Cahaya matahari yang begitu menyengat di siang hari membuat para siswa merasa bahwa ini adalah waktu yang pas untuk tidur. Tapi kenyataan berbicara lain, mereka harus mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut sang pengajar.
Seperti salah satu siswa berambut pendek bak batok kelapa. Beberapa kali dia menguap tanpa menutup mulutnya untung saja tidak ada serangga yang berminat masuk ke dalam sana.
Hingga siswi yang duduk di sampingnya menatap dengan jijik atau anak muda sekarang menyebutnya, ilfeel. Gadis ber-name tag Hanari Wiraguna pada seragamnya itu menatap kembali ke depan sambil menghela napas.
"Hhh ... ini membosankan!" lirihnya sambil menangkupkan tangan di atas meja dan menidurkan kepalanya.
Sementara bapak guru yang masih semangat menjelaskan menepuk tangannya berharap hal tersebut dapat membangkitkan semangat muridnya. "Ayo, ayo, ayo, jangan tidur semuanya! Sebentar lagi selesai kok!"
Tepat setelah pak guru melontarkan hal tersebut mereka serentak mengeluh. Sementara beberapa siswa yang lain masih berwajah segar seperti pagi tadi. Itu membuat yang lain bertanya-tanya, dari mana mereka mendapatkan kekuatan sebesar itu.
"Sungguh mengagumkan!"
Beberapa menit kemudian, kelas yang tenang dan gerah tersebut mendadak heboh karena entah dari mana datang seekor katak hijau nan berlendir melompat-lompat hingga yang melihatnya ikut melompat. Ada juga yang naik ke atas meja.
Kegaduhan menjadikan kelas tersebut, rangking 1 sebagai kelas paling berisik pada hari itu juga. Teriakan para siswi yang mendominan.
"Dari mana hewan menjijikan ini datang?" tanya siswi yang berusaha memanjat dinding namun sia-sia.
Katak tersebut melompat di atasnya, sontak dia langsung pingsan tanpa aba-aba. Beda ceritanya dengan Hanari, dia menghampiri katak tersebut, mengambilnya dan membuangnya keluar jendela.
Beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Pandangan mereka tersudut padanya. Karena bingung Hanari mengangkat bahu seraya bertanya, "apa?"
Kriiiing ...
Lonceng pulang berbunyi. Hal itu membuat para siswa sontak kegirangan dan berlomba-lomba keluar kelas sambil menenteng tas masing-masing.
Hanari sempat terjatuh karena desakan mereka ketika berlari yang dipikirkan pasti hanyalah rumah, makan, minum, dan tidur siang.
"Dasar murid-murid bod*h!" celetuknya. Dia berdiri dan menepuk rok belakangnya yang penuh debu.
Ketika semua sudah sepi barulah dia keluar dengan tas hitam di punggung. Saat seseorang meraih tangannya, dia berbalik setelah kaget.
"Kau! Beraninya melempar orang sembarangan seperti itu?" Seorang laki-laki dengan pakaian serba hijau dan aneh berdiri di depan Hanari membuatnya memiringkan kepala seperti sedikit bingung. Apakah ini mimpi? Atau halusinasi? Begitu pikirannya.
Laki-laki berkostum bentuk kodok itu langsung memukul kepalanya hingga Hanari hampir saja terjungkal. "Jawab!"
"Dasar orang aneh!" ejek Hanari sambil berbalik dan pergi menuju parkiran.
Laki-laki itu mengejarnya sambil menyodorkan pertanyaan, "kau yang aneh! Kau kan tadi membuangku melalui jendela!"
Hanari berhenti sejenak lalu merespon laki-laki yang aneh baginya. "Hey, hantu, pergi sana! Aku gak takut sama kamu!"
"Dasar rakyat jelata yang tidak ada sopan santun!" teriaknya ketika Hanari sudah jauh di depannya.
Laki-laki itu mengejarnya kembali sehingga rambutnya yang bergaya curtains naik turun ke belakang tertiup angin.
"Kalau bukan hantu ... itu acara yang aneh untuk memakai kostum kodok."
"Ini bukan kostum tapi ini adalah pakaian milik sang pangeran kodok," ujarnya sambil membusungkan dada dengan kedua tangan diletakkan di samping perut.
Hanari yang melihat gayanya seperti super hero itu hanya bisa tertawa dan saat itulah sang pangeran kodok terpesona akan kecantikan si putri, mereka pun akhirnya bahagia. Tidak, sebaliknya. Hanari menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Datar seperti biasa. Karena merasa tidak penting apa maksud dari si pangeran itu. Dia melengos pergi lagi dan menaiki taksi yang baru saja sampai.
"Hey! Sungguh wanita kejam, tak berperikepangeranan! Awas saja jika kita berjumpa lagi. Akan kujadikan kau pelayanku," monolognya disertai tawa jahat yang tidak seperti tokoh antagonis sesungguhnya.
Gadis bermata coklat itu terdiam selama perjalanan pulang. Menatap jalanan melalui kaca mobil, lalu menghela napas beberapa kali. Teringat akan masa kecilnya yang menyenangkan.
Bersama keluarga yang lengkap. Bermain tanpa ingat waktu. Tertawa nyaring penuh keceriaan bersama dua orang dewasa yang begitu dicintainya.
Sekarang semuanya tinggal kenangan. Hidup baru yang suram bersama keluarga baru. Kebiasaan baru dan aktivitas membosankan. Itulah yang ditangkap Hanari mengenai hidupnya sekarang.
Lamunannya dihentikan oleh supir taksi. Setelah membayar tagihan, dia keluar dengan wajah malas. Dibukanya pintu kemudian masuk tanpa melihat sekitar. Dia ingin cepat-cepat ke kamar tapi sepertinya itu harus tertunda karena salah satu dari anggota keluarganya menginterupsinya.
Dengan wajah kesal dia menatap lawan bicaranya. Tapi wanita dengan banyak perhiasan itu justru memandangnya dengan remeh.
"Jangan lupa menjadi anak yang baik! Sekarang waktunya makan siang tapi semua pembantu lagi sibuk. Duh, gimana dong, bentar lagi Papa kamu pulang. Gimana ya?" tanyanya sambil memperlihatkan kuku yang baru saja dipercantik dari salon.
Hanari memutar wajahnya tanpa berkata apapun dia kembali berjalan menuju kamar. Satu-satunya ruangan yang dapat membuatnya merasa bahwa ini adalah rumah. Jika bukan karena kamar ibunya dulu. Dia tidak akan pernah mau tinggal di sana tapi jika dia ikut dengan ibunya, keluarga baru ibunya tidak akan pernah mau menerima ibunya. Setelah itu ibunya tidak bahagia begitu juga dengan Hanari. Dia tidak bisa melihat air mata ibunya itulah sebabnya kenapa dulu dia setuju dengan keputusan ibunya yang ingin berpisah.
Tak terasa air mata terjatuh dari ujung matanya. Hanari menghabiskan waktu seharian menangisi ibunya. "Aku kangen banget sama Mama!"
Malam hari tiba, dia dimarahi habis-habisan oleh sosok yang dicintainya dulu dan sekarang tidak lagi.
"Nari! Papa ngomong, kamu dengerin gak?" tanyanya dengan nada bentakan.
"Nari, Mama gak bermaksud nyuruh-nyuruh, tapi Mama cuma pengen kita akrab, dan kata ibu tetangga, memasak bareng anak perempuannya bisa meningkatkan kasih sayang anak dan ibu. Mama gak tau ternyata kamu menganggap ajakan Mama dengan arti yang berbeda," ucap ibu tiri Hanari sambil mengusap pipinya yang dijatuhi air mata.
"Maaf." Hanari hanya mengucapkan satu kata dengan pandangan tertunduk ke bawah. Dia masih bersyukur, paling tidak ayahnya tidak akan pernah mengangkat tangan untuknya hanya karena wanita itu.
"Udahlah! Hari ini kita makan di luar!" titah ayahnya.
"Aku ada tugas kelompok, malam ini aku harus keluar ke rumah temen. Besok dikumpulin." Hanari menatap ayahnya berharap mendapatkan izin keluar rumah.
Dengan menghela napas sebagai jawaban pertama kemudian ayahnya berkata, "hati-hati di jalan."
Hanari memberikan anggukan sebagai jawaban terakhir lalu pamit keluar. Dia berjalan tanpa arah. Tak lupa dengan tas punggung hitam. Sesampainya di jembatan di melihat ke bawah.
"Aneh, kenapa aku gak ngomong aja kalo penyihir itu cuma butuh uang. Palingan disogok dikit dia langsung pergi dan cari cowok yang lebih muda." Seraya merentangkan tangan, dia menghirup udara sebanyak mungkin seolah-olah dia tidak akan kebagian lagi.
"Berhenti! Jangan bunuh diri!" Seorang laki-laki memeluk perutnya lalu menjauhkannya dari pembatas jembatan.
"Akh! Siapa yang berniat begitu? Kamu!"
"Berjumpa lagi dengan rakyat jelata namun sombong."
"Rakyat jelata? Aku berasal dari keluarga ternama dan keluarga golongan atas! Dari mananya yang jelata?" kesal Hanari. Baru kali ini dia berkata besar seperti itu padahal sejak dulu ibunya selalu mengajarkan untuk selalu rendah hati, tidak boleh membanggakan kelebihan di depan kekurangan orang lain.
Tapi saat ini Hanari sangat kesal sejak masalah rumah ditambah lagi diejek rakyat jelata, sungguh, peristiwa yang sangat tidak penting bagi Hanari. Dia pun melangkah menjauh. "Hey, tunggu, aku ti-"
Mendengar suara terputus, Hanari membalik badan. Tidak ada siapapun yang dilihatnya.
"Aneh, kemana dia pergi, cepat juga." Pandangannya tertuju pada kodok yang sama yang dia temukan di kelas. Awalnya dia ingin mendekati hewan itu tapi dia memilih untuk pergi ke kafe terdekat.
Tanpa dia sadari kodok tersebut mengikutinya. Sesampainya di kafe, dia memesan makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian teriakan salah satu gadis dalam kafe mulai membuat semua orang kaget, ikut teriak dan kacau. Akhirnya meninggalkan Hanari dengan wajahnya yang tidak peduli sekitar.
Hingga dia merasakan seuatu yang lendir hinggap di kakinya. Ketika dia melihat ke bawah dia langsung kaget dan berdiri. Bahkan sempat terjatuh dan hewan tersebut mendekatinya.
"Kirain ular, duh, sakit banget lagi!" rintihnya sambil memegang sikunya yang lecet.
"Dek, apa yang terjadi? Kok pelanggan saya tadi ramai jadi pada menghilang!? Baru juga ditinggal bentar." Seorang pria dengan pakaian koki datang.
Ya, ini adalah kafe kecil. Jadi hanya satu orang yang melayani pelanggan. Tidak ramai adalah suasana yang paling disukai gadis berkucir kuda itu.
"Eeh ... semua orang tiba-tiba keluar Pak, kayaknya mereka buru-buru."
"Oh, untung aja saya nerapin bayar didepan, jadi kejadian kayak gini gak terlalu merugikan. Jadi, makanannya mau dibungkusin aja?" tanyanya.
"Nggak usah, saya bisa makan cepet kok Pak," jawab Hanari sambil duduk kembali.
Sekilas dia melirik hewan dua dunia itu. "Merepotkan banget jadi hewan!"
*****
Pagi sekali Hanari berangkat ke sekolah. Seperti biasa menggunakan taksi langganannya setiap tahun.
"Pak, kenapa gak langsung jadi supir saya aja? Udah hampir setahun saya minta antar jemput ke bapak."
"Jangan gitulah Non, seenggaknya saya bisa pulang kapanpun saya mau. Ada tanggungan di rumah yang harus dijaga," jawab pria bernama Manto.
Hanari ingat, dulu pak Manto menyatakan hal yang sama ketika menolak ditawari jadi supir pribadi. Dia tidak mau punya majikan dengan begitu dia bebas mengutamakan keluarga. Sementara Hanari tidak mau dicarikan supir pribadi, dia mengatakan bahwa orang lain tidak bisa berada di dekatnya selama itu.
Lebih tepatnya dia tidak mudah percaya orang lain. Meski itu adalah orang kepercayaan ayahnya. Jangankan orang asinh, ayahnya sendiri pun dia tidak percaya. Bagaimana bisa pria yang hangat berubah menjadi dingin dan pemarah hanya untuk wanita asing yang tidak jelas dan perusak keharmonisan keluarganya.
Gara-gara wanita itu menjadi orang ketiga. Dia sampai harus kehilangan kedua orang yang disayang. Ibu yang sulit ditemui dan ayah yang berbeda.
"Sudah sampai, Non." Perkataan Pak Manto membuyarkan lamunannya.
Dia turun dari taksi dan duduk di kelas sambil menidurkan kepalanya di atas meja.
"Han, Han, tidur mulu!" Anak laki-laki yang duduk di sebelahnya menegurnya.
"Bukan urusanmu!" ujarnya sambil membalikkan posisi ke arah berlawanan dari posisi duduk siswa bernama Juna. Sehingga yang sedang dia pandang bukan lagi Juna melainkan tembok bercat putih.
Tak terasa jam istirahat berlangsung. Semua siswa bergegas menuju kantin kecuali Hanari, hampir tidak pernah makan di kantin. Baginya, masakan kantin mengingatkannya pada masakan ibunya. walaupun sebenarnya lebih enak milik ibunya tapi dia hanya teringat sosok ibunya jika yang memasak makanan adalah wanita dewasa.
Itu sebabnya dia semalam lebih suka berada di kafe itu. Karena yang memasak adalah pria dewasa. Tiba-tiba ada tangan mengusap rambutnya dengan pelan. Sontak dia kaget dan memukul wajah orang tersebut. Hingga orang itu pun meringis kesakitan.
"Ngapain kamu di sini! Pergi!"
Orang itu masih memegang hidungnya yang memerah berharap rasa sakitnya musnah.
"Aku datang karena kulihat kau tadi menangis, jadi entah kenapa tanganku malah-" Belum selesai dia berbicara Hannari mengusirnya.
"Pergi! Sebelum ada yang lihat dan kamu jadi bahan komedi mereka!"
Brak!
Pintu terbuka paksa menampakkan tiga siswa laki-laki di kelasnya.
"Han, tadi aku denger kamu ngomong sama orang. Mana dia?"
"Latihan drama, minggu depan kan pengambilan nilai." Hanari menjawab dengan tenang lalu melanjutkan acara tidurnya.
"Drama?" tanya siswa berseragam tidak rapi sambil menatap wajah temannya.
"Mengambil nilai?"
"Minggu depan?" Mereka bertanya satu sama lain sambil bertukar pandang.
Saat itu Hanari juga memiliki pertanyaan yang bermunculan. Siapa laki-laki itu? Kenapa dia selalu muncul dan menghilang dengan cepat? Apa dia hanya manusia biasa atau hantu? Dan kostum dari acara apa yang dia pakai?
Sepulang sekolah Hanari menghubungi Pak Manto untuk tidak menjemputnya, dia beralasan akan menginap di rumah temannya. Tapi itu bohong, dia pergi ke hutan yang mempunyai pemandangan tersembunyi. Ada sungai jernih mengalir di sana lengkap dengan ikan dan air terjun kecil.
Tak lama kemudian dia duduk di kayu dan menurunkan kakinya untuk merasakan jernih air sungai dan gelitik dari aliran air. Kemudian kodok yang sama datang lagi.
"Kamu lagi, pembawa masalah, di sini gak ada siapa-siapa. Jadi kamu gak bisa bikin masalah di sini." Hanari berbicara pada hewan hijau tersebut tanpa sadar bahwa dia terlihat seperti orang tidak waras berbicara sendiri. "Asal kamu tau ya, aku gak takut sama hewan kayak kamu soalnya mamaku itu pecinta hewan, dia gak ada jijik sama hewan apapun dan sifatnya turun ke aku. Tapi aku harap sifat egoisnya gak ikut turun. Soalnya gara-gara mama sibuk dengan hewannya dibandingkan papa, mama jadi kehilangan papa karena diambil wanita lain yang katanya lebih perhatian ke papa. Dan aku kehilangan keduanya. Coba aja dulu mama gak memprioritaskan hewan-hewan itu, pasti sekarang keluarga kami harmonis seperti dulu. Tapi gak ada gunanya juga menyesal. Kalau orang dewasa udah ngambil keputusan, anak-anak cuma boleh diam. Kamu kalau punya keluarga jangan gitu ya! Harus jaga baik-baik anak dan istri atau suami, terserahlah."
Hanari menceritakan banyak hal bahkan sampai menangis. Dia tau bercerita pada hewan adalah sesuatu yang tidak normal tapi bukan itu pointnya. Yang dapat diambil adalah ketika dia bisa mencurahkan semua yang tertahan dan itu yang membuatnya lega meski bukan jauh lebih baik. Tapi cukup mengurangi.
*****
Matahari telah tenggelam bersama dengan cahayanya dan akan kembali esok hari. Tak sadar sudah berapa jam gadis bermata sembab itu tertidur di pangkuan seseorang. Sambil mengusap kepalanya agak merasa nyaman saat menjelajah dunia mimpi. Karena sudah terlalu lama tertidur, senyaman apapun dia tetap bisa terbangun.
Ketika membuka mata, dia melihat wajah orang yang ditemuinya di sekolah, jembatan, kelas, dan sekarang berada tepat di atasnya. Sejenak dia tersihir oleh ketampanan wajah oval tersebut. Dengan lambat dia mengulurkan tangan dan mencubit pipi laki-laki itu.
"Aduh! Sakit!"
Mendengar rintihannya yang nyata sontak Hanari terbangun dari pikirannya yang mengatakan bahwa dia bermimpi seorang pangeran tampan berkuda putih ternyata laki-laki berkostum kodok. Dia pun bangkit saat itu juga.
"Kamu ngapain ada di mana-mana sih? Stalker ya? Penjahat wanita?" tanyanya bertubi-tubi sambil menyilangkan tangannya seolah itu adalah tameng.
"Benar." Mendengar jawaban tersebut Hanari melebarkan matanya.
"Kurang ajar!" Hampir saja dia akan memukulnya tapi tiba-tiba dia berubah menjadi kodok. Hewan yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.
Hanari terkejut, dia mendekat dan menatapnya lekat.
"Manusia berubah jadi kodok? Ini pasti mimpi!" Dia berkali-kali menampar pipinya. Tapi tidak terbangun juga.
"Ini bukan mimpi."
"B-bagaimana bisa?" tanya Hanari terbata-bata.
"Hanari saat aku menjawab benar, bukan berarti aku penjahat. Tapi aku ingin mengatakan, sejak awal bertemu memang benar kita belum berkenalan jadi perkenalkan namaku Ken," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Hanari berpikir sejenak, tidak ada salahnya mengenal orang baru. Dia menjawab uluran tangan tersebut dan berkata, "kamu udah tau namaku, jadi aku nggak perlu memperkenalkan diri."
Ken terkekeh mendengarnya dan menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Malam itu juga mereka menghabiskan malam bersama bertukar cerita. Ken mengatakan bahwa dia aslinya manusia tapi gara-gara penyihir, dia berubah menjadi kodok seumur hidupnya dan dia tidak tau bagaimana cara mematahkan mantra yang diberikan pada minuman Ken saat dia masih berumur 11 tahun. Selama menjadi kodok, dia dianggap berbeda oleh kodok asli. Itu sebabnya dia diangkat menjadi anak raja kodok dan dipanggil pangeran kodok bahkan dia jadi bisa berbahasa hewan bukan hanya kodok.
"Waktuku hampir habis. Hanya 1 jam untuk siang dan malam. Aku harus menunggu besok pagi agar bisa berwujud manusia seperti sekarang." Sesaat setelah mengatakan hal tersebut dia kembali menjadi kodok.
Esok paginya adalah akhir pekan. Hanari sibuk mengotak atik komputernya mencari tau hal yang sulit dipercaya. Dia tidak menemukan apapun. Kecuali cerita-cerita fiksi.
Suatu ketika termenung, dia melihat barang antik di bawah lemari belajarnya, tepatnya berada di kolong. Karena penasaran, dia pun mengambilnya dan menaruh di atas kasur. Dilihat dari tampilannya itu adalah barang antik. Tetapi terkunci hingga sulit dibuka.
Dia mengambil palu dan besi berat lainnya. Naas, itu sia-sia. Hingga dia berkeringat dan tertidur. Pada malam hari dia memberanikan diri keluar berharap didatangin oleh Ken. Sambil membawa kotak antik yang dia temukan.
Firasatnya mengatakan bahwa kotak tersebut ada hubungannya dengan kutukan Ken. "Ken, muncul dong!"
"Nari," panggil Ken. Hanari berbalik dan segera menghampirinya.
"Aku gak tau, tapi aku punya firasat kuat dengan kotak ini."
"Aku tidak tau milik siapa ini dan kenapa kau membawanya?" tanya Ken dengan kedua alis bertaut.
"Aku pikir di dalamnya ada energi kuat," jawab Hananri dengan percaya diri.
"Aku pikir kau kebanyakan nonton film."
"Oke, ini emang gak masuk akal tapi lebih gak masuk akal itu kamu." Hanari melemparkan kotak itu di depan Ken dan langsung pergi tanpa kata.
Hari berganti siang dan sekolah telah dimulai. Suasana sekolah begitu ramai sebelum jam 7 karena akan ada upacara bendera.
Selama pelajaran berlangsung, Hanari fokus pada penjelasan guru dan mengerjakan tugas sekolah dengan baik. Hingga tak terasa lonceng pulang berdering.
Saat pulang sekolah dia mendapat pesan dari ponselnya bahwa Pak Manto tidak dapat menjemputnya tetapi di depan gerbang dia ditunggu oleh seorang wanita yang sangat dia rindukan.
"Mama!" gumanya sambil berjalan cepat menjauhi ibunya. Namun ibunya dengan cepat menangkap tangan mungil putrinya.
"Mama kangen banget sama kamu, Nari. Ikut mama bentar aja ya!"
Hanari luluh dengan permintaan ibunya. Mereka masuk ke mobil milik keluarga baru ibunya dan pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Selama makan, ibunya Hanari berusaha menghangatkan suasana tapi berbeda dengan Hanari, dia hanya menjawab satu atau dua kata lalu diam tanpa bertanya kabar ibunya.
"Kamu tau gak? John kangen banget loh sama kamu."
Hanari berhenti makan dan menatap ibunya lalu bertanya, "kucing kesayangan Mama itu? Sekarang aku tau kenapa Mama ngajak aku ke sini."
Tapi saat itu juga dia sadar, ada yang berbeda dari ibunya. Kalung di leher ibunya berbentuk kunci. Saat itu juga Hanari pikir tidak ada salahnya makan bersama ibunya.
"Mama gak-"
"Kalung yang bagus, Ma," ucap Hanari memotong pembicaraan ibunya.
Melihat putrinya mulai berbicara padanya dia pun mengambil topik itu.
"Ini pemberian nenek kamu," ucapnya sambil menunjukkan kalung yang masih bergantung pada Hanari.
"Buka dong, jadi pengen punya." Mendengar permintaan Hanari, ibunya kaget dan terdiam.
"Mama minta maaf, bukannya Mama gak mau tapi, ini pemberian dari nenek kamu diturunkan ke Mama. Mama janji setelah Mama tua, ini bakalan Mama turunin ke kamu."
"Gak usah, aku cuman pengen pake sebentar aja. Tapi gak jadi, Ma. Aku udah gak tertarik," tolak Hanari sambil tersenyum paksa.
Mereka pun keluar dari restoran tapi belum sampai masuk mobil. Ibu Hanari terkena penjahat jalanan, kalungnya dirampas paksa dan pelaku kabur entah ke mana. Tanpa pikir panjang Hanari berlari mengejar orang itu dan dia melempar kepala pelaku menggunakan sepatu sekolahnya.
Puk!
Orang itu terjatuh dan pingsan. Kemudian ibunya datang dan secepat kilat Hanari menyembunyikan kalung ibunya dan berkata bahwa pelaku sudah kabur bahkan sempat menodongkan senjata padanya tapi untunglah Hanari dilepaskan begitu saja asal tidak dikejar lagi.
Ibunya percaya begitu saja dan membiarkan hal itu terjadi yang terpenting baginya adalah keselamatan anaknya. Mereka pun pulang hingga hari menjelang sore. Sesampainya di rumah ayah Hanari, ibunya ditelpon oleh anak tirinya.
"Mama jalan sama anak sombong itu ya?! Pake mobil Papa lagi! Pokoknya Mama pulang sekarang juga! Atau aku kasih tau Papa nanti!" bentak seorang anak perempuan bernama Denira.
Sambungan pun terputus. Hanari menatap ibunya dengan tatapan senang.
"Mama, jangan pedulikan aku. Melihat Mama bahagia itu adalah kebahagiaan aku juga. Soal tadi di kafe, aku minta maaf. Aku gak akan ngulangin itu lagi. Aku senang Mama masih peduli sama aku!" tutur Hanari sambil memeluk ibunya dengan erat. Ibunya terharu bahkan sampai meneteskan air mata bahagia.
Hari kembali gelap, Hanari belajar di kamarnya dengan serius. Setelah mengerjakan tugas rumah. Dia mengeluarkan kunci dari dalam saku seragamnya dan meletakkannya di meja. Duduk seraya menatap kalung bewarna emas tersebut.
"Kunci ini ... kenapa dengan idiotnya aku ngasih kotak itu ke dia. Dia kan gak ada pikiran!" monolognya sambil menjitak kepalanya sendiri.
Tok! tok!
Suara ketukan jendela terdengar. Hanari kaget hampi terjengkal dari kasulnya. Dibukanya jendela dan Ken masuk dengan tergesa-gesa.
"Ngapain kamu masuk kaya pencuri gitu?" tanya Hanari setelah menutup jendela dan gorden.
"Aku ingin melihatmu, apa itu namanya rindu?" Wajah Hanari memerah mendengar pernyataan Ken. Apa dia tidak salah dengar? tanyanya dalam hati.
"Ken, aku punya sesuatu." Hanari menunjukkan kalung berbentuk kunci pada Ken. "Kamu bawa kotaknya kan?" lanjutnya bertanya.
"Oh, ya, aku minta maaf soal kemarin," ujar Ken sambil menyodorkan kotak antik.
"Gak penting." Singkat, jelas, dan padat itulah yang dipikirkan Ken mengenai balasan dari Hanari.
Mereka pun membuka kotak tersebut dan menyilaukan mata. Di dalamnya terdapat botol kecil berisi cairan yang tak diketahui untuk apa. Awalnya mereka berdebat tentang siapa yang harus mencobanya akhirnya Ken mengalah dan meminum cairan tersebut.
"Kau benar-benar wanita terkejam yang pernah kutemui." Hanari hanya tertawa sebagai balasan.
Melihat pertama kalinnya Hanari tertawa membuat Ken terpesona sejenak. Beberapa jam berlalu, tidak ada kejadian aneh apapun. Atau kejadian mencurigakan. Apalagi kejadian mengenaskan. Tiba-tiba Ken berteriak kegirangan.
"Ken! Jangan berisik!" titah Hanari sambil menutup bibir Ken dengan jari telunjuknya.
"Hanari, terimakasih!" Ken langsung memeluk Hanari. "Sekarang aku sudah menjadi manusia biasa! Ini semua berkat dirimu."
Hanari yang senang melepaskan pelukan Ken dan berusaha memastikan sambil bertanya, "serius?"
Ken mengangguk dan mereka berpelukan kembali. Beberapa waktu berlalu. Mereka menjadi kekasih dan Hanari yang dirumorkan sombong, dingin dan cuek berubah menjadi Hanari yang ceria dan ramah ditambah lagi ada seseorang yang sangat menyayanginya.
TAMAT