pamanku. Bisanya kedua orang tuaku yang ke kota, untuk menjengukku. Tapi kali ini aku melarang mereka, karena aku yang ingin ke sini. Aku rindu dengan kampung halaman, dan rindu ketika berbuka puasa dengan suasana kampung," jelas Surya panjang lebar.
Aku yang tidak pernah ke kota hanya bisa mengangguk-ngangguk tanpa tahu bagaimana suasana kota yang sesungguhnya, karena bisanya aku hanya bisa melihat dari layar persegi kotak.
"Kalau begitu, mending mas pulang ke rumah saja. Pasti sudah ditunggu sama kedua orang tua mas Surya," bujukku agar Surya berhenti mengantarkan ku ke rumah nenek.
"Tidak apa-apa, mereka taunya aku pulang besok! Hari ini aku akan memberi mereka kejutan, tapi sebelumnya jalan-jalan dulu."
"Tapi mending se--------."
"Sudah, nggak usah dibahas lagi."
Kalimatku menggantung ketika Surya menyela untuk tidak lagi menyuruhnya pulang. Dengan bermalas-malasan aku berjalan menuju rumah nenek, tadinya aku sangat bersemangat sebelum bertemu Surya, tapi sekarang kalah oleh sinarnya.
"Kau sekarang bekerja, lalu kedua orang tua-mu ... apa mereka juga bekerja?"
"Saya kerja sama ibu juga, dan bapak sudah meninggal satu tahun lalu," balasku.
"Oh, kalian kerja apa?"
"Jadi pembantu Mas," jawabku jujur.
Mendengar jawabanku, Surya seketika diam. Aku meliriknya yang tengah menggaruk pelepisnya. Mungkin merasa tidak enak hati.
"Kenapa Mas?" tanyaku mengagetkannya.
"Maaf soal itu," ucap Surya segan.
"Tidak apa-apa, Mas. Yang aku kerjakan itu halal, jadi aku tidak malu dan merasa tersinggung." Aku tersenyum melihatnya.
"Ini mas, sudah sampai. Terimakasih karena sudah mengantarkanku." Aku mengambil rantang dari tangan nya ketika sudah berdiri pekarangan rumah nenek.
"Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu."
"Iya Mas, hati-hati," pesanku
"Hmmm, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," pandanganku tetap pada punggungnya yang mulai menjauh.
Kulihat sekitar rumah nenek dan tetangga, ternyata sepi dan hanya ada anak-anak yang asyik bermain tanpa menyadari keberadaanku. Untung saja tidak ada yang melihat aku diantar oleh seorang laki-laki, kalau tidak ... maka akan jadi bahan gosip ibu-ibu di sini.
"Emmm, sepi! Pasti ibu-ibu lagi sibuk masak ini," gumamku sambil menuju pintu rumah nenek.
"Assalamualaikum, nek?" panggilku sedikit berteriak.
"Wa'alaikumussalam, masuk saja," sahut nenek juga teriak.
Pintu memang sengaja tidak dikunci dan hanya ditutup, karena biasa para tetangga datang untuk menjahit baju dan langsung masuk setelah nenek menyahut salam seperti aku tadi.
Gegas aku masuk, dan ternyata benar saja. Nenek tengah menumis kangkung untuk dirinya sendiri. Walau nenek sudah sangat tua, beliau masih mampu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
Nenek adalah ibu dari bapak, nenek juga seorang janda sejak aku sekolah dasar. Pekerjaan yang dikerjakan untuk makan sehari-hari hanya dari upah menjahit baju.
"Nenek kira tadi siapa?" kata nenek saat aku menyusul beliau ke dapur untuk bersalaman.
"Ini nek, aku bawa kolak pisang." Aku meletakkan rantang ke atas meja makan.
"Terimakasih, Aya. Majikan kamu itu baik sekali, kalian harus menjaga kepercayan mereka terhadap kalian," pesan nenek sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
"Iya nek, Insyaallah."
"Apa kamu mau menginap?" tanya nenek tanpa melihatku.
"Nggak nek, nanti ibu kerepotan nyiapin sahur buat nyonya. Ya sudah nek, langsung balik aja," ijinku.
Aku segera pulang setelah kembali mencium tangan nenek dan mengucap salam.
Tiba di rumah majikan, aku mengambil jalan belakang agar langsung sampai ke dapur.
Aku lihat ibu sudah menyiapkan makanan untuk berbuka. Usai mencuci tangan aku membantu ibu menata makanan ke dalam piring.
Sambil menyusun makanan ke meja makan kami mengobrol, ibu bertanya keadaan nenek yang sudah seminggu ini belum bisa menjenguk. Ibu cukup lega ketika mendengar ceritaku, bahwa nenek sehat-sehat saja.
Kami berhenti berbicara saat nyonya rumah datang bergabung. Aku pun undur diri, karena ibu menyuruh untuk mencuci piring kotor dan nyonya yang mengambil alih pekerjaanku.
Suara beduk tanda berbuka puasa seketika sahut bersahutan dari toa masjid, tanpa barlama-lama kami langsung membatalkan puasa dan solat dulu baru melanjutkan makan.
Di rumah besar ini, hanya ada empat pekerja, dua di antaranya adalah tukang kebun dan supir, tapi mereka tidak tinggal di rumah ini seperti kami karena mereka memilih datang di pagi hari dan pulang di sore hari.
Tugas kami selanjutnya adalah membersihkan meja makan, semua piring kotor dan sisa makanan sudah berpindah ke dapur. Kini aku tinggal mengelap mejanya.
"Surya," panggil nyonya itu dari lantai atas mengangetkanku.
Reflek aku menoleh ke arah tangga dan bertepatan dengan orang yang tadi sempat mengantarku ke rumah nenek menyahut di tengah-tengah anak tangga.
"Iya mah."
Buru-buru aku berbalik, sebelum Surya melihatku.
"Kamu ke masjid pakai apa?"
"Jalan kaki mah."
Aku diam tapi menyimak pembicaraan mereka.
"Nggak naik motor?" itu adalah suara tuan yang sepertinya juga menuruni anak tangga.
"Enakan juga jalan kaki pah, motor aku aja sengaja aku tinggal di rumah paman. Biar bisa jalan-jalan santai."
"Ya sudah, kalau kamu mau jalan kaki."
Kedengarannya suara nyonya sangat dekat denganku, aku menelan ludah dan cepat-cepat berlalu.
"Cahaya." Aku mematung karena nyonya memanggil nama lengkapku.
"Aya," ulang nyonya.
"Iy-iya nyonya," jawabku sambil berbalik.
Aku terkesiap, benar-benar terkejut mendapati ketiga orang yang tadi berinteraksi sedang berjejer di hadapanku.
"Kamu tadi nggak ada, waktu anak saya datangkan?" Aku mengangguk ragu.
"Ini loh, anak saya. Namanya Surya."
Aku memandang pria yang menatap lekat pada diriku. Sudah lengkap dengan pakaian koko, sarung dan peci.
'Orang yang ku selamatkan dari serangan kawanan angsa, rupanya anak bosku.'
Tamat ....