Cit cit cit.. Huuuussstt
"Aaagrh, enak sekali meregangkan tubuh ini"
Tok tok tok.. "Non... apa uda bangun?" triak suara Dari balik pintu
"Sudah bik, masuk aja" sahutku dari kamar, karna ku yakin itu suara bibik pengasuhku
ceklek. Bik Sumi masuk membuka tirai dan jendela kamarku. "Non. bik sumi mau lapor untuk laporan pagi ini" katanya setelah berdiri tepat dipinggir tempat tidurku
Aku tersenyum dan menganggukkan kepal. Bik Sumi orang yang mengasuh aku dari aku kecil dan aku uda menganggap dia seperti keluargaku sendiri.
"Pagi ini di rumah tidak ada orang. bapak akan pergi keluar kota selama sepekan" lapornya padaku
Aku melompat dari tempat tidur, memeluk Dan mencium pipinya seperti yang ku lakukan tiap pagi.
Aku adalah anak tunggal keluarga Adira, aku tak memiliki ibu sejak kecil bik sumilah yg merawatku. namaku 'Yura Adirae Agustin' dipanggil 'Dira'.
Saat ini aku bekerja disebuah Rumah Sakit sewasta sebagai seorang bidan. Dan aku memiliki sahabat yg bernama 'Rike Amira dan dipanggil Keke', dia anaknya tomboy dan baik banget dan dia uda punya pacar yg sebentar lagi mau dinikahin namanya Bagus. Ya.. bisa dibilang pacarnya ini dari golongan menengah keatas (kaya).
Senen pagi yang melelahkan. Pekerjaan di Rumah Sakit sangatlah banyak dari pagi sampai siang belum juga kelar.
"Aduh capeknya. apakah ada uang lembur hari ini!" triak rike rekan kerjaku sekaligus sahabatku ini dibagian obat karna dia adalah Apoteker
"Heleh. kenapa kau selalu mengeluh sih ke" balas Dini yang dibagian pendaftaran
"Keke mah kalo uda dikasih segelas capcin pasti juga akan jinak" sahutku.
Whahahahaaa tawa kami bertiga memenuhi ruang istirahat dibelakang apotik.
"Dira" pinggul Keke pada ku
"Hem" sahut ku malas
"Kamu gak pengen punya pacar dir" tanya keke padaku
"..."ku lirik tanpa ku jawab
"Hahaha. kau kayak gak tau aja ke" jawab dini
Dini ibu muda yang cantik karna dia baru aja melahirkan.
"Hallo hellooo... hay gaes kalian tau gak kalo anak direktur Rumah Sakit ini akan datang dan menggantikan ayahnya sebagai direktur" Cerita Puri yg seorang perawat dan berperiawakan centil.
"Hello hany bany" sahut keke sambil mencubit pipi Puri
"Siapa namanya Pur?" Tanya Dini
"Hais. jangan dipanggil pur, emang e aku makanan itik pur-pur" geramnya
"Hihihi... yela bang tak usalah marah nanti hilang loh cakepnya" ledekku
"Adu cintaaaa.. aku suka deh sama kamu" jawab puri
"Kalo gak salah tadi namanya sapa ya. aduh lupa tanyain sama cowok kamu deh ke, dia kenal kayak e tadi" jawab Puri pada jelek
"Cowok ku kenal anak direktur Rumah Sakiy ini? Waaa.... keren bisa minta dinaikkan gaji aku" keke teriak kegirangan.
"Bagai mana bisa Bagus kenal dg anak direktur Rumah Sakit ini?" Tanya Dini. Dan aku setuju dengan menganggukkan kepala
"Aduh uda dech kalian jangan mengumpul di apotik aja, ayo keluar kita liat dunia luar" ucap puri pada kami bertiga
💖💖💖
"Haah! siapa ini kok ada nomor tak ku kenal menghubungiku?" sesaat aku lari keluar dari kamar mandi karna suara ponselku yg berbunyi di meja riasku, dan ternyata aku tak kenal nomor seiap. Karena ku pikir itu adalah ayah ku.
Tok tok tok pintu kamarku diketuk seseorang.
"Iya masuk aja gak usa ngetok pintu" teriakku dari dalam kamar dan mau balik ke kamr mandi karna belum selesai mandi
Ceklek.. aku dengar pintu kamarku terbuka.
"Tunggu sebentar ya bik. tar lagi selesai" teriakku dari kamar mandi.
15menit berlalu dan aku uda selesai, aku keluar dan mau ganti baju. Ternyata bibik sudah gak ada,mungkin dia cuma ngambil sesuatu dan pergi lagi pikirku.
Aku pun melepas handuk yang melilit tubuhku dan menggantinya dengan pakaian, setelah ku kenakan semua pakaianku, aku beranjak kemeja rias ku dan betap terkejutnya aku karna ada cowok dari balik jendela yang terpantul dg kaca meja rias ku dan sedang menatapku.
"Hay. si.. si.. siapa kau" teriakku,
dia melangkah masuk dan maju ke arahku. Setelah berada tepat didepanku dia mencondongkan wajahnya
"Gusti Allah cakep bener sih dia" batinku
"Eh.!" aku terkejut karna dia tiba-tiba menyentuh kepalaku
"Rae... " panggilnya tepat ditelingaku.
Tunggu, Rae? panggilan ini hannya dia yang memanggilku dengan nama ini. "Dia...? tidak mungkin" batinku
"Alex" ucapku liri sambil menatapnya penuh tanya
"Kau tumbuh sangat cantik Rae" jawabnya sambil tersenyum
"Dan masih tetep sepetri dulu, tidak ada kewaspadaan diri. Hari ini aku bisa menahannya, tapi jika nanti terlihat lagi oleh ku seperti yang kuliat tadi, aku tak akan menahannya lagi. ingat itu" ucapnya sambil duduk ditempat tidurku
"Jadi kau beneran Alex?!" tanyaku menggebuh
"Ya. aku Alexmu" jawabnya sambil tersenyum
"Kau sudah melihat dari mana" tanyaku dengan nada seolah marah
"Semua. dari awal sampai akhir. sungguh sangat indah. aku gak nyangka begitu sampai sudah disuguhi pemandangan yang sangat erotis" jawabnya santai membuatku semakin kesal.
Dia adalah teman kecilku, aku mengenalnya saat dia pindah sekolah di sekolahku dan kami selalu bersama karna kami sama. Sama-sama gak punya ibu. dia teman baikku "Alexsander Yustaf"
"Makan ayuk Rae. aku laper karna begitu nyampek aku langsung kesini" rengeknya padaku
"Baiklah ayo. aku juga laper baru pulang kerja" jawabku
Skip di sebuah Restoran deket dengan rumahku
"Lex. ada apa kok tiba-tiba ke Indonesia?" tanyaku sambil menunggu menu yg kami pesan. Kami duduk di ujung lestoran deket kaca yg mengarak ke luar.
"Kenapa? kau g suka aku disini?" tanyanya padaku
"Bukan begitu. kenapa kok tiba-tiba aja" tanyaku penasaran
"Aku akan bekerja di sini" jawabnya
"Benarkah?" aku merasa sangat senang
"Hem" Alex mengangguk dengan tersenyum melihat reaksi ku.
"Kau akan kerja dimana?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Kenapa kau ingin tau, mau ikut dengan ku?" godanya pada ku.
"Permisi kak. ini hidangannya, terima kasih telah menunggu dan selamat menikmati" ucap pegawai restoran dan ku liat dia sesekali menatap Alex. Ya Alex emang sangat menonjol
"Terima kasih" jawab Alex sambil tersenyum pada pegawai yang menyajikan menu yang kami pesan.
"Dasar Alex" gumamku
"Apa. Kau bilang apa tadi?" tanyaknya padaku
"Gak, gak ada" jawabku singkat
Rutinitasku kujalani seperti biasa. Bekerja, membantu masalah Alex, menemani Alex makan dan mendengarkan rengek-rengek an dia tentang semua pacarnya.
"Gila, gak terasa uda berapa bulan aku disibukkan dengan aktifitas Alex yang menyita semua waktuku untuk diriku sendiri" gumanku
"Kenapa Di?" Tanya keke sahabatku
"Kau kelihat lesu banget" sambungnya
"Iya nih ke. aku capek banget" jawabku sambil merebah punggungku dibantalan kursi di ruang obat
"Hem... jangan terlalu dipaksain. kalo capek ambil cuti aja" saran Dini yang menyahut begitu masuk ke ruang obat.
Aku tak jawab dan membalasnya dg senyuman.
"Ke kantin yuk aku laper. Diruanganmu ada yang jaga kan di?" Tanya keke
"Hem" sahut ku
Setelah sampai di kantin kami bertiga memesan makanan dan mengobrol ringan.
"Hay nona-nona cantik dan ibu muda yg sexy" sapa puri pada kami.
Ya kami berempat bisa dibilang selalu bersama karna tanpa sengaja kami jadi dekat satu sama lain.
"Nona-nona apa kalian tau? Direktur baru kita yang sangat tampan dan muda ternyata hot banget dan dia mengerikan" ceritanya sangat bersemangat
"Memangnya kenapa dengan direktur kita?" Tanya Dini
"Sial. aku tanya sama Bagus juga gak dijawab" sambung keke
"Mistrius sekali" jawabku
"He em" jawab merek bertiga sambil menganggukkan kepala
Akhir bulan Desember waktu penutupan dan laporan tahunan.
"He teman-teman katanya nanti sore mau ada rapat untuk semua pegawe di aula" kata puri pada kami bertiga
"Emang ada apa kok tumben ada rapat dengan semua pegawai?" tanyaku heran
"Iya. Aku dengar kemaren dari bagian UGD dan para dokter juga ikut" sambung puri
"He'em... aneh juga. waktu itu aku juga denger katanya dari bagian gizi juga diadakan pertemuan" aku semakin merasa heran
"Aduh ruanganmu ini enak sekali Di. dingin AC-nya segar" celetuk Puri yang merebahkan tubuhnya di bad pasien.
Akhirnya pas rapat aku gak bisa ikut karna pas libur jadi aku gak bisa liat wajah direktur yang katanya tampan itu sayang sekali.
"Non ada mas Alex diluar" kata bik sumi yg menghampiriku di belakang rumah
"Loh kenapa gak masuk aja bik" tanyaku pada bobok
"Katanya gak mau non mau ngajak jalan" jawab bis sumi
"Hem..." aku bangun denga malas
Sampai diteras ku liat Alex duduk bersandar. terlihat sangat lelah.
"Lex... " panggilku dan dia hanya menoleh malas
"Hem... " gumamnya dengan senyum tipis dibibirnya
"Kenapa, capek?" tanyaku yang ikutan duduk disebelahnya
"Hem" gunanya lagi
"Mau makan? tadi aku masak" tanyaku dengan tersenyum melihat dia yang malas bergerak
"Benarkah. Masakanmu sendiri?" ekspresinya langsung berubah jadi semangat, dan aku mengangguk
Dia makan dengan sangat lahap.
"laper atau kelaparan sih" batinku
"Rae. ada yg ingin ku katakan pada mu" ucapnya disele makannya
"Habiskan dulu makananmu lex" jawab ku
"..." tak ada jawaban dia melanjutkan makannya sampai selesai
Setelah selesai makan diruang makan kami pindah ke ruang tengah untuk berbincang santai.
"Rae aku mau dijodohkan oleh papa ku, tapi aku gak mau dan aku ingin memintak bantuan mu." jelas Alex pada ku dengan wajah bingung.
"Bantuan apa yang kamu inginkan?" tanyaku dengan santai
"Jadilah kekasihku, dengan begitu papa tak akan memaksa aku dengan menjodohkan aku dengan yang lain." ucapnya menatap aku serius.
"Apa kamu gila?! Bagaimana jika Om tau kita hanya pura pura saja dan gak sungguhan, terus bagaimana kalo kita disuruh menikah?" jawab ku dengan kesal pada Alex yang suka seenaknya sendiri.
"Ya kalo disuruh nikah kita nikah lah Rar." jawabnya lagi dengan santai
"Jangan aneh aneh kamu." kesal ku yang semakin kesal.
"Emang kamu Uda punya kekasih?" tanyanya dengan menatap ku
"Tidak, maksudku belum ada. Tapi aku berencana mau cari pacar kok hihihi." jawab ku nyengir
"Kalo begitu jadilah pacar ku, lagian aku juga sudah melihat mu dan juga sudah terekam dalam otak ku seluruh gambaran dari tubuh mu." bisik Alex yang membuat ku terkejut dan juga malu.
"Tak perlu malu, jika menerut mu itu tak adil kamu bisa kok melihat ku. Akan ku tunjukkan dengan suka rela." sambungnya lagi dan mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Bicara apa sih kamu ini." wajahku semakin bersemu merah karena malu.
Sesuai perjanjian kami berdua akhirnya aku dan Alex pun memutuskan untuk pura pura jadi sepasang kekasih didepan papanya Alex.
Semakin berjalannya waktu aku merasa semakin nyaman dengan hubungan ku dengan alex, dan tanpa ku sadari perasaanku pun berubah. Ada getaran setiap aku melihat dan bertemu dengan Alex.
"Hai hai semua...Aku dengar katanya direktur kota akan menikah dalam waktu dekat ini, dan pengumumannya juga sudah disebar ke seluruh RS." info baru dari Puri yang selalu saja tau gosip diseputar RS ini.
"Iya aku juga denger dari Bagus kemaren dan katanya dia adalah teman semasa kuliah." jelas Keke
"Hem, aku sangat penasaran dengan direktur baru ini, setiap ada pertemuan aku selalu saja pas libur padahal sudah hampir 1 tahun dia pindah dan menggantikan papanya di RS ini." gumam ku sambil menatap teman temanku.
Hari pengumuman semua orang saling berkumpul dan ingin tau seperti apa calon istri dari direktur mereka, sementara aku justru ingin tau seperti apa direktur baru ini.
"Orangnya datang." semua orang pada berkasak kusuk, dan aku celingak celinguk berusaha untuk melihat sang direktur.
"Tes, halo semu." sapa dari seseorang dengan pengeras suara.
Deg
Jantung ku berdebar karena aku tau pasti dengan pemilik suara itu. "Tidak mungkin direktur RS adalah Alex." gumam ku dalam hati.
Aku berusaha melihat dengan berjinjit karena terhalang semua orang.
"Maaf kalian semua pasti sudah tau kalo aku akan menikah, dan pasti kalian juga penasaran seperti apa calon istriku nanti." ucapnya
"Alex" gumam ku saat aku melihat dan tau kalo itu beneran adalah Alex.
"Jika dia akan menikah lalu kenapa dia meminta bantuan ku untuk menjadi kekasihnya?" aku merasakan sakit dan desah di dadaku, aku keluar dari ruang aula dan tak mau dengar lagi.
Aku tak dengar panggilan teman teman ku, yang aku ingin adalah pergi jauh dari tempat itu agar tak mendengar pengumuman dari Alex tentang pernikahannya.
💖💖💖
"Rae, kenapa kamu pergi dan meninggalkan pertemuan?" tanya Alex saat dia menemui aku di rumah.
"Tak ada aku hanya merasa tak enak badan, dan juga itu sudah jam pulang kerja ku." jawab ku berusaha menahan rasa sesak ku.
"Oh iya, selamat ya atas pernikahanmu nanti. Aku tak tau kalo kamu adalah direktur baru di tempat ku kerja." sambung ku lagi dengan berusaha tersenyum.
"Rae..."
"Oh iya kita juga sudah tak perlu lagi berpura pura jadi pasangan karena kamu sudah akan menikah jadi tak baik untuk kita dan juga calon istri kamu." selaku yang memotong ucapannya.
Aku melihat dia tak menjawab dan juga tak berani menatap aku, dia tertunduk lesu dan seolah tak ada tenaga. Caranya yang seperti itulah yang selalu membuat hati ku tergerak dan ingin membantunya.
"Sudah gak papa, setidaknya papa kamu juga akan bahagia karena beliau juga ingin agar kamu segerah menikah." ucapku sok bijak.
"Tapi kau pasti sakit hati." ucapnya menatapku.
"Untuk apa? Aku justru senang karena teman dan juga sahabatku akan menikah." jawab ku dengan tersenyum
"Jangan dipaksa senyum jika tak ingin senyum." jawabnya yang masih menatapku, dan pertahanan ku pun runtuh.
"Rae..." Alex memeluk ku dan aku ingin pelukan itu selamanya untukku, namun aku sadar kalo itu adalah pelukan perpisahan.
Aku membalas pelukannya dan ku tumpahkan segala sesak ku, aku menangis dan terus menangis tanpa tau apa yang aku sesali dan ku tangisi, aku hanya merasa kekosongan dalam dada ku.
Sebulan berlalu, kegiatan ku sama seperti biasa kerja dan pulang kerumah. Aku menyibukkan diri dengan ikut senam dan kegiatan lain agar tak kepikiran akan Alex.
"Ayah..!" teriak ku girang saat ayah ku pulang, karena waktu itu setelah sepekan tiba tiba ayah bilang kalo pekerjaannya di perpanjang.
"Hem putri ayah." ayahku memelukku dengan erat dan ku balsa sama eratnya.
Setelah itu ayahku bilang kalo dia ingin menjodohkan aku dengan anak temannya, dan tanpa bertanya aku langsung mengiyakan karena dengan begitu aku pasti bisa menghilangkan perasaan ku terhadap Alex.
Hari yang ditentukan untuk pertemuan keluarga, aku menyiapkan semuanya sendiri dengan dibantu bik sumi.
Dari dalam ku dengar tamunya sudah datang dan mereka telah berbincang.
"Non bibik gak nyangka kalo akhirnya non Dira akan menikah dan bibi sangat senang karena calon non Dira orangnya sangat baik dan juga sayang sama non Dira." ucap bi sumi yang seolah sudah tau siapa calon suamiku, dan aku hanya tersenyum.
"Dira kemarilah sayang." panggil ayah ku, dan aku pun keluar.
Mataku terbelalak lebar melihat Alex ada diantara tamu itu, ku lihat dia tersenyum kearah ku, namun aku tak membalas senyumnya perasaan ku campur aduk.
"Sayang bagaimana menurut mu jika pernikahan mu diadakan 2 bulan lagi?" tanya ayahku saat aku sudah duduk disebelahnya.
"Tidak, Om saya ingin pernikahan kami bisa disegerakan, 2 bulan terlalu lama. 2 minggu lagi juga cukup karena saya sudah mempersiapkan semuanya." jelas Alex dan membuat semua orang terkejud termasuk diri ku.
"Apa maksud mu?" tanya ku kesal karena aku berfikir kenapa harus dia yang mengatur tanpa mendengar kalimat yang dia ucapkan.
"Kenapa, apa itu terlalu lama? Bagaimana kalo kita menikah saja sekarang langsung." jawabnya dan itu membuat ku terkejud.
"Kita?!" tanyaku yang masih bingung.
"Iya sayang, kita." jawabnya tersenyum
"Kenapa kau menipu ku!" teriak ku kesal.
"Menipu?" ayahku bertanya kaget.
"Maaf Om, sebenarnya saya sudah menjalin hubungan dengan Rae, dan ingin membuat kejutan untuknya." jelas Alex dan tangisku langsung ambyar.
"Jadi...Jadi..." kalimatku tak sampai karena nafasku tersengal
"Iya, aku memanggilmu dipertemuan waktu itu, namun kamu tak ada dan katanya sudah pulang jadi aku mengecewakan semua orang yang ingin tau tentang dirimu." jelasnya seolah tau apa yang ingin aku tanyakan.
"Jadi, bagaiman? Apa kamu mau pernikahan kita dilangsungkan sekarang juga?" tanyanya pada ku
"Iya." jawabku sepontan.
Hahahaha
Gelak tawa semua orang menyadarkan aku kembali, kalo aku masih berada ditengah semua orang saat ini.
"Selamat tuan Adira."
"Ya selamat untuk mu juga tuan Arya."
"Bagaimana saksi sah." tanya penghulu
"Sah.!" jawab semua orang yang ada di rumah ku sebagai saksi.
"Rae, sekarang kamu adalah istriku yang sah. Pesta pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi, dan sekarang adalah malam pengantin kita." ucap Alex dan langsung menggendong ku masuk kedalam kamar ku.
Semua orang terdengar sangat senang dan tertawa terbahak melihat tingkah ku dan juga Alex yang terkesan terburu-buru dalam pernikahan.
Rasa bahagia, sedih, haru dan juga terkejud semua bercampur jadi satu dalam dadaku.
"Selamat pagi sayang ku" ucap Alex saat aku terbangun dan kulihat Alex berbaring di sebelahku.
"Kamu?" aku terkejud mendapati Alex yang tidur tanpa busana.
"Apa? Jangan berlagak amnesia setelah pergulatan kita semalam, yang bahkan kita lakukan tidak hanya sekali" ucapnya menatapku dengan tersenyum.
"Pergulatan?" wajahku langsung bersemu merah saat aku ingat apa yang telah kamu lakukan semalam.
"Aku dan dia. Kami telah melakukan semuanya apa yang disebut malam yang panjang dan surga dunia." batinku yang masih tak percaya.
Senyumku mengembang saat aku kembali mengingat betapa syahdu dan nikmat malam yang telah ku lewatkan bersama Alex yang sekarang telah bersetatus sebagai suamiku.
"Jangan senyum senyum sendiri, aku bisa mengulangnya lagi adegan semalam biar kamu bisa merasakannya lagi." goda Alex sambil memelukku dari belakang.
Tak ku sangka pernikahanku telah terjadi dan dilaksanakan dengan super sederhana, tanpa adanya riasan atau baju kebaya pengantin. Hanya dengan baju rumahan sederhana dan disaksikan oleh keluarga saja.