" Boleh aku duduk?" Terdengar suara mengagetkan ku, ditengah keheningan. Ketika aku sedang menunggu kedua sahabatku di salah satu halte bus di Ibukota.
"Silakan", jawabku
"Kenapa kau sendirian?" Kembali seorang pemuda melempar pertanyaan kepadaku.
"Aku sedang menunggu temanku", kembali kujawab pertanyaan nya.
Itulah awal pertemuan ku dengan pemuda bernama Adi.
Aku adalah Eva, bekerja di salah satu perusahaan swasta di Ibukota, Dan Adi pemuda yang kutemui di Halte, Dia mangaku tinggal tidak jauh dari Halte.
Setelah pertemuan singkat itu, Aku dan Adi sering bertemu ditempat yang sama, dengan alasan menunggu bus untuk kutumpangi hingga kerumah.
Bercerita tentang banyak hal, bagaimana hari yang kita lalui setiap saatnya. Ada duka dan bahagia sejauh aku mengenalnya.
Sampai suatu ketika Adi pun mengungkapkan kekagumannya padaku, dan ingin menjalin hubungan lebih dari sahabat.
"Eva, boleh kutanya sesuatu?" Ucapnya
"Boleh, memang nya kamu mau tanya apa?" Aku malah balik bertanya pada Adi.
"Ehhhh, Setelah beberapa kali kita bertemu, ternyata Aku sangat mengagumimu, dan ingin menjalin hubungan lebih dari sahabat, apakah kamu mau?" Tanya Adi.
Tanpa berpikir panjang,
Aku pun menerimanya karna sesungguhnya Aku pun tertarik pada Adi. " ya, Aku mau". Jawabku.
Akhirnya Aku dan Adi menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih pada umumnya, Aku merasa nyaman bersama Adi, begitupun Adi sebaliknya. Tidak pernah ada perdebatan yang berarti selama kita menjalin hubungan.
Seiring waktu berjalan Aku dan Adi bertambah dekat, seperti tidak ingin terpisahkan oleh apapun. Hingga semua terungkap, ya tanpa sengaja aku menemukan tumpukan koran bekas di gudang rumahku.
Karna penasaran aku pun mengambilnya, kulihat tanggalnya 21 maret 2020, terpampang berita besar tentang sebuah kecelakaan tunggal, yaitu seorang pesepeda motor mengalami rem blong di jalan raya,
Aku penasaran kenapa berita kecelakaan itu menjadi berita besar?.
Akhirnya kutemukan jawabnya, korban kecelakaan itu adalah anak sang petinggi di negri ini.
Yang membuatku terkejut adalah tempat kejadian, berada persis di dekat Halte Bus, yang biasa aku duduki untuk menunggu bus yang membawaku pulang.
Dan di Halte lah awal kisahku dan Adi dimulai, Aku pun melanjutkan
membaca berita itu. Dadaku seketika sesak, nafasku seakan ingin berhenti, ketika Aku membaca bahwa korban kecelakaan itu adalah Adi, kekasihku.
Bagai diterjang ombak besar, badanku seketika lemas, tulangku seakan rontok, lidahku bagai terkunci gembok berlapis. Seakan tidak percaya kucoba melanjutkan membaca, dan seperti dihantam batu besar badan ku langsung terhempas ke lantai, ketika di lembar koran tersebut menampilkan foto Adi kekasihku.
Butuh waktu untukku bangkit dari keterpurukan .
Cerita cinta yang kukira akan terbingkai indah, ternyata hanya angan semu .
Tak mudah bagiku untuk bangkit dan melangkah, semua terasa berat, kenangan ku bersamanya selalu membayangi, ketika aku berusaha untuk membuka lembar baru kisahku
Semoga perlahan aku bisa melupakan Adi, walau berat harus Aku lakukan. Kenanganku bersama Adi akan selalu tersimpan indah didalam sanubari. Teriring do'a untukmu kekasih.