Jika di dunia ini ada satu sosok yang menggambarkan tentang kesempurnaan, itu adalah seorang Alexander Ulrich.
Bagaimana tidak? Alexander Ulrich adalah sebuah mahakarya Tuhan yang tiada cela. Dengan wajah tampan dan tubuh proporsionalnya membuat dunia teralihkan padanya. Dengan wajah dinginnya pun dapat membuat hati meleleh melihatnya
Bukan itu saja nilai plusnya. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia sudah menjabat sebagai CEO Wind-Corp, perusahaan perdagangan yang menggurita di negeri ini. Kharismanya sebagai seorang pemimpin tidak diragukan lagi. Terlihat dari banyaknya orang yang harus ia pimpin dan ia melakukannya dengan sangat baik.
Selain itu, sebagai pemimpin sebuah perusahaan raksasa, tentulah ia banyak bergelimang harta seolah tiada habis tujuh turunan. Harta, tahta dan kharisma (atau ketampanan) siapa yang bisa menolak pesona seorang Alexander Ulrich, CEO dari Wind-Corp?
Tidak ada cela sepertinya, huh?
Tetapi sejak hari itu, sosok Alexander Ulrich tidak lagi sama di mata seorang pegawai baru di Wind-Corp bernama Reina
***
"Kau milikku!"
Reina mengerjap perlahan mencerna setiap kata yang dilontarkan CEO perusahaan Wind-Corp yang berdiri di hadapannya. Hari ini entah mengapa dirinya dipanggil ke ruangan CEO. Biasanya hanya manajer divisi saja yang dipanggil. Itupun hanya berhadapan dengan sekretaris sang CEO. Karena itu Reina sedikit gugup saat dirinya dipanggil ke ruangan CEO
"Kau milikku? Kau..milikku? Apa maksudnya itu?" Reina tersadar saat tangan kekar milik Alexander Ulrich membelai pipinya.
Reina mundur, namun langkahnya terhenti karena tubuhnya sudah menabrak dinding. Reina terjebak karena Alex sudah mengurung tubuh mungilnya. Dengan menampilkan seringai khasnya, Alex memindai setiap inchi kulit wajah Reina
"D-dengar pak! Anda bisa saya tuntut karena tuduhan pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan!" Kata Reina berusaha menegaskan suaranya dan mengancam Alex
Alex terkekeh mendengar ucapan Reina. Lucu juga saat melihat gadis itu berusaha terlihat garang padahal suaranya bergetar ketakutan
"Pelecehan? Tindakanku yang mana yang melecehkan dirimu?" Tanya Alex sambil mendekatkan wajahnya sehingga wangi Citrus dan nafas mint nya terasa memanjakan penciuman Reina.
Dilihat dari jarak sedekat ini membuat Reina sadar kalau Alex berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Bibir Alex dengan hati-hati menyentuh bibir Reina. Hanya menyentuh, dan hal ini membuat gadis itu terlena. Alex menyeringai
"Perbuatan tidak menyenangkan, eh? Tapi kupikir kau menyukainya kan?" Bisik Alex saat melihat wajah Reina yang memerah saat bibir Alex berada di depan bibir Reina
Eh, what? Tunggu dulu!
Reina tersadar. Dengan sekuat tenaga gadis itu mendorong pria itu. Namun sepertinya percuma, tubuh Alex tidak bergeser sedikitpun.
"Pak, saya.."
"Kau milikku.." bisik Alex memotong ucapan Reina membuat gadis itu menatap netra coklat milik Alex. Mata Alex menggelap membuat Reina sedikit menahan nafas
Pria itu langsung memeluk erat Reina dan membisikkan satu kalimat panjang yang tidak dimengerti gadis itu. Bukan kalimat, lebih menyerupai sebuah geraman tepatnya. Hanya dua kata yang terdengar jelas di telinga Reina
"Milikku.. Mate ku."
Mate?? Apa dia adalah Werewolf?
***
Reina melirik pria yang duduk di sebelahnya. Mereka berada di dalam mobil milik Alex. Entah kemana pria itu akan membawa Reina. Willy, sopir Alex pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ucapan terakhir pria itu membuat pikiran Reina kembali menggali sebuah informasi
Reina pernah membaca sebuah buku di perpustakaan nasional tentang Legenda Werewolf. Menurut buku, Werewolf atau manusia serigala dapat langsung mengenali mate atau pasangannya hanya dengan melihat atau mencium aroma tubuhnya
Sepertinya Alexander Ulrich telah mengklaim Reina sebagai mate nya dan Reina tidak punya pilihan selain mengikuti pria ini. Reina cukup waras demi menjaga keselamatan dirinya saat melihat mata Alexander yang menggelap dan geraman layaknya seekor serigala ketika Reina menolak ajakannya tadi.
Alex masih terdiam sambil menekuni laptop yang sedari tadi menemaninya selama perjalanan. Pria itu terlihat dingin dan tidak tersentuh. Reina memang baru beberapa bulan bekerja di Wind-Corp, namun sepak terjang Alexander Ulrich sudah sering didengarnya. Darimana lagi selain dari gosip para wanita yang selalu membicarakan boss mereka
Dikatakan kalau Alex adalah type boss yang dingin dan tidak terbantahkan. Semua pegawainya patuh padanya. Terbukti saat pertemuan pertama tadi, Reina sedikit terintimidasi oleh Alex. Bukan sedikit, yang benar adalah sepenuhnya terintimidasi.
Reina melempar pandangannya ke luar. Mobil mereka berada di jalan setapak. Sudah lebih dari setengah jam yang lalu mereka meninggalkan pusat kota.
"Kira-kira kemana pria ini akan membawa ku?" Bathin Reina
"Kita akan bertemu keluargaku."
Reina menoleh kearah Alex. Sepertinya pria itu mampu membaca pikirannya. Reina memandang Alex yang memandang dirinya dengan tatapan lembut. Berbeda dengan tatapannya tadi di kantor.
Alex tersenyum sambil membelai kepala Reina dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Anehnya, Reina tidak bisa menolaknya.
"Kau bingung ya? Akan ku jelaskan nanti saat di rumah. Bersikap baik ya." Kata Alex sambil mengecup puncak kepala Reina
"Bersikap baik? Apa saya terlihat seperti gadis yang bisa membuat kekacauan?" Reina melepaskan tubuhnya dari pelukan Alex dan menatap protes ke arah pria itu
"Maksudku, aku hanya ingin kau tenang saat bertemu keluargaku dan menjelaskan semuanya." Alex menjelaskan dengan sabar
"Menjelaskan apa pak? Menjelaskan kalau bapak adalah seorang Werewolf dan aku adalah mate bapak?" Tanya Reina lugas
Alex mengerutkan keningnya "Kau tahu?"
Reina melirik ke arah Willy yang tetap tenang melajukan mobil walau terlihat genggaman tangannya mengetat. Saat itu Reina tahu beberapa orang disekeliling Alex pastilah berasal dari jenis yang sama. Reina mengatur nafasnya, berusaha agar tidak terlihat ketakutan.
"Aku pernah membaca tentang Legenda Werewolf di perpustakaan. Aku pikir hal itu hanya legenda dan bapak sedang membuat prank ke saya untuk acara perusahaan kan?" Tebak Reina asal membuat rahang Alex terlihat mengeras
"Pertama, berhenti memanggilku bapak. Kedua, tidak ada prank. Ini kenyataan. Ya, benar aku adalah seorang Werewolf dari Wind Winders Pack dan kau adalah pasanganku. Aku ingin kau menerimaku, menerima keluargaku dan aku harus segera menandaimu."
Rahang Reina terbuka lebar mendengar penuturan Alex. Sama sekali tidak romantis seperti cerita picisan dari novel-novel yang dibacanya. Bahkan terkesan memaksa dan..apa itu maksud dari menandai?
Menurut buku yang Reina baca, menandai bisa dengan cara Werewolf menggigit mate nya saat mengalami masa heat. Namun, Reina bukanlah Werewolf perempuan. Masa heat nya hanya bisa didapatkan saat mereka melakukan hubungan…
Aargh! Kata-kata itu sedikit melukai harga diri Reina
Reina meradang. Panti asuhan sudah sangat menempa jiwa pejuang dan jiwa pemberontak Reina. Tidak semudah itu menundukkan seorang Reina. Reina menarik gelangnya hingga mengeluarkan pisau lipat kecil yang tersembunyi di balik gelangnya
"Hahaha..kau pikir aku takut dengan pisau kecil itu?" Alex tertawa melihat tingkah Reina, membuat Reina semakin kesal
"Nggak lucu! Apa bapak memaksa saya? Mengancam saya? Inget ya, menurut buku yang saya baca, saya bisa lho nolak jadi mate bapak!" Kata Reina tegas membuat Alex menghentikan tawanya. Pandangan mata Alex menggelap
"Kau tidak akan melakukannya." Desis Alex tajam
Sungguh, pandangan Alex seakan melunturkan semua protes yang hendak Reina keluarkan. Entah sihir apa yang digunakan Alex.. Reina melengos dan memasukkan kembali pisau lipat kecilnya dalam gelang di pergelangan tangannya. Gadis itu membuang pandangannya ke luar jendela untuk menghindari tatapan Alex. Keduanya pun saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing
Reina terhenyak dari lamunannya saat pintu mobilnya terbuka. Alex sudah berdiri dan mengulurkan tangannya pada Reina. Pria itu punya tatakrama juga sepertinya, pikir Reina
Namun Reina mengabaikan uluran tangan Alex, membuat raut wajah pria itu berubah, tetapi Alex tidak mengatakan apapun.
"Masa bodoh. Itu balasan karena sudah seenaknya memperlakukanku." Bathin Reina saat pandangan mata mereka sejenak bertemu. Reina sengaja menjulurkan lidahnya untuk membuat kesal Alex, sebaliknya Alex malah tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Reina
Reina mengikuti langkah Alex dari belakang. Mereka memasuki sebuah rumah besar dan disambut belasan pria berjas hitam yang langsung menundukkan kepalanya saat melihat Alex.
"Tunggu dulu.. walau Alex adalah seorang CEO, sepertinya sangat berlebihan ia memiliki bodyguard sebanyak ini." Pikir Reina saat melintasi orang-orang berjas hitam itu
"Sayang.."
Reina menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang wanita cantik memeluk Alex dengan gembira. Pandangan wanita itu berganti ke arah Reina
"Apa dia..?" Tanya wanita itu yang di jawab dengan anggukan dari Alex
"Ibu, ini Reina."
"Oh sayang, selamat datang di keluarga kami. Panggil aku Alicia, atau kalau tidak keberatan kau bisa memanggilku ibu." Alicia memberikan pelukan hangatnya pada Reina.
Baru kali ini Reina merasakan pelukan hangat seorang ibu, perasaan Reina sedikit menjadi lebih baik
"Ini ayahku, Robert dan adikku Evander." Alex kembali mengenalkan keluarganya
Robert terlihat sangat mirip dengan Alex. Bedanya hanyalah di warna rambut dan kerutan di wajah. Keduanya sama-sama memiliki tatapan lembut. Evan lebih mirip Alicia dengan rambut terangnya.
"Selamat datang Reina. Anggap ini sebagai rumahmu ya." Sapa Robert ramah
"Jadi, kakak ipar.. Apa kalian sudah melakukan Mating?" Tanya Evan jahil.
Mata Reina melotot. Reina tahu apa artinya itu. Hal itu merupakan hal tabu untuk dibicarakan apalagi di depan orang tua. Alex pun berdehem dengan wajah sedikit memerah
"Ya Alex, esok adalah malam bulan purnama. Esok kau harus segera menandai Reina." Kata Robert ringan seolah hal itu merupakan obrolan biasa. Reina tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak berkomentar
"Maaf tuan, nyonya. Saya bukan wanita yang seperti anda pikirkan." Kata Reina membuat semua orang menoleh menatapnya
"Rein, tenanglah." Bujuk Alex
"Namaku Reina, pak! Apa kalian pikir aku tidak tahu arti Mating? Dengar ya, pak Alexander Ulrich! Aku bukan wanita yang bisa tidur dengan lelaki tanpa adanya satu ikatan!"
Sesaat semua orang terperangah dengan keberanian Reina memarahi Alex. Alicia yang pertama tertawa lalu memeluk Reina
"Perfect, Reina. Kau akan menjadi Luna yang sempurna untuk Alpha kami." Alicia memeluk Reina
"Alpha? Ck, pantas saja dia bersikap seenaknya dan sangat otoriter." Reina membathin
"Dan tentu saja, kalian harus menikah terlebih dahulu bukan? Ayo kita harus bergegas." Ajak Alicia sambil menggandeng tangan Reina
"Eh, Menikah?" Otak Reina seketika masuk mode loading lama
***
Kabar pernikahan Alexander Ulrich dengan pegawainya yang bernama Reina begitu cepat menyebar. Entah bagaimana mereka melakukannya. Semua terasa bagaikan mimpi. Reina sendiri masih belum mempercayainya
Kemarin Alex baru saja mengakui dirinya adalah mate nya, lalu dikenalkan pada keluarganya. Tadi pagi pernikahan dilaksanakan dengan meriah, dan.. disinilah Reina sekarang. Di kamar pengantin, menunggu pengantin prianya masuk ke dalam kamar
Ckrek.. Alex memasuki kamar. Sejenak keduanya bertatapan. Reina yang terlebih dahulu memutuskan tatapan mereka dan beralih menatap bulan
Bulan terlihat menggantung sempurna di langit malam. Baru kali ini Reina merasakan bulan sangat indah. Apakah ini efek dari pernikahan paksaannya atau karena sosok tampan yang kini berdiri di sebelahnya? Entahlah..
"Kenapa?"
Alex menoleh ke arah Reina "Kenapa apa?"
"Apa alasan bapak sehingga semuanya terkesan buru-buru? Aku terus terang belum bisa menerima kalau.."
Ucapan Reina terhenti saat Alex menangkup wajah mungilnya untuk menatap pria yang kini berstatus suaminya
"Kau pernah membaca legenda Werewolf bukan? Harusnya kau tidak perlu bertanya. Masih banyak pertanyaan penting yang harus kau tanyakan." Kata Alex lembut
Reina menyadari, manik coklat Alex adalah manik coklat tergelap yang pernah dilihatnya. Terkesan misterius, dingin namun hangat dan memabukkan di saat yang bersamaan. Reina merasakan perasaan aneh yang tidak pernah Reina rasakan sebelumnya. Apa benar ini pengaruh saat bertemu soulmatenya? Entahlah..
"Seperti..apa hobi dan makanan favorit anda?" Tanya Reina. Kali ini dengan suara yang tidak selantang biasanya. Alex tersenyum lebar
"Aku akan memiliki hobi dan makanan favorit yang baru.." bisik Alex. Dengan satu kali gerakan, Alex mengangkat tubuh Reina dan membaringkannya di tempat tidur
Bulan bersinar cerah malam itu, seolah menjadi saksi bersatunya seorang Alpha dan Luna nya
***
Sudah satu minggu sejak pernikahan Alex dan Reina. Selama itu Reina merasakan bahagia yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Alex dan keluarganya terlihat sangat menyayangi Reina, walau menurut Reina tindakan Alex sedikit posesif dan over protective pada dirinya
Pagi itu, Reina bangun lebih awal dan memutuskan berjalan-jalan di taman. Saat memasuki taman, terdengar suara Robert, Evan dan Alex. Reina melihat ketiganya sedang berlatih. Langkah kaki Reina terhenti saat mendengar percakapan tiga orang itu
"Sampai sekarang kau masih tidak bisa melakukan shift?" Terdengar suara Robert
"Entahlah ayah, sudah kucoba untuk shift mulai dari hari pertama setelah penyatuan." Kali ini suara Alex terdengar putus asa
"Dengar, jangan sampai para Alpha dari Pack lain mengetahuinya. Kau juga harus berhati-hati dengan beberapa pengkhianat." Ucap Robert
"Jangan khawatir ayah, meski aku tidak bisa melakukan shift tapi aku bisa mengalahkan mereka." Kata Alex berusaha menenangkan Robert
"Ck, kau akan susah mempertahankan Klan kita kakak. Mereka yang melakukan pemberontakan tidak akan setuju kalau Alpha nya tidak bisa bertransformasi menjadi wujud serigala. Kupikir ramalan itu akan terbukti, kau akan dapat bertransformasi saat bertemu dengan mate mu dan melakukan penyatuan secepatnya." Ucap Evan kesal
"Diam, Evan! Ucapanmu bisa menimbulkan kesalahpahaman!" Seru Alex
"Jadi itu alasannya dia menikahiku buru-buru? Agar bisa bertransformasi dan menaikkan posisinya dalam Pack? Ternyata semua ucapan cintanya bohong!" Reina membathin sambil menutup mulut dengan tangannya
Krek.. Reina tak sengaja menginjak sebuah ranting sehingga ketiga orang itu menoleh. Ketiganya terkejut melihat Reina di sana sambil berlinangan air mata
"Rein.." panggil Alex
Reina mengacuhkan Alex. Gadis itu segera berlari keluar dari taman. Namun tanpa disadari sebuah tangan besar membekap dirinya. Reina pun merasa pandangan mengabur dan menggelap
***
Reina mengerjapkan mata perlahan. Gadis itu memindai sekelilingnya. Ada banyak orang di sana, beberapa orang bertudung merah yang mengelilingi dirinya. Reina mengingat beberapa wajah yang pernah hadir saat pesta pernikahannya. Saat hendak menggerakkan tangan, Reina tersadar tangannya diikat keatas dengan tali
"Gadis ini sadar!" Teriak seseorang saat melihat Reina mulai bergerak. Seseorang membuka tudungnya dan melihat ke arah Reina
"Luna dari Alpha. Atau tepatnya calon mantan Alpha."
Kening Reina berkerut sambil berbisik "Apa maksudnya?"
"Joey, kau yakin dengan rencana ini?"
Orang yang dipanggil Joey mengangguk "Sangat yakin. Alex akan datang demi menyelamatkan Luna nya. Gadis itu akan menjadi umpan kita untuk membunuh Alex. Dengan begitu, Klan Wind Winders akan kita kuasai bersama. Beberapa orang dari klan itupun tidak setuju kalau Alex menjadi Alpha. Ini harus kita manfaatkan."
Rahang Reina mengetat mendengar ucapan Joey. Perlahan dikeluarkan pisau lipatnya dan memotong sedikit demi sedikit tali yang membelenggu tangannya. Ada perasaan tidak rela di hari Reina saat mengetahui Alex akan disingkirkan dengan culas. Biar bagaimanapun dirinya tidak boleh menjadi beban untuk Alex
Tiba-tiba terdengar suara raungan yang cukup keras. Alex datang bersama dengan anggota Pack nya. Anggota Pack Wind Winders cukup banyak, tetapi jumlahnya tetap tidak seimbang. Reina mempercepat gerakan tangannya memotong tali yang membelit tangannya. Untunglah tidak ada yang memperhatikan dirinya
Tes!
Tali pengikatnya berhasil terbuka. Alex yang melihat Reina sudah terbebas meraung keras, sepertinya memerintahkan untuk menyerang. Pertarungan Pack Wind Winders dengan beberapa Pack tidak dapat terelakkan. Beberapa sudah terlihat bertransformasi menjadi wujud serigala
Reina dengan cepat menyingkir agar dirinya tidak dapat dijadikan sandera untuk memberatkan Alex. Namun matanya melihat beberapa serigala mengerumuni Alex. Alex terlihat lincah menghindari dan menyerang balik, namun tetap jumlahnya berat sebelah. Tanpa Reina sadari, kakinya berlari saat melihat seseorang mengendap di belakang Alex sambil membawa sebilah pisau
"Tidaak!!" Jerit Reina sambil melompat memeluk Alex. Reina merasakan sebuah sengatan menyakitkan di punggungnya. Sesuatu yang basah dan hangat terasa mengalir di sana
Detik berikutnya Reina terjatuh dalam dekapan Alex. Pandangan Reina mengabur. Sebelum kehilangan kesadarannya, Reina mendengar raungan Alex yang terdengar memilukan dan memekakkan telinga
***
Serbuan cahaya menyilaukan berlomba memasuki mata Reina saat gadis itu berusaha membuka matanya. Reina perlahan mengerjap untuk membiasakan matanya. Reina menyadari sebuah lengan melingkar di perutnya dan merasakan punggungnya bersandar pada dada seseorang. Dari wanginya, Reina tahu itu Alex
"Syukurlah kau sadar, Rein.." bisik Alex sambil mengeratkan pelukannya. Reina tersenyum. Dalam hatinya terasa lega karena Alex pun masih hidup setelah pertempuran terakhir
"Kau gila melompat di tengah pertempuran. Jangan pernah melakukan hal itu lagi." Bisik Alex lagi kali ini sambil mengecupi puncak kepalanya
Tak lama Robert, Alicia dan Evan masuk ke dalam kamar. Sepertinya Alex melakukan Mind-link memberitahu keluarganya kalau Reina telah sadar
"Sayang, kau membuat kami ketakutan setengah mati. Kau tidak sadar selama lima hari!" Alicia memeluk Reina. Reina sedikit meringis merasakan sakit di punggungnya saat pelukan Alicia sedikit kuat
"Eh, maafkan ibu." Alicia tersadar dan langsung melepaskan pelukannya
"Syukurlah kau sudah sadar. Kau memang seorang Luna yang tangguh." Puji Robert sambil membelai kepala Reina
"Well, sepertinya kau tidak punya alasan lagi kakak untuk mengurus pembaharuan Klan kita. Kakak ipar sudah sadar. Ingat, kita punya tambahan 3000 orang anggota baru." Kata Evan jahil. Alex mendengkus keras
Reina mendongak menatap Alex "3000 orang? Apa yang terjadi?"
"Kau tahu, kakak ipar. Jika seorang Alpha membunuh Alpha dari klan lain, otomatis pengikutnya akan mengikuti Alpha yang baru. Saat kau tertusuk pisau kemarin, kakakku ini mengamuk dan pertama kali bertransformasi menjadi wujud serigala. Dia menghabisi semua Alpha yang ada. Wuss wuss, secepat angin." Evan memperagakan gerakan dengan tangannya
Evan mengehentikan gerakan tangannya dan menatap lembut ke arah Reina
"Maafkan ucapanku kemarin. Jangan khawatir, kakakku ini sangat mencintai dirimu, kakak ipar. Seperti kau mencintainya."
Pipi Reina terasa memanas mendengar ucapan Evan. Alex pun mengeratkan pelukannya di perut Reina. Alicia tersenyum melihat keduanya
"Baiklah, menantu ku butuh istirahat. Ayo kita keluar." Ajak Alicia pada Robert dan Evan untuk meninggalkan Alex dan Reina
"Kau tidak keberatan aku berubah menjadi binatang?" Tanya Alex memecahkan kesunyian
Reina menggeleng "Aku sama sekali tidak keberatan. Kau tetap pria yang sama, Alpha ku.."
Alex tersenyum dan menarik dagu Reina. "Ngomong-ngomong, aku belum mendapatkan ciuman semenjak kau diculik."
Reina terkekeh lalu melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Pintunya masih terbuka, sayang. Nanti ada yang melihat."
"Biar saja. Tidak ada yang akan berani menggangguku." Bisik Alex serak
"Andai aku punya kekuatan. Akan kututup pintu dengan sekali kibasan." Reina bergurau sambil mengibaskan tangannya
Braak! Pintu itu tertutup, mengangetkan keduanya. Alex menatap Reina yang juga menatap Alex dengan pandangan kaget
"Kebetulan. Itu kebetulan! Bukan aku yang menutup pintu itu, iya kan?" Tanya Reina sambil menatap telapak tangannya
Alex tersenyum lembut sambil menarik dagu Reina "Kebetulan atau bukan, aku sama sekali tidak keberatan. Kau tetap wanita yang sama, Luna ku."